
Sore itu sepulang bekerja Zack menghampiri Lana yang ia kurung di kamar. Zack menyerahkan kotak berhias pita pada Lana.
Lana menatap muak pada Zack yang duduk di hadapannya memamerkan senyum sempurnanya itu.
"Bukalah" kata Zack sambil mengusap wajah Lana dengan lembut.
Lana membuka kotak itu dengan malas. Sebuah gaun cantik terlihat menyembul dari dalam kotak.
"Besok acara peresmian KanPetra hospital jadi kau harus hadir bersamaku"
"Aku tidak akan datang!" kata Lana dingin
"Apa? Kau harus datang! Jangan membuatku marah Lana!"
Zack berjalan keluar kamar sebelum kesabarannya terkuras oleh sikap Lana. Ia menghampiri Gio.
"Besok bawa Lana untuk mempersiapkan dirinya di acara peresmian nanti. Aku tidak mau keluargaku mencurigai sesuatu, pastikan Lana mau datang"
"Baik tuan"
__ADS_1
Zack meraih jaket kulit berwarna hitam ia mengendarai mobilnya menuju kantor kepolisian pusat guna memenuhi panggilan yang di layangkan padanya.
Setibanya di ruang penyidik Zack berhadapan dengan agen wanita bernama Diana Cambers.
"Silahkan duduk dokter Van Camont" agen Diana menatap wajah tenang Zack.
Benar juga kata dokter Erthan pria ini sungguh membahayakan. Sikapnya begitu tenang dan wajahnya sangat menarik perhatian.
"Dokter bisa kau jelaskan tentang foto ini?" agen Diana memperlihatkan lima lembar foto jasad mafia yang baru di temukan kemarin.
"Aku tidak mengenalinya" jawab Zack pendek.
"Benarkah? Bukankah dia salah satu pasien gelapmu?"
"Aku tidak mengenalinya, pasien gelap apa maksud anda nona? Aku bekerja sebagai dokter dan memiliki lisensi. Kau bisa memeriksa VC hospital dan tanyakan reputasiku disana"
"Baiklah dokter, kau bisa memberi alibi apapun tapi penyidik mencurigaimu bukan tanpa sebab"
"Baiklah terserah kalian, silahkan mencari bukti tentang perkara ini. Aku memang tidak terlibat dan tidak tahu. Satu lagi nona agen yang cantik...aku tidak memiliki pasien gelap seperti tuduhan mu tadi"
__ADS_1
Agen Diana terdiam, tidak mudah memaksa seorang penjahat untuk mengakui perbuatannya.
"Cukup atas keterangan anda, mungkin besok kami akan melayangkan surat pemanggilan lagi"
Zack berdiri dari duduknya merapikan jaketnya lalu mengulurkan tangannya untuk berjabatan dengan agen Diana. Zack tahu agen wanita itu mulai terintimidasi dengannya. Wajah agen Diana tampak sedikit memerah saat tangan mereka saling bersentuhan.
Diluar ruang penyidik Zack berpapasan dengan dokter Erthan. keduanya saling menatap tajam, Zack merogoh saku jaketnya. Erthan memundurkan sedikit langkahnya. Ia mengira Zack akan mengambil senjata dan menembaknya.
"Kau takut padaku?..." Zack tertawa meremehkan.
"Kau pikir aku akan menembakmu di kantor polisi? Aku tidak dungu seperti mu Erthan! Aku hanya ingin memberimu undangan ini" Zack menyerahkan undangan peresmian rumah sakitnya pada Erthan.
"Kau mengundangku ke acara peresmian ini? Bukan kah kita tidak berteman?" tanya dokter Erthan.
"Aku tidak sudi berteman denganmu! Aku memberi mu undangan itu sebagai rasa terimakasih karena kau telah menyelamatkan adikku Bella" Zack berjalan pergi meninggalkan kantor polisi. Di dalam mobil ia berganti pakaian dengan kemeja berwarna biru muda. Tas kerja sudah siap di kursi belakang mobilnya. Tak lupa kaca mata hitam bertengger di hidung mancungnya.
Pasien gelapku sudah menungguku...
Dalam hati Zack menirukan gaya bicara Agen Diana. Ia lalu memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju markas seorang mafia besar yang terluka karena bentrok dengan gerombolan Yakuza.
__ADS_1
Akhir-akhir ini memang kota sedang di kuasa para geng pendatang dari negara lain. Mereka mencoba mengintimidasi para mafia lawas dan mengambil alih bisnis gelap para mafia itu.
Zack sendiri ditawari untuk bergabung dengan para Yakuza dan akan di jadikan pemimpin jika ia mau menjadi anggota.