
"Kamu..., Renata!" seru Yuna langsung bergerak bangkit menjauh dari tubuh Renata yang ditindihnya, atau lebih tepatnya tidak sengaja tertindih karena Renata menariknya
"Iya! Ini aku," sahut Renata sembari berusaha untuk bangkit juga. Yuna langsung menatap pada perut teman barunya itu dan terlihat perut Renata datar. Kening Yuna berkerut. Bukankah Renata sedang hamil? Tapi perutnya terlihat ramping seakan tidak sedang mengandung. Yuna ingat betul saat pembicaraan terakhirnya dengan Renata di pesta saat itu, kalau teman barunya itu mengatakan sedang mengandung buah cintanya dengan sang suami yang sempat mengkhianatinya
"Kamu baik-baik saja, Yuna?" bukannya memperhatikan keadaan diri sendiri, Renata malah mengkhawatirkan keadaan Yuna yang hanya bengong melihat Renata didepannya
"Renata, bukankah kamu sedang hamil?" alih-alih menjawab pertanyaan Renata atau berterima kasih karena ditolong, Yuna malah balik bertanya penasaran pada apa yang dilihatnya saat ini
Wajah Renata yang semula khawatir tiba-tiba berubah sendu, wanita itu terlihat ingin menangis sembari menyentuh perut ratanya
"Aku telah kehilangan bayiku, Yuna! Begitu juga dengan suamiku. Mereka pergi meninggalkanku untuk selamanya." jawab Renata pedih. Mata Yuna membulat terkejut. Apa yang baru saja didengarnya? Renata telah kehilangan dua sosok itu selamanya!Apa itu artinya suami dan janin Renata telah meninggal dan gugur?
Terlihat oleh Yuna, Renata yang mulai menangis. Wanita yang menjadi teman barunya itu seakan tidak bisa menerima suratan takdir akan hidupnya
"Mereka meninggalkanku sendirian, Yuna! Pergi dari dunia kejam ini." Renata mulai histeris. Yuna tidak tau, tragedi apa yang telah temannya itu rasakan hingga rasanya begitu menyakitkan melihat Renata merasa pedih seperti itu
Perlahan Yuna menyentuh perutnya kembali. Akankah dirinya seperti Renata juga, kehilangan suami dan anaknya? Yuna mendekat pada Renata dan memeluknya
"Tenanglah, Rena! Sebenarnya apa yang terjadi padamu dan keluargamu?" tanya Yuna yang sebenarnya ragu untuk bertanya, tapi dia harus tau kalau tidak ingin salah berucap nantinya
"Ka-kami mengalami kecelakaan, dan demi melindungiku agar tidak terluka parah, suamiku menggunakan tubuh dan nyawanya menghalangi hantaman yang seharusnya mengenaiku. Dia..., dia tewas ditempat!" tutur Renata yang kembali menangis. Rasa sedih itu pasti ada, suaminya yang telah berubah dan menyayangi dengan begitu tulus sekarang harus pergi didepan matanya dan penyebabnya karena sang suami mencoba menjadikan diri tameng agar dirinya tidak terluka. Ironis sekali bukan? Renata baru saja ingin menikmati hari-hari bahagianya dengan keluarga kecilnya tapi takdir merenggutnya secepat itu
Yuna tercekat mendengar tuturan Renata, kenapa rasanya kisah Renata jauh lebih buruk dari yang menimpanya tapi Yuna tidak pernah merasa dirinya bersyukur akan apa yang dialaminya, padahal dirinya seribu kali lebih baik dari apa yang Renata alami. Kehilangan suami dan juga kehilangan janin yang begitu dicintainya itu pastilah sangat menyakitkan. Mungkin jika itu dirinya, Yuna tidak yakin mampu untuk bertahan
__ADS_1
"Karena goncangan keras dan juga shock trauma yang kualami, aku kehilangan janinku. Bayi kami ikut pergi bersama ayahnya, meninggalkanku sendirian." Renata masih tersedak dengan air matanya. Sedang Yuna juga ikutan menangis. Sungguh begitu tegar sosok sahabat barunya itu dengan semua permasalahan itu. Walaupun kisah mereka memiiliki garis cerita yang sama tapi takdir mereka jelas berbeda. Yuna masih bisa melihat Aaron walau mereka telah berpisah dan yang terpenting, janinnya masih baik-baik saja
Yuna akhirnya menenangkan Renata sebagaimana dulu Renata menenangkannya hingga waktu berlalu begitu saja dan Renata terlihat jauh lebih tenang setelah menumpahkan seluruh cerita sedihnya pada Yuna
"Sebenarnya kamu sedang apa disini?" tanya Yuna yang memang tidak melihat siapapun disana selain Renata
"Aku baru saja dari pemakaman, mengunjungi makam suamiku! Aku meminta izinnya untuk pergi ke kota Y dimana orang tuaku berada. Aku tidak sanggup jika terus berada disini! Rasanya menyakitkan saat kenangan itu terbayang ketika aku melewati tempat yang dulunya aku habiskan waktu dengan suamiku dan calon buah hati kami," jelas Renata dengan mata yang kembali berkaca-kaca. Berada di posisinya bukanlah hal mudah
"Terima kasih telah menyelamatkanku! Jika bukan karena pertolonganmu, mungkin sekarang aku__"
"Ssttt, sudah..., yang penting kamu baik-baik saja. Oh ya! Kamu juga sedang apa disini? Lalu kenapa membawa tas besar itu?" tanya Renata menunjuk pada tas berisi pakaian Yuna
"Aku baru saja dari makam mertuaku, pak William Nelson," ujar Yuna menjelaskan yang membuat Renata membulatkan matanya
"William Nelson meninggal! Kapan?" tanya Renata cukup terkejut dengan berita itu. Walau kontribusi pak William Nelson tidak sebesar Aaron bagi kota X, tetap saja orang-orang harus menghormatinya karena Beliau-lah yang menjadi tombak dasar kenapa ada Aaron yang sekarang. Berkuasa penuh akan kota X
"Tas ini berisi pakaianku! Aku pergi dari kediaman Aaron karena sekarang aku bukan lagi seorang Nyonya muda Nelson. Aku telah resmi bercerai dengan Aaron!" Renata kembali dibuat terkejut akan kalimat Yuna. Dia memandang Yuna sebagai sosok wanita yang menyedihkan, bahkan lebih menyedihkan darinya. Kalau Aaron sampai menceraikannya, itu berarti tidak pernah ada cinta dari Aaron untuk Yuna. Sedangkan dirinya, suaminya hanya pernah berselingkuh tapi jelas dirinya dicintai oleh mendiang suaminya, terlihat bagaimana mendiang suaminya dulu berusaha begitu keras untuk menyembuhkannya lalu memohon maafnya
"Jadi, sekarang kemana tujuanmu?" tanya Renata yang hanya mendapat jawaban gelengan dari Yuna
"Aku tidak tahu! Aku tidak punya tujuan kemanapun!" jawab Yuna menunduk sedih. Mereka berdua bertemu dalam keadaan yang menyedihkan terus. Renata menatap sosok Yuna itu dalam hingga sebuah ide muncul di kepalanya
"Bagaimana jika kamu ikut denganku saja Yuna? Pergi ke kota Y?" tawar Renata berharap Yuna mau ikut dengannya. Yuna tersenyum memandang sahabat barunya itu. Andai masalahnya semudah itu tapi Yuna masih menyayangi kota kelahirannya dan sulit baginya untuk pergi dari kota yang memberikan banyak cerita untuknya. Dimulai dari rasa sakit, kecewa, cinta dan bahagianya. Yuna tidak bisa meninggalkan semua itu
__ADS_1
"Maaf Rena, aku tidak bisa ikut denganmu!" Yuna tersenyum. Dia tahu pasti akan menyenangkan jika bersama dengan Renata tapi ada hal lain yang perlu Yuna pertimbangkan jika ingin pergi dari kota mantan suaminya itu
"Kenapa?"
"Aku hanya tidak bisa meninggalkan kota ini!" jawab Yuna yang menatap sekelilingnya. Walau hanya segelintir, Yuna masih mempunyai beberapa orang yang menyayanginya seperti Minnie, pak Anto, dan para sahabatnya, serta jangan lupakan Ivan, pria yang memberinya cincin berlian yang sampai sekarang tidak Yuna ketahui dimanakah keberadaan cincin mahal itu
Renata menatap Yuna, meraih jemari wanita itu lalu tersenyum seraya mengangguk
"Baiklah, aku mengerti! Kamu masih begitu menyayangi tempat ini serta orang yang kamu cintai masihlah berada disini. Jadi, aku hargai keputusanmu."
"Terima kasih..." ucap Yuna yang hanya diangguki oleh Renata
"Karena kamu tidak punya tempat yang kamu tuju, biarkan aku membawamu pada salah satu temanku! Aku yakin, dia bisa menolongmu sedang aku harus pergi ke kota Y, dan jam penerbanganku besok pagi," jelas Renata yang dijawab antusias oleh Yuna. Jelas Yuna menerima kebaikan hati Renata karena di akan mendapatkan tempat tinggal untuk sementara jika teman Renata mau menolongnya
"Mudah-mudahan dia mengizinkanku menginap untuk tiga hari," harap batin Yuna
.
.
.
Ada yang benar tebakannya?🤔
__ADS_1
Yang bingung siapa Renata? Baca bab teman baru maka akan kalian ketahui siapa dia
Kritik dan sarannya diharapkan🙏