
Jo menarik bagian bawah dress Bella dan mencoba menyingkapnya ke atas. Bella tidak Berdaya melawan tenaga para pria itu seorang diri. Jo sudah lama terobsesi dengan kecantikan Bella bahkan sejak mereka masih kuliah dulu.
"Ayo Jo cepat aku juga mau dengan Bella yang cantik ini" kata seorang teman Jo.
Jo tertawa sementara Bella menangis putus asa karena kedua tangan dan kakinya di pengangi oleh teman-teman Jo.
Bragkkk! pintu di tendang dari arah luar. Erthan membuang puntung rokoknya dan menggilasnya dengan sepatu.
"Lepaskan dia..."kata Erthan santai.
Jo dan gengnya saling melempar pandangan. mereka nampak kesal dengan kedatangan si pengganggu satu itu.
"Oh kau lagi, kenapa kau mengganggu kesenangan kami Erthan?! kami tidak pernah mengganggu mu saat kau meniduri wanitamu!" kata Jo tegas di sambut tawa gerombolan yang sedang memegangi Bella.
Erthan menendang perut Jo hingga terpental menabrak tumpukan kardus berisi minuman. ia membabi-buta menghajar Jo dan gangnya dalam waktu singkat.
Setelah puas memberi pelajaran pada Jo dan gang nya yang akan memperkosa Bella, Erthan menoleh ke belakang karena Bella bersembunyi di balik punggungnya.
"Terimakasih" kata Bella perlahan.
Erthan berbalik memandang siku dan wajah Bella yang terluka. ia melepas jasnya dan memakaikannya pada Bella.
__ADS_1
"Ikut denganku, akan ku obati lukamu" kata Erthan.
Tidak ada senyum di wajah Erthan seperti biasanya. pria itu terkesan dingin dan seperti menghindari Bella.
Bella yang nampak takut dan trauma memilih berjalan jauh dari Erthan.
"Jangan takut, aku tidak seperti mereka. berjalanlah di depanku agar aku bisa melindungi mu" kata Erthan.
Bella berjalan di depan Erthan keduanya menuju mobil Erthan yang terparkir tidak jauh dari bar. Erthan mengeluarkan kotak obat dari dalam mobilnya. ia membersihkan luka di siku dan wajah Bella dengan lembut. lalu mengoleskan antiseptik dan menutup luka itu dengan perban.
Bella tampak memperhatikan Erthan dalam diam. ia merasa Erthan berbeda dari biasanya. pria itu tidak lagi menggodanya atau bahkan usil padanya seperti sebelumnya.
"Aku antar kau pulang?" tanya Erthan sembari mendongak memandang wajah Bella yang sedang duduk di kursi mobilnya. sementara Erthan masih berlutut di depan Bella merapikan kotak obat lalu kembali menyimpannya ke dalam mobil.
Erthan hanya diam dalam hati ia setuju jika Bella minta diantar ke VC hospital. tempat itu tentu lebih aman untuk Bella.
Erthan melajukan mobilnya menuju VC hospital. ia membukakan pintu mobil untuk Bella lalu keduanya berjalan memasuki lift.
Setibanya di lantai dua belas di depan ruang kerja dokter Eric, Bella meminta Erthan untuk pulang.
"Baiklah aku akan pulang, beristirahatlah jika kau perlu bantuan kau...."
__ADS_1
"Pulanglah" kata Bella sembari membuka pintu ruang kerja dokter Eric.
Bella ingin berada di ruang kerja pamannya karena ia pasti aman di sana sembari Bella menunggu paman Tim menjemputnya nanti.
Saat keluar dari lift Erthan berpapasan dengan Zack. kebetulan Zack ke VC hospital untuk mengambil barangnya yang tertinggal di meja kerjanya.
"Kau?!" gertak Zack dengan tatapan tajam ke arah Erthan.
Tadinya Erthan mengabaikan Zack tapi Zack menarik kerah baju Erthan hingga membuat langkah Erthan terhenti.
"Ada urusan apa kau kemari?!" tanya Zack.
"Aku malas bicara denganmu!" kata Erthan mencoba melepaskan genggaman Zack dari kerah bajunya.
"Apa maksudmu?! kenapa kau ada disini?!" Zack tak mau kalah ia tak sabar baku hantam dengan Erthan.
"Apa kau tidak mengajari ilmu bela diri pada saudarimu? aku percaya kau menguasai ilmu bela diri yang jauh lebih baik dariku"
"Apa maksudmu?" Zack menjauhkan tangannya dari Erthan.
Erthan tersenyum memiringkan sudut bibirnya seolah sedang mengejek Zack.
__ADS_1
"Dia hampir di perkosa, jika aku tidak menolongnya aku tidak tahu apa yanga akan terjadi padanya"
Zack terdiam tidak percaya. ia membiarkan Erthan berjalan pergi meninggalkan VC hospital. Zack menelpon ponsel Bella sembari memasuki lift ia akan ke lantai dua belas tempat ruang kerja Bella dan dokter Eric berada.