
Semuanya telah direncanakan, pikir Yuna. Itulah sebabnya sikap dan nada bicara Aaron berubah padanya segera setelah Yuna setuju untuk menandatangani surat perceraian
"Dia sangat tertarik masuk kedalam kehidupanku dan berpura-pura dekat denganku, semua itu dilakukannya hanya untuk melihat reaksiku" batinnya sedih
"Semua perhatiannya hanyalah sandiwara dan bagaimana kamu bisa terus tersentuh dengan sandiwara itu,Yuna?" gumam Yuna putus asa. Seberapa pun dia berusaha, Yuna merasa dirinya terus saja berulang pada tempat yang sama.
Yuna yang tulus mencintai seorang Aaron harus menerima kenyataan kalau dirinya dipermainkan sedemikian rupa, ditipu dalam sandiwara yang diciptakan sang suami. Entah Yuna harus bersyukur atau bersedih dalam sandiwara ini. Bersyukur ternyata dirinya tidaklah mengandung anak haram melainkan anak yang sah dalam pernikahan. Bersedih karena dirinya ditipu dengan begitu bodohnya dan dia sama sekali tidak menyadarinya
Setelah memutuskan untuk bersedia bercerai, Yuna sudah bertekad untuk tidak mengharapkan apapun lagi pada suaminya itu. Tapi apa sekarang? Dia akan selamanya terikat dengan Aaron dan bayinya sebagai penghubung keduanya. Tidak... Yuna menggeleng! Tentu tidak jika dirinya tetap menutup mulut dengan fakta kehamilannya
"Hahaha..." Yuna tertawa dalam tangisnya. Dia benar-benar bodoh bukan? Air matanya terus saja merembes tidak mau berhenti. Permainan emosi dalam dirinya benar-benar tidak lagi dapat di kondisikannya. Hidup dalam kesengsaraan sejak kecil, tidak diakui anak oleh ayah kandung, dibenci oleh kakak kandungnya, diabaikan oleh sang ibu, dan sekarang dirinya ditipu oleh suaminya sendiri... Hidupmu benar-benar menyedihkan Yuna azara
Aaron jelas tidak akan semudah itu membiarkannya tidur dengan pria lain saat statusnya masihlah Nyonya muda Nelson ditambah tidak mungkin Aaron akan sesantai itu menanggapinya saat dulu dirinya memuja kemampuan gigolonya dengan begitu gamblang didepan Aaron.
Dalam tawa bercampur tangis, Yuna menatap kosong langit malam yang dipenuhi bintang. Malam ini langit cerah namun hatinya sekarang tidaklah demikian
"Dia pasti sudah merencanakan semuanya, itulah sebabnya kenapa Aaron dengan begitu mudah membiarkanku berhubungan badan dengan laki-laki lain, saat ternyata dialah laki-laki itu" sesal Yuna lagi dengan pikirannya yang tidak pernah terpikir akan hal ini sebelumnya. Yuna kembali tertawa, menertawakan kebodohannya dengan airmata kecewa yang tidak bisa berhenti keluar
"Segera sebelum kami resmi bercerai, dia bahkan tidak membiarkanku untuk mendapatkan seorang gigolo!" batin Yuna yang sudah begitu kecewa dengan Aaron. Bukankah suaminya itu terlalu munafik saat ini? Dia yang memberikan Yuna izin untuk tidur dengan pria lain dan dia juga yang tidak membiarkannya merasakan posisi itu, dimana Yuna bisa menggunakan gelarnya sebagai Nyonya Nelson untuk mendapatkan gigolo seperti apapun maunya
Teringat oleh Yuna saat dulu dirinya meminta gigolo lain pada Miss Gio, gigolo yang ternyata suaminya bahkan tidak sedikitpun membiarkannya mendapatkan celah itu. Dia terus-terusan dipermainkan dalam sandiwara sang suami
__ADS_1
Dengan semua masalahnya sekarang, ingin sekali rasanya Yuna mengakhiri hidupnya, hidup yang tidak akan pernah diinginkan oleh siapapun di dunianya dengan sejuta pengabaian dan ketidak sukaan. Andai Yuna tidak teringat pada janinnya yang mungkin ingin menatap indahnya dunia, sudah dapat dipastikan. Itulah jalan pintas yang akan diambilnya sekarang, mengakhiri hidupnya. Sudah cukup lelah baginya untuk mencoba terlihat tegar dan kuat padahal nyatanya dia sudah terlalu rapuh untuk menghadapi kenyataan
"Ingin sekali rasanya aku memuji Aaron karena mengambil keuntungan dari perannya, dan aku... aku ingin bertepuk tangan untuk diriku yang menjadi wanita paling bodoh di dunia," jerit batinnya masih dengan luka yang menganga
"Aku selalu seperti ini... Seperti kata ibu! Aku tidak seharusnya dilahirkan..." air mata Yuna kembali merembes deras
"Kenapa ini selalu terjadi padaku?" tanya Yuna pada dirinya sendiri.
Untuk pertama kalinya dirinya merasa begitu senang saat melakukan sesuatu yang diputuskannya sendiri, yaitu melakukan hubungan badan dengan seorang pria, tapi nyatanya dia selalu salah mengambil tindakan. Tidak ada yang benar-benar peduli dengan keputusannya
"Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan hidup tanpa penyesalan, namun satu-satunya hal yang aku dapatkan adalah penghinaan dan rasa malu." Yuna menenggelamkan wajahnya dalam lipatan tangannya yang kini menekuk dengan kedua kakinya. Dia layaknya anak kecil yang sedang kecewa dengan permainan dunia, dan begitu pula dirinya dahulu ketika kecil. Duduk meringkuk sendirian di belakang sekolah sembari menahan air mata agar tidak turun. Yuna tidak ingin terlihat cengeng tapi nyatanya hatinya tidaklah sekuat itu. Dia akan terus saja menangis saat sendirian
Aaron yang pernah menariknya dari masa kelam saat itu dan sekarang Aaron pula yang membuat seakan kembali pada masa itu. Masa dimana tidak ada yang akan memeluknya saat dirinya terluka, masa dimana Yuna hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri untuk bertahan. Dunia kejam, itu benar! Dapat bertahan sampai sekarang saja sudah menjadi suatu anugerah besar bagi Yuna
"Aku tidak akan pernah mengharapkan apapun lagi..." ulang Yuna sembari menghapus kasar air matanya
"Karena selamanya aku akan sendirian"
πππ
Pagi harinya Yuna merasakan dirinya kurang enak badan setelah hantaman fakta semalam dan juga tubuhnya yang sempat basah setengah hari sebelumnya karena insiden jatuhnya dirinya kedalam kolam
__ADS_1
Semalam dirinya setelah menghabiskan waktu satu jam lamanya menenangkan diri di taman belakang mansion, Yuna akhirnya memutuskan untuk terus bersandiwara dengan permainan Aaron. Akan ditungguinya kejujuran dari mulut Aaron sendiri atau Yuna akan melakukan tindakan gilanya jika memang Aaron tidak berniat untuk terbuka dengannya
Yuna masuk kembali kedalam kamarnya dan mendapati Aaron yang masih saja tidur damai, itu wajar karena efek obat tidur yang diberikan Yuna sebelumnya. Hati Yuna masih merasakan sakit akan sandiwara dan penghinaan ini tapi bukan begini cara mainnya. Yuna akan menghadapinya dengan cara berbeda sekarang, apalagi dia masih harus memikirkan perasaan papa mertuanya yang masih bertahan di rumah sakit
Mengambil kembali topeng hitam Aaron yang dilepasnya tadi dan memasangkannya kembali kewajah sang suami. Biarlah dia menahan sedikit lagi penghinaan ini dan melihat apa Aaron berencana menipunya sampai titik terakhir
"Kau akan menerima balasannya, bajingan!" desis Yuna menatap wajah sang suami yang kini kembali bertopeng dengan perasaan campur aduk. Tanpa sadar ternyata Yuna memang tidak pernah membagi hatinya antara suami dan gigolonya. Selamanya hatinya hanya jatuh pada pesona seorang saja, yaitu Aaron Nelson, entah itu sebagai suami atau seorang gigolo. Nyatanya Yuna hanya mencintai satu pria yang sama dalam peran yang berbeda
Akhirnya Yuna memilih kembali membaringkan tubuhnya disamping Aaron dan menutup matanya walau setitik air mata masih saja turun di pipinya. Perlahan Yuna menyentuh perutnya, setidaknya ada rasa syukur dihatinya akan hadirnya si janin, setidaknya dia bisa dengan lantang mengatakan kelak kalau anaknya punya seorang ayah dan dia lahir dalam pernikahan yang sah bukan karena hubungan kotor dan terlarang
Hingga pagi menjelang Yuna masih saja larut dalam tidurnya, dia tertidur nyenyak setelah semalaman menghempaskan segala emosi di jiwanya. Yuna bahkan tidak sadar saat si gigolo atau harus Yuna sebut sang suami beranjak pergi saat pagi menyapa setelah mengecupi pipinya dan menyelimutinya dengan baik. Andai Yuna sadar seberapa perhatiannya seorang Aaron padanya sekarang
Kalau bukan tuntutan pekerjaan yang terus-terusan mengejarnya, Aaron juga tidak akan meninggalkan sang istri pagi hari ini. Dia ingin tetap bersama Yuna memandangi wajah sang istri yang bahkan tidak menunjukan kemarahan saat kemarin malam dia mengingkari janjinya untuk kembali dimalam hari dan nyatanya Aaron tidak kembali
Sungguh ada niat di diri Aaron untuk membongkar penyamarannya pada sang istri dan ingin memulai segalanya di awal, tapi dirinya terlalu pengecut untuk mengakuinya sekarang. Aaron masih harus mengumpulkan keberaniannya
.
.
.
__ADS_1
Mampir juga di karya temanku yaππΌ