
Bella menggunakan mata kanannya yang lebih jeli untuk membidik senapan di tangannya. sasarannya adalah botol minuman yang berada jauh di depan nya. Peluru menembus botol itu dan pecah berserakan.
Sejak matahari belum terbit Bella sudah berlatih dengan senjatanya. ia menyesal tidak mempelajari menggunakan benda itu dengan lihai seperti Zack menggunakannya.
Dulu Bella tidak ingin seperti Zack yang hari-harinya dilalui dengan membosankan bersama paman Tim. bangun pagi pergi ke sekolah lalu siang hari berlatih beladiri lalu berenang, main musik dan berkuda. Bella kurang suka semua yang lakukan Zack tapi sekarang ia baru menyadari jika dirinya juga perlu memiliki ketrampilan seperti Zack.
Bella mengingat bagaimana ia kemarin di keroyok dan tidak berdaya. Untung Erthan segera menolongnya.
Ah aku hutang Budi dengan pria itu, paling tidak aku harus menemuinya dan mengucapkan terimakasih.
***
Zack bangun tepat pukul delapan ia melirik kesampingnya dan sudah kosong. Lana tidak ada di tempat tidur. Zack bergegas turun dari ranjang dan meraih kimono ia harus bergegas karena ada janji dengan pasiennya.
Selesai mandi Zack mengenakan kemeja putih yang sudah Lama siapkan lengkap dengan dasi berwarna abu-abu dengan motif garis memanjang. Zack berdiri di depan cermin merapikan rambutnya dengan gel dan menyisirnya kebelakang.
"Selamat pagi Mr. perfek face...." sapa Lana sembari meletakkan secangkir kopi di meja rias.
__ADS_1
Zack tersenyum memiringkan sudut bibirnya mendengar julukan baru dari Lana tadi. ia menarik lengan Lana hingga tubuh Lana menghantam tubuh Zack.
"Kau memanggilku apa? Mr perfek face?kenapa sejak kepulangan mu ke rumah ini kau tidak memberiku hadiah?" bisik Zack tepat di depan bibir Lana.
Lana mulai gugup, ia tidak mau Zack curiga apapun. atas rencana balas dendamnya. dengan satu gerakan lincah Lana berjinjit mengecup bibir Zack.
"Apa hanya itu?" seringai nampak di wajah tampan Zack. bola mata birunya terus menatap tajam ke mata Lana.
"Ayolah nanti kakak terlambat" kata Lana sembari merapikan dasi Zack. ia mencoba sesantai mungkin menghadapi Zack.
Lana menyesap kopi itu dan ia ingin memuntahkannya karena rasanya terlalu pahit. selera Zack adalah kopi racikan tanpa gula. ia tidak suka makanan atau minuman manis.
"Apa sangat pahit?" gumam Zack yang berdiri di ambang pintu. rupanya ia kembali lagi ke kamar. ia berjalan mendekati Lana dan meraih cangkir kopi yang di pegang Lana.
"Rasa pahit itu seperti kejahatan Lana, jika kau tidak terbiasa maka kau sendiri yang akan tersiksa"
"Apa maksud kakak?"
__ADS_1
"Tidak ada aku hanya mendeskripsikan rasa pahit dari kopi ini" Zack menyesap kopinya sembari terus menatap mata Lana yang kini terlihat sedikit ketakutan.
"Aku akan pulang terlambat jangan menungguku makan malam" Zack mengecup bibir Lana sembari tersenyum kecil. ia melangkah pergi meninggalkan kamar berjalan menuruni anak tangga.
Gio sudah menunggunya di lantai utama.
"Selamat pagi tuan"
"Pagi Gio, apa ada kabar bagus untuk ku?"
"KanPetra sudah siap untuk di resmikan tuan"
"Hmmm bagus kau atur semuanya dalam waktu dekat aku ingin rumah sakit itu segera beroperasi"
Zack memang memberi nama rumah sakitnya KanPetra hospital. ia tidak menggunakan nama belakang keluarganya karena rumah sakit itu ia bangun sendiri dengan uangnya.
Mobil Zack terlihat berjalan menjauh keluar dari gerbang rumah. Lana mengamatinya dari jendela kamar. jantungnya masih berdebar menghadapi Zack pagi ini. saat pria itu menyentuhnya semakin sering ia hampir terlena dan melupakan balas dendamnya.
__ADS_1