Haruskah Kita Bercerai?

Haruskah Kita Bercerai?
1


__ADS_3

Ares tersenyum lebar melihat tubuh Serena mulai menggeliat dan matanya mengerjap-ngerjap. Lenguhan pelan terdengar lirih dari mulut seorang wanita cantik. Tubuhnya menggeliat pelan dan matanya mengerjap-ngerjap kecil karena menghalau pendar matahari yang menyilaukan. Ketika tubuhnya akan menyamping ke kanan, ia dikagetkan dengan sosok pria tampan yang duduk bersila di atas ranjangnya.


"Surprise!!! Happy anniversary, Sayang!" Teriak pria itu dengan senyum lebar penuh antusias.


Di tangan kanannya ia menumpu piring berisi roti panggang berlilinkan angka lima. Dan di tangan kirinya sebuket tulip merah terlihat amat cantik.


"Ares," gumam Serena sembari bangun dari rebahnya. Ia menatap kedua benda di tangan suaminya itu dengan tatapan bingung. "Kamu ngapain, sih?"


"Ngasih kejutan." Katanya dengan senyum mengembang.


"Buat apaan kayak gini-gini?" Tanya Serena malas.


"Ya buat anniversary kita yang ke lima tahun lah, Sayang. Buat apa lagi? Kamu lupa?"


Melihat raut Serena yang tak bersemangat sama sekali, cukup membuat Ares tahu apa jawabannya. Memang selama ini siapa sih yang selalu mengingat tanggal ini? Hanya Ares. Dan Serena selalu melupakannya. Selalu.


Tapi dengan naifnya, Ares memasang senyum lebar walau hatinya berdenyut nyeri. "Oke gapapa kalo kamu lupa. Emang sih tanggal pernikahan kita susah diinget. Aku aja hampir lupa, tapi untungnya aku pasang reminder di handphone."


"Ares..."


"Oh aku tau aku tau! Harusnya dulu tuh kita nikah pas valentine aja biar kamu gampang ingetnya. Atau kalo enggak pas tujuh belas Agustus, biar dirayainnya seluruh Indonesia. Gimana menurut kamu, Sayang?" Jelas Ares dengan wajah berseri-serinya.


Serena melenguh kasar seraya mengusap wajahnya sekilas. "Ares... please, deh. Kita bukan ABG lagi yang harus ngerayain ini."


"Gapapa dong, Sayang. Kan romantis biar kayak orang pacaran."


"We're merried, okay?"


"Ya terus? Kenapa emangnya kalo kita udah nikah, Sayang?"


"Karena menurut aku hal-hal kayak gini udah gak penting lagi."


"Kok gak penting? Justru hal-hal kecil kayak gini tuh penting dalam sebuah hubungan. Itu tandanya pasangan kita menghargai kita dan hubungannya."


"Jadi kalo aku gak menganut sistem itu, berarti kamu anggap aku gak menghargai kamu dan hubungan kita?"


"Y-ya gak gitu juga... maksud aku ini tuh--


"Ya udah. Berarti fine fine aja dong kalo aku gak suka dirayain kayak gini?"


"Maksud aku hari ini kan hari kita, Sayang. Setidaknya kita bisa quality time. Iya, kan?"


"Aduh udah deh," Serena mengangkat telapak tangannya. "Ini bukan saatnya quality time. Aku hari ini sibuk ada seleksi pemilihan model, dan aku gak boleh telat. Jadi aku harus mandi dan segera siap-siap."


Saat Serena sudah bangkit dari ranjang, Ares menahan tangannya. "Tapi ini gimana? Acara kita belum selesai. Aku udah dari tadi pagi loh bikinnya. Dimakan, ya? Please, Sayang."


"Aku hargain usaha kamu, Res. Tapi aku beneran gak bisa buang waktu buat hal kayak gini. Lagipula aku lagi diet dan gak bisa makan roti kayak gitu. So, please, let me take a bath. Now."


"Tapi bunganya? Aku juga punya hadi--


"Simpen aja bunganya di nakas, okay? Nanti malam kita bahas lagi soal ini."


Seperginya Serena dari hadapannya, keceriaan dari wajah Ares benar-benar sirna. Ia terlihat sangat menyedihkan. Kepalanya menunduk melihat roti dan juga bunga yang telah ia siapkan dengan sepenuh hati, nyatanya tak dilirik sama sekali. Belum lagi sebuah hadiah yang ia sembunyikan di balik punggung tegapnya. Semuanya sia-sia.


Serenanya tak suka akan kejutan ini, karena menurutnya hari ini bukanlah hari yang penting dan perayaan kecil ini hanya buang-buang waktu.


...• • • • •...


Ares tengah sangat fokus pada laptopnya saat seseorang mengetuk pintu ruangannya. Dengan mata yang tetap tertuju pada layar monitor itu, mulutnya mempersilakan tamunya masuk.


"Istirahat kali, kerja mulu."


Kepala Ares mendongak beberapa detik, lalu kembali menunduk. "Oh loe ternyata."


Pria berjas biru gelap itu tersenyum lebar sembari berjalan santai menuju Ares. "Makan, Bro, mati baru tau rasa loe."


"Sialan," Ares terkekeh pelan. "Loe aja sana makan. Gue lagi gak mau bareng sama loe."


"Eh, sori ya, Bro, gue udah makan kali."


"Oh ya? Really?" Ares menyeringai jahil. "Sama siapa?"

__ADS_1


"Natasha." Pria tampan dan maskulin itu menarik kursi di hadapan Ares untuk di dudukinya. Tersenyum mengembang menatap Ares.


"Siapa lagi tuh?" Lirik Ares bingung.


"Biasa lah," bahunya mengedik. "Resiko punya wajah ganteng."


"Cih. Jadi buaya aja bangga. Kasian gue sama bini loe, punya suami gini amat." Ledek Ares dengan kekehan gelinya.


"Daripada loe. Chicken. Takut banget sama bini loe."


"Alah paling kalo di rumah, loe juga takut dimarahin sama Kania. Sok ngeledek gue segala."


"Ya emang gue takut kalo dia marahin. Tapi udahnya gue disayang-sayang, dielus kepalanya, dicium, terus abis itu... dikasih jatah. Gak kayak loe, yang dimarahin doang terus ditinggal. Ngenes banget, Bro."


Ares berdecak tak suka. "Mulai deh loe, Vin. Udah to the point aja loe mau ngapain kesini?"


"Dih jadi galak," ledek Vino. "Iya deh yang istrinya gak boleh terhina, tercaci maki, teraniaya, dan tersakiti."


"Alvino... gue lempar loe dari sini ke bawah." Ares memperingati.


"Chill, Bro, chill. Oke oke gue jawab." Vino terkekeh renyah.


"Udah cepetan."


"Jadi... Bapak Antares Risjad Yang Terhormat, kedatangan gue kesini adalah untuk menanyakan gimana acara kejutan yang telah pusing-pusing loe pikirin dua minggu itu, huh?"


"Ngapain sih loe nanya-nanya? Kepo banget."


"Oh bukan... bukan kepo. Ini sebagai bentuk perhatian gue sebagai sahabat baik loe. Gue cuma mau tau aja, semenyakitkan apa sih penolakan istri loe. Butuh bahu gue gak nih buat bersandar." Ledek Vino dengan muka dramatis.


"Alvino Natanio! Gue lempar beneran ya loe! Sekarang juga!" Ares menggeram marah dan Vino malah tertawa meledek.


"Oke, Bro, sori-sori," ujar Vino dengan sisa tawa kecilnya. "Jadi gimana ide gue itu? Manjur gak?"


"Udah diem. Gak usah dibahas. Gue males." Ares mendelik seraya kembali menatap layar laptopnya.


"Hmm kayaknya gue tau nih jawabannya." Vino menelengkan kepala sembari mengelus dagu.


Pria tinggi gagah itu berjalan santai memutari meja, lalu berdiri memegangi kedua pundak Ares. "Apa gue bilang, Bro, ini gak akan berhasil. Sampe kapan sih loe mau dibegoin kayak gini? Percuma. Dia gak akan berubah."


"Belum? Mau nunggu sampe kapan? Taun pertama, okelah dia belum bisa menerima pernikahan kalian. Taun ke dua, Altan lahir dan harusnya dia udah bisa nerima loe. Taun ke tiga dan ke empat, dia masih sama kayak taun-taun sebelumnya. Dan sekarang? Come on, Bro, jangan naif. Lima taun hidup loe sia-sia kalo loe terus kayak gini."


"Gue siap nunggu Serena sepanjang hidup gue."


"Tunggu aja sampe ikan ada bulunya dan domba ada sisiknya. Gue yakin Serena gak akan berubah."


"Itu namanya proses, Vin, gue tau gak gampang buat cinta sama orang. Apalagi waktu itu posisinya Serena baru aja putus sama mantannya, dan gue adalah orang asing yang tiba-tiba dateng di hidupnya."


"Proses itu hanya untuk orang-orang yang mau berusaha, Bro. Dan gue gak melihat kemauan itu dalam diri Serena. Loe selalu berusaha buka pintu hatinya, tapi apa pernah Serena ngebukanya sedikit aja?"


"Bahasa loe ketinggian. Gak cocok." Ares menyiku perut Vino.


"Udahlah, Bro, makanya kalo gue ajak dugem manut aja. Cari cewek. Bisa nyenengin loe, bisa muasin loe. Iya gak?"


"Gak! Gue bukan loe. Gue gak doyan cewek begitu. Lagian kalo udah punya istri ngapain jajan diluar?"


"Bohong banget! Ayo ngaku sama gue, udah berapa lama loe gak dikasih jatah sama bini loe?"


"Pembahasan loe udah ngaco, serius. Lebih baik loe pulang sana ke kantor loe."


"Diingetin temen malah marah. Gue kasian sama loe, takutnya ade loe karatan."


"Damn, Alvino!" Desis Ares.


"Ayolah ikut sama gue malem ini. Kita have fun, Bro."


"Ogah!"


"Cewek-cewek kenalan gue oke-oke loh. Loe bisa pilih yang mana aja."


"I don't fucking care! Okay? Lagipula  selera gue bukan cewek-cewek bayaran loe itu."

__ADS_1


"Terus kayak gimana? Mau secantik Angelina Jolie? Seseksi Nicky Minaj?"


Ares menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir. Namun sepertinya gelengan itu disalah artikan Vino sebagai jawaban bukan.


Hal itu membuat Vino berpikir keras dalam beberapa waktu. Wajahnya terlihat berpikir dengan serius. Hingga tak lama, seringai bangga terpatri dari wajah tampannya.


"Aha," Vino menjentikan jari dengan semangat. "Gue tau gue tau. Gue tau selera loe kayak siapa."


"Vin, udah deh. Gue mau kerja ini."


"Tapi serius, Bro, gue tau selera loe kayak siapa."


Ares menghela napas panjang lalu berdecak malas. "Oke biar cepet. Kayak siapa?"


...• • • • •...


"Michelle Louis."


"Yup! Anyelir Michelle Louis. Cucu dari pengusaha Hongkong, Tony Louis."


Mendengar jawaban dari Hana--sang sahabat sekaligus mitra kerjanya--membuat kepala Serena meneleng memperhatikan sebuah  foto di hadapannya. Matanya menyipit seakan tengah mengukur wanita cantik bertubuh semampai yang mampir di layar laptopnya itu.


"Dia seriusan model, Han?"


"Kalo bukan model, gak mungkin kan foto dia muncul di list model-model cakep yang gue buat."


"I know. Tapi kata loe kakeknya pengusaha, agak aneh aja cucunya model. Dia gak nerusin bisnis kakeknya gitu?"


"Kakeknya emang pengusaha, dan itu nurun sama bokapnya. Tapi nyokapnya Michelle ini dulunya model, mungkin dia nerusin karir mendiang ibunya."


"Oke," sahut Serena mengangguk-angguk ragu dan matanya masih menjelajahi data diri model itu. "Tapi disini tertulis dia tinggal di Singapore?"


"Dari survei dan data yang kita cari, Michelle tinggal di Indonesia dari kecil sampe SMA karena ibunya emang orang sini. Tapi semenjak orang tuanya meninggal, dia pindah ke Singapore dan hidup sendiri."


"Sendiri?" Serena menoleh tak percaya.


"Iya. Dan kalo gak salah info, dia sempet kerja jadi SPG untuk menuhin biaya ngampusnya."


"Really? Walaupun kakeknya seorang pengusaha besar dan mampu buat beli kampusnya dia?"


Hana mengangguk-angguk antusias. Matanya membulat. "Dan lebih hebatnya lagi, dia merintis karir modelingnya dari nol. Tanpa campur tangan siapapun. Sama sekali."


"Wow," gumam Serena kagum. "Gue suka tipe cewek kayak gitu. Mandiri dan bisa membangun karir sendiri tanpa manfaatin nama besar keluarga or anyone else."


Kepala Serena mengangguk-angguk kecil seraya mengukur serius wajah si model yang akan ia rekrut itu. Sekali lagi. Kali ini lebih matang.


"Gimana? Oke gak? Sepak terjangnya juga bagus sih gue liat-liat."


"Gue suka sih dia. Wajahnya. Tubuhnya. Auranya. Dia punya pesona yang menurut gue gak dipunyain sama model-model sebelumnya yang loe tunjukkin."


"Setuju."


"Apalagi rambutnya yang panjang. Gue aja ngiri dia bisa punya rambut sebagus itu."


"Jadi fix nih dia aja?"


"Boleh deh. Hubungin aja dulu manajernya. Semoga aja dia mau masuk agensi kita."


"Oke siap, Bu Bos. Gue balik kerja ya."


"Iya."


Sesaat setelah Hana menutup pintu, ponsel Serena bergetar di atas meja. Wanita itu mengambilnya dan melihat nama Ares mengambang di layar penelepon.


Dengan mengela napas kasar sebelumnya, akhirnya Serena menggeser tombol hijau. "Ya. Hallo. Aku sibuk. Enggak, gak bisa. Kapan-kapan aja deh lunch barengnya. Udah kok aku udah makan. Iya. Oke. Udah ya aku tutup. Bye." 


Seperti sebuah kaset rusak yang terus mengulang potongan vidio yang sama, entah kenapa pikiran Serena tiba-tiba penuh oleh kejadian tadi pagi. Adegan-adegan yang mungkin membuat pipi wanita lain di luar bersemu merah dan melayang-layang.


Senyum Ares, wajah gembiranya, mata yang berbinar semangat, kelembutan nada bicaranya. Serena senang melihatnya. Serena ikut bahagia melihat antusias Ares. Hanya saja, ada satu yang mengganjal Serena. Perasaan gamang. Kegamangan hatinya itu membuat dia tak tahu harus berbuat apa. Satu sisi ia senang teramat dicintai, dan di sisi lain ia sedih karena tak bisa memberikan cinta sebesar Ares.


Sehingga tanpa sengaja, ia menarik paksa semua kebahagiaan Ares. Membuatnya kecewa tadi pagi. Membawa semua kegembiraannya Ares karena keegoisannya.

__ADS_1


"Maaf, Res, aku gak bermaksud menyakiti kamu sejauh ini. Aku hanya masih bingung dengan apa yang aku rasain sekarang. Aku harap kamu mau mengerti dan sabar menunggu sampe aku yakin hati aku ini udah jatuh ke kamu atau belum."


——————————————


__ADS_2