Haruskah Kita Bercerai?

Haruskah Kita Bercerai?
35


__ADS_3

Di detik pertama Ares bangun dari tidurnya, hal yang pertama ia lakukan adalah meringis meremas rambutnya. Kepalanya sakit sekali. Berdenyut-denyut.


Saat kelopaknya perlahan terbuka, ia menyadari sesuatu. Ini bukan kamar di rumahnya, melainkan di kantor. Ada apa dengan dirinya? Kenapa ia bisa terbangun di kamar kantornya begini?


Ares berniat ingin mengangsurkan tubuhnya, lalu ia luar biasa terkejut menemukan punggung seorang perempuan sedang terisak di sampingnya.


Astaga! Apa yang terjadi dengannya?! Kenapa ia tidur dengan perempuan lain dan---****!---ia telanjang dada?! Seingatnya semalam ia selesai rapat dan bertemu dengan---


Ya Tuhan! Anyelir!


Apa perempuan ini Anyelir?! Apa itu benar dia?! Tapi... kenapa dia menangis?! Apa yang terjadi?!


Dengan ragu Ares menyentuh lengan perempuan itu yang dibalut selimut tebal. "Uhm... S-sweet...heart? Anyelir?"


Anye buru-buru menyusut air matanya dan menghentikan tangis. Ia meremas selimut tebal itu menahan isak.


"Kamu kenapa?"


"No. A-aku gapapa. Im okay."


Tenggorokan Ares yang naik turun menandakan pria itu betul-betul tercekat. Ia speechless. Itu benar Anyelir. Anyelir.


Rasanya ingin sekali bicara, tapi Ares teredam rasa bingung. Bingung harus bilang apa. Bingung pada apa yang terjadi. Jujur saja ia tak ingat sedikit pun tentang tadi malam. Tapi tangis kesakitan Anye ini seakan menggiring opini bahwa... ada yang salah. Ada yang salah di sini. Walaupun... ia tak yakin akan kesalahan apa yang ia buat.


"Anyelir... ap-apa... apa semalam kita... melakukan...


"Stop, Res. Tolong jangan diterusin."


"Why?" bisiknya setipis angin. "Aku... cuma mau tau apa yang terjadi tadi malam... sama kita."


"Nothing happened. Gak ada apa-apa."


"Kalo gak terjadi apa-apa, kenapa kamu nangis? Please, tell me. Aku... aku gak...


"Kamu gak ingat apa-apa karena emang gak terjadi apa-apa. Thats it."


Ares menelan ludahnya lagi. Pernyataan Anye bukannya membuat lega, malah makin membuatnya merasa bersalah. Bangun tidur dalam keadaan telanjang dada di samping wanita yang sedang menangis bukanlah sesuatu yang bisa diabaikan hanya dengan kata tidak apa-apa. Ini jelas ada apa-apa.


"Liat aku, Sweetheart. Please."


Mendengar suara lembut Ares malah makin membuat Anye sesak. Air matanya luruh lagi. Wanita itu menggeleng kecil dengan menggigit bibir bawahnya.


"Sweetheart, please. Kita perlu bicara."


"Gak ada yang perlu dibicarakan," bisiknya bergetar. "Aku udah bilang gak ada apa-apa."


"Kalo gitu liat aku. Bukan begini cara kita bicara. Kita bicara yang benar, ya? Oke?"


Dengan lembut, Ares menarik lengan Anye untuk menghadapnya. Memutar tubuh kurus itu berada di bawahnya. Pandangan mereka bertemu. Ares menatap lekat-lekat dua bola mata Anye yang berair dan sedikit sembab. Kini ia benar-benar merasa seperti seorang brengsek yang baru saja memperkosa seorang gadis.


"Anyelir, apa semalam kita melakukan itu? Apa semalam kita..." Ares tergugu. Rasanya tak pantas bilang itu. "Apa aku... memaksa kamu?"


Anye diam. Diam saja. Dan Ares makin tak tenang karena itu.


"K-kalo memang iya, bilang aja. Jujur sama aku. A-aku... aku gak ingat dengan apa yang terjadi tadi malam. Aku butuh penjelasan kamu."


"Kalo aku bilang iya, emang apa yang bakal kamu lakuin, Res?" Tembak Anye yang menciptakan bulatan kecil di mulut Ares. Membekapnya dengan rasa terkejut.


"Aku... Anyelir, aku..." Sial! Kenapa gugup sekali! "Aku akan tanggung jawab kalo sampe kamu hamil."


Damn, Antares! Kalimat omong kosong macam apa itu?! Hamil?! Ck! Entahlah! Tak ada kata lain yang muncul dalam otaknya selain kata itu. Setahunya, dalam posisi seperti ini---tidur berdua dengan lawan jenis dan wanitanya menangis---hanya itu kan yang ditakutkan? Takut ditinggalkan tanpa pertanggung jawaban?


Anye meneliti kesungguhan di dalam mata Ares. Mengetes seberapa besar keyakinan pria itu. Tapi seperti yang sudah ia duga, hanya keraguan yang muncul di sana.


"Gak semudah itu. Gimana istri kamu? Gak ada istri yang mau menerima suaminya punya anak dari wanita lain." Suaranya dibuat agak menantang. Padahal dalam hati sudah sesak luar biasa.


Diam lagi. Cukup panjang. Bahkan sangat lama. Ares gagu untuk menjawab pertanyaan ini. Ia bingung. Ini sulit sekali. Lalu, terdengar helaan napas Ares yang panjang seraya memejamkan mata. "Aku akan ceraikan dia."


Krak.


Kedua bola mata Ares terbuka. Suara apa itu? Ares spontan melepas jarak dari Anye dan berbalik. Tepat di depan pintu kamar, ada Serena yang berdiri dengan mata berair dan wajah kagetnya. Memegang erat-erat gagang pintu. Rupanya suara tadi adalah suara gagang pintu yang bergerak karena menahan badan Serena yang lemas.


"Serena?" Gumam Ares tak kalah kagetnya.


Di sisi Ares, Anye ikut mendudukkan dirinya dengan selimut menutupi tubuh bagian atasnya yang terbuka. Kontan saja, pandangan Serena beralih padanya. Dan praktis, degup jantung Ares bertalu makin keras.


"Maaf." Bisik Serena bergetar. Lalu, sosoknya hilang meninggalkan pintu.


Ares dengan mulutnya yang setengah terbuka, segera loncat dari atas ranjang menyabet asal kemejanya di lantai. Ia berlari tergopoh sambil kesusahan mengancing. Sosok Serena sudah berlari cukup jauh. Ada di depan lift dan menekan-nekan tombol di sana tak sabaran.


"Serena. Tunggu. Tunggu sebentar."


Serena ketakutan saat melihat Ares mulai mendekat. Dengan rasa panik karena pintu lift tak kunjung terbuka, ia  memutuskan meninggalkan lift. Lanjut berlari. Tak lupa menambah kecepatannya. Berbelok ke arah tangga darurat, lalu membanting pintunya keras. Masa bodoh dengan lelahnya menuruni 20 lantai. Yang ia tahu ia hanya ingin lari dari Ares sejauh yang ia bisa.


Suara Ares menggema dari luar, dan saat Serena mendongak, Ares sudah ikut masuk ke dalam tangga darurat.


"Serena. Tunggu."


Keadaan semakin mencekam seperti di film-film. Ares dan Serena berkejaran menuruni anak tangga. Serena seolah mengerahkan seluruh tenaganya karena Ares mengambil langkah besar melewati dua tangga sekaligus.


"Serena tunggu! Sebentar!"


Entah karena panik atau karena teriakkan Ares, Serena jadi kehilangan konsentrasi hingga salah menapakkan kaki dan---

__ADS_1


"Aaaaa..."


Ares menahan tangan Serena yang hampir terpelanting ke bawah. Menarik tubuh istrinya itu hingga berdiri di depannya. Menyelamatkannya dari bahaya.


Raut Ares cemas luar biasa. Pun wajah Serena yang memerah karena shock.


"Kamu gapapa, Serena? Ada yang sakit? Ada yang luka?" cecar Ares tanpa jeda. "Mana yang sakit? Mana yang luka? Bilang sama ak---


Tersadar siapa orang yang ada di depannya, Serena mundur selangkah dan menggoyang pelan lengannya yang disentuh Ares. Membentangkan jarak yang membuat Ares menatap tak rela seolah memohon Serena untuk terus berada di dekatnya.


"Serena..."


"Tolong jangan kejar aku lagi." Susah payah Serena mengeluarkan suaranya.


Ares menggeleng lemah. "Serena aku...


"Jangan. Jangan menjelaskan apapun," bisiknya parau. "Aku gak tau apa aku sanggup ngedengernya atau enggak."


"Tapi...


Dengan menelan semua rasa sakit dan rasa kecewanya, Serena mengangsurkan sesuatu yang sedari ia remas dalam genggamannya. Ia buka tangan Ares, lalu meletakkan sesuatu itu dalam genggaman pria itu. "Aku berhenti."


Sepersekian waktu, Ares menunduk menatap test pack di atas telapak tangannya. Sekali lagi Ares ulangi, test pack! Dan di sana muncul dua garis merah yang menunjuk tanda positif. Entah untuk alasan apa, tapi Ares merasa dirinya tercekat. Ada tangan tak kasat mata yang mencekik lehernya. Ares tak mampu berucap apapun, bahkan untuk mengangkat pandangan pun tidak. Ia seperti punya dunia sendiri.


Sementara di sisi lain, Serena terus menatap Ares seolah mengatakan bahwa sosok pria itu tak akan lagi ia lihat. Hatinya berbisik ini sudah saatnya ia meninggalkan pria itu. Hatinya bilang cukup. Lupakan saja keinginannya untuk membawa Ares kembali. Nyatanya pria itu memang sudah pergi terlalu jauh. Tak bisa ia pinta lagi.


Serena berjalan mundur dengan air mata yang tiada habisnya. Entah tak menyadari pijakannya sudah habis atau memang tak peduli lagi dengan keadaan, kaki Serena terpeleset ke belakang dan jatuh terjerembab.


Tubuhnya berguling. Rasa sakit langsung menyerangnya dengan hebat. Ia memejamkan mata. Tak kuasa berteriak atau sekedar merintih. Kepalanya berdenyut dan lengkingan panjang memekikkan telinganya.


Sebelum matanya terpejam sepenuhnya. Ia melihat di atas sana Ares terbelalak dan meneriakkan namanya keras sekali. 


"SERENA!!!"


...• • • • •...


Kalau ada hal yang sangat-sangat dibenci Ares di dunia ini, jawabannya pasti; rasa takut kehilangan orang-orang yang ia sayangi. Menggeret brankar berisikan Serena yang tak sadarkan diri dan berdarah dimana-mana bukanlah hal yang ia duga, bahkan dalam mimpi buruk sekali pun. Apalagi melihat darah yang mengalir dari paha sampai batas kakinya. Rasa takutnya seolah dipecut sampai batas maksimal.


Calon anaknya. Calon anak mereka.


Ares terduduk lemas di bangku rumah sakit setelah Serena dibawa masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Mengusap wajahnya kasar penuh penyesalan dan pikiran-pikiran buruk yang hinggap di pikirannya. Ia lupa kapan terakhir kali se-frustasi ini, tapi rasanya ini sangat menyiksa.


Ia merapal, berdoa, memantrai diri sendiri dengan kalimat; Serena pasti selamat, anak kita pasti selamat. Seolah, apa-apa yang ia harapkan dalam hatinya mampu melesat ke langit ke tujuh dan didengar oleh Tuhan di atas sana. Dan semoga juga, Tuhan mau berbaik hati membisikkan kalimat yang sama di telinga Serena dan calon anak mereka yang tengah berjuang di dalam sana.


Setelah setengah jam menunggu seperti orang hilang akal, Ares langsung bergerak setelah pintu ruangan terbuka. Menghampiri seorang dokter wanita yang menangani Serena.


"Gimana keadaan istri saya, Dok?! Gimana anak saya?! Mereka baik-baik aja, kan?! Gak ada yang terluka parah, kan?!"


"Istri Anda selamat, Pak," jawaban itu tak lantas membuat Ares lega. Nada dokter itu masih menggantung seperti ada yang ingin beliau sampaikan lagi. Kalau dilihat dari wajahnya yang penuh penyesalan, sepertinya itu bukan berita baik. "Tapi maaf, kami tidak bisa menyelamatkan janin yang ada dalam kandungannya."


Tanpa permisi, air mata Ares meluncur dengan lancang. Menetes setitik demi setitik, menjadikan semua yang ia lihat mengabur tak terarah.


"Benturan yang dialami pasien terlalu keras. Hal itu tidak bisa dihadapi oleh janinnya yang baru berusia hitungan minggu. Dalam kasus-kasus seperti ini, kemungkinan untuk selamatnya sangat sedikit dan juga jarang. Saya sudah berusaha sekeras yang saya bisa, tapi Tuhan berkehendak lain. Sekali lagi saya minta maaf dan sangat menyesal untuk itu. Saya turut berduka cita, Pak."


Selepas ditinggal undur diri, Ares mencari tembok untuk ia pegangi. Tapi nyatanya, ia malah terjerembab ke lantai. Duduk di sana dengan raut paling menyedihkan yang pernah siapapun lihat. Membiarkan seluruh jiwa dan raganya luruh berantakan tak terkira.


Ini bohong, kan?! Ini bohong, kan?! Tolong seseorang bilang kalau ini bohong!


Tubuhnya bergetar hebat sambil mengepal kuat-kuat kedua tangannya. Ia menangis. Wajahnya tak ubahnya lautan air mata yang tak terbendung. Isakan yang terus meluncur dari mulutnya seolah memberi tahu seluruh dunia bahwa ia baru saja kehilangan hidupnya, harapannya, dan segalanya.


Entah berapa banyak air mata yang kompak berkumpul ria di matanya. Kesedihan yang ia rasakan tak bisa dijelaskan. Tak bisa dihitung hanya dari berapa banyak tetes air matanya. Dadanya sakit sekali. Sebilah belati seolah mengulitinya pelan-pelan, dengan sengaja.


Ya Tuhan! Kenapa?!!! Kenapa?!!!


Ia meraung dalam hati. Berteriak sekencang yang ia bisa di sana. Meluapkan rasa marah dan kecewa yang menyatu jadi satu. Menanyakan apakah sebegitu Maha Egoisnya Tuhan hingga dengan segala kekuasaanNya Dia tega memisahkan seorang anak dari orang tuanya?!


Apa yang harus ia katakan pada Serena nanti? Bagaimana ia menyampaikan berita duka ini? Rasanya, menghadap Serena saja ia tak mampu. Ia tak punya muka lagi.


Serena, maafin aku. Maaf. Maaf.


Maaf karena udah begitu banyak nyakitin kamu. Maaf karena menjadi penyebab anak kita pergi tanpa sempat kita lihat. Maaf karena terlambat meminta maaf.


Maaf, Serena.


...• • • • •...


Langkah kaki seseorang yang berbalut sepatu sport hitam terlihat buru-buru. Pijakannya lebar seakan tak sabar mencapai tempat yang ia tuju. Beberapa kali sepatu itu berdecit saat harus ngerem mendadak karena tak sengaja menyenggol orang.


Dengan sekali dorongan, tangan itu berhasil membuka sebuah ruangan. Kontan, langkahnya terhenti. Cengkeraman pada gagang pintu menguat cemas setelah apa yang dia lihat di dalam sana.


Ares yang sedang duduk menanti kesadaran Serena, menoleh tak percaya pada tamu yang mendatanginya. Bertanya-tanya dalam hati haruskah orang itu datang di saat-saat begini? Di saat ia sedang berduka begini?


Meninggalkan kursi yang sudah didudukinya sekitar 1 jam, Ares berjalan menemui orang itu. Bekas-bekas kesedihan masih tergambar jelas di wajahnya, pun begitu pula matanya yang sedikit sayu. Tapi, terkhusus orang yang sedang ia tatap ini, ia berusaha menunjukkan sorot se-tidak bersahabat mungkin. Biar saja dia tahu bahwa kehadirannya memang tak diharapkan.


"Ngapain loe ke sini?"


Reno---tamu tak diundang itu---mengepalkan tangannya dalam rasa cemasnya. Kalau saja ia tidak tahu ini rumah sakit dan di dalam sana Serena tengah terbaring lemas, ia akan menghajar Ares dengan segala kekuatan yang ia punya. Beruntunglah Ares karena ia lebih memilih menelan lagi amarahnya. Tapi, jangan salahkan tatapan tajamnya karena matanya tak bisa bohong kalau ia begitu mengutuk Ares.


"Menurut loe buat apa gue ke sini kalo bukan untuk jenguk Serena?"


"Loe udah liat dia sekarang. Gue gak izinin lebih dari itu."


"Atas dasar apa loe larang gue?"

__ADS_1


"Gue suaminya Serena kalo loe lupa."


"Sekaligus orang yang nyebabin dia ada di sana kalo loe lupa." Tekan Reno.


Sejenak Ares tercenung. Orang ini mengingatkan ia lagi tentang hal itu. Lagipula bagaimana dia bisa tahu. Reno sialan!


"To the point aja mau loe apa sekarang?" Cetus Ares.


"Mau bicara sama loe. Diizinkan?"


...• • • • •...


Di taman rumah sakit yang panas menyengat pada siang hari, ada Ares dan Reno yang saling lempar pandang dengan membawa obor dalam mata mereka. Terik matahari tak ada apa-apanya dengan panasnya situasi dua manusia itu. Keduanya menghunuskan permusuhan. Sangat sengit. Mencoba membunuh satu sama lain dengan sorot mematikan.


"Selamat, Antares. Pencapaian yang sangat luar biasa bisa ngebuat istri sendiri terluka sampe berbaring lemah di rumah sakit."


"Gue gak perlu suara orang luar buat mengomentari permasalahan rumah tangga gue."


"Gak ada orang luar yang sangat tau permasalahan rumah tangga loe seperti gue."


"Jangan bersikap seolah-olah loe tau segalanya di saat yang keluar dari mulut loe cuma omong kosong."


"Loe mau gue cerita yang mana? Dari awal sampe akhir gue tau," tatapan Reno makin membeku. "Bahkan gue tau loe baru aja membuat calon anak loe gak bisa melihat dunia ini sebelum dia lahir."


"HEI!" Ares menghunuskan jari telunjuknya pada Reno. "Jaga mulut loe! Jangan berani bicara lebih dari ini, atau gue akan melupakan semua batasan."


Dengan sikap datarnya Reno menantang. "Gimana perasaan loe saat ngedenger fakta itu? Tersinggung? Marah? Merasa brengsek?" lantas ia mengetatkan rahangnya. "Ya. Karena itulah loe, Antares. Brengsek! Loe adalah lelaki paling brengsek yang pernah gue tau. Gak ada seorang suami yang lebih brengsek dari loe."


"Udah gue bilang jangan---


Reno menyingkirkan pelan telunjuk Ares dari pandangannya. "Sebelum hari ini gue selalu merasa gue adalah lelaki paling brengsek dalam hidup Serena. Gue menjanjikan dia untuk terus sama-sama, mengajak dia buat hidup bersama, memberi dia harapan, dan menjelang hari pernikahan kami gue malah pergi gitu aja hanya karena mengejar karir..."


"...tapi, Antares, hari ini gue tau bahwa titel brengsek lebih cocok buat loe. Jika gue hanya memberi dia kekecewaan, maka loe memberi dia penderitaan, pengkhianatan, dan juga luka yang gak berkesudahan dengan secara gak langsung membunuh calon anak kalian..."


"...apa salah Serena sebenernya sama loe? Seberapa besar kesalahan itu hingga loe membalasnya separah ini? Apa ini hanya karena gue tiba-tiba masuk dalam kehidupan kalian? Dan loe salah paham untuk itu?"


Raut Ares berubah agak terkejut. Apa maksud Reno mengatakan itu? Apa dia tahu soal itu?


"Ya, Antares. Gue menyadari bahwa kemarahan loe ini bersumber dari kembalinya gue. Loe inget, hari dimana gue ke kantor loe waktu itu *(part 20)? Di sana loe secara gak langsung menjelaskan semuanya. Loe bikin gue sadar kalo loe jelas salah paham dengan kedekatan gue sama Serena..."


"...gue gak tau apa gue terlambat menyadarinya atau enggak. Tapi mungkin seharusnya gue sadar lebih awal, biar semua ini gak terlalu parah. Gue seharusnya ngerti maksud perkataan loe saat di toko kamera *(part 13), atau lebih bagus lagi gue seharusnya liat tatapan cemas loe saat kita di coffee shop *(part 4)..."


"...jujur, awalnya gue kembali ke sini emang buat Serena. Gue berniat membawa dia kembali sama gue. Itu pemikiran gue saat belum tau dia udah nikah. Dan saat tau dia udah nikah pun, pernah sekali gue meminta dia untuk jalanin hubungan diem-diem *(part 10). Iya, gue sangat bodoh dan terlalu percaya diri. Karena rupanya, dia nolak tawaran gue mentah-mentah. Dia gak mau..."


"...dan loe tau apa yang Serena jadikan alasannya nolak gue, Antares? Serena bilang dia mencintai suaminya. Dia mau tetep jaga perasaan loe. Seketika, harapan gue hancur saat gue melihat cinta itu di mata Serena. Gue langsung berhenti buat berharap lebih sama dia. Saat itu gue tau, cinta Serena bukan lagi milik gue, tapi milik lelaki yang berusaha dia cintai selama lima tahun dan akhirnya dia berhasil melakukannya."


Satu fakta lagi membuat Ares makin tak beraturan detak jantungnya. Entah karena kaget atau karena terlalu tak percaya.


"Berniat nyembuhin hati gue dari penolakan Serena, gue mutusin buat balik ke UK nerusin karir. Sebelum itu, gue sempetin datang ke rumah loe untuk pamit sama Serena *(part 17). Tapi ternyata, dikasih bonus juga bisa ketemu sama anak loe," Reno tersenyum tipis membayangkan hari itu. "Bocah menggemaskan yang rupanya juga suka superman kayak gue..."


"...tepat di hari itu, setelah pamit dan minta maaf sama Serena, dan sebelum gue pulang, gue yang tadinya gak tau seperti apa sosok suami Serena, jadi tau gimana muka loe pas liat foto pernikahan kalian di ruang tamu *(part 17). Dan loe tau hal pertama apa yang terlintas dalam otak gue saat itu? Gue langsung inget kejadian di toko kamera *(part 13). Dimana gue liat loe sama perempuan lain saat itu. Itulah sebabnya gue datengin loe ke kantor loe besoknya *(part 20). Gue ingin memastikan bahwa pikiran buruk gue gak bener..."


"...surprisingly, loe terlihat seperti udah kenal gue, Antares. Tatapan mata loe sinis seakan loe sangat membenci gue dan punya dendam pribadi. Di sana gue mulai menerka-nerka, dan dari jawaban-jawaban loe gue langsung bisa menangkap kalo loe salah paham sama gue dan Serena. Saat itu gue ingin meluruskan kalo loe salah paham, Serena dan gue gak pernah sedekat dulu lagi, kita pure temenan..."


"...bahkan saat itu, gue berniat ngasih tau loe kalo Serena mencintai loe. Tapi gue rasa itu bukan hak gue. Serena lebih berhak buat ngungkapin perasaannya sendiri..."


"...jadilah sejak hari itu gue bertekad akan buat loe mengerti dan gak salah paham lagi. Gue ingin rumah tangga loe dan Serena membaik..."


"...loe inget, hari dimana Altan diculik *(part 25)? Dia mungkin cerita kalo dia dibawa pergi sama lelaki berkacamata hitam, pake topi dan juga masker," Reno menyadari mata Ares mencurugainya. "Ya, seperti yang loe pikirin, orang itu gue. Gue yang bawa Altan pergi."


Terang saja pengakuan Reno itu membuat Ares membulatkan mata marah. Ia menjabel kerah kaus Reno dengan kasar. "Beraninya loe!"


"Tenang. Gue gak ada maksud buruk sama sekali buat Altan. Seperti yang gue bilang, gue hanya ingin bantu memperbaiki rumah tangga kalian. Gue gak punya cara lain. Yang terlintas di pikiran gue hanyalah mempertemukan loe, Serena, dan perempuan itu untuk liat gimana reaksi kalian. Gue bawa Altan ke taman dekat apartemen perempuan itu. Sengaja ninggalin dia di sana karena kata mata-mata gue perempuan itu selalu lari pagi setiap jam setengah tujuh..."


Entah untuk alasan apa, Reno menjeda ucapannya. Ingin menilai bagiamana reaksi Ares sekaligus mempersiapkan lagi kata yang akan disampaikannya.


"...Anyelir, setelah dari toko kamera, gue ketemu dia lagi di kantor Serena *(part 23). Serena bilang kalo dia adalah satu modelnya. Gue langsung inget bahwa Anyelir adalah cewek yang waktu itu gue liat sama loe di toko kamera. Jujur gue bingung banget saat itu. Gimana bisa Serena yang adalah istri loe, bisa satu tempat kerja dan sangat akrab sama Anyelir yang saat itu gue kira selingkuhan loe..."


"...mulai saat itu gue cari tau siapa dia, gimana latar belakangnya. Dan ternyata, Anyelir cuma sahabat baik loe. Dia lama tinggal di luar negeri, mungkin itu sebabnya dia gak tau kalo Serena adalah istri loe. Dan biar gue tebak, loe pasti juga gak tau kalo Anyelir kerja di tempat istri loe. Itu makanya loe sangat kaget pas Anyelir datang ke rumah nganterin Altan dan bicara akrab sama Serena. Itu juga makanya Anyelir terlihat marah saat tau bahwa suami bosnya adalah loe, Antares."


Ares menggeram. "Gimana bisa loe---


"Gue mengawasi rumah kalian saat itu. Ingin tau seperti apa hasil rencana gue. Dan ternyata, semuanya berjalan lancar. Akhirnya kalian saling mengenal satu sama lain. Kecuali Serena..."


"...sejak awal gue tau Anyelir itu baik. Itulah sebabnya gue tau hal ini akan mempengaruhi dia. Dan hal itu dibuktikan dengan resign-nya dia dari kantor Serena *(part 27). Dia juga memutuskan pergi dari apartemennya hari itu juga. Ninggalin loe, ninggalin ini semua. Kedengeran jahat memang, tapi gue seneng dia pergi. Itu artinya peluang loe sama Serena untuk balik lagi makin terbuka lebar. Dan gue melihat sendiri hasilnya saat loe dan Serena kembali mesra di balkon rumah kalian *(part 28)."


"...bodohnya gue, gue merasa kalian udah aman. Gue mikir kalian berdua udah hidup bahagia lagi. Gue gak menduga bahwa suatu saat Anyelir bisa datang lagi dan menghacurkan semuanya. Kemarin sore, saat gue akan pergi ke bali untuk sebuah pameran foto, setengah mati gue kaget ngeliat Anyelir di bandara. Dia kembali. Dia kembali, Antares. Entah kenapa gue merasa kehadiran dia akan membawa efek gak baik buat rumah tangga kalian. Itulah sebabnya gue minta mata-mata gue buat awasin dia lagi karena gue bener-bener gak bisa batalin acara di Bali..."


"...semalem mata-mata gue bilang kalo Anyelir datang ke kantor loe. Pada saat itu perasaan gue mulai gak enak. Dan pagi tadi, mata-mata gue ngabarin lagi kalo... Serena... loe bawa dalam keadaan gak sadarkan diri dan berdarah-darah. Demi Tuhan, gue menyesal telah berangkat ke Bali. Kalo tau akan begini, gue akan halangin Anyelir di bandara kemarin..."


Seperti sebelumnya, Reno menghadapi keterkejutan Ares dengan tenang. Ia menurunkan cengkeraman Ares di kausnya dengan pelan. Menatap pria yang sudah membuat Serena begitu hancur ini dengan pandangan kecewa yang tak pernah ia tujukan pada siapapun.


"...apa sih yang loe perbuat, Antares? Apa yang loe perbuat sama Anyelir sampe Serena bisa begini? Belum cukup loe balas dendam? Belum cukup semua penderitaan yang selama ini loe berikan? Harus juga ditambah ini? Harus dengan merenggut paksa janin itu? Bayi kalian?..."


"...Serena itu mencintai loe. Dia sangat mencintai loe. Kenapa loe gak bisa hargain rasa cinta itu sedikit aja? Kenapa loe gak pernah bersyukur atas cinta itu? Semua orang ingin ada di posisi loe. Semua lelaki ingin cinta istri mereka sama seperti cinta yang diberi Serena buat loe."


Reno menelan ludahnya seolah ikut merasakan kesakitan Serena selama ini. Menyesali kegagalannya membuat Serena kembali bahagia. Ingin sekali mengutuki Ares dan memukulinya sampai pria itu sama kesakitannya seperti Serena.


Tapi inilah kenyataan yang terjadi sekarang. Ia hanya bisa terdiam membayangkan semua yang telah terjadi.


"Gue udah gak punya kata lagi untuk menggambarkan seberapa besar kemarahan gue sama loe, Antares. Kejahatan loe udah melebihi batas kemanusiaan..."


"...sekali lagi selamat. Selamat untuk semua yang udah loe lakuin ke Serena."

__ADS_1


__ADS_2