Gigoloku Suamiku

Gigoloku Suamiku
Istriku


__ADS_3

Yuna keluar menjauh dari ruangan bayi tadi, rasanya ingin sekali dirinya menangis tetapi air matanya enggan untuk keluar hingga hanya tersisa lesu yang tampak kentara diwajahnya


Dia berhenti dia area belakang kediaman keluarga Argantara, menatap pada kolam renang yang terletak dibelakang halaman rumah mewah tersebut. Yuna melangkah mendekat ke pinggir kolam seraya menikmati suasana yang begitu tenang dan damai. Perlahan tangannya kembali mengusap perutnya, dimana ada calon anaknya yang bersemayam disitu


"Aku pernah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan pernah memiliki nyawa baru yang akan mewarisi penderitaanku, tapi kamu hadir secara tiba-tiba dan aku tidak punya pilihan selain akan tetap menjagamu, anakku. Semuanya akan terasa baik-baik saja andai ibu tidak mendengar tangisan bayi! Ibu akan baik-baik saja..." gumam Yuna mencoba menguatkan dirinya sendiri sembari terus mengusap lembut perutnya


"Yuna..." panggil sebuah suara tiba-tiba, membuat Yuna menatap pada si pemanggil yang ternyata adalah Ivan


"Kenapa kamu berada disini? Bukankah tadi kamu didalam melihat bayinya keluarga Argantara?" tanya Ivan pada Yuna


"Aku keluar untuk mencari udara segar sebentar, didalam terlalu ramai, lalu kamu sendiri kenapa disini?"


"Ah itu! Sebenarnya aku tidak terlalu suka acara seperti ini. Seperti yang kamu tahu, aku belum menikah dan bayi tentu hal yang tidak mungkin bagiku sebelum adanya pernikahan. Aku menghadiri acara ini hanya untuk menghormati undangan Bima argantara saja, jadi itulah alasan tepatnya kenapa aku sampai berada disini." Ivan menjawab sembari menatap dalam wajah wanita pujaannya bahkan dirinya mengesampingkan moral kalau wanita itu adalah istri dari pria lain


"Ooh, sebenarnya aku juga tidak terlalu suka dengan acara seperti ini tapi karena sahabatku makanya aku memutuskan untuk menghadirinya." balas Yuna tersenyum pada Ivan yang tanpa Yuna sadari senyumannya membawa efek lain pada pria didepannya yang kini wajahnya mendadak bersemu merah, Ivan tiba-tiba terbayang Yuna yang menjadi istrinya dan wanita itu menyambutnya setiap dirinya pulang kerja lalu Ivan akan menciumnya dan membawanya kekamar mereka


Andai ada yang bisa mengingatkannya. Woy, itu istri orang woy! Sembarangan berpikir liar! Mungkin itu adalah kalimat yang paling logis yang akan dikeluarkan si pengingat, tapi nyatanya hanya Yuna yang menatap pria itu sekarang yang tersenyum dalam lamunan liarnya. Opini yang sempat terpikirkan oleh Aaron tentang pria yang akan menatap istrinya dengan pikiran kotor kini benar nyatanya


"Ivan, kamu baik-baik saja?" Yuna melambaikan tangannya didepan wajah Ivan saat melihat keanehan pada pria itu yang tersenyum dengan wajah melamun bengong


"Ah ya! Aku baik-baik saja"


"Kamu melamun?"


"Tidak, aku hanya terpesona pada wajah cantikmu, dan jujur setiap aku melihatmu, hatiku berdebar-debar," Ivan akhirnya mengatakan isi hatinya terhadap Yuna yang membuat wanita itu menatap tidak percaya pada wajah Ivan yang terlihat memerah malu


"Apa yang kamu katakan?" Yuna bingung sekaligus merasa hatinya tergelitik sekarang. Selama hidupnya, tidak pernah ada yang mengungkapkan perasaan pada dirinya, tidak juga suami dan pria sewaannya


"Aku merasa senang saat bersamamu, itulah yang ingin ku katakan." jawab Ivan dengan begitu bangganya bisa mengungkapkan isi hatinya.


Wajah terkejut Yuna perlahan berubah menjadi senyuman lembut. Yuna bersyukur ternyata dirinya tidak seburuk yang selama ini dipikirkan, ternyata masih ada pria yang menyukainya dari sekian kali penolakan menyakitkan yang suaminya haturkan

__ADS_1


"Terima kasih atas penghiburannya, itu membuatku bahagia," ujar Yuna dengan senyum lembutnya sedang Ivan langsung menggeleng


"Tidak! Aku serius mengatakannya..."


"Aku tahu dan aku berterima kasih untuk itu," jawab Yuna dengan tulus. Dia cukup merasa senang akan hal ini walau dirinya tidak bisa menampik fakta kalau tidak ada rasa dihatinya untuk Ivan. Hatinya sudah sepenuhnya diambil oleh dua orang, suami dan gigolonya


Mendengar jawaban Yuna yang tidak mengiyakan dan tidak pula menolaknya membuat Ivan berpikir positif kalau dirinya masihlah ada kesempatan


"Yuna, jika ada waktu! Malam ini maukah kamu makan malam denganku?" kembali dibuat terkejut dengan pertanyaan Ivan yang mendadak, Yuna mengedipkan matanya tidak percaya


"Ivan, apa kamu sadar dengan apa yang sedang kamu tanyakan?" tanya Yuna berharap Ivan menjawab tidak, tapi nyatanya pria itu mengangguk


"Maaf Ivan, aku tidak bisa!"


"Lalu bagaimana dengan makan siang bersama?" Ivan tidak patah arang kendati Yuna sudah menolaknya dengan tegas


"Waktu yang kuhabiskan bersama Yuna sebelumnya sungguh tak bisa kulupakan! Aku ingin bersamanya sedikit lagi" batin Ivan berharap dengan senyum penuh harapan


"Aku tidak bisa__"


"Aaron!" gumam Yuna terkejut, dan kenapa dia mendadak merasa gelisah sendiri seakan dirinya baru saja tertangkap selingkuh oleh sang suami. Padahal nyatanya dia melakukan hal yang lebih dari pada sekedar selingkuh. Aaron menatap tajam pada pria didepan istrinya saat ini


"Kenapa kamu berduaan disini dengan istriku, bajingan?" tanya Aaron dengan nada marah dalam suaranya. Apa? Tunggu! Apa Aaron baru saja mengatakan kata istriku dengan lantang? Yuna ingin sekali tertawa mendengar kalimat yang mungkin mustahil akan didapatnya dari bibir Aaron sendiri. Bibir suaminya paling mungkin mengeluarkan kalimat-kalimat tuduhan kejam untuknya dan apa sekarang, istriku! Hah sungguh lucu rasanya mendengar Aaron mengatakannya


Ivan menatap santai sekaligus malu pada Aaron. Bagaimana dia tidak malu, dia baru saja mengajak makan istri orang


"Maaf, aku lihat Yuna sendirian tadi. Jadi, aku mengajaknya bicara" jawab Ivan yang membuat Aaron tersenyum sinis menanggapi


"Apa karena dia sendirian kamu bebas untuk mendekatinya dan mengajaknya bicara?" tuding Aaron mulai kesal dengan Ivan yang tidak tahu diri


"Aku yang memanggilnya!" sahut Yuna mencoba menengahi dan menatap Aaron tajam

__ADS_1


"Aku bosan dan aku memanggilnya! Jadi, jangan salahkan Ivan." Yuna jelas sedang membela pria lain sekarang didepan suaminya


"Aku tahu tidak seperti itu." Aaron melirik sengit pada Ivan. Dia tahu kalau Ivan sendiri yang memang sengaja mendekati sang istri karena memang itu tujuan pria itu. Membuat Yuna jadi menyukainya


"Tapi memang aku yang memanggilnya..." Yuna tetap kekeuh dengan pembelaannya


"Cukup! Tidak perlu kalian berdrama didepanku, dan usahakan untuk membedakan antara publik dan privasi, aku tidak ingin orang-orang berpandangan lain pada keluargaku sekarang!"


"Iya tenang saja Tuan muda Nelson yang terhormat! Nama besar keluargamu aman tidak akan tergores sedikitpun," jawab Yuna dengan sedikit kesinisan dalam kalimatnya. Aaron yang memperhatikan gerak kaki sang istri menjadi cemas saat Yuna berdiri terlalu dekat dengan bibir kolam renang


"Yuna awas! Jangan melangkah terlalu pinggir dari kolam atau kamu akan terpeleset nantinya!" peringat Aaron yang nyata khawatirnya jika sampai sang istri salah melangkah dan jatuh kecebur. Tidak masalah jika itu akan membuatnya malu karena Yuna dikenal sebagai istrinya tapi membayangkan tubuh Yuna basah dan dipandangi oleh Ivan sungguh membuatnya tidak bisa berpikir jernih selain mencongkel kedua mata pria sialan itu. Bagaimanapun dirinya pernah melihat dan bercinta dengan sang istri dalam keadaan basah sebelum ini. Percintaan yang cukup panas didalam bathtub


Kekhawatiran Aaron jelas dipandang lain oleh Yuna. Wanita itu berpikir kalau suaminya itu tidak ingin dia jatuh yang nantinya juga akan mempermalukan Aaron sebagai suaminya. Yuna hanya tersenyum sinis dan mengabaikannya


"Apa pedulimu?" jawab Yuna tajam yang memantik rasa suka di mata Ivan sekaligus khawatir melihat Yuna yang semakin menantang berdiri tepat dipinggir kolam yang berair penuh. Ivan juga khawatir wanita pujaannya itu nanti terjatuh kedalam kolam


"Iya Yuna, aku setuju dengan Tuan Aaron! Kamu bisa saja terpeleset dan jatuh ke kolam..." Ivan ikut memperingatkan. Yuna tersenyum pada Ivan yang juga terlihat khawatir


"Tenang saja, ini am__ aakkhh!" Byuurrr.....


Yuna jatuh tercebur saat mencoba membuktikan kalau tempat berdirinya sama sekali tidak licin. Alhasil sepatunya benar-benar terpeleset hingga membuatnya kehilangan keseimbangan


"YUNA!!!" teriak Aaron beserta Ivan bersamaan


"Tidak!! Anakku..." batin Yuna menyentuh perutnya sebelum dirinya jatuh tenggelam kedalam kolam renang yang memang dibuat cukup dalam ditambah dengan dirinya yang tidak bisa berenang


.


.


.

__ADS_1


Pesan: makanya kalau orang katakan itu bahaya dengerin! Jangan keras kepala hanya karena pertahankan ego, celaka kan jadinya hehe😁


Kritik dan saran diharapkan🙏


__ADS_2