
Malam pertama yang hambar, dingin tanpa kehangatan Bella dan Shirai rasakan. Setelah pernikahan mereka, Shirai pergi dengan anggota Yakuza entah kemana. Bella menunggunya di kamar seorang diri, menangis menyesali nasibnya saat ini. Suasana kamar yang sepi hingga jarum jam berdetak terdengar jelas menambah kesan sunyi yang menggerogoti hati Bella. Ia melirik jam dinding di kamar sudah hampir pagi tapi Shirai tidak juga kembali.
Bagus kalau dia tidak pulang sekalian, aku bisa kabur dari sini! Pikir Bella sembari berusaha mencari paspornya yang di sembunyikan Shirai entah dimana. Bella membuka lemari, nakas hingga di bawah kolong tempat tidur tapi ia tidak menemukan apapun.
Dimana dia menyimpan paspor ku?!
Setelah putus asa mencari paspornya yang tidak juga ketemu, Bella akhirnya tertidur karena lelah. Ia masih mengenakan kimono pernikahannya hanya saja wajahnya sudah bersih dari riasan putih tebal yang membuat Bella tidak nyaman.
Terdengar pintu kamar dibuka, shirai melangkah memasuki kamarnya. Ia memegang lengannya yang berdarah karena tertembus peluru. Shirai mencoba mengeluarkan peluru itu seorang diri, ia tidak ingin membangunkan Bella. Karena kesakitan akhirnya ia berteriak dan membuat Bella terbangun.
__ADS_1
Darah mengucur dari lengan Shirai ia membersihkannya dengan kain kasa dan air bersih. Lalu menyiramkan alkohol dengan kasar ke lukanya. Bella yang diam-diam melihat kejadian itu di buat merinding.
"Kau terluka? Apa kau sudah gila luka ini bisa infeksi jika sembarangan merawatnya!" kata Bella yang mengalah memilih mengobati luka Shirai. Ia membebat lengan Shirai dengan perban.
Shirai mendekati wajah Bella dan meraih dagu gadis itu. Ia mendekatkan bibirnya ke bibir Bella yang menggoda. Bella memalingkan wajahnya tanda penolakan pada suaminya itu. Shirai tertawa, ia meraih jasnya yang tergeletak disampingnya mengambil sesuatu dari dalam saku jas lalu melemparkannya ke arah Bella.
"Itu hadiah untuk mu sayang" kata Shirai sembari menahan senyumnya.
Bella membuka amplop itu dan mengeluarkan dua lembar foto dari dalamnya. Ia terlihat biasa saja tidak bereaksi berlebihan seperti yang Shirai bayangkan. Foto itu memperlihatkan pernikahan dokter Erthan dengan agen Diana.
__ADS_1
"Apa kau tidak patah hati? Kenapa hanya diam?" tanya Shirai heran. Seandainya dia yang ada di posisi Bella ia akan marah melihat kekasihnya menikah dengan orang lain.
"Kau tidak sedih melihatnya mengkhianatimu?" tanya Shirai lagi.
"Sedih? Untuk apa? hatiku sudah mati sejak kau membawaku pergi jauh dari keluargaku!" Bella berdiri dari duduknya lalu berjalan pergi untuk mengganti kimono dengan baju santai.
Shirai terdiam melangkah menuju balkon kamar sembari memegangi sebelah tangannya yang di perban. Ia memandang butiran salju yang melayang-layang di udara. Hati Bella tidak mudah diselami seperti yang ia kira. Shirai telah memisahkan Bella dari keluarganya, membawanya pergi jauh lalu menikahinya dan baru saja ia melempar kenyataan pahit ke hadapan Bella jika teman dekatnya menikahi gadis lain. Bella tetap kaku tetap diam tidak luluh tidak juga mencintai Shirai seperti yang Shirai harapkan.
Di kamar mandi Bella meneteskan air matanya. Orang di sekelilingnya sudah mulai melupakannya. Bahkan Erthan telah melangkah jauh dengan menikahi gadis lain. Bella tersenyum perih. Mungkin sebentar lagi keluarga Van Camont juga akan menggapnya telah benar-benar mati dan melupakannya. Bella menangis tersedu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
__ADS_1