Haruskah Kita Bercerai?

Haruskah Kita Bercerai?
2


__ADS_3

"Yeay! Omelet!" Ares dan putra kecilnya--Altan--bertos ria di meja makan saat sepiring omelet buatan Serena sudah tersaji.


Serena yang melihat tingkah anak dan suaminya itu, tersenyum seraya mendudukkan bokongnya di kursi yang telah disiapkan oleh Ares dan Altan. Yup, kursi paling tengah, dan Altan serta Altan ada di sisi kanan dan kirinya.


"Kayaknya Mami tau deh kenapa Altan nyuruh Mami duduk disini." Goda Serena mengelus-ngelus dagunya dengan mata memicing.


Altan hanya senyum-senyum saja sambil sesekali melirik Ares.


"Hayo ngaku," Serena mencolek hidung Altan. "Pasti minta disuapin Mami ya? Iya, kan?"


"Altan disuruh Papi, Mi."


"Kok Papi? Bohong, Sayang, jangan percaya."


"Orang Papi yang nyuruh Altan."


"Enggak."


"Iya.


"Papi." Kekeuh Altan dengan memanjangkan nadanya.


"Altan." Balas Ares tak kalah panjang.


"Udah udah stop," interupsi Serena mengangkat tangan. "Ini jadinya mau pada disuapin atau lanjut ribut?"


"DISUAPIN." Keduanya kompak.


"Jadi berhenti ribut, oke?"


"OKE!"


Layaknya keluarga bahagia yang sempurna, suasana di meja makan sangatlah manis. Celotehan Altan yang menggemaskan, Ares yang selalu iseng pada putranya, dan Serena yang bagian tertawanya. Belum lagi anak dan ayah itu selalu saja berebutan tak sabar minta disuapi, hingga kadang membuat Serena jengkel sendiri.


Hanya di meja makanlah Ares bisa merasa sangat dekat dengan Serena. Hanya saat disana ia merasa tak ada jarak yang menghalangi mereka. Serenanya berubah sangat lembut dan seakan begitu menyayanginya. Alasan utamanya tentu saja karena disana selalu ada Altan.


Walau semuanya hanya demi Altan, tapi Ares sangat menghargai usaha Serena yang tak pernah mau melukai hati anaknya. Di depan Altan, Serena sebisa mungkin bersikap layaknya istri yang sangat mencintai suaminya. Memenuhi segala kebutuhannya dan jadi lebih sering mengumbar senyum dan tawa.


Ditambah lagi sesibuk apapun Serena, wanita itu selalu menyempatkan waktu untuk memasak makan malam--walau itu hanya menu simpel seperti omelet ini. Di antara mereka juga sudah ada perjanjian bahwa mereka harus pulang tepat waktu untuk sekedar menemani Altan makan. Dan Serena setuju akan itu. Tak pernah sekalipun wanita itu mengabaikan tugasnya sebagai seorang ibu.


Setidaknya itu yang membuat Ares yakin lambat laun Serena akan menerimanya. Lewat Altan.


...• • • • •...


Setelah makan malam selesai, seperti biasa Ares pasti berada di balkon kamarnya. Sekedar menyesap rokok dan menikmati angin malam sembari bermain game online. Sementara di dalam kamar, ada Serena yang tengah bermain ponsel sembari duduk bersandar di kepala ranjang.


"Yah... lupa gue gak bawa kopi." Gumam Ares pada dirinya sendiri.


Pria itu kemudian mematikan rokoknya dan beranjak masuk ke dalam kamar. "Sayang bikinin aku kopi, dong."


"Suruh Mbok sana." Fokus Serena pada ponsel. Jujur ia malas untuk turun ke dapur.


"Masa suruh Mbok, sih? Ini kan udah malem, kasian pasti Mbok udah tidur."


Serena mendongak dengan tatapan juteknya. "Emangnya kamu gak kasian sama aku yang udah kerja seharian?"


"Ya gak gitu. Aku penginnya kamu yang bikin. Kan udah lama kamu gak bikinin aku kopi."


"Enggak ah males. Lagian aku juga udah mau tidur."


Dengan sabar, Ares hanya bisa menghembuskan napas pelan. Pria itu kemudian berjalan mendekati ranjang, dan menaruh ponselnya di nakas. "Ya udah deh gak usah. Kasian kamu kecapean."


Setelah duduk berdampingan di atas ranjang, Ares benar-benar diacuhkan selama beberapa waktu. Serena terus sibuk pada ponselnya, dan Ares diam memperhatikan wajah sang istri.


Hingga akhirnya, Ares tak sengaja melirik buket bunga pemberiannya tadi pagi yang masih bertengger di nakas sebelah Serena. Posisinya masih sama. Dan artinya bunga itu tak tersentuh sama sekali.


"Oh ya, Sayang, gimana bunganya? Suka?"


"Hm?" Gumam Serena yang terdengar agak kaget. Ia baru sadar kalau ia melupakan keberadaan bunga itu, padahal letaknya ada di samping tubuhnya sendiri.


"Bunganya, Sayang." Tunjuk Ares dengan dagunya.


Serena melirik buket bunga itu sekilas, lalu menyungging senyum tipis yang terkesan memaksa. Berharap Ares tak curiga bahwa ia sama sekali tak ingat akan bunga itu. "Iya, suka."


"Oh. Syukur, deh." Ares tetap berusaha tersenyum tipis walau ia tahu sedang dibohongi.


"Besok sore kita ke rumah aku. Bisa?" Tanya Ares lagi.


"Mau ngapain?" Kontan saja Serena mendongak. Bukannya tak mau datang ke rumah mertua sendiri, hanya saja Serena capek harus berpura-pura di depan kedua orang tua Ares. Ia tak tega terus-terusan berbohong pada mertua yang sangat ia sayangi itu.


"Kata Mama, Papa sakit."


"Sakit? Sakit apa?"


"Gak tau. Kayaknya sih kecapean. Tapi gapapa ya kita kesana aja. Kamu mau, kan?"


Serena mengangguk-angguk. "Iya, mau. Besok pasti aku usahain."


Kali ini senyum Ares lebih lebar. Tangannya mengusap puncak kepala Serena dengan sayang. "Makasih ya kamu udah menyayangi orang tua aku seperti orang tua kamu sendiri."

__ADS_1


"Its okay. Aku selalu menyayangi orang tua kita sama rata, kok."


"Ya udah. Ayo tidur. Kamu kayaknya capek banget."


Serena mengangguk setuju dengan perkataan Ares. Ia memang merasa lebih lelah hari ini. Banyak sekali tadi model-model yang harus ia seleksi untuk direkrut.


"Ngapain?!" Mata Serena membulat waspada saat setengah tubuh Ares menindihnya.


"Cium buat aku mana, Sayang?" Pintanya manja.


"Aduh udah deh tidur aja. Ngapain sih pake cium-cium segala?"


"Gak bisa, dong. Itu kan udah jatah aku. Nanti aku gak nyenyak tidurnya."


Serena memutar bola matanya seraya mendesah pelan. Tubuhnya sedikit maju agar bibirnya mengenai pipi Ares. "Tuh udah."


"Masa di pipi, sih?"


"Emang harusnya dimana? Biasanya juga disitu."


"Bibir dong, Sayang." Goda Ares dengan menaik turunkan alisnya.


"Enggak gak ma----hmmmpppt


Ares ******* bibir Serena dengan sangat lembut. Menyesap permen miliknya itu penuh sayang. Ciumannya kali ini pure sebagai dongeng pengantar tidur. Tidak ada unsur nafsu.


Serena tentu saja masih terbengong kaget. Tapi Ares terlihat biasa saja dan malah lanjut mencium keningnya. Lalu tangan kiri pria itu memeluk perut istrinya, kepalanya ditenggelemkan pada ceruk leher Serena. "Sleep tight, Sayang. I love you."


Ares memang tipe orang yang mudah sekali tertidur. Lihat saja, baru beberapa menit yang lalu ia mengatakan kalimat sebelum tidur, sekarang napasnya sudah terdengar teratur. Lenguhannya entah kenapa mampu membuat Serena tersenyum. Apalagi posisi tidurnya yang telungkup, percis seperti bayi yang tengah menyusu pada ibunya.


Tangan kiri Serena mengusap-usap rambut Ares agar suaminya itu lebih nyenyak tetidur. Ia berharap mimpi indah hinggap dalam tidur Ares. "Selamat tidur juga, Ares. Maaf aku belum bisa bales ucapan cinta kamu."


Baru saja mata Serena akan ikut terpejam, bunyi pemberitahuan dari ponselnya terpaksa membuat Serena urung tidur. Wanita itu sangat hati-hati mengambil ponselnya, karena takut tidur Ares terganggu.


"Ternyata Hana. Ada apa ya sampe message jam segini." Gumamnya pelan.


Hana


Sere, dia udh balik lg


22:15


Kening Serena berkurut dalam.


^^^Dia siapa?^^^


Reno


22:15


Sungguh sial! Pesan dari Hana itu membuat Serena baru bisa tidur jam dua pagi.


...• • • • •...


Hari ini Serena bekerja lebih giat dari sebelumnya. Ia datang lebih pagi, dan menyelesaikan pekerjaan lebih cepat dari biasanya. Ia harus menepati janjinya untuk pulang lebih awal agar bisa ke rumah sang mertua.


"Sere, gue udah telepon para manejer dari model yang loe pilih kemarin." Hana memasuki ruang Serena setelah bosnya itu mengizinkan masuk.


"Oh ya? Terus gimana?" Serena fokus menatap laptopnya.


"Katanya oke, tapi dari sepuluh model, ada dua yang cancel. Katanya mereka udah ada kontrak sama agensi lain."


"Its okay, asal yang cancel itu bukan Michelle Louis. Soalnya dia aset kita banget."


"Tenang. Dia oke, kok. Katanya kebetulan dia emang mau ke Indo dalam waktu dekat."


"Oke. Seleksi pemilihan model baru kita well done. Good job buat loe." Serena mengangkat dua ibu jarinya pada sang sahabat karib.


"Asik! Gue mencium bau-bau duit nih. Semoga aja gaji gue naik."


"Dasar," Serena terkekeh pelan. "Oh ya, Han, hari ini gue pulang lebih cepet ya?"


"Kenapa?"


"Gue mau ke rumah mertua gue. Mertua gue sakit."


"Orang tuanya Ares?"


"Ya loe pikir orang tuanya siapa lagi? Emang gue punya suami empat?"


"Oh iya," cengir Hana dengan lebar. "Oke deh. Selamat menikmati acara dengan mertua kesayangan. Semoga acting loe lebih baik dari sebelumnya."


"Sialan loe. Gaji loe gak jadi gue naikin, gigit jari deh tuh."


"Jangan dong, Bu Bos. Iya deh ampun. Damai aja kita," Hana mengangkat dua jarinya membentuk V. "Gue balik kerja ya. Entar kalo mau lunch bareng."


"Oke."


Saat baru sedetik membalikkan badan, Hana langsung berhenti berjalan. Ia tiba-tiba teringat sesuatu.

__ADS_1


"Kenapa, Han? Ada yang kelupaan?" Tanya Serena melihat sang sahabat yang tak kunjung melangkah lagi.


Hana membalikan badan dengan bola mata yang bergerak gelisah. "Uhm... itu, Re.... soal itu..."


"Soal apa?"


"Itu, Re, anu... soal," Hana menggaruk kepala belakangnya gugup. "Soal semalem."


Serena langsung mengatupkan rapat mulutnya. Jantungnya berganti tempo jadi sangat cepat. Terlihat pendar cemas dari matanya yang mati-matian ia sembunyikan dari Hana.


"Serius deh, Re, suer gue gak bermaksud apa-apa. Gue cuma ngasih tau doang supaya loe gak kaget. Gue takutnya kalian gak sengaja ketemu dan loe belum siapin hati loe. Sumpah, Re, gue--


"Apaan sih loe lebay deh, Han," potong Serena santai. "Udah kali biasa aja. Orang guenya juga biasa."


"Hah? Gimana-gimana? Loe? Biasa aja?!"


"Iya. Biasa," Serena mengangkat dua bahunya. "Emangnya mau gimana lagi?"


"Re, tapi kan dia itu...


"Cuma masa lalu gue, Han. That's it."


"Gila sih gue gak percaya loe sesantai ini," Hana menggeleng-geleng tak percaya. "Hebat loe!"


"Ya santai aja kali, gak usah dipusingin. Lagi pula gue udah gak ada hubungan apa-apa kan sama dia?"


"Huft! Lega gue, Re," lenguh Hana sambil mengelus dada. "Jangan sampe deh loe balik lagi sama dia. Amit-amit amit-amit. Mending Ares kemana-mana."


"Lebay deh loe. Udah lah slow aja."


"Re, denger ya, gue bener-bener peringatin loe kali ini. Jangan. Sampe. Loe. Balik. Sama. Reno. Inget loe punya suami tajir, penyabar, dan super duper ganteng mirip Jefri Nichol. Inget juga loe udah punya Altan yang lucunya ngalahin rapatar. Inget Reno pernah nyakitin loe. Dan yang pasti Reno gak lebih baik dari Ares."


"Iya, Nyonya, iya. Gue inget semuanya. Oke? Udah sana loe balik."


"Gue percaya sama loe. Inget itu, Re."


...• • • • •...


Pukul empat lebih lima menit, Serena singgah di depan sebuah toko roti langganannya dan sang ibu mertua. Toko roti bergaya kuno yang telah dibangun sejak tahun 70-an, yang katanya milik orang tua sahabat Mama Yolita--mertua Serena. Semuanya lengkap ada disana. Mulai dari roti jaman dulu sampai yang ala kekinian seperti macaroon.


Tapi sejak pertama kali diajak Yolita kesini, Serena telah jatuh cinta pada sebuah roti--yang ternyata roti kesukaan mama dan papa mertuanya juga. Roti kopyor. Semacam roti gendut yang dibakar dengan mentega, lalu saat rotinya dibelah dua, potongan kelapa kecil-kecil muncul di dalamnya. Manis dan lezat.


Dan Serena tentu saja memilih roti kopyor itu sebagai buah tangan untuk mertuanya.


"Terima kasih, Tante Lisa." Serena tersenyum sumringah menerima paper bag cokelat berlebelkan 'Lisa Bakery' berisi roti kopyor pesanannya.


Wanita setengah baya yang menyanggul rapi rambutnya itu mengusap pundak kanan Serena. "Sama-sama, Sayang. Sudah lama kamu gak kemari, Tante sampe kelinglap liat kamu tambah cantik."


"Ah Tante Lisa bisa aja. Terima kasih." Senyum Serena malu-malu.


"Oh iya, tumben kesini sendiri. Mama mertuamu gak ikut?"


"Enggak, Tante. Kebetulan aku beli roti ini buat dibawa ke rumah Mama Yolita dan Papa Henri."


"Oh, mau berkunjung ya?"


"Iya, soalnya Papa sakit."


"Henri sakit? Sakit apa?"


"Biasa, Tante, Papa kayaknya kecapean."


"Astaga," lenguh Lisa terlihat prihatin. "Tolong sampaikan pesan Tante untuk Mama dan Papa mertuamu, ya? Semoga cepat sembuh untuk Henri."


"Baik, Tante. Pasti aku sampein."


"Kalo begitu, mari Tante antar ke depan."


"Iya, Tan--


"Maaf, Ibu Lisa," panggil seorang pegawai laki-laki menghentikan langkah keduanya. "Ada telepon untuk Ibu. Dari pemesan."


"Oh," gumam Lisa menatap Serena dengan raut tak enak. "Husen, tolong bilang saya akan telepon balik nanti. Sekarang saya harus antar tamu saya dulu."


"Tante, gak usah," cegah Serena. "Aku gapapa kok gak diantar ke depan. Tante layani aja dulu pelanggan Tante yang lain."


"Tapi kamu...


"Aku gapapa, Tante. Pelanggan Tante jauh lebih penting."


"Baiklah kalau kamu gak keberatan. Maaf ya Tante gak bisa antar. Jangan lupa sampaikan salam Tante."


"Iya, Tante. Sekali lagi makasih ya, Tan. Aku duluan."


Setelah cipika-cipiki ala ibu-ibu sosialita, Serena berjalan menuju pintu utama toko ini. Pintu kaca bergaya klasik itu didorongnya keluar, dan saat satu langkah Serena berada di depan toko, matanya langsung disuguhkan sosok yang mati-matian ingin ia jauhi.


"Reno."


---------------

__ADS_1


__ADS_2