
Di malam yang nampak sendu dan kelabu karena gerimis, Ares mendesah pelan sambil menyandarkan kepalanya pada ranjang. Hari ini ia masih seresah kemarin dan hari-hari sebelumnya. Hatinya selalu merasa gundah sejak kepergian Anye. Apalagi masih tak ada kabar sampai sekarang. Anye sangat mahir menutup rapat informasinya.
Hal ini sama seperti dulu. Sama seperti saat lulus SMA Anye kabur ke Singapura karena tidak ingin tinggal bersama kakeknya yang ia anggap sebagai penyebab kematian orang tuanya. Anye selalu begini. Dan Ares tetap tak pernah siap melepasnya.
"Hei."
Ares menoleh malas saat Serena ikut naik ke atas ranjang dan duduk di sampingnya. Wanita itu sepertinya baru saja menidurkan Altan. Wajahnya terlihat ceria dengan senyum lebarnya.
"Kok belum tidur, sih? Belum ngantuk?"
Tanpa menjawab apapun Ares meraih ponselnya di atas nakas. Ia terlalu malas meladeni Serena yang pasti tak akan membiarkan malam ini berlalu begitu saja. Wanita cerewet itu pasti tak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mengganggunya. Pasti.
"Res."
Ares mendesah malas. Tuh kan. Padahal baru lima detik lalu ia menebaknya.
Tuhan, tolong beri kemudahan dan kesabaran. Lenguhnya dalam hati.
Serena yang menyadari mimik tersiksa Ares bukannya berhenti malah senyum-senyum sendiri.
"Antareees." Nadanya dibuat seperti bocah yang ingin mengajak main temannya.
Ares masih bergeming. Ia memilih membuka satu aplikasi game.
"Sayang." Godanya dengan menyiku lengan Ares.
"Ish!" Ares mendelik. "Apa, sih?! Jijik."
Serena mengulum bibir karena Ares mau juga menyahut. "Lagi apa sih serius banget?"
"Menghias pohon natal."
Kali ini Serena terkekeh. "Lucu banget, sih. Jadi makin sayang."
"Nyesel lucu." Gumamnya.
"Disayangin cewek cantik kok nyesel, sih?" Serena menahan senyumnya.
"Dih. Emang siapa cewek cantiknya?" Jari-jarinya masih lincah bermain.
"Aku, dong," ia menegakkan duduk. "Siapa lagi coba?"
Ares terkekeh kecil. "Pede banget."
"Orang beneran cantik, kok. Liat sini makanya. Jangan hand phone mulu yang diperhatiin."
Bahunya hanya diangkat acuh sebagai jawaban.
"Aku cantik banget loh malam ini," ia mengibas rambutnya. "Yakin gak mau nengok dikit aja?"
"Gak. Makasih."
Bukannya menyerah karena terus diketusi Ares, Serena malah mengulum senyum karena ia punya ide yang bagus. Dengan wajah jahilnya ia mengambil ponselnya sendiri. Mencari kontak Ares, lalu meneleponnya.
Kita lihat bagaimana reaksi Tuan Ris---
"Woi! Siapa nih yang telepon?!" Ares melotot memandangi layarnya.
Serena meringis dengan senyum tertahan. Lalu saat Ares menoleh padanya dengan galak, ia pura-pura tidak tahu.
"Apa?" Tanyanya polos.
Ares mengetatkan gigi karena kesal. "Aku block nomor kamu ya."
Mata Serena melebar melihat Ares mengutak-atik ponselnya. Ia reflek bertumpu dengan kedua lututnya dan mengambil ponsel Ares.
"Heh! Apa-apaan, nih! Sini balikin."
"Enggak, enggak. Aku gak bakal balikin." Ia memindahkannya ke belakang punggung.
"Itu hand phone aku."
"Aku pegang dulu sampe kamu janji gak bakal block aku."
"Gak. Pokoknya bakal tetep aku block."
"Tega banget, sih. Masa istri sendiri di block?"
"Salah siapa ganggu aku main game? Cepet siniin."
Serena menggeleng-geleng dan mundur perlahan dengan kedua lututnya.
"Balikin gak?" Suara Ares terdengar mengancam.
"Gak mau."
Ares bangkit dari duduknya mendekat dan Serena yang merasa terancam tak mau berhenti mundur.
"Balikin." Tatapan Ares siap memangsa.
"Gak mau sebelum kamu janji."
"Siniin gak?"
"Janji dulu kamu gak bak---aaaa!"
Melihat Serena hilang keseimbangan Ares spontan menangkapnya. Namun bukannya membantu, ia malah ikut terjerembab menindih Serena.
Serena membuka perlahan matanya dan mendapati wajah Ares sangat dekat dengan dirinya. Ia yang tadinya merasa deg-degan karena takut jatuh, sekarang merasa jantungnya tidak berdetak. Sebegitu terpakunya ia menatap Ares.
Ares yang ditatapan sebegitu dalam oleh Serena jadi merasa malu. Ia menelan ludahnya kaku dan coba bangkit. Namun, begitu saja kedua tangan Serena dengan santai mengalungi lehernya.
"Mau kemana sih buru-buru banget?" Serena tersenyum manis.
Ares makin salah tingkah dibuatnya. "A-awas ah. Minggir. Berat nih gelendotan di leher aku."
Serena malah mengeratkan kaitan tangannya membuat Ares makin membungkuk mendekatinya. Posisi mereka semakin intim dan rapat.
"Berat apa seneng?" Satu matanya berkedip nakal.
"Udah deh jangan bercanda terus. Siniin hand phone aku."
"Gak. Aku mau pinjem dulu."
"Jangan aneh-aneh, deh!"
"Minjem doang, Sayang, bentar. Galak banget sih suami aku ini."
"Gak pake minjem-minjem segala. Balikin sekarang."
"Iya entar aku balikin. Tapi aku pinjem dulu."
"Gak ***---
"Minjemin aku atau ini gak aku balikin sama sekali?" Ares bergeming menatap ponselnya di acungkan Serena dari tangan kirinya. "Aku minjem bentar. Janji gak macem-macem. Ok?"
Ya sudah. Mau bagaimana lagi? Ares tidak punya kemampuan berdebat berjam-jam seperti Serena. Biarkan saja. Biar ini cepat selesai. Ia tak mau ponselnya sampai tak kembali lagi.
"Bentar ya." Gumam Serena lembut.
Tangannya mengalungi Ares lagi dan mulai mengetik di belakang leher suaminya. Entah apa yang dia ketik Ares tak tahu. Ares tak memikirkan itu karena ia malah salah fokus pada leher Serena yang terlihat mengkilap. Leher itu begitu jenjang dan mulus. Inderanya sebagai lelaki ingin sekali membenamkan bibir di sana dan dengan sedikit nakal memberi ******* atau bahkan gigitan. Rasanya pasti membuat ia serasa melayang dan---
"Udah, nih."
Suara Serena yang tiba-tiba itu membuat Ares tersentak dari lamunan liarnya. Reaksinya kontan membuat kening Serena mengerut dengan senyum curiga.
"Kamu kenapa?"
__ADS_1
Raut Ares berubah gugup. "Eng... enggak."
Serena memutar telunjuknya di depan wajah Ares dengan mata memicing jahil. "Pasti mikir macem-macem, ya? Iya, kan? Hm?"
"Apaan, sih?! J-jangan nuduh, deh!"
"Udah gak usah malu gitu. Bilang aja. Sayang mau apa? Mau cium? Sini-sini." Serena menangkup pipi Ares dan mendekatkan bibirnya.
"Apaan, sih. Gak mau." Ares menolaknya dengan kesal. Ia lalu mengambil ponselnya dari tangan Serena. "Aku mau ini."
Dengan segera Ares bangkit dari atas tubuh Serena. Ia tak mau lama-lama dalam posisi itu. Belum apa-apa saja ia sudah gugup begini. Kalau diteruskan nanti bisa gawat.
Demi menutupi kegugupannya Ares balik bersandar pada ranjang dan membuka aplikasi game. Serena yang masih terlentang di atas ranjang malah terkekeh melihat suami kesayangannya salah tingkah. Ares yang biasa terlihat seperti harimau sumatera berubah jadi kucing anggora. Ia kasihan juga melihatnya begitu. Mungkin cukup kejahilannya untuk malam ini.
"Ya udah, deh," putusnya sambil bangkit mendekati Ares yang sibuk menunduk. "Aku tidur duluan, ya? Ngantuk, nih."
"Dari tadi, kek." Gerutuan Ares itu masih bisa didengar Serena dan membuatnya tersenyum tipis.
"Ya udah. Aku tidur. Kamu jangan malem-malem tidurnya."
"Hm."
Serena mengecup pipi kiri Ares yang membuat pria itu menolehkan kepala. "Good night."
Melihat Ares begitu terpaku sampai tak mengedipkan mata begitu membuat hati Serena senang. Tanpa ragu ia mendekatkan lagi wajahnya dan mencium bibir Ares.
"Bonus." Katanya sambil mengedipkan satu mata.
Serena terkekeh kecil lalu merebahkan dirinya. Ia menarik selimut dan menatap Ares yang masih bergeming dari tempatnya.
"Hey," ia mencolek siku Ares dan akhirnya pria itu tersadar juga. "Awas kalah gamenya." Lalu ia berbalik badan membelakangi Ares.
Ares melebarkan mata dan langsung menatap ponselnya yang sudah tergeletak tanpa sadar. Permainannya jangan ditanya lagi. Sudah game over dari tadi.
"Sial!" Ares mendesah frustasi.
Serena merapatkan selimutnya dan menggigitnya guna menahan senyum. Malam ini ia merasa sangat bahagia. Ia juga sudah berhasil mengetik sesuatu di ponsel Ares. Ia yakin Ares tak akan lupa. Serena jadi tak sabar ingin cepat-cepat pagi. Tak dapat dibayangkan betapa bertambahnya kebahagiaannya besok.
...• • • • •...
Tidur Ares tergaganggu saat mendengar suara orang bernyanyi dengan bising. Pria itu mengerutkan kening dengan mata masih terpejam. Matanya lalu terbuka perlahan dan memicing ke semua penjuru kamar.
Ternyata tak ada siapa-siapa di sini. Suara itu nampaknya berasal dari luar. Didengar-dengar, suaranya makin ramai saja. Yang paling mendominasi adalah suara Altan. Ada apa ini sebenarnya?
Karena tak bisa lagi penasaran lebih lama, Ares pun menyingkap selimutnya dan beringsut. Ia menyusuri anak tangga untuk turun dan baru ia sadari lagu yang dinyanyikan bersama-sama itu adalah lagu ulang tahun.
Di tangga ke lima langkahnya terhenti melihat ke arah dapur. Ares melihat ada Serena, Altan, dan si Mbok mengelilingi meja kecil di tengah-tengah dapur. Ketiganya tertawa bahagia. Terlebih Altan yang paling semangat dengan topi ala koki yang menjulang tinggi di atas kepalanya.
"Papi!" Altan tiba-tiba berteriak begini yang membuat Ares tersentak.
Bocah itu melambaikan tangan pada ayahnya untuk ikut bergabung, dan hal itu diam-diam diamini Serena yang matanya langsung berbinar melihat adanya Ares.
"Papi ayo sini." Ulang Altan.
Dengan ragu-ragu Ares melanjutkan langkah menuju dapur. Setelah sampai, ia menatap satu per satu wajah mereka yang terlihat bahagia. Lalu yang terakhir pada kue kecil yang terletak di atas meja. Kue itu terlihat dibaluri coklat cair yang tidak rata dan ditaburi choco chips warna warni. Kalau penampilannya begini sudah pasti bocah yang membuatnya. Dan satu-satunya bocah di sini adalah si koki cilik yang memakai topi kebesaran itu.
Ares mencoba mengingat. Ia rasa ini bukan ulang tahun Altan. Dalam rangka apa bocah itu membuat kue?
"Kue buatan aku bagus kan, Pi?" Suara Altan muncul tiba-tiba dan terdengar riang.
Ares nenoleh masih dengan wajah bingungnya. "Ini... buat apa Altan bikin kue?"
"Itu kue ulang tahun."
Dengan polosnya Ares bertanya. "Siapa yang ulang tahun emangnya?"
Suasana mendadak hening begitu saja. Ares langsung tertegun merasa ada yang salah dengan pertanyaannya. Dengan raut kaku ia menatap satu per satu orang-orang. Semua tatapan mereka berubah sedih. Ares tak dapat menebak hari ulang tahun siapa yang ia lupakan kalau semuanya kelihatan kecewa.
Sial! Tanggal berapa sekarang?! Kenapa di dapur ini tak ada kalender? Kenapa pula ia tak bawa ponsel?!
"Papi lupa?" tanya Altan sendu. "Hari ini kan ulang tahun Mami."
Ares melirik Serena saat itu juga. Wanita itu bergeming di tempatnya dengan dan binar mata meredup. Hati Ares mencolos. Ia merasa sangat bersalah melihat Serena muram.
"Um, Altan," ujar Serena dengan suara dibuat seceria mungkin. "Potong kue sekarang yuk? Mami gak sabar nih mau cobain kuenya Altan. Boleh, kan?"
"Tapi Papi...
"Gapapa. Mami gapapa, kok. Yang penting sekarang kita potong kue dulu, ya? Entar kuenya keburu dikerubunin semut, loh." Serena terkekeh diakhir kalimatnya.
Ares benar-benar terpaku di tempatnya berdiri. Pemandangan Serena dan Altan yang tengah bernyanyi potong kue membuatnya mengutuk dirinya sendiri. Serena mungkin bisa tertawa-tawa bahagia bersama Altan saling menyuap kue. Tapi matanya tak bisa menyembunyikan kesedihannya.
Hal itu membuat Ares makin digerogoti rasa bersalah. Kenapa pula ia harus lupa sekarang tanggal 25 Agustus?!
...• • • • •...
"Mau kemana?" Ares bertanya begini saat hampir bertabrakan dengan Serena yang mau keluar kamar. Penampilan Serena sudah rapi, cantik.
Mau kemana wanita itu sore-sore begini?
"Pergi sama temen." Jawabnya dengan senyum kilat.
"Siapa?"
"Hana sama Cecil."
"Ngapain?"
"Hangout aja. Udah lama gak ngumpul," Serena menjeda ucapannya dengan tersenyum pahit. "Sekalian rayain ulang tahun aku."
Raut Ares berubah melihat tatapan Serena begitu sendu. Ia tahu Serena pasti masih kecewa soal tadi.
"Aku pergi ya, Res. Titip Altan bentar."
Sedetik setelah Serena melewatinya, Ares memanggilnya. "Tunggu."
Ares maju selangkah dan berdiri di belakang punggung Serena.
"Aku mau minta maaf soal tadi," suaranya diusahakan tetap tegas tanpa meninggalkan kesan galak. "Aku beneran lupa hari ini kamu ulang tahun. Lagi banyak yang aku pikirin. Dan itu lebih penting dari kamu. Jadi wajar kan aku lupa?"
Serena merasa hatinya tersayat pedih. Bisa-bisanya sekarang Ares bilang begitu sedangkan dulu dia tak pernah absen memberikan kejutan padanya.
Apa udah sebanyak itu kamu berubah, Res? Bisiknya dalam hati.
Tenggorokan Serena naik turun karena menahan tangis yang tak bisa ia tumpahkan. Ia meremas jari-jarinya dan lalu memberanikan diri berbalik menatap Ares. Dengan susah payah ia menerbitkan satu senyum dari bibirnya walau hanya sedikit dan samar.
"Ya. Wajar. Aku ngerti kalo kamu lupa. Gapapa kok, Res. Its okay. Im fine."
Ares diam sesaat menimang reaksi Serena. "Kalo kamu gapapa kenapa dari pagi kamu ngindarin aku? Gak mau diajak bicara, gak mau aku deketin? Sengaja bikin aku ngerasa bersalah? Sengaja bikin aku ngerasa gak enak?"
Serena tertegun mendengar ucapan Ares yang seakan menyudutkannya. Tak ada kelembutan ataupun sedikitnya rasa bersalah seperti yang Serena harapkan. Pria itu tetap angkuh.
"Kamu pikir enak ya kayak gitu? Enak dikejar-kejar rasa bersalah? Seharian aku bahkan gak bisa berhenti mikirin caranya minta maaf sama kamu. Tapi kamu malah mempersulitnya dengan ngambek-ngambek gak jelas. Terus sekarang pergi dari rumah. Buat apa, sih? Cari perhatian?"
"Ini kenapa jadi kamu yang marah sama aku sih, Res?" mata Serena terlihat terluka karena tersinggung dengan ucapan Ares. Pria itu bukannya meminta maaf, tapi malah semakin menyakiti hatinya. "Kamu loh yang salah di sini. Dan seharusnya yang kamu lakuin itu minta maaf."
"Ya. Aku salah. Tapi kamu juga salah karena udah bikin aku kesel. Tinggal bilang aja mau kado apa susah banget, sih?! Itu kan yang kamu mau? Itu kan yang bikin kamu marah? Sekarang bilang aja. Aku pasti beliin, kok. Biar cepet beres acara ngambek-ngambek gak jelas ini."
Ares bukannya tak tahu diri kalau dia salah. Ia tahu ia harusnya meminta maaf. Hanya saja ia kesal karena Serena terus menghindar saat ia ingin minta maaf. Setelah acara makan kue tadi pagi selesai, Serena menolak diajaknya bicara dengan mengatakan;
"Jangan sekarang ya. Aku lagi gak mau bahas."
Lalu setelahnya dia menyibukan diri dengan mandi, memasak, menyiram tanaman, menonton dengan Altan, melakukan apapun yang membuat Ares tak punya kesempatan bicara. Dan sekarang sekalinya muncul malah mau pergi. Siapa yang tidak kesal coba?
Gelengan Serena menandakan ia tak percaya dengan yang Ares pikirkan. "Sesempit itu ya, Res, pikiran kamu? Aku gak bermaksud loh bikin kamu ngerasa bersalah. Aku juga gak minta kamu mikirin perasaan aku gimana. Dan aku juga gak perlu kado dari kamu. Aku bukan anak kecil yang marah cuma karena gak dikasih kado."
"Justru dengan bersikap gini kamu tuh kayak anak kecil tau gak?!"
__ADS_1
"Bersikap kayak gimana sih, Res? Emang gini kan keadaan kita sekarang? Asing. Berjarak. Buat apa kamu repot mikirin tentang aku? Kamu kan yang bilang sendiri kalo hal tentang aku gak penting?"
"Ya tapi---
"Aku pergi. Lupain aja tentang hari ulang tahun aku ini."
...• • • • • ...
Serena sampai di rumah pukul tujuh tiga puluh malam. Memang terlalu malam untuk ukuran ibu rumah tangga seperti dirinya. Tapi ini sungguh di luar dugaan. Ia terjebak macet karena ada kecelakaan. Padahal setelah menghabiskan waktu bersama para sahabatnya tadi ia pulang pukul lima sore.
Untung ia segera memberi kabar pada orang rumah untuk memenuhi kebutuhan Ares dan Altan. Jadi ia agak tenang. Mereka dapat dipercaya. Lihat saja sekarang. Jagoan kecilnya sudah tertidur lelap.
Melihat wajah Altan yang damai membuatnya merasa bersalah. Serena adalah wanita independent yang sangat mencintai pekerjaan. Tapi semenjak ada Altan ia rela memangkas jam kerjanya dan selalu pulang sebelum makan malam.
Tapi malam ini, untuk pertama kalinya ia pergi di akhir pekan dan pulang malam. Ia terlalu kesal pada Ares dan makin marah karena apa yang dikatakannya tadi sore. Dan gara-gara pria itu, malah puteranya yang harus menanggung rasa sedih.
"Maafin Mami ya, Sayang. Mami perginya kelamaan. Altan tidur yang nyenyak ya. Good night. Semoga mimpi indah." Bisiknya diakhiri kecupan di kening.
Setelah menutup pintu kamar Altan, Serena tertegun mendapati Ares ada di depannya. Pria itu muncul saat ia sedang tak ingin melihatnya. Jujur saja Serena masih belum bisa melupakan kemarahannya tentang tadi sore.
"Ikut aku."
"Aku capek. Mau isti---
Ares merampas tangan Serena. "Jangan banyak alesan. Ikut aku."
"Kemana, sih?"
"Ikut aja."
Lupakan tentang kemarahannya itu. Serena memilih pasrah dituntun Ares. Ia luluh lagi tanpa perlawanan. Hatinya tak bisa bohong kalau ia senang bisa merasakan lagi genggaman tangan Ares walau ditengah kemarahannya dan entah mau dibawa kemana.
Dan 'entah mau dibawa kemana' itu hanya menjadi pertanyaan yang mengapung selama tiga menit. Sekarang terjawab sudah Ares membawanya kemana. Ternyata pria itu menuntunnya ke halaman belakang rumah.
Namun yang membuat Serena kaget adalah apa yang tersaji di depannya. Memang sih halaman belakang mereka luas. Tapi ia tak menyangka Ares akan membikin tenda di sini.
Iya tenda. Tenda kemah. Besar sekali. Lengkap dengan api unggun dan segala isinya.
"Ini... kamu ngapain bikin tenda di sini? Siapa yang mau kemah?"
Ares terlihat malu-malu dan gengsi. Gestur tubuhnya kaku. "Y-ya... kita lah."
"Kita?"
Ares malah melengos duduk lebih dulu di tikar untuk menghindari Serena. Ia tak bisa lama-lama bertatapan dengan wanita itu. "Iya."
"Wow," Serena terlihat excited mengusap-usap tenda dan melihat isinya. "Ini kita beneran kan mau kemah di sini?"
"Hm."
Pupil Serena langsung melebar semangat. Ia melompat dalam pelukan Ares dan membuat pria itu kaget. "Yes!!! Makasih, makasih. Aku seneng banget, Res, makasih!!!!"
Rasanya hati Ares senang mendengar Serena sesenang ini. Itu artinya ia berhasil membayar kesalahannya tadi pagi. Semoga saja setelah ini Serena tak sedih lagi. Ares pun tersenyum tipis. Tangannya ragu-ragu ingin membalas pelukan itu.
"Res," Ares tak jadi memeluk Serena karena wanita itu keburu melepasnya. "Kamu yang bikin semua ini?"
"Y-ya enggak lah. Aku mana bisa. Ini dibantuin Pak Rapto sama si Gayus. Terus makanannya Mbok yang pilih."
Serena tetap tersenyum lebar walau jawaban Ares tak sesuai harapannya. Ia melilitkan tangannya di leher Ares dan mengecup pipi suaminya singkat. "Makasih, ya. Walau bukan kamu yang bikin, aku tetep hargain itu."
Serena lalu beralih duduk di samping Ares. Kepalanya mendongak memandangi langit. Dan bibirnya seakan tak pegal terus melengkung lebar.
"Aku suka deh, Res. Bagus banget langitnya. Banyak bintang."
Hal itu diperhatikan Ares dengan lekat. Senyum lebar itulah yang dulu membuat Ares terpikat pada Serena. Dan hari ini ia merasa bangga karena berhasil menjadi alasan senyuman itu.
"Kamu kok bisa sih kepikiran bikin kemping begini?"
"Kamu pernah bilang di hari ulang tahun kamu tiga taun lalu."
Serena menoleh tanpa menghilangkan senyumnya. "Inget aja, sih. Aku aja lupa loh pernah bilang itu kapan."
"Hn. Aku emang selalu inget ulang tahun kamu setiap tahunnya."
Suasana menghening dalam beberapa saat. Waktu seakan membekukan tatapan mereka dalam diam. Ares begitu dalam menyelami mata Serena. Dan Serena terpaku menatap binar mata Ares yang begitu lembut. Penuh kasih sayang. Teduh sekali. Seperti dulu.
"Maaf tahun ini aku gak begitu. Aku lupa hari ulang tahun kamu. Aku juga malah marah-marah sama kamu. Aku tau pasti itu bikin kamu kesel banget. Itu sebabnya aku minta maaf..."
"...aku gak bermaksud melakukan itu. Aku hanya kesel karena kamu gak memberi kesempatan aku bicara. Jujur aja itu sangat mengganggu. Aku merasa gak enak. Aku merasa bersalah. Maaf ya."
Bibir Serena tertarik lagi. Entah kenapa ia merasa tersentuh dengan kelembutan suara Ares dan tatapannya. Ini yang ia harapkan dari dulu. Inilah Ares yang ia rindukan.
"Aku ngerti kok, Res. Maaf juga ya udah bikin kamu kesel. Seharusnya aku gak kayak anak kecil tadi. Harusnya aku kasih kamu kesempatan buat bicara."
Tanpa interupsi, Serena begitu saja memeluk lengan Ares. Menyandarkan kepalanya di bahu kokoh itu. Merasakan lagi hangatnya tubuh pria yang begitu ia rindukan. Pelukannya sangat rapat hingga Ares tak kuasa berkutik.
"Aku tuh tadi sedih karena kamu gak inget ulang tahun aku. Aku kesel karena kamu tetep gak inget padahal kemarin malem aku sengaja minjem hand phone kamu buat pasang reminder. Aku jadi ngerasa kamu udah gak sayang aku lagi."
"Kan aku udah bilang aku lagi banyak pikiran. Aku mana inget hal-hal kayak gitu? Lagian salah sendiri nyanyinya kekencengan. Aku kan jadi penasaran dan gak sempet buka HP buat liat reminder."
Serena mendongak perlahan. "Banyak pikirannya mikirin apa? Mikirin cewek itu, ya?"
Entah kenapa suara Serena terdengar imut di telinga Ares hingga pria itu jadi salah tingkah sendiri. "Ya masa aku harus mikirin beban negara gitu?"
Mata Serena berubah sendu. "Boleh gak kalo aku minta kamu cuma mikirin aku aja? Aku gak mau ada cewek lain di hati dan pikiran kamu. Aku cemburu."
"Apaan, sih? Ini kenapa pembahasannya jadi melenceng ke arah sana?"
"Aku cuma takut kamu kehilangan kamu. Aku takut kamu ninggalin aku karena nemuin cewek yang lebih baik di luar sana. Aku takut kamu gak cinta aku lagi."
"Jangan mikir kejauhan, deh. Kamu tuh suka ada-ada aja mikirnya."
"Jadi itu artinya kamu gak bakal ninggalin aku, kan?" melihat Ares hanya diam, Serena menggoyangkan lengannya. "Jawab dulu. Gak bakal, kan?"
"Hm. Aku usahain."
Walau terdengar tak ikhlas dan malas-malasan, tapi Serena tahu apa yang Ares bilang itu jujur. Mata Ares mengatakan begitu. Dan hati Serena menghangat menyadari cinta Ares ternyata masih ada untuknya.
"Makasih ya, Res, udah ngasih aku kado terindah hari ini."
"Maksudnya?"
"Ini," bisiknya lembut. "Duduk berdua sama kamu. Dalam pelukan kamu. Cerita-cerita. Kemping ini," ia terkekeh di akhir kalimat. "Walaupun kamu lupa hari ulang tahun aku, ternyata kamu gak lupa tentang apa mimpi aku dari dulu. Dan aku bersyukur bisa mewujudkanya sama kamu..."
Serena tersenyum mengusap rahang Ares. "...Harapan aku di hari ulang tahunku ini adalah terus bersama kamu. Walau gak ada jaminan akan terus bahagia, tapi aku yakin aku akan baik-baik aja karena kamu pasti menjaga aku sebaik-baiknya. Dengan cinta yang kamu punya..."
"...aku emang terlambat menyadari besarnya cinta kamu, tapi aku tetep mau bilang kalo aku mencintai kamu juga. Ini mungkin kedengeran ironis karena aku baru mengatakannya saat kondisi kita seperti ini. Tapi percayalah cintaku tulus..."
"...walau gak sebesar cinta kamu, tapi aku yakin cintaku bisa memulihkan kita. Kalo kamu mau, kita bisa saling mengobati lewat cinta kita masing-masing..."
"...mencintai kamu itu menyenangkan. Dan aku bersyukur memiliki kamu dengan apa adanya kamu..."
"...aku cinta kamu. Dan itu akan terus bertambah setiap waktu."
Begitu saja semuanya terjadi. Serena mengecup bibir Ares lembut. Dan tanpa disangka Ares balas ********** juga.
Ciuman itu bukan sekedar nafsu, tapi juga penyaluran rasa rindu. Mereka menikmatinya dengan setulus hati dan semurni cinta. Tak dapat dinafikan rasa rindu itu begitu menggebu. Rasanya sama seperti musafir yang sudah lama tak menemukan mata air.
Bayangkan betapa banyak waktu yang sudah mereka habiskan tanpa menghargai cinta masing-masing? Setiap harinya hanya ada luka yang terus diperparah.
Sekarang mungkin waktunya untuk membina mereka. Sudah saatnya mengumpulkan lagi puzzle yang tercecar berantakan.
Dendam Ares, sakit hati Serena, kemarahan Ares, kekecewaan Serena, semuanya seakan luntur oleh basahnya saliva di bibir mereka.
Decapan nakal dua insan itu saling bersahutan ditengah sunyinya malam. Menuntut, tergesa, dan tegas. ******* seolah tak ingin ada pilihan lain selain menerima. Menyecap seolah tak ingin ada pikiran lain selain pasrah. Memagut seolah hal terpenting yang harus mereka lakukan sekarang hanyalah saling bercumbu.
Di bawah langit yang dipenuhi gugusan bintang, angin berhembus tenang dan dihangatkan oleh api yang terus menyalang. Ares dan Serena saling berpelukan seerat yang mereka bisa. Menjadikan semesta dan seisinya saksi dari maha dahsyatnya rindu mereka yang sempat tak tersampaikan.
__ADS_1