
Bukan suatu hal yang sulit bagi seorang Michelle Louis untuk mendapatkan hasil foto yang baik. Sepak terjang yang sudah lumayan lama dan ditunjang wajah ayu rupawan, membuat ia tak kesusahan berdiri di depan kamera. Bahkan kalau boleh berlebihan, cukup diam saja wajah Michelle pasti bisa terpampang menjadi sampul majalah terkenal.
Satu produk kecantikan ia pegang di tangan kanannya. Menghalau kilatan kamera, ia tersenyum anggun. Beberapa kru disana bahkan sampai tak berkedip saking terpesonanya.
"Iya bagus. Sekali lagi, Michelle. Kepalanya agak ke kiri sedikit. Iya, begitu. Tahan sebentar." Kira-kira begitulah arahan fotografer berkacamata itu.
Serena selaku pemilik agensi naungan Michelle, duduk berdampingan bersama si pemilik produk kecantikan. Mereka disediakan kursi lipat untuk memantau proses pemotretan Michelle. Sejauh ini Serena cukup puas dan bangga, pun begitu dengan wanita bergaya sosialita di sampingnya. Beliau sepertinya suka produknya berada di tangan yang tepat.
"Cantik sekali. Dia juga sangat lihai bergaya. Rasa-rasanya produk saya akan laku terjual karena auranya itu." Komentar si wanita berusia empat puluhan itu dengan senyum lebar.
Serena menoleh, ikut membalas senyum. "Iya, Bu. Sangat berbakat. Dari awal saya yakin Michelle akan menjadi maskot yang baik untuk setiap produk yang ia pegang."
"Gak salah saya selalu memakai model dari agensi Anda. Buktinya, selama ini Anda tak pernah mengecewakan."
"Terima kasih, Bu. Senang bisa bekerja sama dengan Anda."
"Saya--
Obrolan keduanya terpaksa harus teralihkan karena teriakkan dari si fotografer yang terkesan agak sedikit kesal.
"Yang fokus, Michelle. Saya bilang agak nyerong ke kiri, bukan berarti nyamping. Produknya juga tunjukkan labelnya, dong. Ayo ayo fokus!"
Michelle hanya mengangguk seadanya. Kepalanya benar-benar sakit. Ia bahkan tak bisa menopang tubuhnya dengan benar. Rasanya gemetar. Pandangannya buram. Matanya bahkan sampai mengejit karena kilat kamera kembali menyambarnya.
"Aduh, Michelle! Fokus! Kenapa kamu malah merem?"
Michelle menggoyang-goyangkan kepalanya mengusir sakit. Produknya bahkan sampai jatuh. "Maaf."
"Ayo ulangi." Teriak si fotografer itu.
Serena mengerutkan kening saat menangkap sinyal tak baik dari Michelle. Serena bisa melihat badan Michelle sempoyongan. Ada beberapa bulir keringat yang timbul di dahinya. Dengan sigap Serena berdiri dan menghampiri Michelle.
"Maaf permisi, Mas, sepertinya Michelle butuh sedikit waktu. Boleh kita break dulu?"
"Aduh, Bu, maaf. Tapi waktunya mepet, nih. Saya gak cuma ada job disini, loh. Kalo minta break mau kelar jam berapa?"
"Saya janji cuma sebentar. Mas gak liat Michelle gak baik-baik aja. Bukannya kalo dipaksain hasilnya malah gak bagus dan menghambat kerja Anda nantinya?"
"Tapi--
"Sudah. Biarkan Michelle istirahat sebentar," owner produk itu angkat bicara. "Bu Serena benar. Kayaknya Michelle kurang sehat. Ia perlu sedikit istirahat."
Siapapun tak dapat membantah perintah dari sang atasan. Sang fotografer menghembuskan napas panjangnya. Serena dibantu asisten Michelle, menggiring Michelle menuju ruang wardrobe. Didudukkan Michelle di sebuah kursi menghadap kaca besar. Serena mengusap-usap pundak Michelle yang terbuka, sementara sang asisten terlihat panik menyodorkan air mineral.
Michelle menunduk. Ia memejamkan mata. Kepalanya berdenyut-denyut.
"Ayo minum dulu, Michelle, biar kamu agak tenang." Sodor Serena penuh perhatian.
Kepala Michelle pelan-pelan terangkat. Wanita itu menggapai sodoran Serena dengan memaksakan sedikit senyum dan lalu menelan ludahnya sesaat sebelum meneguk air dalam botol plastik itu.
"Terima kasih, Bu." Ucap Michelle lemas.
"Udah lebih baik?"
Michelle hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
"Apa yang sakit? Biar bisa diambilin obatnya."
"Saya cuma sedikit pusing, Bu. Its okay."
"Tapi kamu keliatan lemes banget. Saya khawatir."
Michelle menggeleng ramah lagi. "Saya memang punya sakit kepala yang sering kumat-kumatan. Terima kasih atas perhatiannya, Bu."
"Kamu mau apa? Mau makan? Mungkin itu bisa sedikit redain sakitnya."
"Saya gapapa, Bu. Serius, deh. Udah lebih baik dari tadi."
"Kamu gak keliatan gapapa, Michelle. Jelas-jelas kamu kenapa-napa. Atau gini deh, biasanya apa yang bisa buat sakit kepala kamu cepet ilang? Dipijitin or something else, maybe?"
"Salah satunya saya harus aktifitas, Bu. Jadi kayaknya cukup deh istrirahatnya. Saya gak enak ninggalin kerjaan lama-lama. Apalagi ditungguin sama bosnya langsung." Gurau Michelle mencoba mencoret gurat kecemasan di wajah Serena.
"Enggak ah. Jangan dulu. Kamu masih belum pulih. Mereka pasti ngerti, kok. Udah gapapa biar nanti saya yang ngomong sama Bu Rieta. Saya ngeri kamu malah kenapa-napa lagi."
"Aduh," senyum Michelle terbuka lebar. "Ternyata Ibu tuh baik banget ya orangnya, kalo di kantor kan berwibawa banget. Makanya saya agak segan waktu itu."
Serena tersenyum geli menyadari sikapnya yang diungkap Michelle. "Ya... begitulah. Saya orangnya emang panikan. Saya juga gak suka liat orang kesakitan. Sekalipun orang itu gak saya kenal, kalo saya bisa dan berkesempatan, pasti saya bantu."
"Wah... berhati malaikat banget sih, Bu. Saya kira cuma wajahnya aja yang menyerupai malaikat, ternyata sikapnya juga."
"Emang kamu udah pernah liat malaikat?"
"Belum."
Keduanya kompak tertawa. Para wanita itu seakan lupa dengan kesakitan mereka. Serena lupa akan Ares, dan Michelle lupa akan sakit kepalanya.
"Pasti suami Ibu beruntung banget dapetin istri sebaik Ibu." Cetus Michelle dengan sisa tawanya.
Tawa Serena volumenya pelan-pelan mengecil. Lengkungan bibirnya yang tadi tertarik naik dengan sempurna, pelan-pelan turun menyisakan garis lurus. Yang kini terukir hanya senyum pahit nan getir. Michelle mungkin tak menyadari itu sampai akhirnya orang kru memasuki ruang wardrobe.
"Mbak Michelle, bisa dilanjut sekarang?"
"Iya, bisa. Saya kesana sekarang."
Selepas kru bertopi hitam itu pergi, Serena menatap sangsi pada Michelle. "Kamu yakin udah gapapa?"
"I'm totally fine, Bu," Michelle mengungkung tangan Serena. "Tepatnya setelah ngebahas tentang malaikat tadi." Matanya mengedip sebelah dengan jahil.
Serena terkekeh pelan. Ia mengangguk setelah Michelle meminta izin melanjutkan pemotretan. Mengatakan "nanti saya nyusul" sebagai pengalihan, karena tiba-tiba ruang hatinya meminta ia tetap tinggal di ruangan penuh kaca itu sendirian.
Yang kini tersisa hanya dirinya dan rasa sakit hati yang kembali menguap. Cahaya matanya meredup, dan ia seolah tak bertenaga untuk tersenyum. Mengingat perkataan Michelle yang sebenarnya sangat ironi jika dilihat kenyataannya, Serena mengelus cincin berlian putih yang melingkari jarinya selama lima tahun belakang. Cincin indah yang menjadi saksi bahwa takdir Tuhan menuntunnya untuk terikat bersama seorang Antares Risjad. Lagi-lagi senyum pahit yang tercetus, seolah-olah tak membiarkan ia untuk mengkhianati hatinya yang penuh kepahitan.
"Kalau dia merasa beruntung memiliki aku, dia gak akan membagi hatinya."
• • • • •
Di depan studio tempat pemotretannya berada, Michelle tengah duduk bosan di bangku yang disediakan. Tangan kanannya menumpu dagu, dan ekor matanya beberapa kali melirik jam.
"Lama banget sih Ares. Gak tau apa bosen banget nunggunya." Gerutu Michelle
Ia menghembuskan napas lelah dengan bibir cemberut. Tangannya merogoh tas jinjingnya dan mengeluarkan kamera pemberian Ares. "Mending moto dulu, deh. Daripada gabut."
Gedung satu lantai dengan corak hitam putih itu ia jelajahi dengan mata telanjang. Lalu minatnya berhenti pada jalan raya yang padat merayap di depan studio ini. Kameranya mengarah kesana, dan satu foto langsung keluar dengan perlahan. Michelle tersenyum lebar karena sangat puas akan hasilnya. Lalu ia memoto lagi lalu lalang orang.
"Ternyata kamu suka moto juga." Suara familiar itu membuat Michelle memutar kepalanya.
"Ibu." Sapanya tak menyangka.
__ADS_1
"Boleh saya ikut duduk?" Tanya Serena ramah.
"Oh silakan, Bu, silakan."
"Terima kasih." Senyumnya sambil menarik kursi di depan Michelle.
"Ibu kok belum pulang?"
"Kamu sendiri?"
"Saya lagi nunggu dijemput, Bu."
"Cieee. Pacar, ya?"
Michelle terkekeh pelan sembari menggeleng. "Temen, Bu."
"Sama, dong. Saya juga lagi nunggu temen."
"Cieee. Mau hangout ya, Bu?"
Tawa Serena tercetus, Michelle pun juga. "Ada janji lunch bareng dan dia minta ditungguin disini."
Michelle hanya mengangguk-angguk kepalanya.
"Kamera kamu lucu banget sih warnanya." Pandangan Serena jatuh pada kamera polaroid di tangan Michelle.
"Dipilihin sama yang ngasih kadonya, Bu."
"Oh itu kado? Berarti kamu abis ulang tahun, dong? Kapan?"
"Udah lama, Bu, ada kali tiga minggu lalu."
"Wah, pacar kamu ngerti banget kamu ya kayaknya." Goda Serena dengan mata mengerling.
"Aduh, Ibu," kekeh Michelle malu. "Temen kok, Bu."
"Abisnya saya gak percaya cewek secantik kamu belum punya pacar."
Michelle hanya terkekeh renyah sembari menggoyangkan bahunya.
"Kamu emang suka moto atau cuma iseng?"
"Saya emang seneng moto sih, Bu, dari kecil. Tapi gak tau deh gedenya malah jadi orang yang difotoin."
Serena terkekeh lagi. "Iya bener. Kok bisa gitu, ya?"
"Ibu suka moto juga?"
Bibir Serena mencabik seraya menggeleng. "Saya gak bisa. Kalo motoin anak saya aja gagal terus."
"Ibu udah punya anak?"
"Kenapa? Keliatan kayak masih dua puluhan ya umurnya?" Gurau Serena.
"Tujuh belas malah." Timpal Michelle yang membuat Serena tertawa.
"Anak saya emang rada susah kalo mau difoto. Percis kayak ayahnya yang suka gak pede di depan kamera. Mungkin karena mereka sama-sama cowok."
"Oh anak Ibu cowok? Pasti cakep kayak ibunya."
Serena tersenyum lebar. "Namanya Altan. Umurnya baru empat tahun."
"Kenapa?" Tanya Serena yang ikutan bingung.
Michelle hanya menggeleng dan tersenyum kaku. "Gak, Bu, gapapa. Rasa-rasanya saya pernah denger nama itu, eh ternyata baru inget kalo itu nama keponakan saya."
"Kamu nih aneh. Nama keponakan sendiri lupa."
Michelle hanya menyengir ketika matanya melihat mobil Ares mulai memasuki halaman studio. "Eh itu tem--
"Maaf." Tahu-tahu ponsel Serena berbunyi. Wanita itu seketika mengangkat panggilan teleponnya, namun sepertinya tidak mendapat suara yang jelas. "Hallo, Han? Hah? Apa? Gak jelas loe ngomong apa? Gimana-gimana?"
Serena menurunkan ponselnya dan menatap Michelle untuk pamit mengangkat telepon. "Sebentar ya, Michelle. Disini sinyalnya gak bagus."
"Silakan, Bu."
Serena berjalan agak jauh dari Michelle untuk mendapat sinyal. Bersamaan dengan itu, pria tampan berkacamata hitam turun dari sebuah range rover.
"Maaf ya, Sweetheart, pasti lama nunggunya." Ares mengecup sekilas pipi Michelle.
"Kamu dari mana aja, sih?" Rengeknya manja.
"Tadi macet. Maaf ya sekali lagi. Yuk jalan. Kita cari makan," Ares sudah menggaet pinggang Michelle, namun Michelle menahannya. "Kenapa?"
"Tunggu dulu, aku belum pamit sama bosku."
"Bos?" Dahi Ares mengerut.
"Itu." Tunjuknya pada Serena yang masih menelepon.
Tubuh Ares memutar mengikuti telunjuk Michelle. Disana ia melihat wanita berpakain kantor warna merah tengah menelepon dengan membelakangi arahnya berdiri sekarang.
"Udahlah. Gapapa Kali kita pergi gak pamit. Lagian bos kamu lagi sibuk nelepon. Gak enak kan kalo kamu ganggu?"
"Iya, sih. Tapi--
"Dia pasti ngerti, kok. Udah yuk? Aku laper banget, nih. Sengaja pengin lunch bareng kamu."
Dengan berat hati Michelle mengangguk. "Ya udah, deh. Yuk."
• • • • •
Anyelir menyimpan sendok dan garpunya di atas piring berisi salad sayur pesanannya. Wanita itu meraih tisu, dan mengelap bagian bibirnya sekilas.
"Udah selesai makannya?"
Anye mengangguk. "Kenyang."
"Makan baru sedikit juga. Mana yang gitu doang. Yakin gak mau pesen dessert juga?"
"Nope. I'm full, Antares," Anye menepuk perut ratanya. "Mau disimpen dimana makanannya?"
"Di punuk kan bisa."
"Nyebelin. Emang aku unta?" Protes Anye.
Ares terkekeh sembari melanjutkan acara mengunyah chicken katsunya. "Aku juga bentar lagi beres. Mau langsung pulang?"
__ADS_1
"Ya udah lanjutin aja makannya. Aku juga pengin ke toilet dulu."
"Mau aku anter?"
"Gak usah, makasih. Kalo nyasar kan ada google maps." Sindirnya jutek.
Ares terkekeh lagi dan Anye bangkit dari duduknya. Baru maju satu langkah, Ares sudah mencekalnya.
"Jangan lama-lama."
Kening Anye berkerut. "Kenapa?"
"Entar aku kangen."
Anye memutar bola matanya saat Ares mengerlingkan mata. Wanita itu langsung menyentil dahi Ares dan mengacak rambutnya yang memang berantakan. "Barusan itu ngapain ya, Mas? Pantun?"
Tawa Ares menyembur keras, dan Anye hanya mendengus geli.
Meninggalkan Ares dengan sisa tawanya, Anye melenggang menuju toilet wanita. Pintu hitam tinggi itu ia dorong ke dalam, lalu ia berdiri di depan cermin. Menghembuskan napas lega, namun matanya masih memancarkan aura resah.
Sebenarnya ada satu hal yang membuat ia tak nyaman. Ini perihal rasa sakitnya tadi. Haruskah ia menceritakan itu pada Ares? Atau justru diam saja? Ia sebenarnya paling tak bisa berbohong pada Ares, tapi sudah ia bisa menebak respon apa yang bakal ia terima setelah Ares mengetahui hal ini.
Ini membingungkan.
"Michelle."
Lamunan Anye buyar saat nama panggungnya disebut. Tanpa repot menoleh, sudah terlihat jelas pantulan orang yang memanggilnya tadi di cermin. Serena baru saja keluar dari toilet di belakangnya, dan ia langsung disuguhkan dengan keberadaan Michelle yang tak diduga.
Anye membalikkan badannya dengan pandangan tak kalah terkejut. Keduanya diam selama beberapa saat, sebelum akhirnya kompak terkekeh geli.
"Ya ampun. Jodoh banget kita." Sambut Serena ramah.
Michelle terkekeh kecil. "Iya banget, Bu. Saya gak nyangka Ibu disini juga."
"Iya. Abisnya temen-temen saya ganti tempat, udah keroncongan perutnya. Jadi nyari yang lebih deket."
Anye mengangguk-angguk paham.
"Eh kita lanjut sambil jalan aja kali, ya? Gak enak banget ngobrol di toilet."
"Iya baru sadar."
Tanpa canggung bos dan modelnya itu mengobrol ringan meninggalkan toilet. Keduanya beberapa kali melemparkan candaan, lalu tertawa kecil.
"Yah, sayang banget kita harus kepisah. Saya harus balik ke temen-temen saya."
"Oh gitu."
"Iya. Kayaknya mereka udah selesai juga tuh." Tunjuk Serena pada Cecil dan Hana yang sibuk membereskan barang bawaan mereka.
"Ya udah, Bu, silakan. Maaf ya, Bu, tadi pas di studio gak pamit soalnya buru-buru."
Serena tersenyum ramah. "Its okay, saya juga tadi sibuk telepon. Oh iya, kamu kesini sama siapa?"
"Sama temen."
"Yakin temen?" Serena menyenggol Anye jahil. "Pipinya merah gitu."
"Ah, Ibu bikin saya malu aja."
Tawa kecil Serena tercetus. "Becanda, Chelle. Temen kamu emangnya dimana?"
"Yang itu, Bu, kemeja hitam."
Mata Serena jatuh pada pria berkemeja hitam sesuai arahan Anye. Beberapa saat Serena sempat membidik punggung tegap pria yang membelakanginya itu--karena merasa kenal--tapi ia tak begitu fokus karena keadaan restoran yang cukup padat.
"Bu Serena." Panggil Anye.
"Eh? Iya. Kenapa, Chelle?" Kikuk Serena.
"Itu kayaknya temen Ibu manggil." Tunjuk Anye pada Hana yang terlihat melambai-lambai tangan.
Serena menoleh dan mengangguk pada Hana. Ia lalu berbalik lagi pada Michelle. "Saya duluan ya, Chelle. Nice to meet you."
"I'm too, Bu."
"Bye. Saya duluan." Serena melambaikan tangan sembari berjalan menjauh.
Anye tersenyum tipis dan melanjutkan langkah menuju mejanya. Dilihatnya Ares sudah selesai dan meja mereka sudah bersih.
"Kamu udah selesai?" Tanya Anye.
Ares mendongak dengan tatapan tak bisa dijelaskan. Ada kemarahan, kesal, dan aura dingin yang terasa. Anye sampai kebingungan saat Ares kelihatan tak seperti tadi.
"Res?"
Ares bangkit dari duduknya. Menyerahkan tas jinjing Anye beserta ponselnya ke tangan kanan gadis itu. "Aku mau kamu jelasin maksud dari pesan itu. Tapi gak disini." Tanpa aba-aba tangan kiri Anye dituntunnya keluar restoran.
Rasa takut menguasai diri Anye. Ia memejamkan matanya sejenak saat langkah kaki Ares terasa makin cepat. Diam-diam Anye mengumpat dalam hati. Kenapa dia bisa sebodoh itu meninggalkan ponselnya di meja?
Berbanding terbalik dengan Anye, Serena justru tengah menikmati waktu bersama temannya. Selesai membayar tagihan makan, mereka berjalan sambil mengobrol ringan. Rencananya mereka ingin lanjut menghabiskan waktu di salon.
"Tapi jangan lama-lama. Gue banyak kerjaan." Sahut Serena.
"Ah kerjaan mulu loe. Gue aja santai." Timpal Hana.
"Yeeee... gue beda, Han, lebih gede tanggung jawabnya."
"Iya iya. Tau deh yang bos mah beda." Ledek Hana jahil.
Cecil tersenyum geli. "Iya, Re, tenang aja. Bentar, kok. Nurutin ngidam gue aja bentar. Kangen banget nyalon di Jakarta. Loe juga--
Serena dan Hana kompak berhenti saat Cecil mendadak diam tak melanjutkan langkah. Keduanya terlihat panik, terlebih Hana.
"Cil, kenapa? Loe mules? Mau lahiran?" cerca Hana panik." Ih jangan ngelamun. Serius ini woy." Hana menjentik-jentik jarinya di depan Cecil yang tak mengedipkan mata.
"Cil, are you okay?" Tanya Serena.
"Itu." Telunjuk Cecil mengarah ke arah depan restoran dimana banyak mobil terparkir.
Serena dan Hana kontak mengikuti arah jari telunjuk itu. Dari dalam restoran yang berlapis kaca ini, dapat dilihat pemandangan tak mengenakan yang tersuguh, terutama bagi Serena.
Tiba-tiba mata Serena memanas. Wanita itu tak bisa menghalau ketir yang menjalar di hatinya. Melihat Ares baru saja menutupkan pintu mobil bagi seorang wanita yang entah siapa, tentu saja bukan hal yang ingin dilihat Serena saat ini.
"Sere." Panggil Hana lirih.
Serena tersenyum getir menahan tangis. "Kasian banget ya gue? Ngeliat perselingkuhan suami sendiri secara live gini."
__ADS_1
———————————————