
Senin pagi di hari pertama masuk kerja selepas tahun baru berjalan dengan lancar. Serena sengaja tadi bangun lebih awal untuk menyiapkan pakaian kerjanya dan juga Ares. Setelah itu, acara sarapan pun berlangsung cepat---takut-takut ibukota tak berbaik hati melancarkan jalanan. Untung saja sekolah Altan masih libur, jadi setidaknya keriwehan Serena tidak double. Dan kini, mereka sudah siap untuk berperang dengan setumpuk pekerjaan.
"Mau bareng?" Tanya Ares di depan mobil mereka masing-masing.
Serena menoleh. Tertegun. Sempat mengira apakah ia halusinasi atau salah dengar?
"Mau bareng gak?!" ulangnya lagi dengan ketus. Sudah tahu ia susah payah berusaha begini. Serena malah diam saja mengerutkan alisnya geli seakan mengejeknya. "Ya udah kalo gak mau."
"E eh. Tunggu, dong," Serena menahan tangan Ares. "Ambekan banget, deh. Kan aku masih kaget kamu tiba-tiba nawarin begini. Ada apa, sih? Tumben banget."
"G-gak ada," dalihnya menutupi rasa gugup. Mana mungkin ia bilang kalau ini adalah upaya ia PDKT lagi. Tengsin kali. "Ya pengin aja nawarin."
Walaupun agak tak percaya, tapi Serena tak berkomentar. Hanya diam saja sambil menahan senyumnya.
"Jadi gak?!"
"Apanya?"
"Bareng!"
"Oh?" Serena mengerjap, lalu tersenyum lagi. "Sebenernya sih pengin banget bareng kamu. Tapi hari ini aku ada meeting di luar. Jadi mesti bawa mobil biar cepet. Gapapa, kan? Besok aja deh besok. Ya?"
Ares mendelik. "Hm. Ya udah. Aku pergi."
Baru beberapa langkah membelakangi Serena, Ares merasa usahanya belum maksimal. Masih ada satu lagi yang harus ia lakukan. Tapi... ia ragu, lebih tepatnya gengsi. Haruskah ia melakukan ini? Haruskah?
Serena mengernyit saat Ares kembali menatapnya. Ada apa? Apa ada yang ketinggalan? Tapi kenapa Ares gugup sekali?
"Aneh gak kalo aku ngelakuin ini?"
"Apa?"
Cup. Ares mengecup pipi kiri Serena.
Tertegun sudah pasti Serena dibuatnya. Bahkan wanita itu tidak tahu apakah raganya masih bernyawa atau tidak? Terdengar berlebihan untuk sebuah ciuman. Tapi untuk sebuah pernikahan yang sudah diambang kehancuran dan Ares yang cueknya minta digeplak, ini adalah sebuah perkembangan yang bagus.
"Hati-hati. Kabarin aku kalo udah sampe."
Damn! Ingin pingsan saja Serena sekarang. Keterkejutannya akan ciuman saja belum usai, ini kenapa Ares lagi-lagi bersikap tidak biasa? Dan lagi, bisa-bisanya wajahnya itu tetap datar, melengos begitu saja ke dalam mobil seolah tindakannya tadi tidak mengacak-acak hati orang lain.
...• • • • •...
Setelah seorang dokter perempuan memasukkan kembali stetoskopnya ke dalam kantung jasnya, Serena bangkit dari bangsal rumah sakit dan mengikuti langkah dokter itu untuk duduk mendengarkan penjelasan beliau.
Ya, sore ini Serena memutuskan untuk periksa ke dokter. Ia sudah bilang kan kemarin? Sampai pagi ini ia merasa badannya tetap tidak enak. Itulah sebabnya ia merasa harus memeriksakannya.
"Gimana, Dok? Sebenarnya saya sakit apa, ya?"
"Ok, di sini ditulis Ibu ngerasa badannya sering lemes dan agak meriang," dokter berkisar empat puluh tahunan yang menggelung rambutnya itu membaca laporan yang tadi Serena isi di pendaftaran. "Kalo pusing dan mual ada, Bu?"
"Pusing ada. Tapi mual... enggak kayaknya."
"Maaf sebelumnya, apa Ibu sudah mempunyai anak?"
Serena mengerutkan kening, namun tetap mengangguk juga. "Y-ya. Sudah, Dok."
Dokter itu tersenyum tenang. Sangat tenang. Penuh arti. "Kalau begitu tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ibu hamil memang sering tak menyadari perubahan ini di kehamilan keduanya. Apalagi baru di minggu ke lima."
Deg.
Tak ubahnya seperti terkena sihir, Serena diam mematung. Mulutnya terbuka sedikit, dan telinganya seakan di susupi lengkingan panjang.
Apa? Apa maksud dokter ini?
"Selamat. Anda hamil."
...• • • • •...
Dua test pack berada dalam genggaman Serena. Keduanya sama-sama menunjukkan dua garis.
Tanpa aba-aba, air mata menggunuk di pelupuknya. Dibarengi dengan senyum haru yang tak luput dari bibirnya.
Positif? Positif?!
Ya Tuhan.
Serena mengusap perutnya hati-hati. Sedikit masih tak menyangka. Ini... ini terlalu tiba-tiba. Tak terduga sama sekali.
Bergegas, Serena menjangkau ponselnya di atas nakas. Duduk di sisi ranjang dengan perasaan semangat yang tak bisa dijelaskan.
Ares. Satu nama yang berputar di otaknya. Nama yang ia tekan di telepon pintarnya dan akan ia hubungi.
Bukankah ini kabar yang sangat-sangat menyenangkan? Terutama bagi Ares? Pria itu ngotot sekali dulu ingin punya anak lagi. Pasti dia akan lebih bahagia dari yang Serena rasakan sekarang.
__ADS_1
Lima detik, sepuluh detik, sambungan telepon hanya berdering. Di kesempatan kedua, masih juga tak ada sahutan. Dan yang ke tiga, ponsel Ares berubah mode jadi tak aktif.
Sudahlah. Mungkin Ares sedang sibuk. Serena menyerah saja. Takut kalau mengganggu. Lagipula ini sudah jam 6 sore. Sebentar lagi Ares akan pulang.
Lebih baik sekarang ia masak makan malam istimewa untuk menyampaikan kabar istimewa ini juga.
...• • • • •...
Pukul 7 malam Ares keluar dari ruang rapat dengan wajah letih. Ternyata libur panjang tahun baru membuat pekerjaannya benar-benar menumpuk. Rasanya ia ingin segera pulang dan langsung istirahat.
Bila ingat rumah, ia jadi ingat Serena. Sambil berjalan menuju ruangannya, ia mengambil ponselnya dalam saku. Tadi Serena sempat meneleponnya saat meeting. Ares terpaksa tak menjawab panggilan itu dan mematikan ponsel demi kesopanan. Sekarang ia akan coba menghubungi balik.
"Pak Ares?"
Baru saja akan mengaktifkan ponsel, Ares sudah dikejutkan dengan kemunculan sang sekretaris yang kelihatannya baru keluar dari ruangannya dengan wajah agak cemas.
"Kenapa?"
"Di dalam ada tamu untuk Bapak. Tapi tamu itu meminta menunggu di ruang pribadi Bapak. Saya sudah coba kasih penjelasan, tapi dia ngotot ingin tetap di dalam."
Tamu? Siapa? Ares tak merasa ada janji temu.
Setelah mengizinkan sekretarisnya pergi, Ares berjalan ke dalam ruangan sambil menebak-nebak siapa tamunya. Siapa yang bisa dengan lancang meminta menunggu di ruang pribadinya---kamar tempatnya istirahat?!
Ares menggoyang gagang pintu kamarnya, lalu sosok seorang perempuan yang membelakanginya menyambut indera pengelihatannya.
Tunggu. Ares seakan mengenal postur tubuh itu. Ia bahkan tahu walau hanya melihat punggungnya saja.
"Anye." Suara Ares berbisik, namun itu mampu membuat seseorang di depan sana menolehkan kepalanya.
Ya Tuhan.
Dunia Ares berhenti detik itu juga.
Itu benar-benar Anyelir. Itu Anye yang selama ini Ares cari dan rindukan. Mulutnya sampai kaku tak bisa tertutup ataupun bersuara. Ares terlalu tak percaya apa sedang ia lihat. Ini tak terduga.
Anye menarik kedua sudut bibirnya menciptakan senyum getir. Belum apa-apa matanya sudah berair. Keharuan kian memenuhi hatinya saat Ares berlari ke dalam pelukannya dengan begitu erat.
"Anye. Anyelir." Terdengar sekali betapa nelangsa suara Ares saat ini. Dengan mata terpejam jari tangannya terus meremas punggung Anye seolah tak ingin dan tak akan lagi melepaskannya.
Lirih suaranya sampai mampu menciptakan benjolan isak pada tenggorokan Anye yang sulit untuk ditelan. Anye tak kuasa menyembunyikan riak matanya yang memerah karena tangis. Ia meremas sama kuatnya seolah memegang punggung Ares adalah kekuatan terakhirnya untuk bisa berdiri tegak.
Mereka merasakan ketakutan yang sama. Rasa takut kehilangan itu seolah menggerogoti tiap-tiap rongga dada. Kerinduan yang lama tak bertepi kini saling menyapa dalam pelukan hangat.
"Ya," Anye mengangguk-angguk dengan haru. "Ini aku, Antares. Anyelir. Anyelir yang jago bikin mie instan pake rawit."
"K-kamu apa kabar, hm? Baik, kan?" Ares dengan cemas meneliti badan Anye. "Badan kamu kenapa kurusan? Kamu kenapa? Bilang ke aku. Kamu sakit? Ada yang sakit? Kamu---
"Sssst," kini giliran Anye yang menangkup pipi Ares. Menenangkan pria yang paling ia rindukan ini. "Im fine. Im totally fine."
"T-terus... ini... ini kenapa kamu kurus banget, Nye? Kenapa?"
"Sini," dituntunnya Ares duduk di sisi ranjang. Diusap-usap rahangnya yang mengeras cemas. "Relax okay? Aku gapapa, kok. Ini kurusan karena... ya... kurusan aja. Gak ada hal lain."
"Bener?"
"Iya," senyumnya tipis. "Terus... karena, tekanan batin ngangenin kamu." Ia terkikik kecil.
"Kalo kangen kenapa gak pulang, hm?!" semburnya cemas. "Kenapa lama banget ninggalin akunya? Selama ini kamu kemana? Tinggal dimana? Sama siapa? Hidup kamu gimana?"
"Nanyanya satu-satu kali," ibu jarinya bergerak di pipi Ares. "Orang selama ini aku cuma nengok Mbah ke Jogja. Terus hidup aku juga terjamin dan bahagia di sana."
"Jogja? Jadi... kamu ke Jogja?" Anye mengangguk-angguk dan Ares melenguh frustasi. "Astaga! Kenapa aku gak kepikiran, ya? Aku malah mikir kamu ke Singapore nemuin Opa."
"Kejauhan sih mikirnya. Gegayaan pake luar negeri segala."
"Ah terserah," Ares berdecak dan menggeleng. "Aku gak mau mikirin itu lagi. Pokoknya kamu jangan pernah kayak gini lagi ok? Jangan pernah ninggalin aku lagi. Kamu tau gak aku hampir gila mikirin kamu?! Aku mau bilang apa sama Mama Papa aku dan orang tua kamu di surga? Aku udah janji bakal jagain kamu terus sama mereka. Kalo kamu kenapa-napa, bisa-bisa nanti aku dibilang Kakak yang gak bisa jagain adiknya."
Perlahan, senyum Anye luntur dari bibirnya. Kakak adik. Ia benci dengan kata itu. Ia benci Ares masih memakai kata itu untuk status hubungan mereka. Apa titel itu akan selamanya melekat antara ia dan Ares? Apakah tak bisa sebentar saja Ares menganggapnya lebih dari itu?
"Ya udah, Res. Kamu duduk di sini bentar. Aku ambilin kamu dulu minum di meja kerja kamu. Kamu keliatannya capek dan cemas banget. Ya?"
Ares hanya mengangguk kecil.
Lalu setelah itu, Anye keluar dari kamar Ares, memasuki ruang kerja pria itu. Ia melihat ada segelas air putih di meja kerja---di samping laptop.
Anye terpekur sebentar. Menatap nanar pada air di bawah pandangannya. Ia sudah bertekad melakukan ini. Ia tidak boleh mundur.
Dirogohnya sesuatu dari tas kecilnya. Sebuah bubuk obat yang sudah ia persiapkan dari awal. Ia membuka zipper obat itu, lalu menaburnya ke dalam air. Menunggu hingga larut, sampai menyatu dan tak terlihat.
Ia melenguh pelan sambil berbisik dalam hati; "Kalo selamanya kamu hanya nganggap aku adik kamu. Maka untuk malem ini, aku akan buat kamu mandang aku lebih dari itu, Res."
...• • • • •...
__ADS_1
Jam terus berjalan. Waktu terus berganti. Entah berapa lama Serena sudah mundar-mandir di ruang tengah. Makan malam sudah berlalu, dan ia sengaja tak makan duluan agar bisa makan bersama Ares. Ia tetap ingin memberi tahu berita bahagia ini bersama Ares sambil makan malam. Ia tak sabar ingin memberi tahunya. Tak sabar melihat seberapa kaget wajahnya nanti. Apakah Ares akan bahagia? Apa dia akan tersenyum lebar seperti dirinya saat ini? Haha. Pasti menyenangkan sekali.
Serena menengok jam. Sudah jam 8. Ares belum juga pulang. Ia mengutak-atik ponselnya. Pesan yang ia kirim dari tadi masih ceklis satu. Teleponnya dari tadi juga tidak aktif terus. Apa mungkin dia masih ada kerjaan? Atau lebih parahnya lembur?
Dengan ragu, Serena duduk di sofa. Melirik-lirik pintu masuk, dan menajamkan telinga menanti suara mobil Ares.
...• • • • •...
"Res, kamu selama gak ada aku baik-baik aja, kan?" Kepala Anye bersandar di bahu Ares, mengusap-usap lengan kokohnya. Mereka duduk berdua di pinggir ranjang, menatap pemandangan Jakarta di malam hari.
"Hm." Jawab Ares lesu.
Anye yang menyadari keanehan dari suara Ares, langsung mendongak melepas dekapan. Memperhatikan wajah Ares yang sayu dan matanya memerah.
"Kamu kenapa, Res?"
Entah kenapa dari beberapa menit lalu Ares merasa kepalanya sedikit pusing. Ia juga kurang mendengarkan apa yang Anye ucapkan. Tak tahu apa saja yang wanita itu ceritakan. Kalau boleh jujur, ia mengantuk.
"Gak tau. Aku pusing." Ia meremas rambut belakangnya.
"Pusing? Kamu sakit? Coba baringan dulu bentar. Naik, Res. Tiduran. Ayo."
Tanpa rasa curiga, Ares menurut mengangsurkan tubuhnya naik ke atas ranjang. Membaringkan tubuh lemasnya di atas empuknya kasur.
"Kamu pusing, hm?" Anye menyugar rambut Ares dengan sayang.
Ares sudah benar-benar tak kuat membuka seluruh matanya. Ia mengantuk berat.
"Res? Ares?" Telapak tangan Anye melambai-lambai. Memastikan apakah Ares masih sadar atau sudah mulai terpengaruh. Tapi, sepertinya obat tidur itu sudah bekerja. Terbukti dari mata Ares yang terbuka dan tertutup dengan lemah.
Bagus!
Anye tersenyum tipis---tak sepenuhnya bahagia. Itu karena sebenarnya ia tak mau melakukan ini pada Ares. Ia tak tega memperdaya Ares begini. Tapi harus bagaimana lagi? Keadaan memaksanya bertindak begini. Lagipula ini hanya obat tidur. Ini tak akan melukai Ares sedikit pun.
Setelah itu, ia berbaring di dada Ares. Mengusap-usap dada bidang yang masih berbalut kemeja putih slim fit itu dengan lembut. Sungguh! Inilah yang sudah lama ia nantikan. Berada di dekat Ares tanpa embel-embel adik kakak.
"Res, kamu tau gak? Awalnya aku gak suka loh pindah ke Jakarta. Aku lebih suka Jogja. Tapi kata Papa Mama, di Jakarta ada anaknya temen deket mereka yang seumuran aku. Anak itu baik dan pintar. Dia akan jadi temen yang baik buat aku..."
"...namanya Antares," Anye tersenyum mengingat pertemuan pertama mereka saat kecil. "Bocah laki-laki yang selalu main bola di depan rumah aku. Rumah kita bersebrangan, tapi aku gak berani kenalan sama kamu. Kalo gak karena orang tua kita yang deket dan sering makan bareng, mungkin kita gak akan pernah kenalan..."
"...sejak hari itu, aku tau kalo yang dibilang Mama Papa aku itu bener. Kamu anak yang baik, Res. Tiap hari kamu ajak aku main bareng. Kamu bawa aku main sama temen-temen kamu dan selalu bela aku dari anak-anak yang suka gangguin aku. Mama Papa juga bener soal kamu anak yang pintar. Kamu selalu ajarin semua pelajaran yang gak aku ngerti. Selalu mau diminta Mama Papa aku untuk ngerjain PR bareng..."
"...aku kagum banget sama kamu, Res. Di umur 10 tahun kamu udah jago bahasa inggris dan bisa bela diri. Itu adalah sesuatu yang bikin aku ngeliat kamu berbeda dari anak-anak yang lainnya..."
"...tanpa aku sadari, kekaguman itu berubah arti setelah kita tumbuh dewasa. Aku gak lagi melihat kamu sebagai teman, kakak, atau yang lainnya. Aku melihat kamu lebih. Terlebih, saat aku terpuruk setelah... Papa dan Mama... meninggal karena kecelakaan itu. Cuma kamu orang yang selalu ada buat aku. Cuma kamu yang bikin aku bangkit dan tersenyum lagi..."
"...kamu ingat di hari kamu mau lomba teater? Saat itu sebenarnya aku mau terus terang tentang perasaan ini. Seandainya... kamu gak tiba-tiba bilang kalo kamu naksir seorang cewek..."
Pandangan Anye berubah sedih. Meratapi betapa hancurnya ia saat itu.
"...marah banget rasanya aku saat itu. Apalagi setelah kamu mulai sibuk mencari tau siapa cewek itu dan lebih sering ngobrol sama Dito untuk saling kasih info. Aku ngerasa kamu jauh banget, Res. Jauh banget..."
"...di masa-masa akhir sekolah, Opa datang nemuin aku dan meminta aku ikut dia ke Singapore. Kamu tau betapa aku membenci Opa karena kematian Mama Papa, tapi saat itu aku malah iyain ajakan dia, kan?"
Anye menyunggingkan senyum sumbang mengejek dirinya sendiri.
"...itu bohong, Res. Itu bohong. Yang sebenernya aku bukan mengiyakan ajakan Opa, tapi aku cuma mau kabur dari kamu. Kabur dari perasaan sepihak ini. Di Singapore aku gak mau tinggal sama Opa. Aku hidup sendiri. Bertahan hidup sendiri. Mulai dari pelayan kafe sampe SPG aku jabanin untuk biaya makan dan kuliah..."
"...entah harus bersyukur atau apa, tapi karena sibuk kerja aku jadi jarang nerima telepon kamu yang seringnya curhat tentang cewek yang kamu taksir itu---dan sampai saat itu aku gak tau siapa dia---daripada nanyain kabar aku..."
"...aku sedih banget, Res. Kesel karena tetep gak bisa lupain kamu sejauh dan sesibuk apapun aku. Sementara kamu, walaupun di Inggris, kamu tetep suka sama cewek itu. Setiap hari rasa suka kamu ke dia tambah besar. Dan bahkan terlalu besar sampai kamu rela menikahi dia yang ditinggalin calon suaminya beberapa hari sebelum pernikahan..."
"...sumpah. Di hari kamu menikah, aku memilih gak datang walau sebenarnya bisa. Aku bilang kalo aku ada pelatihan model, padahal sebenernya aku hanya gak sudi ngeliat wajah wanita yang udah ngambil kamu dari sisi aku. Dari banyaknya foto pernikahan yang kamu kirim, gak satupun ada yang aku buka karena aku terlalu takut melihat kenyataan yang ada..."
"...kabar pernikahan kamu ngebuat aku bertekad untuk mulai menghapus semua rasa suka aku ke kamu. Lima tahun aku berusaha, merasa udah bisa lepas dari bayang-bayang kamu, tapi rupanya, semua itu sia-sia saat aku kembali ke Jakarta, memeluk kamu di bandara. Saat itu aku tau, bahwa pelukan kamu masih sama hebatnya buat jantung aku deg-degan..."
"...lalu semuanya berjalan gitu aja. Di Jakarta kita jadi kembali dekat kayak dulu. Kamu dan sakit hati kamu karena istri kamu, aku dan rasa cinta aku yang setia nemenin kamu..."
"...aku sempet berpikir bahwa yang aku lakuin sama kamu selama ini salah. Aku emang cinta kamu, tapi aku bukan perusak rumah tangga orang. Apalagi setelah aku tau istri kamu adalah Serena, aku makin dibuat gak karuan. Rasanya aku gak mau lagi ada di tengah-tengah rumah tangga kalian..."
"...dan lagi, Res. Sekali lagi aku kabur. Aku ke Jogja nemuin Mbah untuk nenangin diri. Berharap di sana bisa kembali lupain kamu, tapi lagi-lagi aku kalah sama hati aku. Di Jogja aku malah semakin kepikiran kamu. Gak ada satu hari pun yang aku lewatin tanpa ngangenin kamu..."
"...rasanya, aku nyerah. Aku nyerah coba lupain kamu. Udah cukup, Res. Aku emang gak bisa. Perasaan ini terlalu besar untuk diilangin..."
Merasa ceritanya sudah penghujung kata, Anye membawa tubuhnya sedikit beringsut. Merubah posisi jadi berada di atas Ares. Mengusap pipi pria itu hingga mata sayunya terbuka lagi sedikit.
"...itu sebabnya aku kembali, Res. Aku kembali buat kamu. Aku mau jujur sekali aja tentang perasaan aku buat kamu. Aku tau aku gak akan seberani itu ngomong di depan kamu, makanya aku gunain cara ini. Caranya memang licik, tapi aku gak tau lagi harus gimana..."
"...udah cukup selama 17 tahun ini kamu cuma nganggap aku temen. Udah cukup selama ini Serena memiliki seluruh cinta kamu. Untuk kali ini, biarin aku egois. Biarin aku milikin kamu. Aku mau ngerasain gimana jadi milik kamu untuk kali ini aja..."
"...sekarang. Malam ini. Aku akan jadi milik kamu, Res. Milik kamu seutuhnya. Kita akan jadi satu. Jadi satu..."
"...I love you, Res. I love you with my whole heart."
__ADS_1
Begitu saja, Anye menyatukan bibirnya dengan bibir Ares yang sudah terpejam. Jari-jari panjangnya membuka satu per satu kancing kemeja Ares dan siap menyerahkan harga dirinya atas nama cinta.