
Di kantor penyidik terjadi ketegangan antara agen Diana dan para penyidik kepolisian beserta dokter Erthan. Banyak jasad Yakuza ditemukan tergeletak di lapangan perbatasan kota.
Dokter Erthan memastikan jika para Yakuza tanpa identitas itu mati karena perkelahian dan senpi. Peluru yang di pakai dari senpi itu adalah peluru langka yang tidak di produksi di dalam negeri.
"Siapa menurutmu pelakunya?" tanya salah satu penyidik pada agen Diana.
"Aku rasa Cctv di sekitar jalan itu bisa menjelaskan siapa pelakunya" kata agen Diana.
Diana dan erthan saling pandang karena Diana yakin sang dokter mencurigai satu nama yaitu Zack Van Camont.
***
Zack pulang ke rumah menjelang pagi. Ia menuju ruang bawah tanah karena tangan kanannya tertembak senjata musuh. Ia merobek pakaiannya dan mencoba mengeluarkan peluru yang bersarang di lengan kanan bagian atas. Dengan menahan rasa sakit Zack akhirnya bisa mengeluarkan peluru itu. Ia menyiramkan segelas alkohol ke bekas luka yang masih berdarah itu hingga teriakan keluar dari bibirnya karena kesakitan yang mendera. Zack meraih kapas dan membersihkan lukanya lalu membalutnya dengan perban.
Ia bergegas mengganti pakaiannya dan segera ke kamar menemui Lana.
Zack membuka pintu kamar perlahan agar tidak mebangunkan Lana yang tertidur pulas pikirnya ternyata Lana masih terjaga dan duduk di ranjang menunggu Zack.
__ADS_1
"Zack? Kenapa tadi tidak datang?" Lana turun dari ranjang berjalan menghampiri Zack. pria itu tersenyum merasa bersalah pada istrinya. Lana meraih tangan kanan Zack karena wajah suaminya itu terlihat pucat dan berkeringat.
"Ouhh!!" Refleks Zack kesakitan saat Lana meraih tangannya.
"Kau terluka? Ada apa ini Zack?" panggilan kakak tak berlaku lagi karena Lana masih sedikit kesal dengan Zack.
"Tidak, aku baik-baik saja Lana hanya lelah saja" Zack berbaring di ranjang dengan perlahan.
"Lepaskan bajumu" pinta Lana.
"Kenapa aku harus melepas bajuku? Aku biasa tidur dengan mengenakan baju"
Mata Lana terbelalak, telapak tangannya terkena darah.
"Kau terluka?! Bagaimana ini! Ayo kita ke rumah sakit!" Lana menyambar tasnya dan berusaha membangunkan Zack dari tempat tidur. Zack menarik lengan Lana hingga terduduk di sampingnya.
"Tidak perlu panik, ambilkan aku obat di laci itu dan segelas air" kata Zack.
__ADS_1
Lana bergegas menuruti permintaan Zack dan mengambil obat berbentuk kapsul dari dalam laci meja rias.
Zack meminum obat itu entah berapa jumlahnya ia lalu menegak air putih dan kembali ambruk di tempat tidur.
Lana menyelimuti Zack, jika keadaannya tidak membaik ia akan membawa Zack ke rumah sakit atau menelpon tuan Lizard.
***
"Apa ada bukti kenapa kau selalu menuduh saudaraku?!" Bella meradang dengan tuduhan Erthan pada Zack. Siang itu keduanya bertemu di salah satu restoran dekat VC hospital. Tadinya Bella berpikir akan mengajak Erthan untuk ke pusat perbelanjaan menemaninya mencari beberapa barang tapi melihat pria itu menuduh Zack terlibat dengan kematian para Yakuza ia tidak terima.
"Bella aku tidak ada bukti kuat tapi Cctv di jalan itu menunjukan jika mobil milik Zack dan para Yakuza itu yang melintas terakhir"
"Sudahlah aku tidak ingin bicara dengan mu Erthan!" Bella berdiri dari duduknya dan hampir melangkah pergi tapi Erthan menahan tangan Bella hingga tak sengaja Bella terjatuh tepat di pangkuan Erthan. Keduanya berpandangan dan saling bertatap mata.
Senyum tesungging di bibir Erthan yang terpesona dengan kecantikan Bella. Bola mata berwarna biru itu selalu berhasil menghipnotis dirinya. Sementara Bella entah kenapa jangtungnya tiba-tiba berdebar kencang memandang wajah Erthan dari jarak sedekat itu.
"Ehm! Permisi pesanan anda tuan dan nyonya" Seorang pelayan membuyarkan adegan romantis bak film india itu. Bella segera berdiri dari pangkuan Erthan ia merapikan bajunya dengan salah tingkah. Erthan tak kalah nervous ia berdiri dari duduknya dan mencoba menahan Bella agar tidak pergi.
__ADS_1
"Kita makan dulu, aku minta maaf atas semua yang ku katakan tentang Zack"
Melihat penyesalan di wajah tampan Erthan, Bella akhirnya luluh dan kembali duduk. Keduanya melanjutkan acara makan-makan.