Gigoloku Suamiku

Gigoloku Suamiku
Gengsian


__ADS_3

"Tindakan tuan Aaron semalam terlihat begitu manis dan romantis. Kurasa Tuan Aaron akan membatalkan ide perceraiannya!" ujar Minnie antusias. Yuna kembali menatap pada sang pelayan setia


"Apa katamu? Apa maksudmu Aaron akan membatalkan perceraian?" tanya Yuna bingung


"I_itu hanya pemikiran saya saja Nyonya!" jawab Minnie menatap ragu pada Nyonya-nya. Yuna tersenyum dalam tawa kecilnya. Betapa bodohnya dirinya yang sempat berharap dirinya tidak benar-benar diceraikan oleh Aaron tapi nyatanya itu adalah fakta yang harus ditelannya, dan surat cerai ditangannya dimana sudah ada tanda persetujuan dari sang suami menjadi bukti kalau dirinya benar-benar ingin diceraikan


"Oh! Jadi begitu..." keluh Yuna yang mencoba terlihat tersenyum padahal faktanya dia sungguh merasa hatinya perih sekarang. Yuna menatap pada jendela kamarnya dimana biasanya cahaya masuk membuncah tapi tidak dengan hari ini


Langit hari ini gelap, awan kelabu terlihat indah membentang di cakrawala langit tapi, entah apa yang dapat Yuna katakan. Dia tidak tahu kenapa hatinya mendadak suram. Apa itu karena cuaca? Tentu tidak! Suasana hati dan takdir hidupnya tidak ada hubungannya dengan cuaca dan Yuna harus mengakuinya


Selepas kepergian Minnie keluar dari kamarnya untuk menyelesaikan pekerjaan lain, Yuna menyentuh dadanya yang terus saja terasa berdenyut sakit, Bukan sakit karena suatu penyakit mematikan tapi sakit karena ada hal yang tak dapat digapainya setelah semua kesabarannya selama ini. Yuna tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaannya sekarang. Awalnya dia ingin segera bercerai dengan sang suami karena sudah merasa tidak pantas untuk sang suami, dirinya telah kotor dan menjadi bekas dari lelaki lain. Tapi setelah mengetahui fakta siapa yang menjadi selingkuhannya selama ini membuat kata cerai itu tidak ingin hadir dalam kehidupannya, ditambah dengan nyawa baru yang sedang bertumbuh didalam dirinya yang pastinya membutuhkan sosok seorang ayah nantinya. Yuna menjadi dilema antara dua pilihan, bertahan dalam kebohongan Aaron atau pergi meninggalkan sang suami.


Pilihan pertama hanya akan membuatnya terluka disetiap detiknya karena jelas suatu kebohongan tidak akan membawa kebaikan baginya, tapi jika Yuna mengambil pilihan kedua, bagaimana dengan papa mertuanya dan juga kehidupannya dengan anaknya setelah ini, akankah menjadi lebih baik?


"Seberapa jauh aku bisa berlari?" gumamnya yang kembali menekan dadanya keras. Kenapa keegoisan Aaron membuatnya sampai harus menerima semua penderitaan ini


πŸ€πŸ€πŸ€


Malamnya, Aaron pulang dengan wajah dan tubuh lelahnya. Percuma saja baginya menyuruh Jimmy untuk mengambil kendali setengah pekerjaannya karena nyatanya dia masih harus berperan besar dalam setiap pertemuan dan bahasan bisnisnya

__ADS_1


Aaron pulang dan langsung menuju kamar sang istri. Sesampainya dirinya dikamar Yuna, Aaron terdiam dengan tangan yang menggantung ingin mengetuk kamar itu.


Sore tadi dirinya merasa begitu senang saat Minnie menelponnya dan mengatakan kalau istrinya sudah sehat, Aaron ingin cepat-cepat kembali ke mansion namun kerjaannya lagi-lagi menyita waktunya. Kasusnya ini menjadi pelajaran bagi orang lain untuk tidak terlalu haus akan kekuasaan karena jelas kau akan kehilangan suatu moment penting dalam setiap perjalanan. Entah yang akan hilang adalah harta, waktu, dan tenaga. Dalam kasus Aaron sekarang jelas dirinya merasa tidak punya cukup waktu untuk semuanya


Rasa gugup menghampiri Aaron tepat di depan pintu kamar sang istri


"Apa yang sedang kulakukan sekarang?" Aaron menghembuskan nafasnya lesu. Tangannya yang tadinya bersiap mengetuk terulur kembali ketempat semula


"Kenapa aku menjadi gugup seperti ini, dan kenapa rasanya tanganku begitu berat untuk mengetuk pintu ini?" batin Aaron merasa begitu ingin untuk melihat sang istri sekarang. Melihat wajah cantiknya, memeriksa keadaannya dan ingin tahu apa yang sedang dilakukan Yuna sekarang


"Tuan, Anda tidak berniat masuk?" suara Minnie terdengar nyaring tepat dibelakang tubuh Aaron yang terkejut, lalu berbalik menatap pada satu-satunya pelayan wanita di mansion itu.


"Diam! Suaramu keras sekali, bagaimana jika Yuna mendengarnya?" ujar Aaron lebih seperti suara berbisik


"Ah ya!" kebingungan memenuhi kepala Minnie sekarang. Apa yang sedang dilakukan Aaron didepan pintu kamar Nyonya-nya?


Minnie membawa nampan ditangannya yang berisi makan malam untuk Yuna beserta obat yang diresepkan dokter, namun melihat kelakuan Aaron didepan pintu kamar nyonya-nya sungguh membuat Minnie gemas ingin langsung mendorong pria gengsian itu kedalam. Minnie tahu kalau Tuan-nya itu perhatian pada Nyonya-nya tapi dia tidak bisa menjelaskan betapa menyebalkannya sifat plin plan yang dimiliki Tuannya itu. Andai Minnie tidak ingat posisi dan jabatannya yang bahkan tidak bisa setara pinggang Aaron, sudah benarlah dia dorong itu si Tuan gengsian dan menceramahinya seharian


"Anda ingin menemui Nyonya?" tanya Minnie dengan suara yang jauh lebih pelan, lagian kalaupun dia berteriak sekarang siapa yang peduli. Hanya Aaron satu-satunya orang gila di Mansion yang mengira suara berisiknya dapat mengganggu Yuna. Aaron mengangguk menanggapi tanpa merepotkan diri untuk menjawab

__ADS_1


"Baiklah! Kalau begitu saya datang nanti saja." Minnie langsung berbalik tanpa membawa makanan dinampan itu pada Nyonya-nya. Minnie mencoba untuk memberi ruang pada pasangan gengsian itu untuk bisa berdua dan bicara


"Satu gengsian dan satu lagi tidak peka! Heuh... Begini amat punya majikan..." keluh Minnie sembari terus melangkah kearah dapur. Andai Minnie tau bukan hanya dia yang stres karena sepasang majikannya itu, mungkin Minnie dapat berbagi tips dengan Jimmy cara membuat pasangan kurang konek itu untuk lebih peka dan terbuka


Selepas kepergian Minnie, Aaron kembali menghelakan nafasnya berat lalu meraih gagang pintu kamar Yuna


"Baiklah, cukup buka pintunya, Aaron. Yang harus kau lakukan adalah buka saja pintunya," ujar batin Aaron memberi semangat pada dirinya sendiri. Lalu helaan nafas terakhir Aaron benar-benar membuka pintu kamar itu dan mendorongnya


Klek... Aaron masuk kedalam kamar dan langsung bertemu mata dengan Yuna yang menatapnya, sedang Aaron membeku ditempat


Oh sial! Istrinya seratus kali lebih cantik dari semalam. Bibir yang semula pucat kini mulai kembali memerah merekah, bibir yang sangat sempurna untuk diciumnya, bibir kecupable. Wajah yang semalam dilanda panas dingin kini terlihat kembali merona dan memerah serta mata indah yang semalam tidak mampu terbuka, kini menatapnya fokus dengan wajah bingung dan heran


"Sial!" Aaron kembali mengumpat didalam hati saat melihat pada sang istri. Andai keadaannya tidak canggung seperti sekarang dan hubungan mereka baik-baik saja, Aaron akan memilih langsung meraih sang istri lalu menciumnya dan kemudian tentu saja mengajaknya untuk bercinta. Tentu saja pikirannya tidak bisa jauh dari hal itu, apalagi penampilan sang istri yang... Sejak kapan istrinya terlihat secantik dan seseksi itu?


"A-apa kamu baik-baik saja sekarang?" tanya Aaron untuk memecah kecanggungan dengan wajah memerah serta pandangannya yang dialihkan ketempat lain. Aaron sungguh tidak sanggup melihat terlalu lama pada Yuna sekarang kalau tidak ingin lepas kendali dan melakukan hal gila nantinya, dan juga siapa suruh istrinya itu menatapnya lama dengan wajah polosnya itu


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2