
Yuna kembali minta izin cuti karena sakit pada sekolah hingga sekarang dia kembali libur mengajar. Hari ini Yuna menggunakan waktunya untuk mengundang Miss Gio ke mansion. Ada suatu hal yang perlu dilakukannya dan membutuhkan bantuan Miss Gio
Jadi, disinilah sekarang mucikari para gigolo itu berada. Miss Gio langsung menghadap pada Yuna dikamar wanita itu
"Kamu menerima pesanku dengan baik," ujar Yuna membuka suara. Dia mengirim pesan pada Miss Gio untuk menemuinya dan memberitahu kalau dirinya sedang sakit hingga tidak bisa menemui Miss Gio sendiri
Miss Gio terburu-buru menuju mansion keluarga Nelson, bukan karena itu adalah perintah yang diberikan Yuna dan bukan pula karena bayaran yang diimingkan oleh Yuna melainkan Miss Gio khawatir pada keadaan Yuna setelah mendengar wanita itu sakit
Melihat keadaan Yuna yang jauh sudah membaik membuat Miss Gio menghembuskan nafas leganya. Keterburuannya menuju ke mansion itu tidaklah ada gunanya, Yuna sudah sembuh dan itu begitulah melegakan
"Saya sangat khawatir saat mendengar Anda sakit, tapi sekarang saya senang melihat Anda sudah sembuh," ujar Miss Gio dengan ketulusan diwajahnya
"Senang?" tanya Yuna bingung. Sejak kapan Miss Gio jadi begitu peduli dengan keadaannya
"Ya, itu menyenangkan melihat Anda kembali sehat. Saya tidak bisa menutup mata bagaimana Anda sampai dititik ini dan saat mendengar Anda sakit perasaan saya merasa begitu bersalah." Miss Gio menunduk setelah mengatakannya, dia merasa bersalah tidak mengatakan langsung pada Yuna siapa wajah dibalik topeng Gigolo yang selama ini bersama Yuna
"Apa Anda melihatnya?" tanya Miss Gio yang kemudian mendongakkan kepalanya yang tadi menunduk. Sungguh Miss Gio penasaran apa Yuna melihat wajah dibalik topeng gigolonya
"Aku membukanya dan melihat wajahnya" jawab Yuna terkesan tenang dan santai. Miss Gio terlonjak kaget. Yuna sudah tahu tapi reaksi yang ditunjukkannya sungguh diluar perkiraannya. Miss Gio sempat berpikir kalau Yuna akan marah besar setelah mengetahui kenyataannya
"Apa Anda tidak marah?" tanya Miss Gio heran
"Untuk apa aku marah, lagian aku tidak ingin membuang-buang tenaga dan suaraku untuk marah-marah." Yuna tersenyum seakan tanpa beban. Miss Gio terpana melihatnya
"Jika saya yang berada di posisi Anda, mungkin saya akan meledak dalam kemarahan, dan juga kesalahan saya menutupinya, Anda pasti sangat marah." Miss Gio kembali menunduk merasa bersalah
"Aku tidak marah padamu!" seru Yuna cepat. Dia tidak merasa marah pada Miss Gio karena itu memang sudah pekerjaan Miss Gio menjaga rahasia pelanggannya termasuk tetap diam saat Yuna bertanya siapa gigolonya
__ADS_1
"Apa itu artinya Anda memaafkan saya?"
"Aku memang tidak marah padamu tapi tidaklah semudah itu memaafkanmu! Bagaimanapun kamu sudah menipuku," tuding Yuna menatap tajam pada Miss Gio, sedang Miss Gio sudah berkeringat dingin dengan rasa bersalahnya
"Sa-saya melakukannya karena Tuan Aaron yang memerintahkan saya untuk tetap merahasiakannya dan saya tidak bisa membantah juga, tidak ada yang bisa saya lakukan!!" keluh Miss Gio mencoba agar Yuna tidak terlalu marah padanya
"Aku tahu." sahut Yuna "Aku juga tidak menyalahkanmu tapi aku mengundangmu kemari karena ada satu tugas yang aku perlu bantuanmu," ujar Yuna yang membuat Miss Gio kebingungan apalagi saat Yuna mengeluarkan sebuah amplop putih di balik bantalnya dan menyodorkannya pada Miss Gio
"Ini akan menjadi yang terakhir..." kata Yuna tersenyum sedang Miss Gio menerima amplop itu masih dengan wajah bingungnya
"A-apa ini?"
"Ini adalah undangan terakhir untuk gigolo itu," ujar Yuna masih dengan mimik santainya seakan tanpa beban. Miss Gio tersentak kaget, reaksi yang ditunjukkan Yuna setelah semuanya ketahuan sungguh diluar prediksinya dan apa sekarang? Kenapa Yuna malah masih mau mengundang gigolo yang adalah suaminya sendiri keatas ranjangnya. Aneh! Pikir Miss Gio
"Ya- yang terakhir?" Miss Gio berujar bingung
"Apa yang harus saya lakukan?"
"Kamu hanya perlu mengirim undangan ini padanya karena dia belum tahu aku sudah mengetahui identitasnya," jawab Yuna
"Dia sama sekali tidak menyadari kalau aku sudah membuka topengnya, dan kurasa Aaron akan terus bermain peran denganku." lanjut Yuna mulai serius dengan kalimatnya
"Sebenarnya apa yang sedang Anda rencanakan, Nyonya?"
"Sudah aku katakan padamu, saatnya untuk mengatur permainan"
Yuna mengerti kenapa Aaron sampai bertindak sebagai gigolo, itu pasti karena pria itu tidak mau nama besar keluarganya rusak. Aaron pasti mengkhawatirkan nama besar keluarganya saat masih bersanding dibelakang namanya, apalagi jika sampai ada yang mengenali Yuna sebagai istri dari Aaron sendiri, maka sudah jelaslah nama besar keluarga Nelson buruk dimata orang lain
__ADS_1
Tetapi penyebab Yuna merasa begitu kecewa pada sosok suaminya itu adalah karena Aaron tidak pernah mau jujur bahkan sampai pada akhirnya, dan undangan berupa pesan yang diserahkan olehnya pada Miss Gio adalah titik balik penting dalam hidupnya karena Yuna perlu memastikan sesuatu dari Aaron sendiri yaitu 'Ketulusan suaminya itu'
"Jadi, kali Ini! Giliranku untuk menipu," gumam Yuna dengan wajah tersenyum penuh rencana
πππ
Setelah pertemuannya dengan Ivan dan hampir melenyapkan nyawa si pria tidak tahu malu itu, Aaron kini sudah jauh lebih tenang dan kembali menyelesaikan pelan-pelan pekerjaannya yang tertunda
Pikirannya kini dipenuhi dengan berbagai pemikiran buruk, selain memikirkan bahwa Ivan mencintai sosok istrinya itu juga memikirkan bagaimana sikap Yuna padanya akhir-akhir ini. Semakin Aaron memikirkan Yuna maka dirinya semakin cemas dan ketakutan, menilai dari sikap Yuna jelas kalau istrinya itu akan sangat mudah berpaling dan meninggalkannya
"Tuan, saya membawa surat dari wanita yang mengakui diri sebagai Miss Gio." Jimmy masuk sembari menunjukkan sebuah amplop putih ditangannya
"Surat! Bawa kemari cepat!" suruh Aaron antusias. Oh dia begitu merindukan surat undangan itu yang jelas diketahuinya dari siapa surat itu berasal. Sudah jelaslah istrinya yang menulis undangan itu untuk gigolonya dan mengajaknya bercinta. Jimmy yang melihatnya hanya bisa mengerutkan wajahnya. Wajah awut-awutan sang Tuan langsung berubah seratus delapan puluh derajat hanya karena sebuah surat yang diberikan oleh seorang wanita paruh baya sebagai pengantar dan Jimmy juga tahu dari siapa sebenarnya surat ini berasal, tentu saja istri tercinta Tuannya
Aaron dengan cepat merampas surat berupa amplop itu ditangan Jimmy saat sudah didekatnya dan mencoba membuka tapi tatapannya kembali melihat kepada Jimmy yang masih berdiri didekatnya
"Apa ada hal lain yang perlu kamu sampaikan padaku?" tanya Aaron yang jelas tidak ingin orang lain ikut membaca surat dari istrinya itu
"Tidak Tuan, tapi sebenarnya saya sudah membaca suratnya... Tadi saya ragu dengan apa yang dibawa oleh wanita bernama Miss Gio itu jadi saya terlebih dulu membuka dan memastikannya dan saya rasa itu bukan surat undangan tapi sebuah ucapan selamat tinggal" jelas Jimmy menunduk takut kalau Aaron sampai marah padanya karena telah berani membuka surat itu tanpa izinnya. Padahal dirinya hanya ingin memastikan tidak ada hal aneh dalam amplop putih itu terlebih dirinya patut curiga. Di zaman yang penuh kecanggihan seperti ini masih menggunakan surat untuk bertukar informasi, apakah itu hal yang wajar? Tentu saja tidak bagi otak Jimmy yang memang terprogram untuk berpikir cerdas
"Apa!!" pekik Aaron terkejut sekaligus marah dalam intonasi suaranya
.
.
.
__ADS_1