
Dokter Erthan tiba di ruang kerjanya. Ia melepas mantel berwarna hijau muda. Mantel itu selalu ia kenakan jika berangkat maupun pulang bekerja. Barang itu sangat berarti baginya.
"Selamat pagi dokter" sapa seorang pimpinan kepolisian.
"Pagi, apa ada berita penting?" tanya dokter Erthan.
"Nanti malam akan ada eksekusi narapidana, tugasmu mendampingi kami dari awal sampai akhir.
Dokter Erthan menghela napas pelan. Ia sebenarnya sungkan jika harus ikut dalam eksekusi narapidana. Tapi itu sudah menjadi tugasnya. Ia bertugas menempelkan titik mematikan di tubuh narapidana yang akan di eksekusi.
"Pimpinan...rasanya aku ingin pensiun jadi dokter forensik" kata Erthan dengan mimik wajah lelah.
"Hahaha itu sudah kewajiban mu dokter, kau bisa pensiun jika semua kasus rumit ku sudah terpecahkan" kata pimpinan polisi.
Erthan duduk sembari membuka ponselnya. Ia memandamg foto seorang hadis disana. senyum tersungging di bibirnya.
"Bella rasanya aku ingin menikah dengan mu, aku ingin berumah tangga dan memiliki anak lalu aku akan jadi pengusaha saja, aku lelah menjadi dokter" gumam Erthan sembari mengusap layar ponselnya yang masih menampkan foto Bella Van Camont.
__ADS_1
Tengah malam tiba saatnya dokter Erthan melakukan tugas beratnya. Ia duduk bersama timnya di ruangan khusus yang sudah di sediakan. Sembari menunggu eksekusi usai ia terus memikirkan apakah profesinya saat ini adalah yang tepat sesuai hati nuraninya.
Terdengar bunyi letusan senjata, itu artinya eksekusi telah dilaksanakan dan semua berakhir. Erthan memejamkan matanya sejenak sebelum menerima jasad narapidana yang akan di antar ke hadapannya.
Selesai dengan semua pekerjaannya dokter Erthan bergegas pergi. Ia pergi ke sebuah restoran cepat saji yang buka dua puluh empat jam. Restoran itu tidak jauh dari VC hospital. malam itu pikirannya sedikit ragu antara lapar atau hanya ingin melarikan diri sejenak dari dunia kedokteran yang ia geluti.
Baru Erthan menyesap minumannya tiba-tiba ia melihat Bella yang baru saja memasuki restoran. Gadis itu tidak melihatnya atau sengaja pura-pura tidak lihat Erthan tidak peduli.
Wanita secantik dan berkelas seperti Bella tidak akan mau dengan ku, sebaiknya aku lupakan saja dia..
Erthan membuka bungkus makanannya dan bersiap memakannya. ia sengaja menunduk tidak menghiraukan Bella yang masih berdiri di kasier untuk membayar makanannya.
"Kau sedang jaga malam?" tanya Erthan memalingkan wajahnya dari Bella.
"Iya, aku tidak menyangka akan bertemu dengan mu malam ini"
Bella menarik kursi dan hampir ikut duduk di dekat Erthan. tanpa Bella duga Erthan berdiri dari duduknya dan berjalan pergi. Ia nampak tidak senang Bella ada di hadapannya.
__ADS_1
"Hei tunggu! Ada apa dengan mu? Tidak biasanya kau sedingin ini padaku?" tanya Bella sembari mengejar langkah Erthan.
Erthan bergeming dan berjalan cepat menuju mobilnya. Ia sedang tidak ingin menggoda Bella. Hatinya sudah cukup kacau hari ini.
"Tunggu Erthan!" Bella menarik lengan Erthan hingga pria itu menghentikan langkahnya.
"Kau kenapa?" Bella memperhatikan wajah Erthan.
"Aku tidak mengganggu mu bukan? Jadi kenapa kau mengganggu ku?" Erthan membuka pintu mobilnya dan bergegas memasuki mobil.
Bella tampak terkejut dengan tingkah Erthan yang tidak biasanya.
"Kenapa kau jadi jutek padaku? Apa kau balas dendam hei...." Bella mengetuk kaca mobil Erthan.
Bella hanya bisa memandang mobil Erthan yang semakin menjauh.
Ada apa dengannya? Kenapa jual mahal begitu? Dasar aneh!
__ADS_1
Bella berjalan kembali ke VC hospital dengan sebungkus makanan cepat saji di tangannya. Zack dan Erthan hari ini cukup membuatnya bingung.