
Hari demi hari berlalu, hubungan Serena dan Reno membaik dan tambah baik lagi. Keduanya setiap hari menghabiskan makan siang bersama, di luar maupun dalam ruangan Serena. Keakraban pun kembali terbangun, aroma kisah cinta mereka yang dulu, kembali menyeruak. Serena seakan melupakan kesakitan yang pernah Reno berikan, dan Reno seakan tak tahu diri dimana posisinya saat ini. Mereka kembali terbuai.
Seperti saat ini, dengan mata menatap marah, Hana mengepalkan tangan di depan kubikel miliknya. Ia baru saja melihat Reno keluar dari ruangan Serena dengan tertawa-tawa bersama sahabatnya itu. Pemandangan kian tak mengenakan mata saat Reno dengan beraninya mengelus pipi Serena dan puncak kepalanya sebelum berpamitan. Dan bodohnya, Serena diam. Ia seakan terpana dan terhipnotis.
Blam!
Serena yang baru saja akan menduduki kursi kebesarannya, mengurungkan niat karena pintu ruangannya ditutup keras oleh Hana. Wanita itu memicingkan mata karena bingung melihat Hana yang sepertinya sedang dalam mode marah.
"Loe kenapa, Han?" Serena menghampiri Hana yang terus menatapnya tajam.
"Gue kecewa sama loe, Re."
"Kecewa? Kecewa kenapa?"
"Kecewa ngeliat loe yang tambah deket sama si bajingan itu."
Tanpa harus mengulangi perkataan atau memperjelas perkataannya, Serena tahu siapa yang dimaksud Hana. Ia tahu musabab kemarahan sahabatnya ini.
"Han... please. Itu cuma lunch. Gak lebih." Serena ingin mengusap pundak Hana, namun ditepis oleh wanita itu.
"Cuma lunch loe bilang? Lunch apa sih yang ngebuat loe betah banget sama si Reno lama-lama kayak gitu."
"Gue gak lam--
"Dua jam lewat dari jam makan siang menurut loe bentar?"
"Itu karena ada hal yang perlu kita bicar--
"Termasuk mesra-mesraan?"
Serena mengerutkan kening tak percaya. "Apaan sih loe, Han?! Gak ada ya kayak--
"Ketawa-ketiwi. Ngelus pipi. Ngelus rambut. Dan mungkin hal lebih mesra dari itu yang gue gak tau. Atau--
"Hana cukup!" Potong Serena dengan suara tegas. Telunjuknya sudah mengacung, dan ini berarti sudah diambang kesabaran.
Mulut Hana seketika mengatup. Tatapannya mulai meredup. Tapi deru napasnya masih terdengar kasar.
"Cukup ya. Dari awal loe dateng marah-marah, gue sabar. Dari tadi loe potong-potong terus ucapan gue, gue sabar. Tapi saat loe nuduh gue kayak gitu, gue gak bisa. Gue gak suka dituduh-tuduh."
"Dan gue gak nuduh," timpal Hana tak kalah tegas. "Loe tau gue, kan? Gue paling gak suka menuduh orang tanpa gue liat sendiri kejadiannya. Tapi disaat gue sampe melontarkan kalimat itu, berarti gue udah nyaksiin dengan mata kepala gue sendiri."
"Ngeliat apa sih maksud loe?"
"Ngeliat semua yang loe lakuin sama Reno barusan!"
Serena cukup tertegun kaget. Mempertanyakan sejak kapan Hana memperhatikannya, dan apa saja yang ia lihat.
"Kenapa loe diem, Re? Ayo jawab gue. Jawab maksud dari semua itu apa, hah?"
Serena berdecak panik. Benar-benar sudah buntu menyangkal. "Ya oke... oke. Tadi Reno emang ngelakuin hal yang loe sebutin tadi. Tapi cuma sekedar itu, gak lebih. Dan itu pun baru pertama kalinya dia lakuin, sebelumnya gak pernah."
"Mau itu kali pertama, kali kedua, mau cuma sekedar itu, mau lebih dari itu, harusnya loe gak diem aja kayak tadi. Hal itu akan buat dia geer dan lebih berani ngelakuin hal yang lebih lagi."
Keheningan Serena membuat Hana melenguh napas kasar. Hana mengusap pundak kanan Serena dengan lembut. Mata dan nada bicaranya juga melembut. "Kedekatan loe sama Reno gak wajar, Sere. Loe bukan lagi single woman, loe bukan lagi cewek ABG yang masih bebas sana-sini. Loe istri dan ibu bagi seseorang. Loe bagian dari sebuah keluarga kecil."
"Gue cuma temenan, Han. Apa itu salah?" Lenguh Serena lemah.
"Sebagaimana perempuan gak mau lelakinya ngelirik yang lain, lelaki juga gak mau berbagi miliknya dengan orang lain. Mau itu atas nama pertemanan atau apapun, langkah loe ini salah. Cuma Tuhan yang bisa membolak-balikan hati manusia. Dan kita gak pernah tau kan kalo bisa aja Tuhan ngerubah kebencian loe jadi rasa cinta lagi sama Reno?"
"Itu gak mungkin, Han, gue tau batasan." Serena mendesah lirih.
"Tapi kita gak bisa kan membatasi pikiran orang lain tentang kita? Mungkin aja gak cuma gue yang mikir miring tentang kedekatan loe sama Reno? Mungkin di luaran sana ada yang berpikiran lebih jauh dari apa yang gue pikirin."
"Itu pikiran mereka. Mereka bebas mikirin apapun."
"Termasuk bebas berpikiran liar tentang bos mereka yang keliatan mesra sama lelaki asing?"
"Tapi, Han...
__ADS_1
"Sere, please. Dengerin gue kali ini," Hana dengan sungguh-sungguh memegang kedua pundak Serena. "Oke lah anggap aja loe gak peduli sama yang dipikirkan orang lain. Tapi tolong pikirin tentang Ares. Loe pikir dia gak akan terluka kalo tau istrinya setiap hari ngabisin waktu sama cowok lain? Mantannya?..."
"...Loe belum bisa ngebuka hati loe buat Ares, bukan berarti loe biarin hati yang lagi menanti loe itu hancur. Loe gak memberi ruang buat Ares masuk ke hati loe, bukan berarti loe dengan mudahnya ngebiarin Reno nyalip gitu aja. Pikirin ini baik-baik. Dimana loe bisa nemuin cowok sesabar Ares? Cowok yang selalu menjaga loe kayak berlian, walaupun loe cuma anggep dia debu yang gak terlihat. Loe mau keluarga kecil loe hancur? Loe gak mikir kalo itu akan berimbas ke anak loe, Altan?"
"Jangan bawa-bawa anak gue."
"Maka dari itu loe harus denger gue."
"Denger apa lagi? Gue udah denger loe dari tadi, Han."
"Jauhin Reno kalo loe masih mau semuanya baik-baik aja."
"Han..."
"Daripada loe buang-buang waktu sama tuh cowok. Lebih baik loe luangin waktu untuk memperbaiki hubungan loe sama Ares."
• • • • •
Kepulan asap memenuhi kamar pribadi milik Ares di kantornya. Kaki kanannya ia tumpangkan pada kaki kirinya, sementara tangannya santai menjepit rokok. Pria itu seperti biasa tengah menikmati jam makan siang dengan menatap lalu lalang kendaraan yang terlihat dari sana.
"Bro." Panggil Vino yang duduk di sisi ranjang. Wajahnya terlihat prihatin.
"Gue bener-bener bingung, Vin," lenguh Ares seperti tidak sadar. Matanya menerawang lurus. "Sikap Serena belakangan ini berubah banget."
Vino menghembuskan napas kasar, lalu bangkit mendekati Ares. Tangan kanannya menepuk pundak sang sahabat untuk menguatkan.
"Kalo loe mau, loe boleh ceritain ke gue, Res."
"Beberapa hari ini dia makin cuek. Ngomong cuma seperlunya. Kalo gue mau nyentuh, atau sekedar meluk doang, dia gak mau."
"Loe bikin salah?"
Ares menggeleng. "Kayaknya bukan soal itu. Mungkin aja yang loe omongin waktu itu bener."
Vino berpikir sambil menundukkan kepala. Ia benar-benar prihatin melihat Ares yang uring-uringan. "Loe udah tanya ke dia?"
"Uhm... kalo, dugaan gue selama ini bener, loe mau apa?"
"Jangankan mikirin gue mau ngelakuin apa, Vin. Mikirin kalo emang semuanya kejadian aja gue gak sanggup. Gue terlalu takut."
"Kalo loe takut, terus siapa yang bakal hadepin ini? Orang lain?" Tanya Vino dengan nada ringan, agar Ares tak ikut tegang.
Kedikkan bahunya menandakan ia tidak tahu. Kepulan dari asap rokoknya makin menebal. Kalau Vino lihat-lihat, itu sudah rokok Ares yang ke lima.
"Berhenti ngerokok, Men, masalahnya gak akan ilang kalo loe rusak diri loe."
"Setidaknya pening di kepala gue ilang."
Dengan berani Vino merampas rokok yang dihisap Ares, lalu menginjaknya hingga hancur. Tatapan Vino serius menghunus Ares.
"Loe apa-apaan, sih?!" Protes Ares bangkit dari duduknya.
"Loe yakin Serena ngelakuin itu di belakang loe?"
Ares diam. Jakunnya naik turun. Tapi diam-diam tangannya mengepal gelisah. Emosinya benar-benar campur aduk.
"Kalo loe gak yakin, jangan nyimpulin tanpa bukti. Loe harus liat dulu dengan mata kepala sendiri, atau seenggaknya tanya..."
"...Gue emang gak suka sama sikap Serena selama ini, sama cara dia memperlakukan loe. Tapi gue juga gak mau loe asal nuduh. Gue gak mau rumah tangga loe hancur cuma karena salah paham..."
"...Please ya, Men, jangan kayak gini terus. Diem loe gak bakal bikin semuanya kebongkar."
"Jangankan loe, Vin, gue pun mau berbuat sesuatu. Gue gak mau diem aja. Tapi..." suara Ares tercekat ludahnya sendiri. "Tapi gue gak tau apa yang harus gue lakuin disaat gue gak tau apa yang sebenernya terjadi."
"Kalo gitu ada satu cara buat bikin semuanya gak kejadian," Vino memegang kedua pundak Ares, menatapnya jauh lebih serius dari sebelumnya. "Ikat Serena. Bikin dia gak punya pilihan selain bertahan sama loe."
"Tapi apa, Vin, apa?! Apa selama ini pengorbanan gue kurang?"
"Bukan itu maksud gue. Gue yakin cara ini akan dia gak bisa lari dari loe."
__ADS_1
"Apa?"
"Bikin Serena hamil lagi."
• • • • •
Ares tengah meremas jari-jarinya yang terasa dingin, saat Serena masuk ke kamar sesudah mengantar Altan tidur. Kepalanya lurus ke arah Serena, tatapannya membeku, dan bibirnya terkunci rapat.
Seakan tak merasa sedang diawasi sang suami, Serena melenggang santai. Naik ke atas tempat tidur, siap menarik selimut.
"Jangan tidur dulu," Serena sampai menoleh karena mendengar nada suara Ares yang tak selembut biasanya. "Aku mau ngomong."
"Besok aja. Aku ngantuk." Balas Serena cuek.
"Sekarang. Aku gak mau nunda lagi."
Dengan tak menghiraukan suara Ares, Serena menata bantalnya agar nyaman dipakai. Saat baru akan berbaring, tangan Ares mencekalnya sampai Serena menoleh. "Aku rasa saran orang tua kita bener."
Serena tentu saja menatap kebingungan.
"Aku mau kita punya anak lagi." Jelas Ares dengan mata serius.
Cekalan Ares pada tangannya ia turunkan. "Kita udah pernah bahas ini, dan aku rasa kamu gak lupa apa hasil akhirnya."
"Aku berubah pikiran."
"Gampang banget kamu ngomong kayak gitu. Keputusan ini udah kita ambil lima tahun lalu, dan kamu mau merubahnya dalam satu malam?"
"Aku pengin punya anak karena kita melakukannya dengan sadar, bukan cara seperti dulu."
Ya Tuhan, Serena meradang dalam hati. Ia malu sekaligus merasa sangat buruk karena dulu ia mabuk dan memintanya pada Ares, tapi keesokan harinya dirinya yang malah memaki sang suami yang baru delapan bulan ia nikahi kala itu.
Lalu setelah malam panjang mereka membuahkan hasil, Serena sempat tak menerimanya. Ia meneriaki Tuhan yang kenapa terus mengutuknya. Saat itu ia ditinggal orang yang ia cintai, lalu dinikahi lelaki asing, dan harus mengandung benihnya pula.
Maafkan Mami yang sempet nganggep kamu kesalahan, Altan.
Sudah sudah sudah! Bukan saatnya bernoslatgia. Apalagi tentang hal tak mengenakan.
"Aku gak nyuruh kamu melamun. Ayo." Ares kembali menggenggam Serena, namun wanita itu menepisnya.
"Enggak! Aku gak mau!"
"Tapi aku mau! Pokoknya aku tetep mau kita punya anak lagi."
"Gak mikir ya kamu? Gak mikirin nantinya gimana aku? Gimana pekerjaan aku?"
"Aku masih mampu. Uangku gak akan habis hanya untuk membiayai dua anak."
"Apapun alasannya, aku gak akan berubah pikiran. Cukup satu. Hanya Altan."
"Aku minta hak aku malem ini. Sekarang juga!"
Mata Serena kontan memicing tak percaya. Ia mengira bahwa inti dari percakapan malam ini bukan tentang Ares yang ingin punya keturunan lagi, tapi Ares hanya ingin meminta ini.
"Kenapa? Mau nolak juga?"
"Pikiran kamu hanya seputar itu, ya? Cuma soal kepuasan!"
"Itu hak aku. Jadi aku bisa minta kapan aja. Dan tugas kamu sebagai istri adalah memenuhi kewajiban kamu."
Serena mendengus. "Istri berasa pemuas napsu. Kalo cuma itu yang kamu cari, minta aja sama pacar kamu. Bukannya kamu yang bilang kalo kamu mau cari pacar lagi?"
Serena benci mengapa pikirannya langsung konek pada potongan foto waktu itu.
"Jangan asal bicara ya kamu."
"Aku gak asal. Semua yang aku omongin selalu aku pikirin lebih dulu," lalu Serena terkekeh hambar, seperti mencibir. "Emangnya kamu, yang isi kepalanya cuma dada dan ************."
———————————————
__ADS_1