
Shirai memasuki kamarnya lalu duduk di lantai bersandarkan sofa. ia menengadah memandang ke langit-langit kamar sembari memejamkan matanya. darah segar masih mengalir dari hidung mancungnya. Luka lebam dan memar terlihat berada di wajahnya. jemarinya juga terluka dan berdarah seperti bekas diinjak oleh sepatu.
Bella yang duduk di ranjang melihat kondisi Shirai. sebagai tawanan tentu Bella senang jika Shirai tidak berdaya tapi sebagai dokter ia tidak bisa tinggal diam melihat luka di wajah dan tangan Shirai. ia segera mencari kotak obat di kamar itu. Bella membuka nakas dan berhasil menemukan kotak obat. Ia meraih kasa untuk membersihkan luka di wajah Shirai.
"Kau terluka? Apa mereka menyiksamu?" tanya Bella sembari mulai membersihkan darah dari hidung laki-laki itu. Shirai membuka matanya menatap Bella tajam dengan kedua mata sipitnya. Bella menghentikan gerakannya karena takut.
"Hottoite!" Shirai menepis tangan Bella dan melemparkan kain kasa ke lantai. Ia tidak ingin Bella menyentuhnya dan mengobati lukanya.
Bella meraih kain kasa itu dan kembali melemparkannya pada Shirai karena ia merasa tidak terima laki-laki itu melampiaskan kemarahan padanya. Bella berjalan dan kembali duduk di ranjang. Sementara Shirai yang menyesal ia meraih gulungan kasa lalu membersihkan lukanya sendiri dan mengobatinya.
"Gomen" kata Shirai dalam bahasa yang asing bagi Bella. Ia masih tidak mengerti jika Shirai bicara dalam bahasa ibu.
"Bersiaplah kita akan menikah secepatanya" kata Shirai seperti tanpa beban mengatakannya. Seolah kata menikah hal yang tidak terlalu penting baginya.
"Apa?! Menikah?! Aku tidak mau menikah dengan pria seperti mu!" kata Bella nyaris histeris.
"Aku tidak sedang memberimu penawaran tapi memberimu perintah!"
__ADS_1
Shirai bisa leluasa menjaga Bella jika ia adalah istrinya dan para anggota Yakuza tidak akan berani macam-macam pada istri tuan muda mereka.
Tapi bagi Bella menikah dengan Shirai adalah minpi buruk. Ia tidak pernah membayangkan menikah tanpa keluarganya.
***
Malam harinya Shirai sibuk minum di salah satu bar yang ada di kawasan Harajuku. Ia dan beberapa anggota Yakuza yang berpihak padanya merayakan musim dingjn dengan minun bersama. Yakuza pimpinan tuan Matsumoto terpecah dua kubu. Yang satu mendukung Matsumoto Shirai sebagai pemimpin yang satu kubu lagi mendukung Matsumoto Ryohei.
"Tuan muda perdana mentri ingin bertemu dengan tuan Matsumoto, bagaimana menurutmu?" tanya seorang Yakuza di sela obrolan mereka di bar malam itu.
"Menikah?!" semua terdiam saling menatap satu sama lain. Terkejut dengan keputusan tuan muda mereka. Bagi para Yakuza menikah bukanlah ide yang bagus. Hidup mereka tidak ada komitmen. Mereka bisa bergonta ganti pasangan dengan siapa saja wanita yang dimau. Sebagian dari mereka tidak ingin menikah karena tidak ingin membahayakan pasangan dan anak-anak mereka nantinya.
"Apa kau yakin tuan muda?"
Shirai malah tertawa terbahak seolah lucu baginya melihat keterkejutan para anggotanya.
"Kalian bantu saja persiapkan gedung untuk pernikahanku"
__ADS_1
Shirai mengenakan mantelnya, ia berjalan sempoyongan keluar dari bar menuju mobil.
"Antarkan aku ke makam Okasan lalu jemput Bella dan bawa dia menyusulku" ucapnya pada sopirnya.
"Baik tuan muda"
Ibu Shirai sudah lama tiada, ia sangat menyayangi ibunya. Satu-satunya orang yang mengerti dirinya dan peduli padanya adalah sang ibu. Mati-matian Shirai belajar hingga ia bisa lulus fakultas kedokteran dan menjadi dokter terbaik di sebuah runah sakit. Tapi semua itu tidak ada artinya karena Shirai gagal menyelamatkan ibunya. Ia tenggelam dalam kesedihannya hingga meninggalkan profesi dokternya dan bergabung dengan sang ayah menjadi anggota Yakuza.
Sementara di kamar Shirai, Bella menemukan surat-surat penting didalam nakas. Bella membuka map berwarna coklat muda. Disana ada surat yang sepertinya sudah lama di tulis. Sayang sekali Bella tidak bisa menerjemahkan isi surat itu karena di tulis dalam ejaan huruf kanji. tapi Bella menemukan selembar foto yang membuatnya terbelalak. Foto Shirai mengenakan baju dokter lengkap dengan stetoskop di lehernya. Ia merangkul seorang wanita paruh baya yang tersenyum dengan wajah pucat.
______
- Hottoite: jangan ikut campur
-Gomen: maaf (informal/ pada teman dekat)
-Okasan: Ibu
__ADS_1