Haruskah Kita Bercerai?

Haruskah Kita Bercerai?
39


__ADS_3

3 Bulan Kemudian...


Jari tangan lentik yang dicat dengan warna putih pekat menggeser pintu kamarnya menyambut pagi dengan perasaan luar biasa hangat. Udara segar yang langsung menerpa dirinya kontan membuat mata indahnya sejenak memejam untuk menikmati. Ia hirup dalam-dalam napasnya seolah tengah menyerap seluruh energi positif dari wangi pagi hari.


Dua bola mata bulat yang bening dan berseri itu menyapu pandangan kepada apa yang ada di hadapannya. Sudah hampir seratus hari semua hal itu menyambut paginya. Alam terbuka, hehijauan di sekelilingnya, air kolam yang tenang di bawah kakinya, ketenangan, kedamaian, semua yang ia butuhkan.


Dengan sengaja matanya menatap pantulan diri sendiri dari air kolam renang. Wajah yang bahagia, senyum yang tak lepas, gaun putih selutut yang membalut, rambut hitam yang dibiarkan tergerai, betapa banyak perubahan yang telah diberikan Bali kepadanya.


Setelah semua kebaikan yang telah Bali asongkan, rasanya jahat jika mengatakan kota ini sebagai pelarian. Tapi, bagi orang yang beberapa bulan lalu merasa sangat putus asa seperti dirinya, Bali memang tempat yang tepat untuk menepikan diri. Semua yang ada di Bali seakan diciptakan hanya untuk ketenangan, tak ada tempat untuk kesedihan. Ia sudah membuktikannya sendiri.


Serena... namanya masih tetap sama sampai detik ini. Hanya saja, ia merasa dirinya lebih baik dari Serena yang dulu. Meditasi, yoga, rehat dari pekerjaan, pantai, semua itu membantunya mengolah diri untuk lebih tenang. Sudah satu bulan terakhir ia merasa tak lagi dibayang-bayangi semua luka yang ia tinggalkan di Jakarta. Ia merasa dirinya sudah pulih dari rasa putus asa yang sempat mendekapnya begitu kuat.


Serena... merasa sudah bisa berdamai dengan keadaan.


Sungguh kabar bahagia yang lama ia nantikan.


Setelah itu, bunyi denting yang berasal dari ponselnya membuat ia berhenti dari sesi mengevaluasi diri.


Ponselnya yang tergeletak di ranjang belakangnya, terpaksa menarik dirinya untuk kembali memasuki kamar. Rupanya ia mendapati satu pesan dari papanya. Sambil berjalan kembali ke bibir kolam, ia melihat pesan itu dengan seksama.


Papanya mengirim pesan foto sebuah amplop putih yang membuat Serena langsung tahu bahwa itu adalah surat dari catatan sipil untuk kasus perceraiannya.


Setelah proses pergulatan batin yang panjang, berperang dengan keinginan sendiri, menenangkan hati, melarikan diri, akhirnya sampai juga ia di titik ini.


Ares benar-benar akan menceraikannya.


Dulu, di pertengahan Februari, tepat sebulan ia mengungsikan diri ke Bali, ia sempat bertanya-tanya kenapa Ares tak kunjung mendaftarkan perceraian mereka ke pengadilan. Setengah dirinya berpikir mungkin Ares belum punya waktu untuk mengurus semuanya, tapi setengahnya lagi berpikir mungkin saja Ares masih mempertimbangkannya dan merasa ragu untuk melanjutkan perceraian ini.


Jujur, di saat itu ia sedikit goyah. Mendadak hatinya mengharapkan kalau Ares benar-benar ragu dan tak jadi menceraikannya. Ia merasa semua ini masih bisa diperbaiki tanpa berpisah. Jarak yang terbentang di antara mereka ini bukan semata-mata karena sudah tak saling cinta, tapi ini hanya upaya menenangkan hati masing-masing. Ia dan Ares memang sama-sama salah. Tapi mereka masih bisa sama-sama memperbaikinya.


Lalu, seperti putri tidur yang dibangunkan dari mimpi indahnya, Serena tertampar kenyataan saat dua minggu kemudian Ares mengabari bahwa dia sudah mengajukan permohonan cerai ke pengadilan. Mereka tinggal menunggu surat panggilan dari catatan sipil.


Dan ya, satu bulan setelahnya, hari ini, panggilan itu benar-benar datang. Sudah sampai dengan selamat di rumah papanya.


Sekarang ia ingin sekali menertawakan dirinya karena sempat terlalu berharap. Konyol sekali. Padahal sudah jelas-jelas ia dan Ares tidak ditakdirkan untuk bersama. Masih saja berandai-andai yang mustahil.


Sesaat sedang merenungi dirinya, ponselnya begitu saja berbunyi. Serena melihat layar dan mendapati satu panggilan dari papanya. Walau ia tahu akan membahas apa, tapi ia tetap mengangkatnya.


"Hallo, Pa?"


"Hallo, Sayang," suara papanya begitu lembut dan pelan. Tapi Serena sadar beliau tengah menyimpan kecemasan. "Apa kabar?"


Serena tersenyum tipis. "I'm fine. Totally fine. Papa dan Mama juga baik, kan?"


"Ya. Kami baik. Gimana sama Altan?"


"Dia juga baik. Sangat baik."


"Bali memang tidak pernah salah menjadi tempat untuk menenangkan hati. Kalau punya waktu, Papa juga ingin sekali ke sana. Menemui kalian sekaligus liburan. Pasti menyenangkan sekali, kan?"


Dalam diam, Serena mengetahui bahwa bukan ini tujuan papanya menelepon. Beliau ingin membicarakan hal lain, tapi tak enak menyampaikan secara gamblang. Topik ini hanya upayanya mengulur-ngulur waktu.


Serena menghela napas pelan sebagai bentuk protesnya. Ia merasa ini semua tidak perlu. Papanya tidak perlu menahan diri. Ia tidak akan tersinggung atau sakit hati. Ia sudah begitu siap dengan semua ini.


"Papa, aku tau Papa nelpon aku buat bahas masalah surat cerai itu. Its okay, Pa, tanyain aja apa yang pengin Papa tanyain. Aku okay, kok. Papa gak perlu ngerasa gak enak."


Terdapat hening yang cukup panjang. Serena tahu papanya pasti sedang berpikir keras untuk merangkai kata.


"Papa, apapun yang jadi kecemasan Papa, bagilah sama aku. Papa adalah Papaku, kan? Papa berhak menanyakan apapun sama aku."


"Papa hanya gak tau harus mulai dari mana. Papa khawatir kamu akan sedih setelah mengetahui kabar ini. Papa gak mau anak Papa merasa hancur lagi setelah sekian lama. Papa punya ketakutan tersendiri untuk itu..."


"...dengan susah payah kamu mencari ketenangan buat diri kamu sendiri. Sampai rela jauh-jauh mendatangi Bali cuma untuk mendapatkannya. Tapi... surat itu... surat itu dateng begitu aja merusak semuanya. Papa cemas. Sangat cemas."


Ketakutan itu bisa Serena maklumi. Adalah hal wajar jika orang tua mencemaskan anaknya. Terlebih papanya menyaksikan sendiri bagaimana dulu ia hancur dan mati karena Reno. Dan saat sekarang hal serupa kembali menimpanya, Serena paham ketakutan tersendiri yang papanya rasakan.


"Papa, gak ada yang perlu ditakutin. Semua yang Papa cemasin gak akan terjadi. Aku gak akan sedih atau hancur lagi. Apalagi hanya karena surat ini. Kita semua udah sama-sama tau kan kalo hal ini akan terjadi? Jadi, aku gak ngerasa kaget atau down. Aku okay..."


"...percayalah, Pa, Serena yang sekarang udah sangat kuat. Aku gak akan jatuh walau diterpa badai sekalipun. Semua ini pasti bisa aku lewati dengan mudah. Tanpa air mata. Dengan tegar. Papa tenanglah. Ya?"


Saat menunggu balasan dari papanya yang masih terdiam setelah menarik napas panjang, tangan Serena ditarik-tarik oleh seseorang yang tak lain adalah Altan. Rupanya dia sudah bangun.


"Mami, minjem hand phone Mami, Mi."


"Altan..." Serena menjauhkan teleponnya dari telinga. "Ada apa, Sayang? Buat apa minjem hand phone Mami?" Tak baik kan langsung melihat ponsel saat baru bangun tidur.


"Aku mau telepon Papi, Mi. Ini udah telat."


Oh ya. Serena lupa kalau setiap pagi, siang, sore, malam, Altan dan Ares selalu berkabar. Entah bertelepon atau sambungan video. Hubungan mereka masih terjalin dengan sangat baik selama ini.


"Mami, mana?" Altan menggoyang lagi tangan ibunya.


"Sayang... ini Mami masih teleponan sama Opa. Altan tunggu sebentar, ya? Nanti Mami kasih."


"Gak mau nanti. Maunya sekarang. Kalo nanti, Papi keburu berangkat kerja. Ayo, Mi, sekarang. Sekarang aja."


Serena menyerah. Ia menghembuskan napas kasar dan kembali pada sambungan telepon. "Papa, kayaknya aku harus tutup teleponnya sekarang. Altan... Papa dengar sendiri, kan?"


"Hn. Gapapa. Papa mengerti."


"Maaf ya, Pa. Nanti aku telepon lagi. Bye."


Belum ada sedetik setelah sambungan telepon terputus, ponsel Serena sudah dirampas Altan dan bocah itu segera loncat ke aras ranjang tak sabar bicara dengan ayahnya. Mungkin dia takut tak keburu menghubungi Ares. Sekarang di Jakarta sudah pukul 7 pagi. Dan kemungkinan Ares sedang sarapan.


• • • • •


Kening Ares mengerut kasar bersamaan dengan matanya yang terbuka perlahan. Bukan hal yang baru lagi bagi dirinya mendapat sakit kepala saat bangun tidur. Sudah tiga bulan ini jam tidurnya berantakan. 24 jam-nya ia isi dengan sibuk bekerja, dan paginya tentu saja kepalanya berdenyut. Malam jadi pagi, pagi jadi malam. Satu-satunya hal yang mendorong ia bangun pagi hanyalah telepon dari Altan, dan yang bisa menghantarkan tidurnya hanya sepasang piyama yang ia letakkan di sisi tubuhnya.


Piyama Altan dan Serena.


Ares menyampingkan tubuhnya meraba dua piyama itu. Piyama Altan yang terletak di tengah berwarna putih bersih dengan taburan bulan bintang. Di sebelahnya ada piyama tidur merah berbahan satin milik Serena.


Itulah satu-satunya kenangan yang ditinggalkan. Walau hanya berbentuk benda mati tapi sangat berarti bagi Ares.


Kedua piyama itu tak masuk dalam koper di hari itu. Kebetulan sedang dicuci. Ares yang mengetahui itu luar biasa senang. Ia membawa kedua piyama itu ke dalam kamar. Menyemprotkan masing-masingnya dengan wewangian mereka. Serena dengan wangi bunga daisy, dan Altan dengan minyak telonnya.


Di malam pertama tanpa mereka, kedua piyama itu yang ganti menemani Ares. Menjadi dongeng pengantar tidur, sesuatu yang dapat ia peluk, menyelimuti hatinya yang sepi. Dan hal itu berlangsung terus menerus sampai hari ini. Setiap harinya Ares selalu menyibukan diri dalam pekerjaan. Dan walau selelah apapun dirinya, ia tak pernah bisa mudah tidur. Oleh karena itu ia selalu membutuhkan kedua piyama ini di sisinya. Ia selalu membayangkan bahwa dalam kain itu ada sosok Altan dan Serena yang tersenyum kepadanya.


Miris memang. Terkesan seperti orang tak waras. Tapi Ares tak butuh hal lain selain mereka.


Dengan wajah kusut Ares memutuskan turun dari tempat tidurnya. Sekarang hampir jam 7 pagi---satu kebiasaan baru lagi setelah ia hidup sendiri. Biasanya dulu di jam segini ia sudah rapi dan sedang sarapan. Tapi setelah hari itu ia merasa tak semangat lagi dalam menjalani apapun. Berangkat kerja pun sering telat karena malamnya tidur pagi. Seperti yang ia bilang, satu-satunya alasan ia bangun pagi hanyalah panggilan dari Altan. Sebentar lagi bocah itu pasti menghubunginya.


Ares membasuh wajahnya dengan air. Hanya supaya Altan tak mengetahui kalau ia baru bangun dan belum mandi. Selama ini Altan tak tahu kalau papanya ini sudah begitu banyak berubah. Ares selalu tampil ceria dan segar seperti akan berangkat ke kantor di depan layar. Dan untungnya Altan lebih sering hanya menelepon daripada video call. Setidaknya itu sedikit membantu agar Ares tak perlu terlalu sering berbohong.

__ADS_1


Dalam pantulan kaca tak terlihat binar ketampanan Ares sama sekali. Yang ada hanyalah janggut tipis yang sudah satu bulan belum ia cukur. Sayu, pucat, kurang tidur. Tapi, Ares seolah tak peduli dengan semua itu. Ia membiarkan dirinya tak terawat.


Sikat gigi berwarna merah ia gosok dalam mulutnya. Busa-busa pasta gigi mulai memenuhinya. Namun, tiba-tiba saja ia meringis.


"Ash."


Rupanya sikat-sikat dalam sikat gigi itu sudah keluar dari jalurnya dan mengenai gusinya sampai berdarah. Sikat-sikatnya sudah rusak. Posisinya tak berjajar lagi. Sikat gigi ini memang sudah tiga bulan tak diganti. Sengaja. Ares hanya ingin memakai yang itu. Karena itu milik Serena. Agar ia selalu merasa dekat dengan Serena.


Oleh karenanya, walau sikat itu sudah melukai gusinya, Ares tetap melanjutkannya sampai selesai.


Saat ia kembali duduk di atas ranjang, pas sekali ponselnya berbunyi. Satu panggilan video dari Serena---yang tentu saja itu Altan. Sebelum mengangkatnya, Ares menarik napas panjang dan memasang senyum di wajahnya.


"Hallo, Papi?"


"Hai, Sayang?"


"Papi lagi apa?"


"Papi... Papi habis sarapan, Sayang... Altan apa kabar?"


"Baik. Tapi sedikit ngantuk."


"Ngantuk?" tanyanya dengan senyum tertahan. "Kenapa? Altan tidur telat ya semalem?"


"Abisnya semalem Papi gak telepon aku. Aku jadi gak bisa tidur karena gak denger suara Papi dulu."


Ares tersenyum. "Oh gitu. Ya udah maafin Papi ya. Semalem Papi sibuk, gak sempet main hand phone. Papi banyak kerjaan."


"Kerjaan Papi banyak terus! Kalo kayak gitu, kapan Papi bisa nyusul aku liburan?"


Kalau bisa, Ares pun ingin sekali menyusul Altan. Ia begitu merindukan anaknya itu, termasuk Serena juga. Tapi, Altan tak akan mengerti kalau 'liburan' yang dia maksud sebenarnya hanya siasat orang tuanya yang sedang mengistirahatkan pertemuan di antara mereka. Serena pasti akan keberatan kalau Ares ke sana.


"Nanti kalo kerjaan Papi udah beres pasti Papi ke sana, kok. Sabar ya. Sebentar lagi beres pasti kerjaannya."


"Janji ya, Pi?"


Terpaksa Ares berbohong. "Hm."


"Papi, tunggu sebentar ya. Aku pengin pipis dulu. Jangan dimatiin," terlihat Altan turun dari atas ranjang dan sedikit berlari. "Mami, aku mau pipis dulu. Mami pegangin sebentar hand phone ini. Jangan dimatiin."


Kening Ares mengetat karena Altan begitu saja menyerahkan ponsel itu ke tangan Serena. Sepertinya Serena juga kaget karena dia terdengar memanggil Altan menyiratkan keberatan.


Rasa tak karuan makin Ares rasakan saat kini wajah Serena yang muncul dalam layar. Seperti dugaannya, wanita itu terlihat enggan. Selama ini ia dan Serena memang tak pernah saling komunikasi, terkecuali saat Ares mengabari sudah mendaftarkan berkas perceraian mereka satu bulan lalu. Itu pun hanya telepon, bukan bertatap muka begini. Selebihnya tak ada. Serena bahkan selalu menolak jika Altan menawarinya untuk ikut dalam sambungan telepon atau video call.


Makanya saat ini mereka agak canggung.


"Hai." Sapa Ares kikuk. Sekaligus merasakan desir hangat di hatinya untuk pertama kali setelah sekian lama.


"Hai." Serena menjawab seadanya.


"Apa kabar?"


"Good. Kamu?"


Ares hanya mengangguk asal. Ia mulai tak konsen karena matanya seperti tersihir kecantikan Serena. Ini adalah kali pertamanya lagi melihat Serena setelah sekian lama. Serena kelihatan begitu cantik, baik-baik saja, tak hancur seperti dirinya.


Ares berpikir apa Serena bahagia di sana? Serena bahagia jauh dirinya? Sudahkah dia menemukan ketenangannya?


Ares turut bahagia kalau itu memang benar. Tapi ia juga tak bisa membohongi diri sendiri kalau ia sedikit sedih mengetahui Serena baik-baik saja tanpanya.


Tapi Serena menggeleng kecil. Di wajahnya masih tak ada ekspresi apa-apa. "Aku mau bicara sama kamu sebentar. Bisa?"


Bicara? Serena ingin bicara dengannya? Benarkah ini? Kepala Ares mengangguk kaku.


"Hari ini aku sama Altan akan pulang ke Jakarta."


Mengejatlah Ares di tempatnya kini. Apa ia tak salah dengar? Serena akan pulang?


"Udah ada panggilan buat perceraian kita, kan? Jadi aku akan menyelesaikannya sendiri biar semunya berjalan cepat."


Panggilan cerai? Panggilan cerai apa? Ares sungguh tak mengerti.


"Mediasinya bakal diadain dua hari lagi. Aku akan ambil penerbangan sore ini dan kemungkinan sampenya nanti malem."


Walau masih didera kebingungan, tapi Ares malah menjawab. "A-aku... aku akan jemput kamu... maksudku... aku akan jemput Altan... Boleh, kan? Aku kangen banget sama dia."


Serena menggoyang bahunya. "Ya."


Tiba-tiba menghening. Ares dan segudang kebingungannya, sedangkan Serena diam entah karena apa. Suasana jadi tak nyaman.


"Mami, mana siniin. Aku mau bicara lagi sama Papi."


Ares tak tahu apakah ia harus merasa senang atau sedih saat Altan mengambil alih lagi ponselnya dan membuat Serena tak nampak lagi dalam layar. Ia hanya merasa waktu sesingkat itu tak cukup untuk menyalurkan kerinduannya buat Serena.


Tapi, sudahlah. Ia harus tahu diri. Serena sudah tak mau lagi dengannya.


• • • • •


Sudah sekitar pukul 8 pagi. Ares menuruni tangga lengkap dengan pakaian kerjanya. Pagi ini sama saja seperti hari-hari biasanya. Tak ada semangat apalagi keceriaan. Ia seolah hanya mengikuti jalur hidupnya tanpa gairah. Kerja, tidur, kerja, tidur. Itu saja. Urusan makan bahkan sudah tak dipedulikan. Sarapan, makan malam, tak masuk dalam jadwal. Ia hanya makan sekali di waktu siang, itu pun kalau ingat. Selebihnya jarang makan lagi. Dan ia tak pernah makan di rumah. Meja makan selalu mengingatkannya akan kehangatan yang tertuang di sana.


"Tuan Ares."


Tepat di ruang tamu, Ares menoleh ke belakang. Mbok Nunik memanggilnya.


"Kenapa?"


"Tuan, ini," ia menyerahkan sebuah amplop. "Tadi ada kurir yang antar."


Amplop yang berada di tangannya itu Ares tatap lamat-lamat. Dari bacaan di depannya saja sudah jelas ini dari catatan sipil. Sekarang Ares mengerti inilah maksud Serena.


"Makasih, Mbok." Ares hanya melirik sekilas pada Mbok Nunik, lalu melanjutkan langkahnya keluar rumah.


Tanpa siapapun tahu, dibalik wajahnya yang tak menampilkan reaksi apapun itu, hatinya tengah menahan perih yang tak terjabarkan.


• • • • •


Danau yang membentang luas dengan air kehijauan, dikelilingi rumput-rumput pendek yang basah setelah air hujan, di sanalah Ares berdiri. Matanya yang berair memandang tak berarti pada semua yang ada di hadapannya. Ia kesal, marah, putus asa, tapi tak tahu harus membaginya pada siapa. Ia membenci dirinya sendiri, ia benci situasi ini.


Surat panggilan itu sudah datang. Dan itu berarti sebentar lagi ia dan Serena akan segera berpisah. Sebentar lagi ia tak akan dikenal sebagai suaminya Serena lagi. Sebentar lagi ia akan kehilangan hak untuk menganggap Serena sebagai miliknya. Sebentar lagi semuanya akan berakhir. Benar-benar berakhir.


Apakah ia sudah siap? Apa ia sudah benar-benar siap? Bisakah ia hidup tanpa Serena? Relakah ia melepasnya?


Jujur saja jawabannya tidak. Tidak sama sekali. Sampai kapanpun tetap tidak.

__ADS_1


Jauh di lubuk hatinya ia masih sangat mencintai Serena. Dulu dan sekarang. Masih dan akan selalu. Tapi karena kebodohannya, semuanya hancur. Kalau saja ia tak berpikir Serena berkhianat, kalau saja ia tak begitu banyak menyakitinya, kalau saja ia tak membawa Anyelir dalam hubungan mereka, mungkin ia tak akan merasa sehancur ini. Ia tak akan kehilangan Serena seperti ini.


Kehilangan Serena adalah mimpi buruk yang selalu coba ia hindari. Ketakutan terbesar daripada kematian. Sumpah demi apapun ia tak mau Serena jauh darinya.


Tapi, keadaan ini menjepitnya. Ia tak berdaya. Serena sudah begitu sakit hati karenanya. Serena berhak pergi. Serena layak mendapat kebahagiaan. Ares tak boleh egois. Memaksa Serena terus bersamanya dengan luka-luka yang akan terus membekas sama saja dengan membunuhnya perlahan-lahan. Dan ia tak mau Serena tiada karena cintanya.


Lebih baik ia yang mati. Ia yang tersiksa dengan memendam luka-luka itu sendirian. Jangan Serena yang menahan sakit. Biar ia saja yang berdarah-darah.


• • • • •


"Mami, hari ini kita pulang ke Jakarta?!" Tanya Altan dengan wajah sumringah.


Serena tersenyum disela kegiatannya memasukkan pakaian ke dalam koper. "Iya."


"YES! HORE! BERARTI BENTAR LAGI AKU KETEMU PAPI!" Bocah itu berjingkrak kegirangan dengan mengangkat tangannya.


Dalam hatinya Serena berbisik; kalau saja Altan tahu, kepulangan mereka ini bukanlah untuk kembali bersama-sama melainkan menjadi awal dari perpisahan kedua orang tuanya. Kesenangan ini hanya sementara, yang sebenarnya kesedihan sedang menanti mereka di depan sana.


Akankah ia mampu menghadapi kesedihan itu? Akankah ia sekuat yang ia katakan pada papanya tadi? Tak munafik, terbesit rasa sedih di hatinya jika mengingat bayangan amplop putih itu. Seketika ia merasa kehilangan ketenangan dan kepercayaan diri yang sudah susah payah ia kumpulkan di sini. Aura positifnya menipis.


Serena memasukkan baju terakhirnya ke dalam koper, lalu ia melamun meratapi dirinya. Ia tahu seharusnya ia tak begini. Tak seharusnya ia kembali menjadi Serena yang terpuruk dan kalah karena keadaan. Tapi kembali lagi, ia manusia biasa. Ia juga bisa sedih selayaknya orang yang kehilangan hal yang ia cintai. Lima tahun bukan waktu yang pendek, apalagi dalam sepanjang waktu itu Ares banyak sekali memberinya cinta. Dan saat ia sadar perasaan dicintai itu sebentar lagi akan hilang, secara naluriah hatinya sedih. Terluka. Wajar kan ia begini?


Setelah ini semuanya akan berakhir. Benar-benar berakhir.


"Mami," lamunan Serena terpecah saat Altan menggoyang lengannya. "Minjem hand phone Mami lagi, dong. Aku mau bicara sama Papi."


"Bicara apa? Kan tadi pagi udah?"


"Aku mau kasih tau Papi kalo kita mau pulang. Papi pasti seneng."


"Gak usah ya, Sayang? Jam segini Papi pasti lagi makan siang. Entar kalo Altan telepon malah ganggu, loh."


"Gak ganggu, Mi, cuma sebentar. Cuma buat ngasih tau itu aja."


Serena mengutas senyum tipis, lalu menggosok kedua bahu puteranya. "Sayang, tadi Mami udah kasih tau Papi duluan. Dan Altan tau gak jawaban Papi apa? Papi akan jemput kita nanti di bandara! Yeay. Seneng gak?"


"Hah? Beneran, Mi?"


"Hm. Masa Mami boong? Jadi, daripada sekarang Altan telepon Papi, lebih baik Altan tidur siang. Nanti sore kan kita ke bandara, jadi energi Altan nanti udah full. Altan gak sabar kan mau sampe Jakarta dan ketemu Papi. Gimana? Setuju?"


"Oke."


"Pinter. Ayo sini," tubuh ringan Altan Serena angkat dan baringkan di sisinya. "Sekarang Altan bobo yang nyenyak. Nanti Mami bangunin jam 3 sore untuk kita siap-siap dulu."


"Mami gak tidur siang?"


"Mami nanti aja. Masih banyak barang kita yang belum dikemas. Udah sekarang Altan bobo ya."


"Oke."


Serena menarik selimut menutupi tubuh Altan, lalu mengecup dahinya singkat.


• • • • •


Sudah sekitar 30 menit Ares menunggu di pintu kedatangan. Pria itu kembali melirik jamnya yang sudah menunjukkan pukul 7 malam lewat 20 menit. Tadi saat ia mengirim pesan pada Serena untuk menanyakan jam peberbangan, dia bilang jam penerbangannya pada 5 sore. Penerbangan Bali-Jakarta kalau tidak salah hanya dua jam. Seharusnya Serena sudah sampai dari tadi.


Ares mulai menengok-nengok cemas. Dan beberapa orang di sekitarnya yang sepertinya sama-sama menunggu orang terkasih mereka datang dari Bali, juga mulai cemas dan saling bertanya satu sama lain. Makin campur aduk perasaan Ares saat ini. Perasaannya tak enak.


Ya Tuhan, semoga gak terjadi apa-apa. Semoga gak terjadi apa-apa. Rapalnya dalam hati.


Tapi seolah doanya itu lolos dari pendengaran Tuhan, seorang pria yang juga beberapa saat lalu sama-sama sedang menunggu seperti dirinya, datang dengan napas memburu. Dia bicara pada satu anggota keluarganya---yang sepertinya ayahnya.


"Gimana? Apa kata mereka? Apa ada masalah dalam penerbangan adik kamu?" Tanya sang ayah.


Pemuda itu menggeleng segera. "Pesawat Bali-Jakarta hilang kontak dari 15 menit yang lalu, Pa."


"Apa?!"


Ares tak kalah terkejutnya seperti bapak itu saat menguping pembicaraan mereka. Wajahnya seketika menegang karena shock. Orang-orang mulai mengerumuni anak dan ayah itu untuk memberondong pertanyaan.


"Petugas bandara tadi mulai sibuk cari keberadaan pesawat. Beritanya juga udah ada di sosmed." Terang pemuda itu lagi.


Makin kalut Ares dibuatnya. Ia merasa tak bisa diam lagi. Sehingga tanpa aba-aba, ia berlari mendekati gerbang kedatangan.


"Anda mau kemana, Pak?" Cegat seorang petugas di sana.


"Saya mau masuk. Saya mau ketemu anak dan istri saya."


"Gak bisa, Pak. Anda dilarang masuk."


"Saya gak peduli." Ares akan kembali masuk, tapi dadanya lagi-lagi ditahan.


"Ini sudah prosedur bandara, Pak. Tolong Anda taati."


Rahang Ares mengetat. "Saya sudah bilang kalo saya mau ketemu anak dan istri saya! Paham Anda?!"


"Tetap tidak bisa, Pak. Ini sudah prosedur---


"PERSETAN SAMA PROSEDUR!" Ares menepis keras tangan petugas itu yang menahan dadanya. "PESAWAT YANG DITUMPANGI ANAK DAN ISTRI SAYA HILANG KONTAK! SAYA GAK PEDULI SAMA PROSEDUR SIALAN YANG ANDA SEBUT ITU! NYAWA ANAK DAN ISTRI SAYA TERANCAM! PAHAM ANDA, HAH?! PAHAM?!"


Teriakkan Ares itu tentu saja mengundang perhatian semua orang. Para petugas keamanan mulai terlihat berlari menghampirinya.


"Ada apa ini? Jangan membuat keributan di sini, Pak. Bapak dapat mengganggu kenyamanan orang lain." Kata sekuriti 1.


"Lebih baik sekarang Bapak tenangkan diri Bapak atau kita akan menyeret Bapak keluar." Lanjut sekuriti satunya.


Ares menatap marah pada kedua sekuriti itu. Tangannya mengepal dengan mata memerah. "Jangan berani suruh saya tenang di saat kondisi begini. Kalo kalian semua nyuruh saya untuk tenang dan ngusir saya dari sini, SAYA BAKAR BANDARA INI! SAYA BAKAR KALIAN SEMUA! SAYA BAKAR SEMUANYA! KALIAN DENGAR ITU?!"


Dengan kedua tangannya Ares mendorong dada para sekuriti itu untuk memberinya jalan. Tanpa peduli tatapan orang-orang, ia mulai menghubungi Serena.


Tidak aktif, tidak aktif, tidak aktif. Terus saja begitu.


Sudah seperti orang gila ia tekan lagi nomor itu untuk ke puluhan kalinya. Tekan lagi, terus menekan, tapi tak ada hasil sama sekali.


Sepenuhnya wajah Ares mulai memerah. Antara tegang, ingin menangis, dan sudah dilingkupi pikiran-pikiran buruk. Teleponnya terus menempel di telinga walau hasilnya tetap sama saja.


"Serena tolong. Tolong angkat teleponnya. Tolong bilang kalo kalian baik-baik aja. Tolong jangan begini. Tolong, Sere, tolong." Gumamnya dengan volume setipis kapas yang tersendat di ujung tenggorokan.


Matanya kini berkaca-kaca. Ia merasa sangat buntu dan frustasi. Membayangkan Serena dan Altan yang sekarang entah ada dimana membuatnya serasa akan mati.


Tolong, Tuhan. Tolong jangan mengujinya seperti ini. Tolong jangan katakan kalau Engkau menulis takdir berakhirnya kisah ia dan Serena dengan setragis ini.


Ia dan Serena memang akan berakhir. Tapi bukan akhir seperti ini yang ia harapkan.

__ADS_1


Tolong, Tuhan.


__ADS_2