
Minggu, menjadi hari yang paling ditunggu-tunggu oleh semua orang. Waktu bagi tubuh untuk rehat dari padatnya aktifitas. Saat yang pas untuk menikmati waktu bersama keluarga. Dan itu semua adalah teori yang paling dibenci oleh seorang Antares Risjad.
Ia tidak mau melewati hari ini. Ia benci hari dimana ia menghabiskan waktu terkurung di rumah. Ia ingin keluar. Kalau perlu ia bersedia bekerja setiap hari agar tak berada bersama orang yang paling ia benci dalam satu ruangan yang sama. Seperti sekarang.
Ares melenguhkan napas kasar saat ia membuka mata dan mendapati Serena dalam ruang yang sama. Ruang kerjanya. Wanita itu tengah membereskan meja kerja Ares dengan masih mengenakan piyama tidur.
Tubuh Ares perlahan bangun dari rebahannya. Ia menyingkap kasar selimut tebal yang sialannya pasti dipasang Serena entah kapan. Badan yang sedikit pegal karena semalaman tidur di sofa, ia tak pedulikan. Pria itu duduk menatap tajam Serena.
"Ngapain kamu disini?"
Serena menoleh sekilas dengan tersenyum manis. Ia kembali melanjutkan menyusun berkas Ares yang berserakan. "Kamu udah bangun?"
Ares diam. Wajahnya sangat membeku seram. Mungkin aura itu sampai menusuk punggung Serena hingga membuat wanita itu sedikit tidak nyaman dan menutupi kecemasannya dengan bertanya hal apa saja pada Ares.
"Kamu ngerokok banyak banget sih, Res. Lain kali kurangin ya. Gak sehat tau."
"Ini siapa yang buat kopi semalam? Kamu buat sendiri? Kok gak bangunin aku aja?"
"Oh ya, pagi ini kamu mau sar--
"Kayaknya aku harus buat papan peringatan di depan pintu, biar orang gak berkepentingan gak bisa masuk kesini."
Tubuh Serena seketika meremang saat suara dingin Ares memasuki gendang telinganya di jarak yang sangat dekat. Wanita itu menelan ludah dan menetralkan wajah takutnya sebelum berbalik. Ia memutar badan menghadap Ares yang hanya berjarak lima senti darinya.
Serena membasahi bibirnya dan tersenyum tipis. "Aku--
"Seharusnya barang-barangku juga gak disentuh sembarangan orang."
Air muka Serena berubah tak nyaman. Ia berdiri canggung seperti budak yang dimarahi tuannya, padahal yang ada di hadapannya kini adalah suaminya sendiri.
"Maaf karena aku udah lancang masuk kesini dan menyentuh barang-barang kamu. Aku cuma mau ngecek kamu sebentar. Dan ini," Serena meraih secagkir teh panas dari meja kerja Ares, lalu ia sodorkan dengan ramah. "Aku buat ini khusus untuk kamu. Teh madu hangat seperti biasanya."
Tanpa berniat mengambilnya, Ares menatap cangkir teh itu dengan acuh. Ia kembali menghunus Serena dengan tatapan dinginnya. "To the point aja sebenarnya apa tujuan kamu datang kemari dan repot-repot membersihkan meja kerja aku."
Serena menalan bulat-bulat sindiran itu dengan tersenyum hampa. "Aku cuma mau mastiin kamu tidur nyenyak atau enggak."
"Aku tidur dengan sangat nyenyak, terima kasih. Ada lagi?"
Entah kenapa bibir bawah Serena malah bergetar. Ia gugup, gelisah, takut. Ternyata berdiri di hadapan Ares saat ini tak semenyamankan dulu. "A-aku juga khawatir karena semalem kamu gak tidur di kamar kita dan malah tidur di ruang kerja kamu."
Ares menelengkan kepala dengan tatapan membidik tajam. "Aku perhatikan belakangan ini kamu sering memberi perhatian begini. Aku jadi merasa tersanjung karena kamu terlalu perhatian."
"Maksudnya?" Bisik Serena.
"Kamu jadi sering ngelakuin perhatian kecil kayak gini," mata Ares turun menatap cangkir teh. "Dengan teh ini, dengan selimut yang kamu pakaikan."
"Aku cuma mencoba memenuhi kebutuhan kamu, kok."
"Aku gak butuh itu semua. Aku gak butuh perhatian-perhatian kecil kayak gini. Bukannya nyaman, aku malah ngerasa risih," lalu Ares menghunus Serena dengan tatapan sinis. "Apalagi yang melakukan semuanya adalah kamu."
Serena bergeming. Ia menunduk beberapa saat karena matanya benar-benar memanas. Saat ia mengangkat kepalanya, ada Ares yang masih menatapnya dengan bersidekap dada.
"Aku juga bingung kenapa kamu tiba-tiba memikirkan aku tidur dimana, sementara sejak hari pertama kita menikah kamu menolak tidur sama aku."
Selama beberapa saat mereka hanya diam saling berpandangan. Serena tidak tahu mengapa Ares bisa sesarkas ini. Dan lagi, yang Ares selalu bahas adalah kesalahan Serena di masa lalu. Serena tahu ia sesalah itu. Tapi tak bisakah Ares jangan terus mengungkit kejadian yang dulu ia lakukan? Karena jujur, sekarang itu semua terasa sangat sakit bila diingat.
"Kenapa kamu selalu bahas masa lalu sih, Res?" Bisik Serena dengan nada terluka.
Ares menahan napas sejenak. Kata kunci 'masa lalu' seolah menjadi kata yang sangat sensitif di telinganya, sehingga menggiring ia mengingat sepenggal perkataan Altan semalam. Mengetahui bahwa Serena mulai terang-terangan membawa pacar masa lalunya itu ke rumah, membuat darahnya mendidih. Kebenciannya bertambah. Ia benci Serena terus memberinya perhatian selayaknya seorang istri, sementara di luar sana ia tetap melanjutkan hubungan dengan pria lain.
"Jawabannya adalah, karena lawan bicaraku sangat senang bermain dengan masa lalunya." Jawab Ares dengan tenang namun sangat menusuk.
Serena menggeleng lemah. "Aku gak ngerti maksud kamu."
"Manusia memang sering kali gak menyadari kesalahannya, kan?"
Mulut Serena terkunci rapat. Ia sungguh tak tahu maksud dari perkataan Ares apa. Ares terus menerus menyudutkan Serena sebagai pelaku kejahatan, sementara ia pun tak tahu kejahatan apa yang telah ia lakukan. Berulang kali Serena bertanya pada hatinya, sebesar apa sebenarnya kesalahan yang telah ia lakukan hingga pria sebaik Ares bisa berubah sebegini kejamnya.
"Aku gak tau salahku dimana, Res. Tapi kalo itu membuat kamu ngerasa sangat tersakiti, aku minta maaf. Aku bener-bener gak kuat lagi terus menerus kamu beginikan. Hati aku sakit banget. Aku harap kamu mau maafin aku, walau mungkin itu sangat sulit. Sesulit aku memaafkan perselingkuhan kamu." Katanya lirih dengan lelehan air mata yang mulai membanjiri wajah.
"Aku gak pernah minta kamu maafkan. Asal kamu tau, aku sama sekali gak menyesal telah membagi hati aku."
"Tapi sedikit aja, Res. Sedikiiiit aja tolong pahami begitu dalamnya sakit hatiku. Lukaku belum sepenuhnya sembuh, dan kemarin aku harus kembali ngerasain sakitnya menyaksikan kamu membukakan pintu untuk wanita itu. Secara langsung, Res, secara langsung. Di depan teman-temanku juga." Jelas Serena dengan nada paraunya akibat menangis.
Aku hanya membukakan pintu mobil, Serena. Sementara kamu membukakan pintu rumah kita dan pintu hati kamu untuk pria lain. Desis Ares dalam hatinya yang sudah mulai tersulut emosi.
"Sakit hati kamu urusan kamu. Selama aku dan pacarku merasa senang, sakit hati kamu sama sekali gak termasuk dalam hal yang harus aku pikirkan."
Serena menggeleng pelan. Hatinya sangat perih. "Kamu jahat, Res. Kamu bukan Ares yang aku kenal dulu. Wanita itu benar-benar udah mengubah kamu jadi iblis yang gak berperasaan."
Mata Ares benar-benar menatap tajam. Tak dapat disembunyikan ada bara amarah yang menyalang. Urat-urat muncul di sekitar rahangnya. Tanpa memikirkan apapun lagi, tangan kanannya terulur mengambil cangkir teh dalam genggaman Serena. Mengais cangkir itu ke udara dan menyiram kasar wajah Serena dengan teh panas yang ada di dalamnya.
Serena megap-megap kepanasan. Ia menatap Ares tak percaya. "Ares kamu?"
Prang! Ares melempar cangkir itu ke dinding hingga pecahannya berserakan di lantai. Serena terhenyak dan makin ketakutan.
"Jangan pernah bawa orang lain dalam permasalahan kita. Apalagi orang itu adalah orang yang sangat aku sayangi," desis Ares serius. "Tokoh protagonis seperti kamu memang bisanya cuma merasa jadi pihak yang paling disakiti dalam setiap permasalahan."
• • • • •
__ADS_1
Ares menuruni tangga rumahnya dengan amat tergesa-gesa seraya memakai jaket varsity miliknya. Wajahnya terlihat sangat cemas. Langkahnya lebar-lebar. Ia membuka cepat pintu rumahnya dan tanpa sadar menubruk sang asisten rumah tangga yang baru akan masuk seusai menyiram tanaman.
"Astaga, Mbok. Maaf-maaf saya gak sengaja."
Wanita paruh baya yang berperawakan kurus itu mengambil gunting rumput yang terjatuh. Wajahnya yang telah berkeriput terlihat ramah saat menatap Ares kembali. "Gapapa, Tuan, saya juga salah é gak liat-liat."
Ares tersenyum tipis dan agak lega. "Maaf ya, Mbok, sekali lagi."
"Sudah gak usah dipikirkan, Tuan," senyumnya. "Tuan keliatan buru-buru. Mau kemana toh, Tuan, pagi-pagi begini?"
"Uhm... saya ada urusan bentar."
Mbok Nunik hanya mengangguk-angguk kaku, karena sejujurnya ia penasaran kenapa tuannya terlihat sangat cemas. Tapi menilik posisinya, ia sadar tak boleh terlalu mencampuri urusan sang majikan.
"Kalo gitu saya duluan ya, Mbok."
"Oh iya-iya monggo, Tuan. Hati-hati."
Kaki Ares sudah melangkah maju, tapi kemudian ia berhenti karena teringat sesuatu. "Eh, Mbok, bentar."
"Iya, Tuan, ada apa?"
"Tolong beresin ruang kerja saya ya. Sekarang."
"Baik, Tuan. Akan saya bersihkan."
"Sekarang banget ya, Mbok. Makasih. Saya pergi dulu."
Badan Mbok Nunik menyamping membiarkan Ares melewatinya. Selepas majikannya sudah menaiki mobil, si Mbok melanjutkan langkah memasuki rumah. Ia menaiki tangga rumah menuju ruang kerja Ares untuk melaksanakan perintah.
Lalu langkah wanita yang mengikat sanggul rambutnya itu terhenti saat melihat pintu ruang kerja Ares terbuka lebar, dan ada sang nyonya yang tengah berjongkok membersihkan sesuatu di lantai. Kontan Mbok Nunik kaget dan buru-buru ikut berjongkok.
"Biar saya aja, Nyonya." Mbok Nunik cukup terkejut karena pecahan beling berserakan. Tangannya spontan ikut membantu mengambil pecahannya.
"Gapapa, Mbok, tinggal sedikit lagi."
"Ini sudah tugas saya é, Nyonya. Sudah Nyonya duduk saja."
"Udah, Mbok, gapapa. Mbok lanjut kerja aja."
Mbok Nunik yang sedari tadi sibuk menunduk memunguti beling, seketika menoleh karena mendengar nada suara sang majikan terdengar seperti habis menangis. Ia tak dapat memastikan dugaannya karena Serena terus menunduk.
"Nah. Selesai." Serena membawa pecahan beling itu pada tong sampah kecil di ruang kerja Ares.
Mbok Nunik ikut berdiri saat melihat majikannya membuang beling. Pandangannya juga tak pernah lepas meneliti Serena hingga Serena kembali menghampirinya. Kecemasan terlihat dari kedua mata wanita berusia lima puluh enam tahun itu.
Serena tertegun beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum kaku. "Ini... tadi tangan saya sedikit kena beling, makanya berkaca-kaca."
"Mau saya ambilin obat merah, Nyonya?"
"Gak usah, Mbok. Hanya luka kecil."
Mbok Nunik membulatkan bibir, tapi matanya tak berhenti meneliti cemas pada Serena. "Tapi nganu é, Nyonya. Pipi... sama leher Nyonya... keliatan merah. Nyonya kenapa?"
Reflek Serena menyentuh sekilas pipi kirinya. Jujur ia tak tahu kalau efek dari siraman air panas tadi bisa terlihat secepat ini. Sebenarnya bagian pipi dan lehernya sedikit perih. Tapi ia mengabaikannya.
"O-oh... ka-kalau ini... tadi saya gak sengaja nyenggol meja dan ngebuat teh yang ada di dalem gelas itu tumpah sampe gelasnya pecah. Mungkin merah-merah ini karena cipratan teh tadi, Mbok."
"Oh gitu. Pantesan tadi sebelum pergi Tuan pesan sama saya untuk bersihkan ruang kerjanya."
"Pergi?"
"Iya, Nyonya. Baru saja."
"Pergi kemana?"
"Kurang tahu. Saya gak berani nanya. Tapi kelihatannya buru-buru."
Serena mengerutkan kening memikirkan Ares akan pergi kemana pagi-pagi begini. Ini baru pukul tujuh pagi. Ares buru-buru untuk apa?
"Nyonya bener gak mau diobatin? Pasti perih loh itu, Nya."
Lamunan Serena tersadarkan oleh tawaran Mbok Nunik. Lalu wanita itu menggeleng pelan. "Gapapa kok, Mbok, nanti biar saya obatin sendiri sehabis mandi."
"Ya sudah kalau begitu. Saya permisi mau ambil lap buat pel lantainya."
Serena hanya mengangguk seraya tersenyum kecil. Tapi tak dapat dibohongi pikirannya penuh oleh nama Ares.
• • • • •
Serena keluar dari kamarnya dengan kelihatan lebih segar dari sebelumnya. Tampilannya yang terlihat sederhana dengan pakaian rumahan dan polos tanpa riasan malah makin memancarkan aura kecantikannya. Wanita itu meringis pelan saat mengelus lehernya yang terasa perih karena terkena air.
Langkahnya menggiring ia turun menuju bupet dekat rak televisi di lantai satu yang menyimpan obat-obatan. Namun saat Serena membuka kotak P3K, ia tak temukan obat yang cocok. Ia membuka satu persatu lacinya, namun obat untuk luka bakar tetap tak ditemukan. Bersamaan dengan itu, Mbok Nunik terlihat menuruni anak tangga lengkap dengan peralatan pelnya. Mungkin ia baru selesai membersihkan ruang kerja Ares.
"Nyonya nyari apa?"
Serena melirik sekilas, lalu melanjutkan membuka-buka laci. "Cari salep untuk luka saya ini, Mbok. Tapi gak nemu-nemu dari tadi."
"Mungkin habis, Nyonya."
__ADS_1
"Iya kali ya. Ya udah lah. Nanti juga sembuh sendiri." Serena menutup semua lacinya kembali dan tersenyum pada Mbok Nunik.
"Mau saya belikan, Nyonya?"
"Gak usah, Mbok. Gak terlalu perih, kok. Udah biasa aja."
"Bener, Nyonya?"
"Iya," senyum Serena mengusap-usap pundak kiri Mbok Nunik. "Udah ah gak usah khawatir. Saya mau masak sarapan dulu. Nanti juga lupa sama luka kalo udah masak."
Mbok Nunik membalas senyum majikannya saat Serena melengos masuk ke dapur. Baru saja langkah kakinya akan lanjut melangkah, namanya dipanggil dari belakang.
Tubuh Mbok Nunik pun memutar, dan ia menemukan Ares di depan pintu masuk. Rupanya tuannya itu sudah pulang entah dari mana. Tak menunggu perintah, segera ia menghampiri Ares.
"Tuan manggil saya?"
"Iya, Mbok."
"Ada yang bisa dibantu, Tuan?"
Dengan gerakan slow motion dan terlihat agak ragu, tangan Ares merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan bungkusan kecil dari dalamnya. Mbok Nunik terlihat kebingungan saat sang tuan menyodorkan bungkusan itu.
"Buat saya, Tuan?"
"Tolong kasih untuk dia." Dagu Ares menunjuk ke arah dapur dimana Serena tengah sibuk memasak.
Kepala Mbok Nunik ikut memutar ke belakang mengikuti tatapan datar tuannya. Lalu dengan masih agak bingung ia menatap Ares lagi. "Untuk Nyonya, Tuan?"
Ares mengangguk sekali. Mbok Nunik diam-diam meneliti isi dari kresek putih itu. Namun ternyata gerakannya diawasi Ares hingga wanita tua itu salah tinggkah saat Ares menjawab. "Itu salep untuk luka bakar."
"Oh iya, Tuan." Senyum Mbok Nunik kaku.
"Tapi tolong jangan kasih tau itu dari saya ya, Mbok."
"Loh? Kenapa, Tuan?"
"Bilang aja itu obat punya Mbok. Baru kepake sekali, jadi kemasannya masih bagus."
Mbok Nunik ingin membantah, tapi bantahannya hanya berakhir di ujung lidah karena ia tak seberani itu menolak perintah tuannya. Akhirnya ia mengatupkan lagi bibirnya dan mengangguk canggung. "Baik, Tuan."
"Makasih ya, Mbok. Saya masuk dulu. Jangan lupa dikasihin. Harus dipake sekarang juga biar lukanya cepet sembuh."
Tak bisa berbuat apa-apa selain segera melaksanakan perintah, Mbok Nunik pun segera memasuki dapur dimana Serena tengah memasak sarapan.
"Nyonya."
"Iya, Mbok." Serena sibuk mencicipi nasi goreng yang ia tuang di atas sendok kecil.
"Anu... ini... saya bawa obat buat Nyonya."
"Obat apa?" Serena berbalik dengan kedua alis terangkat.
"Obat buat luka bakar Nyonya."
"Mbok beli?" Tatapannya jatuh pada kantong kresek di genggaman Mbok Nunik.
"Enggak, Nyonya, anu... saya baru inget beberapa hari lalu saya pernah beli salep buat luka bakar. Baru saya pake sekali, makanya masih ada bungkusnya."
"Bener? Mbok gak sengaja pergi buat beli itu, kan?"
Mbok Nunik menggeleng-geleng takut. Takut nyonyanya ini mengetahui gelagat tidak beresnya.
"Makasih ya. Saya jadi gak enak make obat punya Mbok."
"Gapapa, Nyonya. Saya malah merasa gak tenang kalo luka Nyonya gak diobatin. Ini silakan diambil, Nyonya."
Dengan senyum mengembang Serena menerima kantong kresek berisi obat itu. "Makasih ya, Mbok, sekali lagi."
"Iya, Nyonya. Dipakai sekarang ya, Nyonya, biar lukanya cepat sembuh. Atau mau ta' pakein aja?"
"Enggak usah, Mbok, saya nanti pake sendiri aja obatnya. Saya masih mau lanjut masak, tanggung bentar lagi."
"Biar masak saya aja yang lanjut. Nyonya obatin dulu aja luka Nyonya."
"Gak usah, Mbok. Mbok lanjut kerja yang lain aja. Biar saya yang selesein ini."
"Anu é," Mbok Nunik mengusap tengkuknya saat teringat perkataan Ares yang memerintah agar obatnya dipakai sekarang. "Tolong dipakai sekarang ya, Nya, obatnya. Biar saya tenang. Soalnya saya benar-benar khawatir."
Melihat wajah sang asisten rumah tangga yang terlihat benar-benar gelisah membuat Serena sedikit mempertimbangkan lagi tawarannya. Ia tak tega melihat Mbok Nunik terus khawatir. Ditambah ia sudah begitu baik membawakannya obat.
"Ya udah deh kalo gitu saya pake sekarang. Mbok tolong lanjut masaknya, ya?"
"Siap, Nyonya." Akhirnya Mbok Nunik bisa tersenyum lega.
Serena melangkah keluar dari dapur untuk menuju sofa ruang tengah. Saat ia duduk, tanpa disadari ada Ares yang memperhatikannya dari atas tangga. Pria itu melenguh lega dalam hati karena usahanya mencari apotek yang buka pagi-pagi membuahkan hasil. Anggap saja perhatian kecil ini sebagai bentuk penyesalannya karena aksi spontannya tadi--yang sialnya membuat Serena terluka.
Sesudah itu Ares memilih mengurung diri di ruang kerjanya. Urusan makan dan lain halnya diurus Mbok Nunik yang siaga mengantarkan. Ia menghabiskan hari minggunya--yang biasanya diisi oleh kebersamaan bersama Altan dan Serena--menjadi pura-pura sibuk akan urusan kantor. Ia tahu ulahnya ini akan menyakit Altan, tapi ia tak punya pilihan lain. Ares yakin anaknya pasti mengerti kalau untuk urusan--alasan--pekerjaan.
Malam menjelang ia baru kembali ke kamar. Menyaksikan Serena sudah tertidur lelap. Tak lupa ia memeriksa keadaan lukanya diam-diam. Biarlah Serena tak mengetahui perhatian kecil ini--karena Ares pun tak mau Serena tahu bahwa di satu sisi hatinya masih tersisa cinta untuk dia.
__ADS_1