Gigoloku Suamiku

Gigoloku Suamiku
Kepergian papa Mertua


__ADS_3

Tanpa berpikir panjang, Aaron dengan segera membuka amplop berisi surat tersebut. Dia perlu memastikan sendiri kalau isi suratnya adalah kalimat selamat tinggal bukan undangan untuknya seperti biasa


'Hai, Terima kasih kamu sudah bekerja keras selama ini dalam melayaniku tapi sekarang aku ingin mengucapkan selamat tinggal, kamu sudah bisa berhenti datang sekarang.


Aku sudah membayar semua jasamu dan kamu adalah gigolo yang sangat baik. Terima kasih padamu atas kesenangan yang kau berikan selama ini dan sekarang... Kalimat terakhirku


Selamat tinggal'


Isi surat dari Yuna yang membuat Aaron linglung seketika. Apa ini? Kenapa tiba-tiba Yuna memutuskan hal seperti ini padahal seingat Aaron dirinya tidak pernah membuat masalah dengan Yuna saat menyamar menjadi gigolo tapi kenapa?


"Tuan!" panggil Jimmy saat melihat atasannya itu linglung dan membawanya untuk duduk dikursi kebesarannya


"Anda baik-baik saja?" tanya Jimmy sedikit khawatir pada Aaron yang terlihat tidak fokus. Ternyata perasaan Tuan-nya pada sang istri sudah seakut itu


"A-aku harus pergi menemui Yuna sekarang!" ujar Aaron yang tidak kuasa menahan dirinya lagi saat pemikiran buruk memenuhi kepalanya. Apa istrinya sekarang sedang bersama gigolo lain?


"Pergi? Tapi Tuan jadwal Anda..?" kata Jimmy yang merasa harus menanggung kembali jadwal yang Tuannya batalkan. Aaron melirik pada arlojinya dimana jam sudah menunjukkan pukul tujuh sore, bahkan waktu sudah begitu malam tanpa disadarinya


"Aku tidak peduli, aku harus pergi sekarang! Kamu urus saja semuanya ya!" ujar Aaron tanpa berpikir panjang lagi


"Ah, ya... Baiklah!" hanya itu yang bisa Jimmy jawab saat kini dirinya yang berganti linglung. Atasan sialannya benar-benar tidak tahu waktu saat menyuruhnya menghandel semuanya sendiri, siap-siap baginya menahan malu lagi didepan klien sekarang. Malang sekali nasibmu Jimmy

__ADS_1


Tanpa mendengar kata terakhir Jimmy, Aaron sudah menghilang dibalik pintu ruangan kerjanya setelah menggapai kunci mobilnya, Aaron harus bergegas ke mansion sekarang karena menilik dari surat istrinya hanya ada dua kemungkinan besar yang terjadi. Yuna menyewa gigolo lain atau istrinya itu pergi meninggalkan mansionnya


πŸ€πŸ€πŸ€


Di mansion, Yuna sudah bersiap dengan pakaian seksinya beserta segelas Wine yang disediakannya. Dirinya duduk sembari memutar-mutar bibir gelas dengan jarinya serta pikirannya yang terus terbayang akan semua kejadian ini. Dimulai dari dirinya yang memutuskan untuk move on dari Aaron serta pernah terpikir olehnya untuk menjalani hidup dengan gigolonya sekarang, tapi nyatanya kejutan takdir benar-benar membuatnya bungkam dengan segala rencana yang tersusun, Yuna tertawa saat teringat semuanya


Sore tadi setelah kepulangan Miss Gio, Yuna menguatkan diri untuk menuju rumah sakit tempat mertuanya dirawat. Dia ingin sekali melihat keadaan mertuanya sekarang. Sesampainya di rumah sakit Yuna hanya bisa menahan air matanya melihat keadaan pak William Nelson. Kecil kemungkinan mertuanya itu bisa bertahan lama dengan segala alat medis yang kini menempel di tubuhnya


Yuna mendekat pada sang mertua yang hanya bisa membuka matanya kecil bahkan tidak lagi sanggup untuk bergerak lagi


"Pa, Yuna datang lagi pa," ujar Yuna meraih tangan sang mertua yang berinfus dengan beberapa alat medis lain yang menempel disana


"Papa jangan khawatir lagi pada keadaan Yuna pa. Papa bisa beristirahat dengan tenang sekarang! Berhenti menyakiti diri papa dengan berusaha untuk bertahan. Yuna tahu, papa sudah tidak sanggup lagi tapi keinginan dan kasih sayang papa pada Yuna membuat papa tetap bertahan. Yuna sangat bersyukur memiliki mertua seperti papa" ujar Yuna membawa tangan sang mertua pada pipinya. Dia menangis


"Papa akan segera jadi seorang kakek! Yuna hamil pa, cucu papa. Anak putra papa, Aaron." kata Yuna dengan air mata bahagianya. Dapat mewujudkan salah satu keinginan mertuanya cukup membuat suatu kebahagiaan dihatinya. Tanpa Yuna sadari, mata pak William mengalir satu titik air mata dan hatinya penuh dengan rasa syukur melihat gambar usg yang ditunjukkan Yuna


"Yuna akan merawatnya dengan penuh cinta pa. Yuna janji, cucu papa akan hidup dengan penuh cinta. Jadi, papa janganlah khawatir lagi! Hidup Yuna sekarang sudah baik-baik saja. Papa berhentilah memaksakan diri dan istirahatlah dengan damai." Yuna mendekat pada wajah sang mertua dan mencium keningnya dengan penuh kasih sayang


"Yuna menyayangi papa!" ujar Yuna mengecup dalam kening sang papa mertua


Setelah kalimat terakhir itu Yuna melihat wajah mertuanya tersenyum dengan setitik air mata diujung matanya dan perlahan terdengar detektor jantung berbunyi dan memperlihatkan satu garis lurus dilayarnya yang berarti jantung sang mertua sudah berhenti berdetak

__ADS_1


"Terima kasih sudah hadir dalam hidup Yuna, pa." Yuna tidak dapat menahan air matanya yang merembes. Dia menangis keras karena dia harus kehilangan orang yang tulus menyayanginya


Para perawat dan dokter mendekat, mereka hanya terdiam melihat adegan itu. Memang sudah seharusnya pak William untuk beristirahat sekarang setelah setahun lebih hidup dengan bermodalkan bantuan alat medis


Setelahnya para tim medis mengumumkan waktu kepergian Tuan William dan melepaskan seluruh alat medis yang terpasang di tubuhnya. Perawat pernah memberitahu Yuna kalau tubuh mertuanya itu sudah terlalu lelah dan sudah tidak kuat lagi untuk bertahan tapi seakan ada tekad yang tersisa hingga pak William masih saja mampu bertahan dititik penghabisannya


Yuna memeluk tubuh sang mertua yang tidak lagi bernyawa, rasa bersalah itu ada. Papa mertuanya pergi tanpa sempat menyelesaikan permasalahannya dengan Aaron tapi melihat wajah tersenyum yang tersemat diakhir hidupnya membuat Yuna sedikit merasa senang, setidaknya mertuanya tidak pergi dengan penyesalan penuh. Ada keinginannya yang terpenuhi


"Istirahatlah dengan tenang,Pa." Yuna mengusap wajah sang mertua yang terpejam dengan penuh kasih sayang dan tidak mengalihkan sedikitpun tatapannya saat para perawat mulai membawa tubuh sang papa untuk dimasukkan keruang mayat


"Kami akan memberitahukan ini pada Tuan Aaron," ujar salah satu perawat yang dihalangi tindakannya oleh Yuna saat mencoba menghubungi nomor Aaron


"Sus, jangan beritahu padanya dulu karena saya tidak yakin Aaron akan peduli dan tolong siapkan pemakaman yang terbaik untuk papa mertua saya."


Si perawat menatap Yuna sejenak lalu mengangguk mengiyakan. Karena bagaimanapun dia tahu bagaimana sikap Aaron dengan pasien yang dirawatnya, dan penyebab pak William semakin parah juga karena Aaron yang tempo hari datang dan pergi tidak peduli setelah membuat pak William kejang-kejang dan kritis


Hari itu pemakaman mertuanya dilakukan, dan Yuna hanya bisa menyaksikan kepergian sang mertua sendirian dengan berderai air mata. Yuna sudah merencanakan semuanya malam ini untuk memberikan pelajaran pada Aaron untuk terakhir kalinya sebelum dirinya memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Apalagi dirinya sekarang sudah tidak punya apapun lagi untuk dijadikan penghalang berpisah dengan Aaron. Papa mertuanya sudah pergi dan sesuai dengan perjanjian dirinya dengan Aaron, mereka akan resmi bercerai


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2