
Lana berdiri di depan seorang pria yang merupakan asisten pribadi mendiang ayahnya. ia memberikan instruksi pada asisten ayahnya untuk membantunya menghancurkan Zack Van Camont.
Ternyata permintaan maaf Lana pada Zack dan ia bersedia kembali pada Zack hanya sandiwara belaka. sejauh ini ia masih belum bisa memaafkan perbuatan keji Zack yang telah menghabisi ayahnya.
Zack tidak bisa dilawan dengan kekerasan karena Lana sudah pasti akan kalah dan tidak berdaya. tapi seorang Lana bisa mengoyak Zack melalui sandiwaranya.
"Apa kau yakin Zack tidak tahu kau bersandiwara?" tanya sang asisten mendiang tuan Dupont.
"Aku yakin dia tidak tahu karena jika ia tahu pasti saat ini aku tidak berada di hadapan anda paman" kata Lana.
"Lalu apa rencana nona?"
"Aku akan menghancurkan reputasinya sebagai dokter ternama. aku tahu dia tidak hanya bekerja di VC hospital tapi ia juga dokter para mafia. aku akan mencari bukti untuk menghancurkannya secepatnya!"
"Kenapa kau tidak menemui dokter Erthan dan mengatakan jika Zack yang menghabisi paman mu Benedict"
"Bukan Zack yang menghabisi paman Ben tapi tuan Lizard. aku tidak ingin berurusan dengannya, urusan kita hanya Zack"
__ADS_1
"Baiklah terserah padamu, yang jelas paman akan membantu sebisa mungkin"
Lana mengangguk sembari meraih tasnya dan berjalan pergi. hatinya pilu menahan antara rasa cinta dan benci di waktu bersamaan.
Lana menganggap Zack sebagai pahlawannya karena menolongnya mendapatkan perusahaan ayah. tidak tahunya ternyata Zack yang melenyapkan ayahnya dan mencoba menebus kesalahannya dengan membantu Lana.
Rasa kecewa membuat Lana menutup cintanya pada Zack saat ini yang ingin ia lakukan adalah membuat Zack menderita.
***
Zack duduk di ruang bawah tanah rumahnya yang tidak di ketahui siapapun termasuk Lana. hanya Gio yang ia beri akses keluar masuk ruang bawah tanah itu.
"Hebat sekali bukan? dia pikir aku mempercayainya begitu saja?!" Zack menghela napasnya. sejujurnya ia geram karena hampir tertipu oleh Lana. ia mengira gadis itu tulus memaafkannya dan bersedia kembali padanya. ternyata Lana memiliki rencana licik di belakang Zack.
Sepertinya aku juga harus melenyapkan si tua bangka asisten mendiang tuan Dupont itu agar Lana tidak memiliki partner yang akan membantunya untuk membalas ku.
"Kalau apa rencana tuan?" tanya Gio.
__ADS_1
"Aku belum tahu, nanti saja akan kupikirkan tentang dendam Lana padaku. saat ini ada yang jauh lebih penting yaitu pembangunan rumah sakit ku pastikan akan selesai secepatnya"
"Baik tuan, oh ya apa saya perlu memasang penyadap di barang pribadi nona Lana selain di tasnya?"
"Boleh juga, pasang di sepatu atau ponselnya jika perlu. aku masih ingin dengar lelucon tentang balas dendamnya padaku" kata Zack sembari tertawa kecil.
Gio mengangguk , ia pamit pergi untuk melihat gedung rumah sakit milik Zack yang pembangunannya sudah sembilan puluh persen.
Zack menyesap minumannya, ia tersenyum dalam hati menertawakan perasaan sayangnya pada Lana.
Dasar gadis pendendam!
Zack duduk di ruang tengah rumah ya. ia mengendurkan dasinya dan melepas dua kancing kemejanya.
Lana baru saja pulang setelah sore tadi ia pergi entah kemana.
"Kakak sudah pulang?" Lana berjalan canggung mendekati Zack ikut duduk di sampingnya.
__ADS_1
Zack menoleh ke arah Lana ia mengecup rambut Lana lalu bersandar pada sofa sembari memejamkan matanya.