
Setelah keputusan Yudha, Widi melanjutkan hidup nya tanpa beban sebelum nya. Dia Melakukan semua kegiatan nya dengan semangat, karena dia di tugaskan di ruang operasi mau tak mau jika ada operasi dia di ikutkan. Widi senang bisa mendapatkan pengalaman dan melihat secara langsung ilmu yang selama ini dia pelajari, kadang dia di berikan tugas untuk menjahit luka tapi tetap dalam pengawasan dokter ahli di sana.
Siang itu baru saja dia keluar dari ruang sudah terdengar nada dering panggilan dari hp nya.
☎️
Assalamu 'alaikum, malam ini kamu ada waktu Wid?
☎️
Wa'alaikumussalam memang kenapa Bu pengacara? kamu mau ajak aku kemana hayo?
__ADS_1
☎️
Udah jawab aja, barangkali Bu dokter malam ini ada waktu.
☎️
Em.... ada sih, malam ini aku free kebetulan gak ada tugas.
☎️
Ani mematikan telpon nya sebelum Widi menjawab nya.
__ADS_1
Wa'alaikumussalam,,,,, kata Widi sambil mendengus kesal dan mengomel sendiri. Kebiasaan Ani, belum selesai orang ngomong udah di matikan. Lagian aku kan belum jawab pertanyaan nya.
Ada apa? kenapa menggerutu kayak gitu?
Eh dokter Eko, gak apa-apa kok dok cuma kesel sama temen aja. Dokter muda itu duduk di samping Widi. Kamu senang selama ada di sini Wid? Iya dok banyak sekali pengalaman yang saya dapatkan. Pasti praktek kamu di sini lebih berat dari teman-teman mu kan? dokter muda seperti kalian banyak sekali yang tidak menginginkan praktek di ruang operasi karena banyak sekali pekerjaan dan Kotor karena langsung bersentuhan dengan penyakit. Kalo di bangsal kan enak, hanya menganalisis penyakit dan memberikan resep. Em.... iya sih dok, tapi di sini lebih seru banyak tantangan nya dok. Mereka tertawa bersama. Oh iya sudah waktunya makan siang nih, ke kantin yuk. Dokter Eko dan Widi berjalan beriringan menuju kantin rumah sakit untuk mengisi perut nya. Dokter Eko selalu memperhatikan Widi, kadang membuat Widi tak nyaman dengan rekan kerja dokter Eko dan teman-teman dokter yang tugas koas di sana. Malam ini kamu ada acara Wid? Iya dok nanti selepas Maghrib saya mau pergi sama sahabat saya, ada apa ya dok? Boleh gak saya ikut kalian? Waduh dok saya gak bisa jawab, sebentar tak tanyakan sama temen saya dulu ya? Widi menulis pesan singkat pada Ani tentang permintaan dokter Eko. Tak berapa lama Ani memberikan jawaban yang membuatnya tersenyum geli. Kenapa Wid kok senyum-senyum sendiri? apa kata temen mu? Ah gak apa-apa kok dok, tapi kata nya apa dokter Eko gak akan bosan nanti nya? Memang kalian mau pergi kemana sih? Temen saya bilang mau ngajak ke galeri seni lukis yang baru saja di buka, tapi kata nya tempat nya berdekatan dengan kafe yang saat ini sedang hits di sini dok. Boleh jawab dokter Eko dengan antusias, karena kebetulan dia juga pecinta seni. Selesai makan mereka kembali ke ruang operasi karena ada operasi kecil lagi yang harus di lakukan. Sepulang kerja Widi mengirimkan alamat rumah nya pada dokter Eko.
Malam hari selepas Maghrib Widi bersiap dan menunggu kedatangan Ani dan dokter Eko di kamar nya. Terdengar suara dari luar ayah dan ibu nya menyambut kedatangan seseorang dengan suka cita. Ada tamu siapa ya,kok ayah dan ibu heboh sekali menyambut nya batin Widi yang baru saja berganti pakaian setelah mendapat kabar kalo Ani sudah otw ke rumah nya. Wid keluarlah nduk, kita kedatangan tamu istimewa kata ibu mengetuk pintu putri nya. Iya buk sebentar,,,, tak berapa lama Widi keluar dari kamar nya di lihatnya kedua orang tuanya yang asyik ngobrol dengan dokter Eko. Ayah sama ibu mengenal nya, tunjuk Widi pada dokter Eko. Iya, duduklah nak titah ayah. Beliau menceritakan bahwa dokter Eko adalah anak dari kakak ayah, yang berati kamu masih saudara ternyata. Dokter Eko juga tak menyangka kalo ternyata dia dan Widi masih saudara, pupus sudah cinta yang ada di hati dokter muda itu. Mereka jarang sekali bertemu, apalagi Eko dan keluarganya yang sering berpindah tempat karena tugas dari sang ayah sehingga mereka pun tak pernah bertemu. Dokter muda itu untuk terakhir kali nya menatap Widi dengan penuh cinta karena setelah hari ini dia tak akan bisa memiliki Widi karena hubungan saudara ini, Widi hanya tersenyum melihat tingkah dokter Eko yang tersirat kecewa di wajah dokter tampan itu. Tak berapa lama Ani pun datang, dia bersalaman dengan kedua orang tua Widi dan dokter Eko. Widi memperkenalkan dokter Eko sebagai dokter seniornya dan juga sekaligus sebagai saudara nya. Kemudian mereka pamit pada kedua orang tua Widi dan segera pergi ke tempat pameran.
bersambung....
terus dukung author ya
__ADS_1
berikan like, vote dan komen nya ya