
Aku tidak pernah berjanji kalau aku akan jadi wanita yang paling bisa melayani suamiku, tapi aku tidak pernah berhenti berusaha selalu menjadi wanita yang bisa mengerti dan bisa melayani suami dengan baik. Aku tidak henti-hentinya selalu berusaha dan mencari apa yang suamiku suka dan apa yang tidak disukanya. Nyatanya menikah lima tahun tidak juga membuat aku mengerti apa yang ada dalam pikiran suamiku.
Tidak henti-hetinya aku mengoreksi diriku sendiri apakah yang aku lakukan sudah benar atau justru aku memang salah mengambil sikap ini. Bukan hanya pada Meli, Janah dan juga Handan selaku pengacaraku yang aku minta masukan. Aku juga minta masukan pada Bi Jumi. Meskipun wanita itu adalah asisten rumah tangga, tapi tentu Bi Jumi sedikit tahu apa yang aku rasakan.
Yah, aku meminta pendapat dari wanita yang jauh berpengalaman dalam rumah tangga, dan lagi Bi Jumi pun setuju dan sependapat dengan aku, agar aku tetap melanjutkan perkara ini. Bahkan wanita paruh baya itu pun menolak kembali ke rumah kami. Sebelumnya Mas Agam memang meminta Bi Jumi kembali menjadi pembantu di rumahnya, karena Bi Jumi beralasan aku sudah memintanya berhenti kerja.
Namun, di luar kuasaku Bi Jumi menolak tawaran Mas Azam, dan justru tetap ingin menjadi pengasuh Gio. Yah, aku memang dalam waktu dekat ingin mencari pekerjaan dan tentu aku butuh bantuan Bi Jumi untuk menjaga putraku. Mengingat Bi Jumi sudah kenal dan dekat degan Gio.
Aku tidak mau nanti ada omongan kalau aku tidak bisa merawat anakku, dengan alasan aku tidak punya penghasilan, atau pihak Mas Azam, akan beranggapan kalau aku hidup enak dengan harta-hartanya. Ok, aku bawa uang perhiasan dan surat-surat berharga, tapi aku berjanji apa yang aku bawa saat ini kelak akan aku serahkan pada anakku. Untuk kebutuhan Gio.
[Tazi, loe buka facebook deh. Gosip loe, Azam dan Bu Dewi jadi bahan gibahan. Gue empet banget bacanya.] Itu adalah pesan dari Meli. Aku yang sedang duduk menemani Gio tidur pun tidak pakai lama langsung membuka sosial media dengan lambang huruf F berwarna biru itu. Yah, memang aku banyak berteman dengan teman-teman kantor Mas Azam. Ya niatnya memang aku ingin mengawasi pergaulan suamiku dengan berteman juga dengan teman-teman kantor Mas Azam, ternyata aku justru kecolongan dengan wanita di kantor, dan itu atasannya sendiri lagi. Lucu memang aku berjaga di mana dan ternyata mereka memanfaatkan sisi yang aku anggap aman.
Deg!! Komen yang ada dipostingan tadi pagi sudah banyak banget bahkan sudah hampir seribu, dan banyak juga yang membagikan vidio itu. Yang membuatku geram bukan karena banyaknya yang membagikan, tapi ada seperti yang aku katakan banyak juga yang nyalahkan aku. Komen-komen dari yang mendukung perselingkuhan seolah mereka maha tahu bagaimana kehidupan kami.
Geram rasanya jari ini ingin menyetil ginjal orang-orang yang sok tahu. Aku langsung membuat akun baru dan bersembunyi dengan akun baruku untuk membungkam mulut mereka. Tidak berguna banyak sih, tapi aku yakin kalau aku diam saja semakin banyak komen-komen negatif yang sumbernya dari si maha tahu. Atau malah yang menyudutkan aku adalah antek-antek si gundik dan keluarga ayahnya Gio.
[Alah, kalau istrinya bisa melayani suami ya nggak bakal ada selingkuh.]
[Pengin tahu wajah istrinya, pasti jelek. Makanya cari yang lebih dari yang di rumah.]
__ADS_1
[Mungkin istrinya kerjaannya cuma ngerumpi sama tetangga, makanya suaminya cari yang bisa ngelayani.]
[Tidak akan ada perselingkuhan, kalau istrinya bisa muasain suaminya. Buat para istri makanya perawatan, dandan yang seksi biar suaminya jangan lirik sana sini. Giliran suami selingkuh, istri nangis-nangis.]
[Bukanya dukung perselingkuhan, tapi kalau kasusnya kaya gini, fix istrinya nggak becus melayani suaminya.]
Itu adalah serentetan komen yang membuat jari-jariku gantal pengin balas komen mereka.
[Tahu dari mana istrinya jelek? Situ tetangganya? Nih aku rumahnya depan rumah laki-laki itu. Istrinya cantik, seksi, tapi dasar aja suaminya gatel.] Aku menulis balasan yang membuat pendukung gundik mingkem. Enak ajah selingkuh hanya dinilai dari jelek dan cantik. Apa mereka tidak lihat banyak kejadian selingkuhanya justru lebih tua, bahkan lebih jelek dari bini sahnya. Intinya selingkuh itu asal mau sama mau, nggak perduli cantik atau jelek.
[Aku tetangga mereka, istrinya sudah melayani suaminya, bahkan masak aja nggak boleh asisten rumah tangga, biar suaminya bisa makan masakan istrinya. Belum istrinya baik, sopan. Jadi jangan bilang suaminya nggak bisa merawat suaminya. Toh kalian yang komen gini kaya udah paling bisa ngelayani suaminya aja.]
Aku pun membungkam satu persatu komentar yang menyudutkan aku. Terserah hasilnya seperti apa nantinya, yang jelas aku nggak mau kalau sesama wanita bisa berbicara seperti itu. Tidak ingin dibela yang sampai sebegitunya, tapi minimal sesama wanita dukung dan doakan agar aku kuat. Karena tidak ada di dunia ini yang mau di selingkuhi. Termasuk aku, sudah berusaha melayani, menjaga tubuh biar tetap menarik di hadapan suami nyatanya aku tetap menjadi korban perselingkuhan.
Dadaku rasanya terbakar setiap ada komen-komen yang menyudutkan istri sah ketika ada perselingkuhan dengan dalih tidak bisa melayani suami dan parahnya lagi selalu ada saja yang komen, makanya merawat badan biar suaminya nggak selingkuh. Seolah mereka adalah orang yang benar-benar paling tahu kalau penyebab perselingkuhan adalah dua faktor itu.
Padahal nyatanya faktor dua itu hanya sebagai tameng agar sang istri terkesan bersalah, dan mereka yang melakukan perselingkuhan ada alasan ketika ke gep ber selingkuh.
Nyatanya tidak semua wanita bisa mengerti perasaan wanita lain. Bahkan banyak wanita, bahkan sesama istri sah dan seorang ibu berkata yang menjatuhkan mental. Seperti yang aku alami, tanpa mereka komen dengan yang paling benar mentalku pun tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Aku tetap merasa kalau aku juga sedang mengumpulkan serpihan luka. Menembel hatiku yang rusak. Namun, mereka dengan enaknya berkata yang menyudutkan, dan membuat mentalku kembali remuk.
__ADS_1
Aku menutup ponselku setelah aku membalas komen-komen yang menyudutkan aku.
[Laporan kita semalam sudah diterima oleh polisi, dan kita tinggal tunggu panggilan pada pelapor dan kita setelah itu kita akan bertemu di pengadilan.] Itu adakah pesan dari Handan. Yang cukup membuat jantungku sedikit bernafas lega dan ada semangat baru untuk aku melewati ujian ini.
[Alhamdulillah ... Meli dan Janah juga sedang bantu aku untuk mengumpulkan bukti-bukti lain. Semoga saja tidak berlarut dan aku bisa melihat mereka mendekam di penjara. Terus untuk perceraian aku giman?] Aku menuliskan balasan pada Handan.
[Kasus perceraian sudah masuk juga, tinggal kamu nanti disidang pertama akan ada mediasi dan lain sebagainya, kalau kamu nggak mau bertemu lagi dengan Azam, tidak datang nggak apa-apa nanti aku wakilkan dan biar semuanya cepat juga.]
Kembali aku menghirup nafas lega. Alhamdulillah berkat bantuan sahabatku, semua urusan bisa berjalan dengan lancar.
[Terima kasih yah, sudah mau bantu aku. Oh Ya Dan, kamu ada kenalan yang lagi cari kerja nggak? Aku lagi butuh kerjaan kalau ada boleh kali aku dimasukan. Biasanya the power of orang dalam kan lebih gampang buat cari kerja dan nggak pandang umur, dan pengalaman.] Lagi hanya Handan yang bisa bantu kami. Aku yakin Handan pasti banyak kenalaan orang-orang penting dan mungkin saja bisa bantu aku untuk carikan kerjaan.
"Kenapa nggak kerja ke aku aja, atau mau jadi istri aku juga boleh nggak perlu kerja uang bulanan sudah pasti terjamin.]
#Nah kan play boy-nya mamah Arum beraksi lagi. Maklum dia lagi dikejar target. Ingat kata Mamah Arum kalau gak bawa jodoh juga bakal diobral dan dikawinkan paksa dengan pilihan Mamah Arum, jadi Handan. sedangkan bekerja cari menantu buat orang tuanya.
Bersambung....
...****************...
__ADS_1