Game Over (Mantan Suami)

Game Over (Mantan Suami)
Siapa yang Melakukan Ini?


__ADS_3

Samar-samar aku mendengarkan suara-suara yang sumbang, di tengah-tengah keramaian.


"Belikan teh hangat."


"Kejar pelaku penabrakan!"


"Sopir ojeknya gimana, baik-biak saja atau ada luka?"


"Motor bisa diurus nanti, yang penting korban tidak kenapa-napa."


Itu adalah beberapa kata yang aku bisa dengar. Mataku gelap, berat sekali untuk aku buka. Kepalaku juga pusing, tetapi aku juga ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dengan sekuat tenaga aku coba buka mataku. Aroma minyak kayu putih menyeruak ketika aku mulai sadar. Hangat di bagian pelipis dan juga hidungku.


"Alhamdulillah, Mbak sudah sadar ...." Suara ibu-ibu yang tidak aku kenal langsung mengucapkan puji syukur ketika aku sudah berhasil membuka mataku.


Tanganku memencet kening yang terasa berdenyut-denyut, dan beberapa kali aku mengerjapkan mata untuk menyeseuaikan pandangan mata yang gelap. Hingga aku akhirnya bisa menyesuaikan pandangan mata menatap sekitar yang ramai.

__ADS_1


"Keadaan sopir ojek gimana Mbak?" tanyaku, yang entahlah aku terlalu takut kalau kecelakaan ini akan membuat salah satu di antara kami terluka parah apalagi sampai terjadi hal-hal yang sangat menakutkan.


"Sopir ojek online sudah di bawa ke rumah sakit. Alhamdulillah Mbak tidak apa-apa." Ibu-ibu lain memberikan teh hangat sembari menjawab pertanyaanku. Aku pun menerima teh itu seraya mengucapkan terima kasih.


"Ya Alloh, pasti luka parah yah." Pikiranlku semakin tidak karuan. Karena sebelum aku pingsan aku sempat melihat kalau motor dan pengemudi ojek online terseret mobil. Sedangkan aku yang loncat ke terotoran bisa dikatakan beruntung. Karena hanya luka lecet-lecet. Meskipun tidak dikatakan beruntung banget. Siku sebelah kananku baju sampai sobek dan terasa perih karena terkena aspal. Lututku pun terasa sangat sakit, dan ketika aku lihat keduanya pun lecet hingga celana katun yang aku kenakan sobek juga.


"Penabraknya gimana Bu?" tanyaku lagi dengan isakan, ketakutan. Aku tidak bisa melihat kejadian dengan detail karena bisa dibilang kejadiannya sangat singkat dan aku yang syok sampai pingsan.


"Itu dia Mbak, yang tabrak kabur. Tapi tadi katanya ada yang melihat dan coba ngejar. Mudah-mudahan ketemu yang tabrak. Karena sopir ojek lukanya parah. Dia harus tanggung jawab. Motor juga hancur parah."


Mendengar jawaban itu, hatiku langsung remuk. Bagaimana keluarga sang sopir tahu keadaan ini semua. Aku tergugu menangis dengan musibah kali ini. Aku kembali teringat Gio yang pagi tadi seolah ingin melarang aku pergi. Mungkin Gio merasakan firasat yang tidak baik denganku.


"Mbak cari apa?" tanya ibu-ibu yang lain.


"Cari tas saya Mbak," ucapku dengan suara yang serat dan  sesekali terisak.

__ADS_1


"Ini Mbak, tadi diamankan sama saya." Laki-laki muda memberikan tasku. Kembali aku mengucapkan terima kasih.


Dengan tangan bergetar. Aku pun langsung mengambil  ponselku. Orang yang pertama aku hubungi adalah Handan. Dia yang bisa membantu aku.


[Assalammualaikum. Taz, kamu di mana? Tadi Om  Aldo telpon aku, katanya kamu belum sampai di kantor. Kata Om Aldo kalau Gio tidak mau ditinggal kamu jangan masuk kasihan Gio.] Suara Handan langsung membuat aku justru semakin sedih dan kembali terisak. Kenapa dia yang bukan siapa-siapa benar-benar perhatian dan terlihat sekali dari cara berbicara kalau Handan benar-benar perduli dengan aku maupun Gio.


[Wa ... waalaukums'salam_]


[Taz, kamu kenapa? Kenapa kamu nangis?] Suara Handan terdengar sangat panik. Siapa yang tidak terharu dan semakin terisak ketika ada yang lebih perhatian dan cemas dengan kondisi aku dan Gio. Di saat aku seperti kehilangan pegangan. Entah mengapa pagi ini aku sangat melow.


[Dan, tolong datang ke alamat ini. Aku share lokasi, jangan banyak bertanya. Aku kecelakaan_] Tanpa menunggu jawaban Handan yang aku tahu kalau laki-laki itu pasti akan bertanya lagi. Aku langsung mematikan ponselku dan mengirim alamat di mana aku berada.


Aku janji siapa pun kalau memang ini adalah unsur sabotase karena ingin membuat aku celaka. Aku pastikan mereka tidak akan lolos. Apalagi ini sudah masuk rencana pembunuhan berencana. Aku menghirup nafas dalam, dan menengguk teh hangat. Berharap dengan satu gelas teh hangat pikiranku jadi tenang. Bukan hanya memikirkan pengemudi ojek online yang aku tidak tahu kondisinya. Aku juga memikirkan Gio di rumah apakah baik-baik saja? Atau sama dengan aku ada yang sedang mengincar Gio. Meskipun di rumah Meli ada satpam yang berjaga, tetapi aku tetap tidak tenang.


"Ya Tuhan tolong jaga Gio. Lindungi putraku saat aku tidak bisa ada di sampingnya untuk melindungi dia."

__ADS_1


Bersambung...


...****************...


__ADS_2