
Hana mengerang dalam posisi duduknya yang sengaja bersandar pada sofa empuk. Matanya tertutup dan sudut bibirnya tertarik menahan emosi. Di depannya dua sahabatnya menatap penuh antisipasi. Takut kemarahan Hana akan meledak dan membuat seisi restoran menoleh ke arah mereka.
"Han, keep calm." Cicit Cecil yang langsung dihadiahi decakan tak kentara dan tatapan tajam Hana.
Wanita itu menegakkan badannya. "Apa loe bisa selonjoran santai di tengah keosnya demo seluruh rakyat Indonesia yang minta turunin BBM?"
"Ya gak bisa, I know. Tapi yang sekarang kita bicarain masalahnya temen kita, bukan tentang negara."
"Exactly!" Hana menekan kata itu sebagai tanda kemenangannya. "Untuk urusan negara aja kita gak bisa tenang-tenang aja, apalagi temen sendiri."
"Gue ngerti, tapi kita harus bicarain ini pake kepala dingin. Gak emosi kayak loe sekarang."
"Gue bakal bereaksi sama kok kalo si Paul ngegampar loe, Cil." Cecilia mengatupkan bibirnya rapat. Kedua mata Hana yang menghujamnya serius membuat ia mati kutu.
"Jangan lemparin ini ke Cecil, Han. Masalah ini punya gue, dan loe harusnya ngomong ke gue."
Hana langsung menoleh pada Serena. "Loe bodoh," hardiknya dingin. Wajahnya keras dan tatapannya setajam tadi. "Cuma itu yang mau gue omongin ke loe."
"Hana!" Selah Cecil yang ditanggapi acuh karena Hana lebih tertarik menguliti profil Serena dengan serius.
"Kalo gue jadi loe, gue bakal bilang blak-blakan apa yang udah Ares lakuin ke gue. Gue gak mau nutupin busuknya dia bahkan di depan ibunya sendiri."
"Gak semudah itu, Han," jawab Serena dengan suara serak. "Banyak hal yang gue pertaruhkan kalo gue jujur."
"Termasuk kebahagiaan loe?" tembak Hana tepat sasaran hingga Serena bergeming. "Come on, Serena, sampe kapan ini bakal terus berlangsung? Loe mau terus disakitin Ares tuh sampe kapan?"
"Dia cuma salah paham, Han. Dia kebawa emosi aja."
"Kalo cuma kebawa emosi, dia gak bakal nyakitin fisik loe berkali-kali. Udah jelas intinya disini dia secara sadar menyakiti loe. Baik fisik, maupun hati."
Tenggorokan Serena terasa kering. Belum lagi matanya yang memanas. Kepalanya menggeleng kecil. "Ares cuma marah gara-gara gue dianter Reno."
"Dan setelah tau alasan loe dianter Reno karena apa, apa dia minta maaf? Apa dia merasa menyesal udah nampar loe?" kini giliran Hana yang menggeleng, bibirnya berdecih sinis. "Dia tetep kan pada egonya? Dia bahkan tetap bersikap dingin ke loe," lalu Hana mengerang frustasi. "Demi Tuhan, Serena, loe hampir dilecehkan orang lain! Loe ini istrinya! Dan dia sama sekali gak bereaksi apapun setelah loe ceritain itu. Dimana otaknya itu, hah?"
"Tapi Ares masih peduli sama gue, Han."
Izinkan Hana memutar bola matanya sekarang. "Setelah apa yang dia lakuin ke loe, you still think he fucking cares about you?!"
"Ares marah karena gue dianter Reno semalam. That's mean Ares masih mencintai gue, kan? Dia begitu karena dia... dia cemburu. Iya, kan? Iya kan, Cil? Iya, kan?" Kata Serena dengan mata berkaca-kaca namun tersenyum getir mencoba menghibur diri sendiri.
Sungguh, tolong beri kekuatan pada napas Hana yang sedari tadi terus ditarik ulur. Rasanya Hana sudah lelah menarik napas panjang karena jengkel menasihati Serena.
"Fix! Loe bodoh, Serena. Terserah loe, deh." Hana mendelik seraya melemparkan lagi tubuhnya pada sandaran sofa.
Serena tercenung dengan wajah sangat menyedihkan. Saat Cecil mengusap pundak kirinya kasihan, Serena membuang muka ke samping. Mencoba mengalihkan sesak pada merayapnya jalanan Ibukota pada jam pulang kerja ini. Mengintip lautan manusia yang berlari melindungi diri dari guyuran air langit lewat kaca restoran yang berembun. Tangannya mengepal kuat-kuat saat matanya benar-benar tak tahan untuk tidak menangis.
"Serena," kesedihan jelas terlihat pada kedua bola mata Cecil yang sekarang lagi-lagi mengusap pundak Serena. "Its okay. Jangan sedih. Ada kita disini."
Pernah dengar kalau katanya orang yang sedang menahan tangis malah akan menangis saat ada orang yang bicara padanya? Itulah yang terjadi pada Serena sekarang. Matanya dengan lancang menitikan buliran bening yang lambat laun berubah jadi aliran deras sederas hujan yang turun. Gerakan spontan yang ia ambil adalah membekap mulutnya sendiri agar kekacauan tak terjadi karena ulah cengengnya.
Kepala Serena masih enggan menoleh walau Cecil sudah memeluknya menguatkan. Tangis yang berusaha diredam membuahkan sia-sia karena volumenya makin menjadi hingga Hana ikut cemas menatap Serena.
"Sere, udah ya nangisnya."
"Gue mau berhenti. Tapi gue gak bisa, Cil." Serena tersendat-sendat mengeluarkan suara.
Cecil melirik Hana yang masih membatu dengan tatapan cemasnya yang kentara. Wanita yang tengah mengandung itu hanya mampu menggigit bibir sendiri agar sisi sensitifnya tak tergiur untuk ikut menangis.
"Ini berat banget buat gue. Berat," lirihnya nyaris berbisik. "Satu sisi hati gue sakit banget, tapi di sisi lain gue gak tau lagi harus ngapain selain bertahan. Otak gue nyuruh gue pergi, tapi wajah orang-orang yang gue sayang selalu tergambar seolah nyuruh gue berusaha keras supaya ini gak bubar di jalan. Setiap harinya pasti ada garam yang sengaja Ares tabur pada luka gue yang menganga. Tapi di sisi lain dia juga yang membawa obat dan membikin hati gue sembuh karena secara diam-diam dia merawatnya."
Sakit. Hana merasakan sakit yang dirasakan Serena menusuk dada kirinya. Wanita berpotongan rambut pendek dan berponi itu menunduk kaku. Tatapan kosong ia hadiahkan pada segelas capucino yang masih mengepul di atas meja kayu restoran.
"Dia seolah ngunci gue dalam ruangan berisi bongkahan es supaya gue mati menggigil, tapi dia juga ngasih celah dalam ruangan itu dan ngebiarin setitik matahari mengahangatkan gue. Dia selalu punya dua sisi, Cil. Dibalik sikap jahanya, sikap baiknya selalu muncul. Dia selalu membuat hati gue yakin kalau masih ada cinta buat gue, dan itu berhasil membangun keraguan kalo dia sebenarnya gak sebegitunya membenci gue. Jadi gue bener kan, Cil, kalo masih memilih tinggal?"
Senyum kecil Cecil terukir saat Serena menatapnya penuh keputus asaan. "Apapun itu, Re. Ambil yang menurut loe terbaik. Loe yang paling tau," jawaban dari Cecil menenangkan sedikit hati Serena. Kedua wanita itu sama-sama tersenyum. "Gue selalu dukung loe, Re. Asal loe jangan terus-terusan begini."
"Siapapun gak bakal mau memilih jadi begini, Cil," Serena tersenyum miris mencibir. "Jadi gue begini," jeda lagi menghela napas. "Gue yang hancur. Gue yang dikhianati. Gue yang lemah. Dan gue yang bodoh seperti kata Hana tadi."
"Enggak loe gak bodoh. Si Hana tadi kelepasan doang kok ngomong begitu." Gelengan kecil diiringi menolehnya Serena pada Cecil, membuat Hana merutuki dirinya melihat Serena sesedih sekarang. Apalagi Serena tampak memprihatinkan dengan sudut bibir tertarik getir.
"Gue sama sekali gak mempermasalahin itu, Cil. Siapapun bebas berpendapat," Hana sempat tercenung saat Serena meliriknya manis. "Dan gue yakin pendapat Hana barusan adalah rasa sayangnya sebagai sahabat gue."
"Hana," panggilan lemah itu spontan membuat Hana mendongak kaget. Ternyata ada Serena yang tersenyum tipis menatapnya. Hana benar-benar kehabisan kata, sampai akhirnya beberapa saat kemudian Serena membuka suaranya. "Makasih ya buat semua saran loe. Gue gak sakit hati dan marah sama sekali untuk itu. Semua saran kalian gue tampung, apalagi kalian sahabat-sahabat gue..."
"...Gue tau loe mau yang terbaik untuk gue, Han. Kalian berdua mau yang terbaik buat gue," Serena melirik satu per satu Hana dan Cecil. "Tapi posisi gue ini sulit. Gue gak bisa melihat dari satu sisi gue doang. Kalo gue mau egois, gue mungkin udah ngikutin saran loe, Han, buat pergi. Tapi menikah bukan hanya perihal perorangan atau dua orang, kan? Ada dua keluarga yang gue pertaruhkan. Keluarga gue dan mertua gue yang pasti akan bertanya-tanya kalo semuanya bener kejadian. Dan yang paling memberatkan adalah anak gue. Gue punya anak. Anak gue terlalu kecil untuk mengalami ini semua..."
"...Hana," Serena menggenggam tangan Hana di atas meja. "Sama sekali gak ada yang salah dari pendapat loe. Tapi semuanya perlu waktu. Gue perlu membereskan dulu masalah gue yang sekarang sebelum memulai hidup baru. Biarkan gue berjuang dulu ya sampai titik dimana gue bener-bener harus berhenti," pandangan Serena naik menerawang. "Karena gue yakin ini belum saatnya."
"Maksud loe?" Cecil keheranan.
"Gue masih ingin berusaha lagi membina ini. Dan gue yakin usaha gue kali ini akan berhasil."
• • • • •
__ADS_1
Kaki jenjang berbalut sneakers putih itu berlari-lari kecil di jalanan yang basah. Tas selempang ia gunakan untuk menutupi kepalanya dari rintik air yang tak mau berhenti. Ia meringis kedinginan sambil terus berlari. Sungguh beruntung ada halte di depan sana, dan sungguh sial dress pendek yang ia gunakan membuat lengan dan kakinya kebasahan. Tambah sial lagi ia tak membawa jaket.
Beruntunglah hanya ada dua orang di halte itu. Ia tak perlu repot-repot berdesakan untuk berteduh. Segeralah ia mengibas-ngibas kedua lengannya yang basah karena terguyur hujan. Rambutnya sedikit lepek, dan hujan dengan kurang ajarnya malah semakin deras.
Ia berdecak karena taksi tak kunjung datang. Sudah sekitar lima menit ia menunggu di halte. Bukan karena apa-apa, hanya saja ia tak kuat dingin. Dan sekarang ia sudah mulai menggigil seraya memeluk tubuh sendiri.
Saat wanita itu masih berdiri menanti datangnya taksi, sebuah Civic abu berhenti di depannya. Bersamaan dengan kerutan di dahinya, kaca mobil itu mulai turun secara perlahan.
"Michelle." Sapa si pengendara.
Tubuhnya membungkuk sambil sedikit memicing. "Bu Serena?"
"Kamu ngapain?" Tanya Serena setengah berteriak.
"Nunggu taksi, Bu."
"Bareng saya aja sini."
"Gak usah, Bu, saya nunggu taksi aja."
"Disini jarang ada taksi. Apalagi lagi hujan begini."
Yang diajak bicara terlihat berpikir untuk beberapa saat.
"Ini udah hampir jam lima, loh. Kamu mau sampe kapan nunggu disitu? Ayo sama saya aja."
Anye tersenyum kaku dan mengangguk kecil. Tangannya menggapai pintu mobil dan masuk ke dalamnya. Ia menoleh pada Serena yang menyambutnya dengan senyum.
"Maaf ya, Bu, saya ngerepotin. Mobil Ibu juga jadi basah." Ringisnya tak enak.
"Gapapa. Saya lebih seneng mobil saya basah karena bantuin kamu, daripada ngebiarin kamu basah di luar sana."
"Makasih banyak ya, Bu. Ibu udah baik banget sama saya."
"Its okay." Kata Serena sambil menyalakan mesin mobil.
Benerapa menit mobil melaju, Anye mulai merasa tubuhnya tak enak. Ia kedinginan. Setiap kali kehujanan atau terlalu lama dalam udara yang dingin, pasti ia akan menggigil.
"Oh ya, Chelle, kamu pake jaket saya aja. Kayaknya kamu kedinginan banget."
Anye menoleh karena ternyata Serena memperhatikannya yang terus menerus mengusap lengan terbukanya. "Gak usah deh, Bu, saya gapapa, kok."
"Dress kamu basah dan sedikit transparan. Saya yakin kamu gak akan nyaman jadi pusat perhatian orang," lalu Serena melirik Anye sekilas. "Setidaknya jaket saya bisa menutupi tubuh kamu, Chelle."
Anye meraih jaket leather hitam milik Serena yang tersimpan di kursi belakang. Sangat cocok ternyata dipadukan dengan dress putihnya.
"Saya pinjam ya, Bu. Terima kasih."
"Santai aja, Chelle, saya seneng kok bantu temen."
Kening Anye berkerut, dan kebingungan itu ditangkap Serena yang tengah menoleh. "Mulai sekarang kamu temen saya. Kalo nolak nanti saya turunin ya."
Kedua wanita itu tertawa renyah saat mobil mulai melaju di bawah air langit yang berbondong-bondong turun. Selama perjalanan mereka mengobrol santai. Ternyata mereka klop juga dalam bercerita. Anye yang memang bisa membangun komunikasi dan Serena yang selalu antusias menjelaskan.
"Ayo, Bu, mampir dulu." Ini kata Anye saat mereka sudah sampai di depan gedung apartemennya.
"Gak usah deh, Chelle."
"Yah, Ibu, ayo dong, Bu. Itung-itung saya balas jasa. Nanti saya bikinin minuman enak, deh."
Serena mencetuskan tawa kecil. "Thats sound good. Let's go."
• • • • •
"Hmm... Wangi banget, Chelle," Serena menciumi aroma jahe yang tercipta dari dalam gelas yang masih mengepul itu. "Ini serius kamu yang bikin? Atau..." mata Serena memicing iseng. "Kamu beli yang sachet-an?"
Anye menggeleng membuat handuk yang tengah melilit rambut basahnya ikut bergoyang. Bibir indahnya terkekeh kecil. "Ya enggak dong, Bu. Kalo untuk Ibu saya bikin yang spesial. Buatan tangan sendiri."
"Oh ya?"
"Iya. Jangan salah, Bu. Saya gini-gini jago ngenakin perut orang."
"Pasti pacar kamu betah deh kalo lagi mampir kesini." Gurau Serena menyeruput minuman hangatnya.
Mendengar kata 'pacar', Anye jadi teringat Ares. Senyum wanita itu menipis kala mengingat pertengkaran mereka tadi. Matanya menatap kosong pada pinggiran gelas yang tengah ia pegang.
"Rasanya beneran enak loh, Chelle. Kamu bener-bener jago," puji Serena riang dan tak melihat perubahan wajah Anye. "Kamu kok bisa sih bikin ini? Belajar dari mana?"
"Dari Mama saya, Bu. Minuman ini asalnya dari Jogja. Dan Mama saya orang sana. Pas saya kuliah di Singapore, kalo saya lagi gak enak badan atau udaranya lagi dingin banget, pasti saya bikin."
"Oh gitu. Btw, nama minuman ini apa, Chelle." Serena asik menyeruput minumannya karena benar-benar enak. Menghangatkan.
"Wedang uwuh. Sodaranya wedang ronde." Celeruk Anye bercanda.
__ADS_1
"Bisa aja kamu." Kekeh Serena.
Saat mereka asik mengobrolkan banyak hal, pintu apartemen Anye diketuk dari luar. Mengucap pamit lebih dulu, Anye pergi membuka pintu. Meninggalkan Serena di ruang tamu sendiri.
"Sweetheart."
Wajah Anye langsung berubah malas saat ia menemukan Ares setelah membuka pintu. Apalagi wajah Ares terlihat memelas minta dikasihani.
"Sweetheart, aku minta--
"Aku lagi gak mau bahas itu."
"Tapi, Sweetheart, kita harus bicara. Ayo kita masuk. Ayo kita selesaikan sekarang."
Anye mendorong dada Ares yang hampir menerobos masuk. "Aku bilang aku gak mau bahas. Nanti aja."
"Kalo nanti, yang ada masalahnya makin gede. Please, aku mau kita bicara."
"Kita gak bisa bahas ini sekarang. Aku lagi ada tamu."
"Tamu siapa?" Tanya Ares sedikit tak suka dan memaksa ingin masuk.
"Bos aku," dengan jengah Anye mendorong lagi dada Ares. "Udah deh sekarang kamu mending pergi dari sini."
"Tapi, Sweetheart--
"Kita gak akan pernah lagi bicara kalo kamu terus maksa aku begini." Ancam Anye serius.
Bahu Ares merosot lemas. Pria itu tak bisa memaksa Anyelir kalau sudah begini. Hingga pintu di depannya di tutup rapat, pria itu hanya bisa menutup rapat mulutnya dan mengutuk kesalahannya tadi.
• • • • •
Ares memijit pelipis matanya yang terasa sakit dan ngilu. Penampilannya terlihat kacau dan wajahnya juga tak bersemangat. Ia menaiki tangga rumah dengan malas. Kakinya seakan berat melangkah karena merasa ada beban yang belum tuntas. Saat tangannya memutar gagang pintu, aroma bunga mawar langsung menyerbak dari dalam kamar.
Heran, Ares terdiam kaku saat menemukan Serena menatapnya manis dari pantulan cermin. Wanita itu sangat cantik. Luar biasa cantik. Ditambah dengan gaun tidur--oh maaf, sepertinya itu lingerie--warna merah menyala yang cukup transparan.
"Kamu udah pulang?" Sapa Serena menghentikan ritual menyisirnya. Wanita itu bangkit dan menghampiri Ares yang masih berdiri di depan pintu.
Langkahnya terlihat indah--menggoda. Tatapan matanya sangat dalam seakan menarik Ares untuk terus mendekat. Dan anehnya, mengapa Ares seperti disihir begini? Ia bahkan hanya diam saat Serena mengusap kedua sisi lengannya. Ares seperti hanya fokus pada satu titik sampai matanya tak bisa berkedip.
"Aku udah siapin air hangat untuk kamu mandi." Usapan Serena beralih pada rahang Ares yang selalu mengeras. Matanya menatap berani pada kedua samudra indah yang selalu memancarkan aura dingin itu.
Saat tangan Serena mulai melancarkan jari membuka satu per satu kancing kemejanya, Ares menghela napas pendek. Berpikir waras, Sialan! Itu suara otak yang seakan meneriakinya, dan tangannya spontan menepis tangan jahil itu.
Menatap setajam biasanya, Ares menghempas tangan itu kasar. Pria itu berlalu tanpa suara. Duduk di pinggir ranjang dan segera membuka sepatu. Ia harus cepat-cepat masuk ke dalam kamar mandi sebelum Serena berhasil menggodanya.
Setelah Ares menutup pintu kamar mandi, Serena tersenyum lebar. Sepertinya ia berhasil membuat Ares terbawa suasana. Jari lentik yang tadi secara lancang membuka kancing kemeja Ares, kini mengusap bibir merahnya dengan sensual. Ia yakin malam ini akan membuat semuanya kembali seperti semula. Wanita itu naik ke atas ranjang, duduk berpura-pura membaca majalah dan tinggal menunggu mangsa datang.
Hal pertama yang Serena sadari saat Ares keluar kamar mandi adalah Ares yang terlihat sangat tampan. Wajah dan rambutnya masih basah. Tetesan air juga jatuh pada perut seksinya yang terdiri dari enam kotak itu. Sungguh menggiurkan. Walau setiap hari melihat Ares tidur bertelanjang dada, namun tetap saja Serena terpaku. Eeerrr! Sadar, Serena. Dia yang harusnya tergoda, bukan kamu.
"Kamu mau aku bikinin kopi?" Tawar Serena mengalihkan pikirannya yang tadi traveling.
Ares menutup rapat mulutnya, namun kedua bola matanya menatap Serena intens. Tubuh Serena sungguh indah tercetak dari kain sialan tipis itu. Paha mulusnya yang sedikit tersingkap karena ia duduk memajangkan kaki, membuat Ares melenguh dalam hati.
Pria itu menaiki ranjang secara slow motion. Karena jujur, ia sungguh tak ingin melewatkan pemandangan indah yang terpampang nyata itu. Tapi demi tetap menjaga harga dirinya, sepertinya segera tidur adalah pilihan yang paling tepat. Saat sudah naik ke atas ranjang, Ares bersiap membaringkan tubuhnya. Namun, napasnya langsung terhenti saat dada telanjangnya di usap dari belakang.
Sial sial sial! Pria itu memejamkan matanya. Darahnya berdesir saat mulut Serena mengecupi pundaknya. Perlahan-lahan bibir hangat itu maju menuju lehernya. Meniup sebentar disana dan menghirup aroma tubuh Ares. Jari nakalnya juga tak tinggal diam menelusuri inci bagian depan. Membuat pola acak di bagian dadanya, lalu turun menyusuri perut six packnya. Cukup! Kali ini ia benar-benar tak tahan.
Segera Ares berbalik dan mengubah keadaan menjadi Serena berada di bawah kungkungannya. Ia memandangi wajah cantik yang menggodanya itu dengan sangat dalam. Luar biasa! Wajah ini terlihat seksi. Merah bibirnya terlihat berani. Ditambah kedua bola matanya seperti mendamba sentuhan.
Napas Serena langsung berhenti saat tangan besar Ares mengusap pahanya. Pelan, bergerak lembut, mengelus-elus, dan ibu jarinya terasa masuk pada bagian dalam pahanya. Kepala Ares memiring menerobos pada bagian leher. Menjilatnya, lalu dikecup, dan terakhir digigit. Tangan Serena spontan menjambak rambut Ares saat pria itu meniup-niup telinga bagian belakang.
Mata Serena terlihat sayu saat Ares mengangkat kepala menatapnya. Jari telunjuk Ares dengan sengaja mengusap pinggiran bibir Serena yang membuat empunya mengerang lembut. Jari lihai itu turun dengan membuat pola lurus hingga terhenti di bagian atas dada Serena yang mencuat. Mata Ares yang tak berpindah sama sekali, membuat Serena sampai terbuai dalam tatapan itu.
Berpikir waras part 2, Sialan! Ares tersenyum miring akan teriakkan di otaknya itu. "Kemarin mati-matian menyangkal, dan sekarang terbukti perkataan aku kemarin benar adanya."
Kening Serena berkerut. Ia berkata pelan karena napasnya masih belum teratur. "Maksud kamu?"
Tawa mencibir Ares mencuat. "Maksud aku?" tanyanya. Lalu ia membelai pipi Serena. "Harusnya kamu tanya sama diri kamu sendiri. Maksud kamu melakukan ini semua buat apa? Buat membuktikan kalo kamu memang wanita murahan?"
Bibir Serena sedikit terbuka karena tak menyangka Ares akan mengucapkan itu. Pria itu tadinya terlihat sudah masuk perangkap, tapi kenapa sekarang ia kembali seperti sebelumnya.
"Kenapa diam? Berharap aku terjebak sama jebakan kamu? Berharap aku tergoda sama kamu? Atau..." kini belaian sensual Ares beralih pada bibir Serena. "Berharap aku tertarik meniduri kamu?" Bisiknya serak.
Mata pria itu berubah jadi tak bisa terbaca. Tatapannya hanya lurus pada wajah Serena. "Untuk apa sih semua ini, hm? Kamu pikir dengan berpakaian begini kamu bisa menarik hati aku? Kamu pikir aku bakal tergoda?" kepalanya menggeleng-geleng. "Di mata aku, kamu gak akan jauh lebih baik. Mau kamu telanjang di depan aku, aku gak tertarik sama sekali dengan tubuh kamu. Bahkan kalau boleh sedikit jahat, tubuh kamu ini gak lebih menarik dari pacar aku dan perempuan lain yang pernah aku tidurin."
Setetes air mata Serena jatuh saat Ares menuntaskan kalimat itu. Lukanya yang menganga kembali ditaburi garam. Pria yang ia cintai, ia puja, ia perjuangkan mati-matian, dengan teganya melabelkan kata murahan untuknnya. Membandingkan ia dengan kekasih gelapnya dan bahkan wanita-wanita yang pernah menghangatkan ranjangnya.
"Udah jangan nangis. Kamu sendiri kan yang membuat aku sampe bisa ngomong begitu? Asal kamu tau, sejak aku minta kita pisah, semua hal tentang kamu udah gak penting lagi buat aku. Semua yang kamu lakuin, udah gak membuat aku tertarik lagi. Mengerti?"
"Kamu tega, Res." Lirih Serena.
"Ssssttt. Ini udah malam. Bukan saatnya untuk kita diskusi. Sekarang tidur. Ganti baju kamu. Kamu terlihat sangat menjijikan sekarang."
__ADS_1