Gigoloku Suamiku

Gigoloku Suamiku
Tenang


__ADS_3

Cahaya mentari nampak merembes dibalik tirai yang baru saja terbuka oleh sebuah tangan halus yang lalu beralih pada perut buncitnya. Suasana diluar sangatlah nyaman untuk dipandang, dimana cahaya cerah merembak menerangi seluruh permukaan bumi sejauh pandangannya, serta kicauan burung yang menari-nari diangkasa bersama sapuan angin lembut yang menyejukkan suasana. Harum kelopak bunga tidak mau meninggalkan kesan betapa indah hari ini tercipta, pohon-pohon juga mulai merontokkan dedaunan kering di batangnya, tidak mau ikut terhalang dalam keindahan yang tertangkap mata setiap insan


Yuna tersenyum sembari menghirup lembut udara segar yang memasuki rongga paru-parunya. Sungguh suasana yang ditempatinya terlihat begitu damai. Tangannya juga tidak berhenti mengusap lembut perutnya yang mulai terbentuk. Yuna mencoba membagi ketenangan yang dirasanya dengan buah hatinya didalam kandungan


Dirinya begitu bersyukur bertemu dengan Renata yang membawanya pada keluarga yang ditempatinya sekarang. Keluarga seseorang yang juga dikenalnya dengan baik, Yuna tidak menyangka orang yang dikenalnya ini berteman dengan Renata yang terkenal menjauh dari para orang kaya. Sungguh rasanya dunia ini begitu kecil


Sudah seminggu Yuna menetap di rumah ini, tapi belum ada semenitpun dirinya tidak merasa nyaman dan aman dengan sikap orang-orang dalam keluarga ini. Mereka memperlakukannya dengan begitu baik


Namun, setenang apapun jiwanya Yuna rasakan sekarang ini tetap saja ada bagian hatinya yang tercubit akan rasa rindu pada sosok ayah biologis janinnya, mantan suaminya yang memang tidak semudah itu bagi Yuna menghapus nama yang sudah tercetak bertahun-tahun dihatinya


Yuna memperhatikan sebuah sarang burung di batang mangga yang tumbuh didekat jendela dirinya berdiri. Didalam sarang kecil itu tampak sepasang burung kecil yang saling menyayangi dengan cara mengusap diri dengan pasangan disampingnya. Burung yang bahagia, pikir Yuna. Andai hidupnya layaknya burung itu dengan Aaron pasti Yuna akan merasa begitu bahagia


"Hari ini terlihat cerah ya?" sebuah suara mengalihkan atensi Yuna dari indahnya alam dipagi hari pada sosok wanita paruh baya di ambang pintu dengan nampan berisi makanan ditangannya. Wanita yang sudah cukup berumur itu masihlah begitu cantik walau sudah bisa dikatakan tua


Melihatnya membuat Yuna teringat pda sosok Miss Gio yang juga melakukan hal sama saat dirinya masih menyewa gigolo dulu, sungguh Yuna merindukan sosok Miss Gio dengan sikapnya yang kadang-kadang begitu keibuan


"Ah Ibu, kenapa repot-repot?" Yuna bergegas pada wanita yang dipanggilnya ibu lalu berusaha untuk mengambil nampan ditangan sang ibu. Wanita tua itu bernama Emma

__ADS_1


"Tidak apa-apa nak, kamu harus makan tepat waktu agar bayinya bisa sehat dan tumbuh dengan baik," jawab si ibu tersenyum lembut pada Yuna lalu meletakkan nampannya diatas nakas. Si ibu menarik Yuna pelan dan membawanya untuk duduk disampingnya diatas ranjang Yuna


"Apa ada hal yang membuatmu tidak nyaman disini, nak?" tanya si Ibu yang membuat Yuna langsung menggeleng spontan. Bagaimana dia tidak nyaman saat dirinya diperlakukan seperti ratu dirumah ini. Yuna tidak pernah menyangka kalau keluarga dimana dia tinggal sekarang dipenuhi oleh orang-orang baik


"Tidak, tentu saja tidak, Bu! Aku begitu senang tinggal disini bersama dengan Ibu, Gina, dan__"


"Ibu mengerti! Syukurlah kalau kamu senang tinggal disini nak, lalu bagaimana keadaan jagoan didalam sini?" si Ibu beralih pada perut Yuna, mengusapnya dengan lembut sembari bertanya


"Dia baik-baik saja, Bu." jawan Yuna tersenyum


"Syukurlah! Kamu harus tumbuh jadi orang yang hebat ya nak, agar kelak bisa menjaga dan melindungi ibumu," tutur si Ibu kembali yang membuat Yuna tersentuh tiba-tiba. Suara lembut dari si Ibu seakan membawa Yuna kembali ke masa kecilnya dimana dulu dirinya begitu menginginkan kasih sayang seperti ini, tapi ibunya tidak pernah ada dan tidak pernah memeluknya


Putrinya sibuk dengan pendidikannya selama ini dan berencana menikah akhir bulan depan. Kapan ada waktu sang putri untuknya yang hari-harinya sibuk dengan kuliah serta calon suaminya. Lalu soal sang putra, Bu Emma cukup sulit untuk menjabarkannya. Putranya pernah berada di titik rendah hingga pernah depresi dan melakukan hal gila karena sikap mendiang suaminya yang terlalu menuntut pada sang putra


"Ibu malah bersyukur kamu ada disini nak, jadi ibu punya teman untuk diajak bicara. Kamu tahu kan kalau anak-anak ibu terlalu sibuk dengan dunia mereka, hingga terkadang sulit untuk mereka menemani ibu," jelas bu Emma sembari menatap Yuna dengan senyuman lembutnya sedang Yuna hanya membalasnya dengan senyum lembut juga


"Oh ya! Mari sarapan dulu, jangan biarkan cucu jagoanku sampai kelaparan!" seru si ibu kembali seraya meraih sarapannya, bermaksud ingin menyuapi Yuna yang langsung diambil alih oleh Yuna sendiri. Sungguh, dia merasa tidak enak dengan semua perhatian yang didapatnya walau ada ruang kosong dihatinya yang terpenuhi akan kasih sayang seorang ibu

__ADS_1


"Biar Yuna makan sendiri saja, Bu" ucap Yuna yang mulai menyuapkan makanan kedalam mulutnya


"Oh ya bu, kapan pernikahan Gina akan dilaksanakan?" tanya Yuna yang merasa begitu antusias dengan kabar dari pernikahan putri Bu Emma, sebuah pernikahan yang pasti penuh dengan cinta. Yuna tersenyum perih saat teringat akan pernikahannya dulu yang tampak bagai pernikahan bisnis saja. Bagaimana tidak? Aaron menikahinya karena ancaman dari mertuanya dan juga demi sebuah keuntungan besarnya, sedang dirinya? Yuna ingin sekali tertawa, hanya dialah satu-satunya orang yang melibatkan perasaan dalam pernikahannya dengan Aaron


"Akhir bulan depan, putri ibu akan segera menikah dan putri ibu yang ini harus hadir didalamnya," ujar Bu Emma seraya menyentuh lembut pipi Yuna yang menatap haru wajah teduh bu Emma. Sungguh inilah impian Yuna dahulu, kasih sayang nyata dari seorang ibu. Yuna hampir saja menangis andai tidak ingat akan sopan santunnya. Bu Emma benar-benar membuatnya seperti merasakan sosok ibu hadir dalam hidupnya yang hampa


Yuna tidak pernah sadar, kebaikan kecilnya membawanya pada tingkat ini, dimana dia bisa merasakan apa yang tidak pernah didapatnya dulu saat kecil


"Terima kasih, Bu" balas Yuna yang menyentuh tangan Bu Emma di pipinya


"Yuna pasti akan ada di pernikahan adik Yuna..." lanjutnya sembari meresapi hangatnya tangan yang mengusap pipinya. Begitupun Bu Emma yang menatap Yuna penuh kasih, sungguh dirinya sudah menganggap Yuna seperti putrinya sendiri, dan karena itulah kenapa anak diperut Yuna menjadi cucunya juga


"Terima kasih, Renata!" ungkap batin Yuna begitu bersyukur dengan pertemuannya dengan Renata yang sekarang telah berada di Kota Y. Sungguh kehadiran Renata tepat disaat dirinya memang sedang membutuhkan pertolongan, dan diam-diam Yuna juga merasa kalau putra Bu Emma yang masih lajang cocok dengan Renata walau sahabat barunya itu menyandang status sebagai seorang janda yang suaminya meninggal. Andai saja! Yuna berpikir itu pasti akan sangat menarik


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2