
Zack membuka matanya perlahan ia memandang Lana yang masih tertidur memunggunginya tanpa mengenakan sehelai benang di tubuhnya. Zack menyunggingkan senyum lalu bergeser mendekati Lana. ia melingkarkan lengan kekarnya di pinggang Lana.
"Apa kau sudah tahu cara bertarung denganku?" gumam Zack di telinga Lana sambil tersenyum jahil.
Lana membuka matanya jantungnya kembali berdebar saat Zack membenamkan wajahnya di ceruk lehernya.
"Aku ingin melakukannya lagi dan lagi" Zack mulai mencium pipi Lana beralih ke bibirnya. Sementara Lana hanya diam membeku seperti patung. Antara takut dan marah.
Sebelah tangan Zack sudah bergeriliya dengan aset Lana. Gadis itu hanya bisa pasrah dan menahan tangisnya.
"Kau takut?" Zack berhenti saat tangannya meraba dada kiri Lana. Ia merasa debar jantung yang hebat seolah organ itu akan keluar dari porosnya.
Zack terkekeh geli sendiri dengan Lana, ia berbalik membuka nakas dan mengambil senpi dari dalamnya.
"Pegang ini kau bisa menembakku kapanpun kau mau" Zack meletakkan benda itu di genggaman tangan Lana. Sementara ia sibuk dengan kemauannya. Lana memejamkan matanya menggenggam senpi di tangannya dengan erat.
***
Pagi itu sebelum memulai pekerjaannya di VC hospital dokter Bella menyempatkan untuk duduk di restoran sembari memesan segelas latte. Ia memainkan ponselnya melihat-lihat berita yang sedang update di sosial media.
__ADS_1
"Bella?" sebuah suara menyapa Bella dengan lembut, pria itu lalu duduk di hadapan Bella dan meletakkan gelas kopinya.
"Hai dokter Ryan? Kau disini? kapan kau kembali dari luar negeri?" Ryan memang memutuskan tinggal di luar negeri sejak beberapa bulan yang lalu.
"Aku kembali karena ada yang harus di urus"
"Bagaimana kabar mu dan keluarga?" tanya Ryan.
"Kami baik-baik saja Ryan, selama paman Tim masih ikut dengan daddy semua akan berjalan lancar" senyum Bella mengembang cerah melihat Ryan di hadapannya .
Ryan mengangguk setuju dengan pernyataan Bella, ia membayangkan ayahnya memang seorang yang setia pada tuan Lizard.
Bella dan Ryan terlihat mengobrol santai keduanya memang dekat sejak kecil. Sesekali Bella tertawa menimpali lelucon Ryan.
Sial! Apa populasi pria tampan di bumi ini sudah meningkat?! Pria itu juga terlihat muda dan terpelajar. Aku rasa dia sedang menggoda Bella!
Erthan terus melihat Ryan dari kejauhan, ia kesal sekali dan memutuskan menghampiri kedua orang itu.
"Hai Bell" Erthan tiba-tiba duduk di samping Bella dan meraih gelas kopi milik Bella ia menyesapnya dengan santai.
__ADS_1
"Erthan?!" mata Bella terbelalak kaget ia merasa tidak enak dengan Ryan atas gangguan yang Erthan lakukan di tengah obrolan mereka.
"Dokter Ryan kenalkan ini dokter Erthan"
Ah sial! Pria ini juga seorang dokter rupanya! Sepertinya sainganku cukup berat kali ini!
"Hai aku Ryan" Ucapnya sembari mengulurkan tangan pada Erthan.
Uluran tangan Ryan hampa karena Erthan mengabaikannya. Sekali lagi Bella merasa tidak enak pada Ryan.
"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu nanti kita bisa sambung obrolan kita di rumah aku ingin bertemu tuan Lizard"
"Baiklah Ryan maaf ya"
Erthan memandang Ryan yang berjalan menajuh dengan tatapan tajam.
"Jadi kalian sudah sangat dekat sampai ingin mengobrol di rumah mu?! Apa nona Bella menggunakan kecantikannya untuk memikat setiap dokter tampan di kota ini?"
Bella mendongakkan wajahnya menatap tajam kearah Etthan.
__ADS_1
"Tidak Bella jangan memperlihatkan warna bola mata mu itu aku tidak sanggup melihat keindahannya" Erthan tersenyum jemarinya hampir mengusap pipi Bella.
"Kau gila Erthan!"