
Bella membuka matanya ia berharap semua yang terjadi hanya mimpi belaka.
"Hai putri tidur kau sudah bangun?" Shirai baru saja membersihkan dirinya dari kamar mandi. Ia bertelanjang dada sembari meraih kemeja dari dalam lemari pakaian. Bella melihat ke arah pria itu berada. Pandangannya terfokus pada tato besar di punggung Shirai bergambar naga berwarna hitam.
Shirai dengan cepat mengancingkan kemeja putihnya lalu mengenakan jas hitamnya. ia berjalan mendekati Bella yang terduduk di sofa.
"Ikut denganku" Shira mengulurkan tangannya Bella dengan ragu dan takut menyambut tangan itu. Meski tidak di pungkiri telapak tanga Shirai selalu terasa hangat dan nyaman. Bella mulai terbiasa jika pria itu menggenggam tangannya.
"Mau kemana?" tanya Bella.
"Bersenang-senang, apa lagi?"
"Aku ingin pulang" kata Bella setengah memohon pada Shirai. Meski ia tahu itu hanya percuma saja.
"Aku adalah rumahmu sayang" tanpa permisi Shirai bahkan berani mengecup bibir Bella yang penuh.
Bella tersentak mencoba melepas genggaman tangan Shirai. Wajahnya sedikit merona merah. Selama ini tidak ada yang berani menyantuhnya seperti itu. Erthan memang menyebalkan tapi ia tidak pernah sekalipun berlaku tidak sopan apa lagi menyentuh Bella.
"Hmmm sepertinya aku bisa saja membuatmu jatuh cinta padaku Bella" kata Shirai sembari tersenyum.
Lagi-lagi senyun manis itu terlihat di hadapan Bella. Terkadang ia luluh dengan kehangatan dan senyum yang Shirai pamerkan padanya.
"Kita naik kereta saja, kau pasti jarang sekali naik kereta bukan?"
"Tapi..aku tidak ingin kemanapun"
__ADS_1
"Ayolah Bella musim dingin di Jepang sangat indah. Aku ingin memberimu kenangan indah tentang hubungan kita"
"Kenangan? apa itu artinya kau akan mengirimku pulang?"
"Iya tapi tidak dalam waktu dekat ini"
Bella terdiam kecewa tapi juga senang setidaknya Shirai ada niat mengirinya pulang ke keluarga Van Camont meski tidak tahu kapan waktu itu akan tiba, ia berharap pria itu tidak lagi tertarik padanya.
"Selamat pagi tuan muda" para Yakuza memberikan salam pada Shirai.
"Hmm" gumam Shirai sembari meraih tangan Bella dan mengajaknya pergi.
***
Bella terkesima dengan hamparan warna putih yang indah menyelimuti jalanan kota Tokyo. Sejak tadi Shirai terus menggenggam sebelah tangan Bella dan memasukannya kedalam saku mantel yang di kenakan Shirai.
"Ayo kita makan di sana" Shirai menunjuk sebuah kedai yang cukup ramai. Ia berjalan mengajak Bella memasuki kedai. Seketika para mengunjung kedai yang tadinya terlihat santai menikmati makanan mereka kini menjadi terdiam dan terlihat tegang. Bella mengedarkan pandangannya ke sekeliling pengunjung kedai.
"Sepertinya mereka mengenalimu? Apa mereka takut padamu?" tanya Bella.
"Tidak sayang, mereka hanya terkejut melihat kecantikanmu"
Bella tidak percaya dengan bualan Shirai jelas-jelas para pengunjung itu takut dengan keberadaan Shirai di kedai itu.
Di sela makan Bella berinisiatif meraih ponsel di atas meja. Ia ingin menelpon ke luar menghubungi daddy dengan ponsel Shirai. pria itu rupanya menyadari gerak gerik Bella.
__ADS_1
"Jangan ingkar janji Bella! Kau pikir aku tidak bisa berbuat sesuatu pada keluarga mu?!"
Napsu makan Shirai hilang sudah, ia mengajak Bella pergi dari kedai itu dan pulang ke rumah. Setibanya di rumah tuan Matsumoto telah menunggu Shirai bersama anggota Yakuza yang lain. Bella segera kembali ke kamar sementara Shira berdiri menghadap ayahnya.
"Kemana saja? Kita menunggumu disini untuk mengambil keputusan" kata tuan Matsumoto.
"Keputusanku tetap tidak ayah! Bisnis obat itu terlalu berbahaya!" jawab Shirai. Beberapa hari yang lalu anggotanya sedang membahas tentang bisnis obat yang bekerja sama dengan mafia luar negeri.
"Lihat dia ayah, karena wanita itu dia jadi pecundang!" kata Ryohei adik Shirai yang merupakan seorang pengacara di kalangan Yakuza.
"Jaga bicaramu Ryohei! semua tidak ada hubungannya dengan gadis itu jadi jangan bawa dia dalam masalah kita"
"Ayah lihat bagainana Onii-chan membela gadis itu?"
"Adikmu benar Shirai! Ayah tidak pernah mengajarkan mu menjadi pengecut. Apa kau mulai berkhianat?"
Shirai hanya terdiam saat ayahnya memukul dirinya ia berlutut tanpa membalas pukulan bertubi yang ia terima. Jika membalas pukulan pimpinan Yakuza maka semua itu dianggap perlawanan atau membangkang. Semua anggota bisa saja bertindak kasar pada Shirai.
Darah segar mengalir dari hidung Shirai. Sang ayah begitu marah padanya.
"Kau calon pemimpin geng ini Shirai jadi jangan lemah hanya karena wanita!" kata tuan Matsumoto lalu pergi meninggalkan putranya diikuti rombongan Yakuza lainnya.
Masalahnya bukan karena wanita tapi karena Shirai memang tidak ingin sesuatu yang berbahaya terjadi pada geng Yakuza pimpinan ayahnya. Ia tidak ingin terjadi pertikaian dengan aparat hukum yang akan menimbulkan banyak korban dari anggota Yakuza mereka.
_______
__ADS_1
-Onii-chan: kakak laki-laki
tokoh Matsumoto Shirai ini sebenarnya adalah sosok yang mengispirasi Thor bisa memunculkan tokoh tuan Lizard Van Camont. dari dialah lahir bos mafia itu. (Sekedar info tidak penting 😁)