
Selesai pesta peresmian KanPetra hospital Zack dan Lana bergegas pulang ke rumah. Lana berjalan lebih dulu menuju kamarnya. Ia ingin segera melepas gaun dan menghapus riasan karena muak dengan tingkah Zack di pesta tadi.
"Sial aku tidak bisa membuka kancingnya..." gumam Lana sembari berusaha menarik ujung ziper gaunnya agar terbuka.
Zack datang dan membantu Lana membuka gaun itu. Ia menarik ujung ziper dengan perlahan. Kulit punggung Lana yang mulus dan putih terlihat menggoda gairah Zack.
Dengan telapak tangannya Zack menyentuh punggung Lana.
"Apa maumu?!" Lana mengeratkan pegangannya pada gaun yang hampir lolos dari tubuhnya.
"Mauku? Kau pasti tahu apa mauku Lana hmm..."
Lana berbalik menatap Zack dengan berani. Bola mata cokelatnya terlihat lelah dan sedih. Zack menyentuh lembut pipi Lana. Dalam hitungan detik ia sudah ******* bibir Lana dengan beringas.
Zack meloloskan gaun indah itu dari tubuh Lana. Dengan santai ia memandangi tubuh indah di hadapannya yang hanya tertutup kain tipis di bagian aset Lana.
"Lana aku...." Zack hampir mengatakan perasaan cintanya pada Lana. Ia terdiam mencoba mengutuki kebodohannya. Sepertinya tidak pantas orang seperti Zack mengungkapkan rasa cintanya pada seorang wanita yang ayahnya telah ia bun*h dengan kejam.
Lana terkejut melihat Zack menunduk lalu berlutut di hadapan Lana dengan wajah bersalah.
"Aku minta maaf Lana apa yang bisa aku lakukan untuk menebus kesalahanku?"
__ADS_1
Lana berbalik membuka laci meja rias, ia meraih pisau lipat dari dalam laci dan mengarahkan ke leher Zack.
Zack tersenyum getir, bola mata birunya terus memandang ke wajah Lana yang penuh kebencian.
"Baiklah jika itu mau mu dan bisa membuatmu mengobati trauma yang kau miliki, aku rela" Kata Zack membiarkan benda dingin nan tajam itu menyentuh kulit lehernya.
Air mata Lana menetes menjatuhi wajah Zack. Genggaman tangan Lana di pisau itu semakin melemah. Zack menghalau tangan Lana dan menariknya kedalam dekapannya.
***
Di ruang interogasi agen Diana terlihat berbicara dengan dokter Erthan. Ia membicarakan keluarga Van Camont.
Erthan hanya tersenyum simpul. ia sedang berpikir bahkan orang lain bisa melihat getaran cintanya pada Bella tapi Bella sendiri tidak mampu melihat tulusnya hati Erthan.
"Apa dia tahu kau menyukainya?" tanya Diana.
"Tidak"
"Sepertinya dia juga menyukai dirimu"
"Itu tidak mungkin Diana, dia itu gadis sombong nan angkuh dia tidak akan jatuh hati pada pria seperti diriku"
__ADS_1
"Sepertinya cintamu padanya begitu dalam sampai kau merendah begitu"
Erthan menghela napasnya sembari menggelengkan kepala.
"Aku rasa tidak mudah untukmu bersama Bella, kau lihat kakaknya begitu membenci dirimu" tambah Diana.
Ya Zack memang penghalang besar bagi cinta Erthan untuk Bella karena itu Erthan memutuskan mundur saja. Tapi sialnya ia masih tidak terima jika Bella di dekati pria lain.
"Oh ya akhir-akhir ini Yakuza semakin merajai kota apa kau dengar beritanya?" Diana mencoba mengalihkan pembicaraan pada pekerjaan karena merasa tidak enak pada Erthan.
"Hmm ya aku dengar tapi sejauh ini tidak di temukan jasad seorang Yakuza"
"Apa menurutmu dokter Zack ada hubungan dengan mereka?"
"Entahlah, bisa saja hal itu terjadi. Zack pasti cukup menarik para Yakuza itu untuk meminangnya menjadi anggota mereka"
"Tapi aku rasa dokter Zack akan menghindari mereka, mengingat bisnis yang di geluti para Yakuza itu bertentangan dengan Zack"
"Entahlah kita lihat saja nanti"
Erthan berdiri dari duduknya lalu berjalan pergi menuju ruang kerjanya.
__ADS_1