Haruskah Kita Bercerai?

Haruskah Kita Bercerai?
6


__ADS_3

Serena baru saja menutup sambungan video callnya dengan Hana dan Cecil saat pintu kamar terbuka dari luar. Terlihat Ares yang ternyata membuka pintu dan berjalan untuk menyusulnya duduk di atas ranjang.


"Altan udah tidur?" Tanya Serena sembari membuka-buka sosial medianya.


"Udah... tadinya dia nungguin kamu, tapi kamunya gak nyusul-nyusul. Kamu emangnya ngapain, Sayang?"


"Tadi aku video call bareng Hana sama Cecil. Keasikan gitu sampe lupa waktu."


"Cecil siapa?"


"Itu loh sahabat aku. Kita bertiga sama Hana."


"Kok aku gak tau?"


"Bukan gak tau, gak inget kali. Orang dia dateng kok ke nikahan kita. Dia aja inget loh sama kamu. Tadi dia juga nitip salam buat kamu."


"Iya sih namanya gak asing, tapi mukanya gak inget."


"Kapan-kapan aku kenalin, deh. Mumpung dia mau balik ke Indonesia beberapa hari lagi."


"Emangnya dia tinggal dimana?"


"Singapore. Ikut suaminya."


"Ooh..." Ares manggut-manggut kecil. Tiba-tiba ia teringat percakapannya dengan Vino tadi siang. Memikirkan memang bisa saja kemungkinan itu terjadi tanpa sepengetahuannya, membuat sisi hatinya menunduk lemas. Ia tak bisa bayangkan bagaimana jika semua yang Vino katakan benar adanya.


Karena tak mau Serena acuhkan seperti sebelum-sebelumnya, Ares menyandarkan kepalanya pada pundak kiri Serena. Ikut nimbrung menonton apa yang istrinya lihat. Sekalian mengecek siapa tahu Serena sedang bertukar pesan dengan Reno.


"Ih sana ah! Berat tau nempel-nempel." Ronta Serena mengoyangkan pundaknya.


Ares malah dengan sengaja mengikat Serena dalam pelukannya. Pria itu fokus menyaksikan sebuah tayangan yang mampir dalam explore sosial media Serena.


"Ares lep--


"Sayang liat itu," tunjuknya pada tayangan tadi. "Lucu banget ya bayinya. Warna bajunya cerah-cerah kalo anak cewek."


Serena memilih acuh tak peduli sambil menggeser lagi jarinya untuk menonton tayangan selanjutnya.


"Jadi pengin." Gumam Ares menatap Serena.


"Pengin apa?"


"Pengin bikin anak cewek."


Serena terkejut dan langsung menoleh pada Ares. Namun tak satu kata pun keluat dari mulutnya. Ia speechless.


"Yuk."


"Y-yuk apa?"


"Bikin anak."


Spontan Serena memukul paha Ares. "Ngaco! Mesum terus!"


"Kok ngaco, sih? Kita kan suami istri. Wajar kali."


Serena menutupi kegugupannya dengan berdehem singkat. "Y-ya.. Ya iya. Tapi nanti aja."


"Gak mau nanti, maunya sekarang."


"Aku maunya nanti. Kalo sekarang capek."


"Capek apa coba? Orang dari tadi main HP doang."


"Aku kerja seharian ya kalo kamu lupa."


"Kerja terus alesannya." Rajuk Ares memanyukan bibir.


"Bukan alesan, tapi kenyataan."


"Dosa loh, Sayang, nolak suami terus."


"Dosa juga loh maksa istrinya."


"Gak maksa, cuma nawarin." Sanggah Ares dengan wajah seperti anak kecil yang tak terima disalahkan.


"Ya udah kalo nawarin doang. Berarti nanti aja."


"Tapi aku pengin. Udah lama enggak. Penginnya sekarang banget. Please, Sayangku." Ares menarik-narik siku Serena.


"Enggak. Gak malem ini."


"Sayang.... please..."


"Enggak! Titik!"


Ares berdecak seraya menyedekapkan tangan di dada. "Ya udah kalo kamu gak mau, aku mau cari cewek lain."


"Oh gitu?" Serena mendongak santai, tapi terlihat benar ia sedikit kesal. "Sana cari ceweknya. Itu juga kalo ada yang mau sama kamu."


"Banyak kok yang mau sama aku! Kamu aja gak tau."


"Ya udah buktiin."


"Bener ya? Aku buktiin loh. Liat aja nanti aku bawa pacar baru."


"Aku tunggu! Semoga aja kamu berani."


"Berani!" tantang Ares tak mau kalah. "Liat aja nanti aku punya pacar dua... eh enggak... lima... uhm... sepuluh deh tuh sekalian biar kamu nangis tujuh hari tujuh malem."


"Dih! Gak akan."


"Awas nyesel."


"Gak akan."


"Bener ya gak nyesel?"


Serena menggeleng-geleng tegas. "Never!"


Ares benar-benar kesal karena Serena sama sekali tak merayunya yang sedang merajuk. Padahal ia berharap Serena luluh--atau sedikit cemburu--lalu akhirnya bersedia memberi jatah. Tapi sayang, istrinya ini terlalu cool. Seumur-umur, belum pernah ia melihat Serena cemburu.


Huuuffft! Akhirnya Ares memilih membaringkan tubuhnya membelakangi Serena. Pipinya mengembung kesal, dan ia menarik selimut kasar.


"Sayang... bener nih ya kamu gak akan nyesel kalo aku punya pacar lagi." Cicit Ares dengan nada ngambek yang lucu. Berharap bahwa jawaban sang istri berubah.


"Gak. Gak akan!" Karena aku yakin dan percaya kamu gak akan ngelakuin itu, Res.


• • • • •


Berbeda dengan hari-hari biasanya, kali ini Ares terbangun bukan karena teriakkan Serena atau digangguin Altan. Tidurnya merasa terganggu oleh suara alarm dari ponselnya yang berbunyi nyaring. Ia sudah mencoba menyumpal telinga dengan bantal, tapi suara itu tetap terdengar. Ingin coba mematikan, tapi ia mager. Hingga di bunyi ke empat, Ares terpaksa bangun dari tidur nyenyaknya itu.


"Argh! Kenapa sih bunyi terus." Ares meraih ponselnya dengan mata terpejam rapat.


Setelah ponsel pintar itu ada di tangannya, Ares mencoba menetralkan netranya. Menguceknya beberapa kali hingga pandangannya mulai jelas.


"Ck! Cuma reminder ternyata. Gak penting banget." Ares mengembalikan lagi ponselnya ke atas nakas, lalu kembali berbaring untuk melanjutkan tidur.


Namun baru beberapa detik Ares menutup matanya, tiba-tiba ia loncat menjadi duduk. "Hah?! Tanggal berapa barusan?!"


Dengan tergesa Ares kembali mengambil ponselnya. Membuka aplikasi kalender dan melihat bahwa tanggal di hari ini ia beri reminder.


"Dua belas juni," gumam Ares seakan merapalkan tanggal itu untuk diingat-ingat. Sedikit berpikir keras dan menyita waktu beberapa detik, akhirnya senyum kecil terbit dari bibirnya. "Wow. Special day."


Pria itu bergegas turun dari ranjangnya menuju balkon. Tak peduli wajahnya masih berantakan. Ia juga seakan lupa kalau ia masih mengantuk. Dengan gesit tangannya mencari kontak seseorang. Membacanya satu persatu, hingga ia menemukan kontak spesial tersebut di ponselnya.


Setelah beberapa kali mencoba menelepon, nomor yang ia tuju sedang sibuk terus. Hal itu membuat Ares menelan kekecewaan, namun tak kunjung pantang semangat. Ia yakin teleponnya kali ini akan dijawab.


"Areeeesss!!!" Teriakkan excited dari ujung sana membuat Ares terkekeh pelan.


"Akhirnya kamu jawab


aku juga."


"Iya maaf banget ya tadi aku lagi teleponan sama agensi aku yang baru. Tumben telepon. Kenapa?"

__ADS_1


"Kalo aku bilang kangen


berarti aku bohong."


"Dasar nyebelin. Kebiasaan!"


"Becanda. Aku telepon


karena mau bilang sesuatu."


"Bilang apa?"


Ares memberi jeda beberapa detik untuk memulihkan suaranya


agar terdengar lembut dan halus.


"Happy birthday, Sweetheart."


"Oh my God! Kamu inget?!" Pekiknya semangat.


"Tadinya lupa, untung pake reminder."


"Ih jahat! Awas aja ya sampe


kadonya lupa juga."


"Sebutin aja kamu mau apa.


Nanti aku beliin."


"Yes! Pokoknya nanti aku mau minta hadiah yang buat kamu bangkrut."


"Apa sih yang enggak buat kamu, Sweetheart?"


"Ih, Areeesss. Jangan manggil gitu terus. Entar istri kamu denger."


Ares menengok ke dalam kamar


dan belum ada Serena disana.


Berarti dia masih di kamar mandi.


"Gak akan denger,


orang istriku lagi mandi."


"Ya tetep aja."


"By the way....


Kapan sih kamu balik


ke Indo lagi?"


"Kenapa? Kangen, ya?"


"Kangen dibuatin


mie pake telor sama rawit."


"Hahahaha masih


inget aja sih kamu."


"Secepetnya ya kalo bisa.


Karena selain aku kangen


mienya, aku juga kangen


sama yang buat."


"Gombal gembel banget.


Iya nanti aku pulang,


"Ya secepetnya tuh kapan?


Bukan cuma cewek loh


yang butuh kepastian."


"Uhm... Kapan ya enaknya?"


"Sweetheart, please.


Jangan mulai deh hobi


bikin penasarannya."


"Hahaha iya iya aku jawab.


Minggu depan aku pulang.


Puas, Bapak Antares?"


"Beneran?! Serius?!"


"Yap. Tadinya ini mau jadi


kejutan, tapi kamu keburu


nanyain hari ini."


"Sumpah! Aku seneng


banget dapet kabar ini."


"Iya, aku juga seneng.


Gak sabar pengen ketemu


orang nyebelin se-JakSel."


"Hahaha. Sekali ketemu,


kamu gak bakal mau balik


lagi ke Singapore."


"Dih! Ogah!"


"Ya udah. Nanti kamu


kabarin aku ya kalo mau


kesini. Entar aku jemput."


"Hah?! Serius?! Kamu?!


Jemput aku?!"


"Yap. Lima rius."


"Asik!!!! Jadi makin


pengen cepet ke Indo.


Eh tapi, gak ganggu kerja


kamu kan?"


"Enggak kok. Aku bakal


luangin waktu buat kamu.

__ADS_1


Kan lumayan jemput model


papan atas sekalian cuci mata."


"Hahahaha. Awas ya


kalo kamu sampe boong."


"Promise."


"Thank you. Kamu emang


paling jago bikin aku


seneng."


"Ya udah. Aku tutup ya.


Aku mau mandi dulu."


"Iya. Semangat ya


kerjanya. Jangan inget


aku terus. Hahaha. Bye."


"Bye, Sweetheart."


Ares menutup sambungan teleponnya dengan wajah semringah. Matanya memancarkan kebahagiaan. Ia benar-benar tak sabar bertemu dengan wanita itu.


"Ares! Ini kamu mau pake kemeja yang mana?" Teriak Serena dari dalam walk in closet.


Tersadar sang istri sudah selesai dengan ritual mandinya, Ares menyusul ke dalam walk in closet. Ia menemukan Serena tengah menyiapkan kemejanya walau masih berjubah mandi.


"Yang mana aja, deh. Kalo pilihan kamu pasti aku suka." Sahut Ares di ambang pintu ruangan itu.


"Ya udah yang abu, ya?" Serena menunjukkan sebuah kemeja.


"Oke," Ares mengangguk setuju. "Aku mandi dulu ya."


"Eh tunggu." cegah Serena saat Ares akan berbalik badan. "Tadi kamu teleponan sama siapa? Tumben ada yang call pagi-pagi."


Ya, Serena tak bisa menyembunyikan ketidak sukaannya dalam nada bicaranya. Ia benar-benar curiga saat Ares bertelepon-ria-dengan-entah-siapa sampai senyum-senyum sendiri dan tak menyadari keberadaannya tadi.


Menangkap sinyal bahwa istrinya itu tengah cemburu tapi gengsi, Ares berniat menjahili. "Oh itu... Pacar baru aku minta jemput."


Mata Serena kontan melotot. Dan Ares malah menyengir jahil. "Becanda. Itu si Vino."


• • • • •


"Yuhuuuu!" Sapa Hana nyelonong masuk ke ruangan Serena.


"Berisik." Serena berdecak sambil mengetik sesuatu di layar laptopnya.


"Lah... Loe yang manggil gue."


"Ya gak usah berisik juga. Gue cuma mau tanya... gimana tuh Michelle Louis? Minggu depan dia jadi ke Indonesia?"


"Gue dapet info dari manajernya sih jadi. Selow aja, Bos, di tangan gue semuanya lancar." 


"Oke deh bagus. Lega banget gue."


"Eh by the way busway. Ini gue bawa kabar gembiraaaaa banget, Re." Hana menarik kursi di hadapan Serena dengan sangat semangat.


"Kabar apaan?"


"Liat muka gue," tangan kanan Hana menarik dagu Serena. "Sahabat kita Cecil juga mau balik ke Indonesia!!!!" Pekiknya heboh sambil bertepuk tangan.


Dan Serena hanya memutar bola matanya malas.


"Lah? Kenapa loe? Gak seneng?"


"Gue udah tau, Raihana."


"Udah tau? Kok bisa?"


"Tadi malem kan kita video call bertiga. Ya gue bisa tau lah. Mabok kali loe semalem, makanya gak sadar." 


"Oh iya," Hana menyengir garing sambil menggaruk rambutnya. "Kita jemput yuk?! Gue kangen parah."


"Gak bisa."


"Kok?"


"Minggu depan jadwal kita lagi padet-padetnya. Banyak proyek yang harus kita siapin buat calon model kita."


"Yaaahh.... Sayang banget. Padahal gue pengin banget ketemu dia as soon as possible. Nih kerjaan gak kelar-kelar heran, gak bisa apa kasih gue napas buat hangout."


"Tenang aja. Besoknya setelah dia pulang, katanya dia mau meet sama kita di Cafe Koloni." Serena menepuk-nepuk punggung tangan Hana diatas mejanya.


"Bagus, deh. Gue udah gak sabar banget pengin ketemu tuh anak. Sombong amat gak balik-balik. Mentang-mentang lakinya bule di kekepin mulu."


Serena hanya tersenyum hambar. "Sirik aja loe. Kawin sana."


"Iya entar. Kalo udah nemu laki yang mirip Jefri Nichol."


"Ada tuh deket rumah gue Jefri. Tapi tukang siomay mau?"


"Setan loe," Hana melempar pulpen ke arah Serena yang tersenyum kecil. "Ya... mentok-mentok kayak Ares gitu lah. KW supernya Babang Jefri."


"Ya udah nikah sama Ares aja sana."


"Yeee... dia kan laki loe."


"Gapapa kok kalo loe mau."


"Dih! Sarap kali loe. Seumur-umur, baru kali ini gue denger ada istri yang lelang suaminya sendiri."


"Beneran, gue iklas. Kebetulan Ares lagi cari pacar."


"Heh! Nyebut, Re, nyebut. Loe mah becandanya suka gak nyadar."


"Serius, Hana," Serena sampai mengangkat kepalanya dari layar laptop agar Hana mempercayainya. "Ares lagi cari pacar."


"Kok bisa?! Gak mungkin banget gila! Laki loe tuh kan cinta banget sama loe. Masa iya dia pengin punya pacar lagi."


"Orang gue kok yang nyuruh."


Mata Hana kontan melotot. Wanita itu menegakkan dirinya menatap Serena. "Gak ada otak loe, Re?!" pekik Hana. "Loe nyuruh laki loe cari cewek lagi, hah?"


"Ya iya. So what?"


"So what loe bilang?! Ini tuh bukan so what lagi, tapi udah gawat! Mikir apa sih loe sampe nyuruh kayak gitu?!"


"Abisnya dia nyebelin banget, Han, semalem. Udah tau gue capek, malah minta jatah. Pake sok-sok'an nantangin mau jajan di luar, cari pacar lagi, ya udah gue iyain."


"Wah! Bego loe! Kampus salah kali ya jadiin loe cum laude."


"Lagian kenapa sih ribet amat?! Gue aja istrinya santai."


"Gimana bisa santai sih loe? Kalo Ares nyatanya dapet cewek lagi gimana? Dia nemu yang lebih oke dari loe gimana?"


"Dan loe percaya seorang Ares bisa ngelakuin itu?"


"Of course enggak!"


"So? Apa yang perlu ditakutin?"


"Come on, Re. Ares cowok kali. Cowok bakal ngalamin puber kedua. Dan dia juga cuma manusia biasa  yang gak luput dari godaan dan nafsu."


"Udah deh, Han, gak mungkin banget dia kayak gitu. Orang semalem dia keliatan gak serius, kok. Dia cuma ngambek aja sama gue makanya bilang kayak gitu. Udahlah, Han, dibawa santai aja."


"Inget ini ya, Re. Santai loe sekarang bakal jadi penyesalan loe di masa depan. Saat semuanya kejadian, gue yakin loe bahkan gak bisa tidur dengan tenang."


"Sok tau loe. Ramal-ramal masa depan orang segala."

__ADS_1


"Loe belum tau aja, Re. The power of pelakor."


———————————————


__ADS_2