
"Jadi kau seorang dokter?" tanya Bella sembari memapah tubuh Sirai menuju kamar.
Shirai tidak menjawab ia hanya tersenyun miring. Asap rokok mengepul dari bibirnya sejak tadi. Bella bahkan miris takut jika pria itu terkena gangguan paru-paru akibat kebiasan merokoknya itu.
"Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?" desak Bella.
"Memangnya hanya kau dan keluargamu saja yang boleh menjadi dokter?" Shirai merebahkan tubuhnya di sofa. Ia tak lagi mempedulikan Bella. Pria itu memejamkan matanya lalu tertidur pulas.
Bella turun ke lantai bawah mengambilkan air minum hangat untuk Shirai. Tanpa sengaja Bella berpapasan dengan Ryohei di ruang tengah.
"Dimana kakak ku?" tanya Ryohei dingin ia nampak tidak senang dengan Bella.
"Ia di kamarnya sedang tertidur karena terlalu banyak minum"
"Apa benar kalian akan menikah?!" tanya Ryohei tidak percaya.
__ADS_1
Bella terdiam sejenak ia sebenarnya juga tidak menginginkan pernikahan dengan Shirai terjadi.
"Aku tidak percaya dia akan menikah..." Ryohei pergi meninggalkan Bella yang terdiam sembari memegang secangkir air hangat.
***
Paginya Shira bangun dengan kepala terasa pusing ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Di luar sedang terjadi badai salju. Siapapun dilarang bepergian jauh dan dianjurkan untuk tetap di rumah.
Bella lega dengan badai salju yang melanda Tokyo karena pernikahannya juga pasti akan tertunda. Mana ada orang menikah di tengah badai salju.
"Persiapkan dirimu nanti malam kita akan adakan upacara pernikahan" kata Shirai tanpa memandang Bella.
Bella tertegun dan duduk kembali di ranjang. Ia gugup tidak mengira jika Shirai masih akan nekat melanjutkan acara pernikahan mereka. pernikahan tanpa cinta dari Bella, tanpa keluarga Van Camont yang sangat Bella impikan kehadiran mereka di acara sakral dalam hidup Bella.
Malam hari tiba, seorang wanita Jepang datang menghampiri Bella di kamar. Ia membawakan sebuah baju adat dan berniat merias Bella sebelum duduk di pelaminan bersama Shirai.
__ADS_1
"Watashiwa Yui desu" kata wanita itu dalam bahasa ibunya. Bella hanya tersnyum karena tidak memahami tapi ia bisa mengira-ngira jika gadis di hadapannya itu sedang memperkenalkan dirinya.
Bella nampak murung dan tidak bergairah dengan pernikahannya. gadis di hadapannya mulai menata rambut panjang Bella dengan di sanggul lalu wajahnya di lumuri makeup berwarna putih tebal. Bibirnya di bentuk sangat lucu dengan lipstik berwarna merah. Bella tidak lagi mengenali dirinya ia merasa aneh dengan riasan itu.
Yui mengangguk pertanda tugasnya telah selesai ia kerjakan. Ia menggandeng Bella keluar dari kamar. Di ruang tengah Matsumoto Shirai sudah terlihat mengenakan kimono begitu juga para anggota Yakuza lainnya termasuk tuan Matsumoto dan Ryohei yang juga mengenakan baju adat itu duduk bersinpuh menunggu kedatangan Bella.
Jatung Bella berdebar kencang, ia melirik kearah Shirai yang duduk menatap lurus kedepan seolah tidak mempedulikannya.
Bella duduk bersimpuh di samping Shirai sampai upacara adat selesai di jalankan. Di sela upacara adat ada tradisi meminun teh hijau yang bagi Bella rasanya sangat aneh. Pahit di lidah tapi rasanya segar di mulut setelah meminum teh itu.
Para anggota Yakuza begitu tenang mengikuti serangkaian upacara adat. Tuan Matsumoto memberika restunya pada Shirai dan Bella. Ryohei yang sejak tadi berwajah seperti orang salah urat pun ikut mencair memeluk Shirai sembari menepuk bahu sang kakak. Meski Ryohei tetap dingin pada Bella yang sekarang menjadi kakak iparnya.
Mata Bella berkaca-kaca mengingat keluarganya nan jauh disana. Sekarang ia di peristri oleh pimpinan muda Yakuza. Di negeri Sakura yang asing bagi Bella. Entah kapan ia bisa kembali ke negerinya menemui orang-orang tercintanya.
Daddy, mommy Bella sekarang sudah menjadi seorang istri....
__ADS_1