Gang Doctor

Gang Doctor
Part 2


__ADS_3

Zack pulang larut malam dan terlihat lelah. Ia baru saja selesai dengan pasien mafianya. Gio meletakkan tas kerja Zack di kamarnya lalu pamit pulang pada Lana dan Zack.


"Lana aku mau mandi bisa minta tolong siapkan air hangat?" kata Zack sembari melepas semua bajunya dan menggantinya dengan kimono putih.


Lana pergi ke kamar mandi menyiapkan air hangat di bathup.


"Airnya sudah siap kak" kata Lana yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Terimakasih" Zack menahan lengan Lana lalu mengecup bibir gadis itu.


"Lama-lama mencium mu terasa sangat menyenangkan" gumam Zack di telinga Lana yang sontak membuat wajah Lana merona.


"Sudahlah cepat mandi aku akan siapkan makan malam" Lana berjalan memunguti baju Zack yang berserakan di lantai. Lana tertegun melihat noda darah di lengan kemeja Zack.


Darah? Apa dia terluka?


Wajah Lana berubah menjadi cemas. Lana ingat tadi sepertinya tangan Zack baik-baik saja berarti itu bukan darahnya melainkan darah orang lain, batin Lana.


Lana meletakkan baju Zack di keranjang kotor dan bergegas menuruni anak tangga menuju dapur. Ia menyiapkan bahan masakan yang di simpan di lemari es.


Lana membuatkan Zack sup daging. saat sedang sibuk memasak ponsel Lana berbunyi. Benda itu ia letakkan di dekat cermin rias di kamar. Zack baru keluar dari kamar mandi dan meraih ponsel itu.


Nama paman Benedict terpampang di layar ponsel milik Lana.


Zack menolak panggilan telepon itu sembari tersenyum miring.


"Aku sedang menabuh genderang perang dengan dua orang sekaligus Erthan dan Ben! Kalian nikmati saja permainanku!" Zack mematikan ponsel Lana dan bergegas turun ke lantai utama menyusul istrinya yang sedang sibuk dengan masakan di dapur.


"Biar aku membantu mu sayang ...." Zack melingkarkan tangannya di pinggang Lana.


Lana sedang kesulitan memotong daging ia terkejut dengan kehadiran Zack yang tiba-tiba memeluknya dari belakang.

__ADS_1


"Tidak perlu kak biar aku saja" kata Lana.


"Kau meragukan aku memotong daging itu? Biar kutunjukan padamu seberapa lihai aku memotong daging ini" Zack meraih pisau yang ukurannya sedikit lebih panjang dari yang Lana pegang. Pisau pilihan Zack lebih lancip dan lebih tajam.


Lana memundurkan langkahnya mengamati Zack dari samping dengan wajah sedikit takut. Pria itu terlihat dingin, misterius dan menakutkan.


Zack terlihat ahli memegang pisau dapur, Lana tidak tahu jika Zack bisa memasak.


"Aku belajar memotong daging seperti ini dari daddy, ia lebih ahli dariku. Kapan-kapan kita main ke rumah daddy biar kami berkompetisi kau dan mommy Lily jadi jurinya, bagaimana?"


"Iy...iya aku rasa itu menyenangkan" Lana memaksakan seulas senyum.


"Permisi tuan..." Zack menoleh ke arah Gio yang berdiri di dekat pintu dapur.


"Ada apa? Kenapa kembali kemari?"


Gio terdiam melirik Lana ia tidak mungkin bicara di depan Lana.


"Ada apa?"


"Sepertinya Ben mengerahkan anak buahnya untuk membawa nona Lana pergi dari rumah ini"


"Itu tidak akan terjadi"


"Saya bertemu anak buah Ben di jalan dan kami berkelahi tuan"


Zack terlihat berpikir sejenak. Ia melihat ke arah Lana yang sedang sibuk memasak.


"Apa saya perlu menempatkan anak buah kita untuk berjaga di rumah ini dan mengawal nona?"


"Baiklah lakukan saja"

__ADS_1


"Saya permisi tuan"


Lana sudah selesai memasak makan malam dan menyajikannya di atas meja makan.


Zack terlihat tenang menikmati sup daging buatan Lana. Rasanya enak dan cukup bagi Zack.


"Bagaimana rasanya? Kakak suka?"


"Kalau aku bilang suka berarti aku berbohong, rasanya masih biasa saja kau harus lebih pintar membumbui masakan mu ini"


Lana memanyunkan bibirnya seraya mengangguk. Menurutnya masakan itu sudah enak tapi ternyata bagi Zack masih kurang


"Besok bolehkah aku pergi ke pusat perbelanjaan? Aku harus belanja bulanan"


"Baiklah"


Selesai makan malam Zack dan Lana bergegas ke kamar untuk beristirahat. Besok Zack ada jadwal operasi siang hari. Ia harus mengunpulkan tenaganya setelah kemarin malam ia mengobati seorang mafia yang terluka parah.


Lana berbaring di ranjang tidak berapa lama ia terlelap karena lelah setelah seharian menata rumah dan berkebun.


Sementara Zack ia tertidur di sofa setelah membaca buku tebal tentang kesehatan.


Malam semakin larut Lana terlihat berkeringat dingin di sela tidurnya. ia bermimpi buruk tentang pembu*uhan ayahnya.


"Tidaaakkk!" Lana menjerit saat ia bermimpi seseorang menembak ayahnya.


Lana duduk menutup wajahnya, napasnya tersengal. Ia melihat Zack yang masih tertidur lelap di sofa. Lana turun dari ranjang dan mendekati Zack. Ia terduduk bersandar lengan Zack.


"Katakan padaku kak siapa yang melenyapkan ayahku? Kau pasti tahu sesuatu" tanya Lana sembari meneteskan bulir air mata yang terjatuh di lengan Zack.


Zack membuka matanya, ia tetap diam melihat Lana terisak sambil memeluk lengannya.

__ADS_1


__ADS_2