
Waktu menunjukkan pukul enam tiga puluh pagi saat Alphard putih milik keluarga Raharja terparkir di depan rumah Ares, lalu diikuti SUV hitam milik Henrialdi Risjad dan istrinya.
Seno Raharja turun lebih dulu setelah dibukakan pintu oleh sang supir. Lalu diikuti istrinya dan terakhir Serena.
Ya, Serena sudah keluar dari rumah sakit. Lebih tepatnya sedikit memaksa. Ia merasa tak perlu terlalu lama terbaring di sana karena luka yang ia alami tak terlalu parah walau perutnya memang masih agak ngilu.
Sebelum masuk, Serena menatap sebentar bangunan dua lantai yang sudah ia tinggali selama 5 tahun itu. Segera saja semua memori dalam pikirannya seakan parkir di depan mata. Suka-duka, tangis-tawa, benci-cinta, dendam dan amarah, perjuangannya, begitu banyak kenangan yang telah dibuat di sana. Dan mungkin, tak lama lagi rumah ini pun akan menjadi kenangan buatnya. Mengingat ia tak akan lagi tinggal di dalamnya setelah keputusan yang ia ambil ini.
Hampir saja Serena terbuai dalam kesedihan kalau saja bahunya tidak diremas oleh seseorang yang ternyata adalah ayahnya.
"Kamu baik-baik aja?"
Dari dalam mata Seno Raharja Serena menemukan kecemasan. Seakan beliau takut kalau puterinya ini akan kalah oleh kenangan dan merubah keputusannya.
Tapi, Serena tersenyum kecil. Ia sudah memantapkan hati. Sisi melankolisnya memang sempat tersentil karena nostalgia. Tapi itu tak berarti ia lemah. Ia tak akan merubah keputusannya.
"I'm okay, Pa,," lantas ia melirik mamanya dan juga kedua orang tua Ares. "Ayo kita masuk."
Sesampainya di dalam, orang pertama yang Serena lihat adalah Mbok Nunik yang sedang menyapu ruang tamu. Wanita paruh baya itu terlihat sedikit terkejut yang sepertinya mengarah pada kedatangan para orang tua. Segera beliau menyenderkan sapunya dan menghampiri tuan rumah.
"Selamat pagi, Tuan, Nyonya." Tubuhnya sedikit membungkuk.
"Selamat pagi, Mbok." Sahut Serena ramah.
"Tuan sama Nyonya besar mau dibuatkan minum apa?"
"Gak usah, Mbok," Serena mengusap pundak Mbok Nunik. "Kita cuma sebentar kok di sini. Cuma mau ketemu Altan. Altan nya ada dimana, ya?"
"Den Altan ada di halaman belakang, Nyonya. Lagi main sama kelinci."
Mengetahui itu, Serena tersenyum. Altan dan kelincinya memang tak bisa dipisahkan. Satu bulan lalu dia mengeluh karena tak ada teman bermain di rumah, sampai akhirnya Ares membelikan kelinci sebagai gantinya.
Haah, Ares. Kamu emang bukan suami yang baik buat aku. Tapi kamu ayah yang baik untuk Altan.
Serena menarik napas pelan mengenyahkan tentang Ares, lalu berniat menyusul Altan.
"Tunggu."
Mendadak, langkah Serena tertahan karena gemaan suara itu. Ia menengok ke arah tangga, dan menemukan Ares berdiri di sana dengan sudah berpakaian kerja lengkap.
Ketukan suara sepatu Ares menjadi pengisi keheningan ini. Wajah pria itu begitu tenang tanpa ekspresi. Berusaha sebaik mungkin menyembunyikan gejolak hatinya karena bertemu Serena kembali dan kaget akan kepulangannya. Ditambah lagi bersama kedua orang tua mereka.
"Ada apa kalian semua dateng ke rumah saya?" Memang sapaan yang tidak sopan untuk menyapa orang tua. Terlebih lagi diucapkan dengan dingin. Tapi, percayalah Ares sedang mengontrol detak jantungnya agar sedikit normal.
"Tenang aja," balas Serena tak kalah arogan menyadari Ares keberatan akan kehadiran orang tua mereka. "Aku bawa mereka ke sini bukan untuk ngebuat kamu cemas, kok. Aku cuma mau ketemu Altan. Dan mereka ikut karena abis menjemput aku pulang. Thats it."
"Kalo gitu buat apalagi mereka masih ada di sini? Kamu udah pulang dengan selamat, kan? Gak perlu lagi mereka kawal."
"Antares!" sentak sebuah suara yang ternyata Henrialdi Risjad---ayahnya sendiri. "Begitu cara kamu berbicara pada kami?! Dimana sopan santun kamu?!"
"Tenanglah, Pa," sambung ibunya Ares dengan dingin dan kilat mata marah pada sang putera. "Kita ke sini untuk menemui Altan, bukan meladeni orang seperti dia. Kalau tidak karena Altan, kita pun gak akan menginjakkan kaki di sini."
Yolita Risjad lalu mengalihkan pandang pada Serena. "Sere, segeralah temui Altan. Tuan rumah memberikan waktu yang terbatas buat kita. Kita harus cepat-cepat pergi dari sini."
Mengabaikan sindiran tajam ibu mertuanya yang pasti tertuju pada Ares, Serena mengangguk. Ia langsung meninggalkan ruang tamu menuju halaman belakang.
Tak sulit bagi Serena untuk menemukan Altan. Bocah itu tengah berjongkok di atas rumput taman memberi makan wortel pada kelinci putihnya. Serena segera melangkah menghampiri puteranya dengan perasaan menghangat. Sungguh, satu hari tak bertemu saja rasanya sangat rindu.
"Hap." Serena yang sudah ikut berjongkok, memeluk Altan dari belakang.
Bocah berusia 4 tahun itu menoleh ke belakang, dan langsung membalikkan badan dan berdiri saat mengetahui itu ibunya. "Mamiiiii."
"Hai, Sayang," Serena tersenyum lebar mengusap wajah Altan. "Do you miss me?"
Kepala Altan nengangguk-angguk cepat. "Mami dari mana aja? Kenapa kemarin Mami gak ada di rumah?"
Kilat mata Serena berubah haru mengingat hari kemarin begitu berat ia jalani. Bagaimana ini menjelaskan pada Altan bahwa ia gagal memberinya 'teman bermain' yang sesungguhnya?
"Maaf ya, Sayang, kemarin Mami ada urusan sebentar. Jadi Mami gak bisa pulang. Altan baik-baik kan di rumah?"
"Hm," jawabnya pendek, karena tangan mungilnya malah salah fokus memegang perban di kening ibunya. "Tapi, kening Mami kenapa diperban? Mami luka?"
Spontan Serena ikut menyentuh keningnya. "O-oh ini. Ini... cuma luka kecil. Mami gak sengaja kepentok di mobil. Sekarang udah gapapa, kok. Udah gak sakit lagi."
"Kalo udah gak sakit, Mami mau temenin Altan main kelinci? Tadi kelincinya udah Altan kasih makan. Jadi dia bisa kuat lari-lari."
Baru saja Serena akan membuka mulutnya, kehadiran Ares merusak segalanya. Sesaat, Serena bertatapan dengan pria itu. Berpikir apakah ini saat yang tepat untuk berbicara dengannya?
"Mami, ayo. Papi juga ikut ayo."
"Uhm... Sayang," jawab Serena kaku. "Gimana kalo main kelincinya nanti aja? Altan belum mandi, kan? Kalo Altan bau, nanti kelincinya gak mau deket-deket, loh. Lebih baik sekarang Altan mandi dulu. Setelah mandi dan wangi, baru deh kita main kelinci. Gimana?"
Mata bening bocah itu menatap ibu dan ayahnya bergantian. Lalu dengan polosnya ia mengangguk.
"Ya udah. Mandi yang wangi ya. Minta tolong temenin sama Mbok. Mami mau bicara sama Papi sebentar."
"Oke."
Sepeninggal Altan dari taman rumah, Serena bangkit berdiri dengan helaan napas kasar. Berdiri berhadapan dengan Ares, ia memasang muka sama dinginnya. Sama sekali tak terpengaruh dengan sikap intimidasi suaminya.
"Hari ini aku akan pergi dari rumah ini," kata Serena dengan tenang. Tapi ia menyadari Ares agak menegang. "Aku setuju kita bercerai."
Ketegangan di wajah Ares makin tak bisa dibiaskan. Pergi dari rumah? Bercerai? Ares tahu seharusnya ia tak perlu terkejut karena ini memang keinginannya. Tapi, mendengar ini langsung dari bibir Serena, hati Ares tersengat kencang. Sakit sekali. Ia benar-benar tak menduga ini dari Serena.
"Kamu urus aja semuanya, Res. Aku gak akan mempersulit kamu. Aku pastikan aku akan koperatif. Dan ya, selama proses cerai kita, Altan ikut aku."
Dari tegang, wajah Ares berubah mengetat. Ada penolakan dalam matanya untuk keputusan Serena itu. "Jangan harap kamu bisa ngelakuin itu. Aku gak akan pernah biarin Altan pergi dari sini ikut kamu. Gak akan pernah!"
"Aku ibunya. Aku juga berhak atas Altan."
"Aku gak pernah menyangkal fakta itu. Tapi kamu sendiri yang memutuskan pergi dari sini. Jadi tanggung resikonya."
__ADS_1
"Kamu lupa kamu yang minta cerai kemarin? Kamu pikir setelah itu dan semua yang terjadi, aku masih mau tinggal di sini?"
"Kalo gitu pergilah. Pergi sendiri. Jangan seret Altan dalam permasalahan kita."
"Aku bawa Altan pergi justru untuk menjauhkan dia dari permasalahan ini. Kalo Altan di sini, dia akan terus bertanya tentang keberadaan ibunya. Dia gak akan bisa tenang hidup sama kamu."
"Jangan sok kamu! Kamu pikir Altan gak bisa hidup tanpa kam--
"Ya! Gak bisa! Karena selama ini Altan lebih terbiasa tanpa kamu daripada tanpa aku! Akan lebih mudah menjelaskan kamu kemana daripada aku kemana. Dengan begitu Altan gak akan terus kepikiran dan masuk terlalu jauh dalam permasalahan kita. Paham?"
Bibir Ares mengatup rapat. Jawaban Serena membungkamnya. Ares memang tak tahu mesti jawab apa jika Altan bertanya tentang ibunya. Apalagi Altan begitu tak bisa jauh dari Serena. Dia pasti akan terus bertanya-tanya dan lambat laun menyadari ada yang tak beres dengan orang tuanya.
"Denger, Antares," volume suara Serena mengecil. "Semua orang pasti setuju kalo anak sekecil Altan masih sangat membutuhkan ibunya. Kamu gak bisa melarang aku untuk bawa dia. Udah cukup kemarin aku kehilangan anak aku. Aku gak akan biarin anak aku yang lainnya jauh dari aku juga."
Mulai merasa sesak karena teringat kejadian kemarin, Serena memilih melengos dari hadapan Ares. Sementara di sini, Ares mengerjapkan matanya pelan menyadari bahwa ini semua adalah salahnya. Inilah hasil yang harus ia terima. Rumah tangganya hancur. Ditinggalkan oleh anak sendiri.
...• • • • •...
Serena tengah mengemasi baju-baju Altan ke dalam koper saat tak sengaja tangannya menggoder bantal tidur milik puteranya sampai jatuh ke lantai. Ia memungut bantal itu dan mendadak menemukan kejanggalan saat merabanya. Bantal itu terasa lembab. Seperti habis basah semalaman. Serena mendongak ke atas, berpikir apakah AC kamar Altan bocor?
"Mami."
Panggilan dari Altan itu membuat Serena menoleh. Sang putera keluar dari kamar mandi bersama Mbok Nunik. Bocah dengan kimono biru muda itu menemui ibunya di pinggir ranjang dengan raut heran.
"Mami, kenapa baju-baju aku dimasukkin ke koper?"
Serena memasang senyum simpul sambil mencoba merangkai kata dalam otaknya. Ia simpan bantal dengan sejuta pertanyaan itu, lalu menggapai kedua pundak sang putera dan mengusap-usapanya pelan.
"Kita mau liburan, Sayang. Makanya Mami kemasin baju Altan."
"Liburan?"
"Hm."
"Kemana?"
"Ke tempat yang indah dan pasti Altan suka."
"Kapan?"
"Sekarang."
"Sekarang? Tapi kan aku udah mandi. Kata Mami, kalo aku udah mandi kita bakal main kelinci."
"Kita main kelinci di tempat liburan aja, ya? Di sana kita bisa main sepuasnya. Pasti lebih seru."
Belum lagi Altan menjawab, lagi-lagi Ares hadir di antara mereka. Kedatangan pria itu menarik perhatian Serena dan Altan. Terlebih Serena, ia melihat wajah Ares begitu lesu dan sedih. Aura dingin yang tadi dimiliki Ares, tak lagi Serena lihat sekarang. Serena tahu, ini pasti karena rencananya membawa Altan pergi dari sini.
Menyadari suasana mulai tak enak, Mbok Nunik melipir pergi melewati Ares di ambang pintu.
"Papi," Altan berlari menghampiri ayahnya dan berdiri di depannya. "Kata Mami kita mau liburan. Liburan kemana, Pi?"
Dengan lemah Ares menatap Serena. Tahu betul pasti ini alasannya untuk membawa Altan pergi.
Mengusir kesesakkan yang mulai hinggap di hati, Ares menarik napas pelan dan menumpukan lutut agar sejajar dengan Altan. Mula-mula ia memegang kedua pundak Altan, lalu karena tak tahan, ia membawa Altan ke dalam pelukannya.
Dibalik punggung Altan, Ares memejamkan mata. *******-***** kimono Altan tanpa peduli rasa basah merembas pada kemejanya. Tak ada yang sangat ingin Ares lakukan saat ini selain mendekap Altan dengan erat. Sebentar lagi tubuh kecil ini tak akan ia lihat lagi. Altannya akan pergi. Ares tak tahu kapan ia bisa berlama-lama seperti ini selain hari ini. Ares bahkan tak tahu kapan ia bisa lagi mendekap Altan seperti ini.
Karena merasa bingung, Altan memundurkan tubuhnya hingga wajah sedih sang ayah bisa ia lihat dengan jelas.
"Papi kenapa?"
Dengan mata yang sudah memanas, Ares hanya diam menanggapi pertanyaan Altan. Ia tak punya jawaban apa-apa. Tak mungkin menjelaskan bahwa ia sedang begitu sedih karena melepas kepergian Altan.
Beruntungnya, Serena datang menghampiri. Memegang pundak anaknya sampai Altan mendongak.
"Papi gak akan ikut kita liburan, Sayang."
Alisnya mengerut bingung. "Kenapa?"
Serena melempar pandang pada Ares sebentar, lalu kembali pada Altan. "Papi masih punya kerjaan di sini. Kerjaannya gak bisa ditinggal."
"Tapi gimana kita bisa liburan kalo Papi gak ikut? Aku gak mau pergi tanpa Papi."
"Ini hanya sementara kita liburan tanpa Papi. Kalo kerjaan Papi udah beres... nanti... Papi nyusul kita."
"Kalo gitu kita perginya nanti aja setelah kerjaan Papi selesai."
"Gak bisa, Sayang. Kita---
"Pokoknya aku gak mau pergi kalo gak sama Papi. Gak mau!"
Melihat keras kepala Altan, Ares merasa ia harus bertindak. Segera saja ia meraih tangan puteranya untuk memberinya pengertian. "Altan, apa yang dibilang Mami bener. Papi masih ada kerjaan di sini. Papi gak bisa ikut sekarang."
"Tapi aku gak mau pergi kalo gak sama Papi."
"Ini gak akan lama, Sayang. Cuma sebentar. Nanti Papi akan nyusul kalo udah gak ada kerjaan."
"Beneran? Janji, Pi?"
Ares hanya tersenyum kaku. Selama ini ia tak pernah mengingkari janjinya pada Altan. Mengetahui bahwa janji satu ini tak akan pernah ia tepati, Ares memilih tak mengiyakan. "Altan baik-baik ya di sana. Jangan nakal."
"Altan pasti bakal kangen sama Papi."
Walau dalam suasana hati yang begitu mendung, Ares memaksakan sebuah senyuman. Ia menangkup wajah puteranya, lalu mendaratkan kecupan lama di kening Altan. "Papi pasti juga bakal kangen sama Altan."
"Ayo," Serena meraih tangan Altan. "Ganti baju dulu, Sayang."
...• • • • •...
Angin kencang seolah berputar-putar di hadapan Ares saat ia menuntun tangan Altan keluar dari kamar. Rasa dingin yang menjalar di dada membuat hatinya membeku hingga pasokan udara tak bisa lewat. Waktu seakan ingin lebih menyiksanya dengan berputar lambat. Ia menggigil dengan getir.
__ADS_1
Satu tangan memegang koper Altan, satu tangan lain ia pakai untuk menggenggam sang putera. Sementara itu, di sebelah Altan ada Serena yang melakukan hal serupa. Setiap pijakan langkah yang ia ambil, Ares merasa dirinya mati berkali-kali. Rasanya berjalan di atas bara api lebih baik dari ini.
Dengan pandangan kosong Ares melangkahkan kakinya menuruni tangga. Dalam dua hari terakhir, ini adalah kali kedua Ares merasa dirinya begitu patah dan hancur. Yang pertama adalah saat mendengar keterangan dokter bahwa bayinya tidak selamat. Dan yang kedua adalah saat ini. Mengantarkan anak sendiri untuk meninggalkannya tak pernah ia bayangkan akan ia alami dalam kehidupannya. Sebelumnya tak pernah ia melewati hari seburuk ini.
Di depan pintu rumah yang terbuka lebar, Ares mendapati kedua orang tuanya dan orang tua Serena sudah berdiri di depan mobil mereka masing-masing. Seakan-akan, mereka sudah sangat siap membawa Altannya pergi jauh. Terlihat dari bagaimana cara Seno Raharja merampas koper Altan dari tangannya.
Itu hanya koper. Dan Ares sudah merasa seakan setengah hatinya baru saja dibawa pergi. Dan saat Altan melepaskan genggamannya, Ares merasa jiwa dan raganya benar-benar pergi. Lambaian tangan Altan dari dalam mobil adalah hal terakhir yang membuat Ares sadar ia masih hidup. Selebihnya tidak lagi. Ia mati saat itu juga.
Seluruh napasnya tertarik pergi beriringan dengan laju mobil yang mulai meninggalkan pekarangan.
Diam-diam, Ares berharap kalau semua ini hanya mimpi. Katakanlah lebih buruk lagi kalau ia hilang akal dan semua ini hanya halusinasi. Itu kedengaran lebih baik daripada mengetahui fakta bahwa semua ini nyata.
Ya. Fakta. Nyata.
Fakta nyata yang membuat tubuhnya merosot ke lantai. Pelupuk matanya yang sedari tadi memerah, akhirnya meluncurkan cairan bening yang mengandung duka teramat dalam. Bahu Ares bergetar seiring tangisnya makin tak terkendali.
Pemandangan ini sama percis seperti saat di rumah sakit. Sakitnya sama. Kehilangannya pun untuk hal yang sama.
Lagi. Lagi dan lagi Ares harus kehilangan orang yang ia sayangi.
...• • • • •...
Sudah sepuluh menit sejak kejadian itu berlalu, tapi tangis Ares belum juga berhenti. Ia tengah menunduk memukul-mukul dadanya yang terasa amat sesak. Ia marah, kesal, dan benci pada dirinya sendiri yang harus selemah ini. Tak bisakah ia berhenti menangis barang sedetik saja? Untuk apa ia menyesal sekarang? Untuk apa ia menangisi semua ini? Tuhan tidak akan mengembalikan Altan ataupun Serena dalam hidupnya lagi. Tuhan tidak akan mau mengabulkan doa pendosa seperti dirinya. Tidak akan pernah!
"Res?"
Perlahan Ares menaikkan kepalanya untuk melihat siapa pemilik suara itu. Sesaat setelah ia melihat siapa sosok itu, raut wajahnya berubah tajam dan marah. "Ngapain kamu ke sini?"
"Res, aku---
Ares mengusap kasar wajah basahnya dan bangkit berdiri. "Haruskah kamu ke sini di saat keadaan aku seperti ini, Anyelir? Haruskah?"
"Res, justru itu aku ke sini. Aku tau kamu lagi hancur banget. Tadi aku... aku liat sendiri gimana Serena membawa anak kalian pergi. Aku---
"Bagus. Bagus kalo kamu liat sendiri. Gimana menurut kamu? Apa menurut kamu aku belum cukup menderita? Aku belum cukup tersiksa? Itulah sebabnya kamu dateng ke sini untuk menambah kehancuran aku? Begitu?"
"Apa yang kamu bilang, Res? Aku gak mungkin mikir kayak gitu. Aku ke sini cuma mau nemenin kamu. Aku gak mau kamu berduka sendirian."
"Buat apa? Buat apa, hah? Rasa prihatin kamu terlambat. Udah sangat terlambat! Anak aku udah pergi. Dua-duanya pergi! Gak ada gunanya kamu nenangin rasa berduka aku. Aku sendiri udah mati! Mati!"
"Tolong jangan bilang yang enggak-enggak, Res. Kamu gak boleh ngomong kayak gitu."
"Kenapa? Kenapa gak boleh?! Memangnya kamu pikir aku masih bisa hidup setelah kehilangan semuanya?! Masih bisa?!"
"Tapi kamu masih punya aku, Res. Aku akan selalu ada buat kamu seperti kamu dulu selalu ada buat aku."
"Tapi aku gak butuh kamu, Anyelir! Gak butuh! Yang aku butuhin cuma keluarga aku dan anak-anak aku! Dan kamu gak bisa kasih semua itu ke aku! GAK BISA!"
Tangan Anye saling *******-***** di bawah sana karena kesal melihat Ares yang putus asa begini. Ia benci melihat Ares begini. "Kalo kamu tau hal itu gak mungkin lagi bisa kembali sama kamu, buat apa kamu begini? Buat apa kamu tangisi, Res? Buat apa?! Kamu marah sama aku karena mengira aku salah juga buat apa?! Serena ataupun anak kamu gak bisa balik lagi!"
"ANYELIR!" Tangan Ares sudah mengudara ingin melayangkan tamparan. Tapi untunglah dirinya masih cukup sadar untuk tidak menyakiti perempuan.
"Bukan aku yang seharusnya ditampar. Bukan aku. Kamu yang harusnya tampar diri kamu sendiri biar kamu sadar semua ini percuma. Amarah kamu, kebencian kamu, semua ini gak ada gunanya. Kamu udah sangat terlambat bersikap kayak gini..."
"...kamu gak adil hanya menuduh aku seolah kamu sendiri tanpa dosa. Padahal dari awal kamulah yang membawa aku ke dalam permasalahan rumah tangga kamu. Walau tanpa kehadiran aku pun, rumah tangga kamu udah lebih dulu rusak..."
"...kalo kamu bilang aku salah, fine aku salah. Aku salah karena hadir lagi dalam hidup kamu dan ngebuat Serena salah paham sampe dia kehilangan calon bayinya. Aku sangat-sangat bersalah karena malem itu aku masukin obat tidur ke dalam minuman kamu sampe kamu gak sadar dan kita tidur bareng."
Ares merasa bola matanya akan keluar dari tempatnya saat ini juga. Apa katanya? Apa dia bilang?
"Ya, Res. Aku. Aku orangnya. Aku yang udah rencanain itu. Aku yang udah jebak kamu malem itu!"
Rahang Ares mengetat. "Kamu---
"Tapi!" Anye mengacungkan telunjuknya. "Aku punya alesan ngelakuin itu. Aku punya alesan! Kamu tau alesannya apa? Tau? Aku ngelakuin itu semua karena aku suka sama kamu! AKU SUKA SAMA KAMU, ANTARES!"
Sebuah bom seakan dijatuhkan di atas kepala Ares dan meledak dengan sangat dahsyat sampai menimbulkan dentuman keras dalam pikiran Ares.
"Aku udah suka kamu dari lama. Dari kita sama-sama tumbuh dewasa dan bahkan sampai saat ini. Tapi, kamu gak pernah sekalipun ngeliat aku. Kamu selalu menganggap kita cuma adik kakak. Aku mau kamu sayangi, tapi rasa sayang yang kamu kasih ke aku cuma sebatas kasihan dan tanggung jawab..."
"...aku ngelakuin ini terpaksa. Terpaksa, Res. Aku cuma mau sekali aja memiliki kamu sebagai seorang pria. Bukan seorang adik sama kakaknya. Itu aja. Aku gak pernah sekalipun berniat buruk sama Serena terlebih sampe bikin kalian jadi kayak gini. Aku gak sejahat itu. Kamu gak selayaknya membenci aku kayak gini. Aku gak bisa kamu benci, Antares!"
Ares benar-benar kehabisan kata-kata untuk menanggapi Anyelir. Ia tak habis pikir bagaimana perempuan yang selama ini begitu ia percaya bisa melakukan hal serendah ini hanya karena cinta. Cinta dia bilang? Mana mungkin dia bisa mencintai Ares? Seharusnya dia tahu bahwa Ares tak mungkin akan membalas cinta perempuan yang ia anggap sebagai adiknya sendiri. Tidak mungkin.
Ares sungguh tak percaya ini.
"Kamu mungkin memang gak sejahat itu, Anyelir. Tapi kamu gak berpikir lebih dulu kalo yang kamu lakuin itu menghancurkan rumah tangga aku. Gak ada seorang istri yang terima suaminya tidur sama perempuan lain."
Anyelir membuka mulut siap menyangkal. Tapi segera saja Ares membuka telapak tangannya di depan wajah Anye.
"Cukup. Udah cukup semua ini. Aku udah capek ngebahas ini terus. Akan lebih baik kita gak usah ketemu dulu. Atau kalo bisa, gak usah ketemu seterusnya."
...• • • • •...
"Udah duduk nyaman, Sayang?"
Altan mengangguk mengiyakan. "Mami, kita liburannya jauh ya pake pesawat?"
"Enggak kok gak jauh. Kita naik pesawat biar lebih cepet aja nyampenya. Biar kita cepet liburan."
Bukannya membalas senyuman ibunya, Altan malah memandang jendela kecil di sebelahnya. Di luar sana, ia melihat lapangan yang begitu luas. Banyak orang-orang sedang menggeret koper mereka dengan beruntun. Ada juga beberapa anak kecil yang digendong ayah mereka dengan senyum bahagia. Altan membayangkan jika ia lah yang digendong oleh ayahnya dan tertawa bahagia seperti mereka. Pasti liburannya akan jauh lebih menyenangkan.
"Altan." Serena mengusap pundak Altan.
"Mami, aku mau kayak mereka," telunjuk Altan mengarah ke luar. "Mereka bisa pergi sama Papinya, kenapa aku gak bisa, Mi? Emangnya Papi mereka gak kerja kayak Papi?"
Mengerti kesedihan puteranya, Serena menghela napas pelan. "Sayang, tiap orang itu beda-beda. Papi Altan sama Papi mereka beda. Pekerjaan mereka juga beda. Mungkin aja kerjaan Papi mereka udah selesai. Jadi, Altan gak perlu sedih lagi."
Altan mengerucutkan bibirnya merajuk. "Pasti kalo sama Papi liburannya seru. Papi gak akan sedih lagi kayak semalem."
Di sebelahnya, Serena mengerutkan kening bingung. "Hm? Sedih?"
__ADS_1
Altan menatap ibunya. "Semalem waktu tidur, Papi nangis. Bantal aku basah kena air matanya Papi. Aku gak tau kenapa Papi sedih."
Ares menangis? Kenapa? Karena apa? Serena jadi ingat bantal Altan yang tadi ia curigai itu. Altan bilang Ares membuat bantalnya basah karena air matanya. Jadi Ares benar-benar menangis? Jadi bantal itu bukan lembab karena AC bocor melainkan air mata Ares? Tapi untuk apa Ares menangis sebanyak itu? Apa mungkin Ares menangisi dirinya? Atau Ares menangisi kepergian anak mereka? Atau mungkin... Ares menangisi perceraian itu?