
Cukup sehari Ares beristirahat karena sakit. Hari ini ia akan mulai lagi bekerja. Badannya sudah sangat membaik, dan ia tak betah jika berlama-lama tak mengerjakan apapun di rumah.
Seperti pagi ini, Ares sudah terlihat sarapan bersama Serena dan Altan. Menampilannya sangat segar dengan kemeja biru langit dan jas biru gelapnya. Rambutnya tersisir rapi dan wajahnya sudah cerah tak sepucat kemarin. Tampan. Sempurna.
Ares meletakkan alat makannya dan menoleh pada sang putra. "Tan, Papi pergi ke kantor dulu ya. Altan baik-baik di rumah."
"Papi udah selesai makannya?"
"Iya," jawabnya sembari bangkit berdiri. "Altan juga abisin ya sarapannya. Makan yang banyak juga."
"Iya, Pi."
"Ya udah Papi berangkat." Dikecupnya pipi dan kening Altan.
"Tunggu-tunggu." Cegah Serena.
Ares berhenti melangkah dan mendesah pelan. Serena menyusut sekilas bibirnya dan berdiri di depan Ares. Senyumnya tersungging manis.
"Ngapain senyum-senyum? Aku buru-buru. Gak ada waktu buat liat kamu cuma senyum-senyum doang."
"Galak banget, sih? Mau kemana coba buru-buru?"
"Kalo gak ada yang penting aku pergi."
"Iya iya. Sabar kenapa, sih? Ini baru mau ngomong."
"Cepetan. Apa?"
"Aku mau nebeng, dong. Boleh gak?"
Ares tersenyum tipis, lalu mukanya langsung galak lagi. "Gak boleh."
"Gitu banget sih sama istri sendiri? Mobil aku rusak, lagi di bengkel."
"Suruh siapa dirusakin?"
"Ya gak tau. Emangnya aku sengaja bikin mobil aku rusak?"
"Bukan urusan aku."
"Tapi nanti aku telat loh, Res, ke kantornya. Ya? Ya? Ya? Pliiiis mau ya?"
"Gak mau ah. Aku juga buru-buru."
"Ih masa gitu, sih?"
"Sekali gak mau tet---
"Tan, masa Papi gak mau anterin Mami ke kantor? Padahal kan mobil Mami lagi rusak." Adu Serena sengaja memanyunkan bibir yang membuat Ares membulatkan matanya.
"Kenapa?" Kening Altan mengerut lucu.
"Gak tau nih, Tan, Papi kamu."
"Heh! Jangan mancing-mancing ya kamu." Gumam Ares dengan mata memelototi Serena.
"Papi galak sama Mami?" Tanya Altan yang ternyata melihat gerak-gerik ayahnya.
Ares pun jadi salah tingkah. "Eng-enggak... ini...
"Iya, Tan, Papi galak sama Mami."
"Enggak, Sayang, jangan percaya. Mami kamu bohong. Papi gak galakin Mami, kok."
"Kalo gak galak anterin Mami, dong. Mami kan kasian gak ada yang nganterin, Pi."
Serena tersenyum samar mendapati kemenangannya. Dan saat Ares menoleh tajam ke arahnya, Serena menjulurkan lidahnya iseng.
"Papi mau kan anterin Mami?" Tanya bocah itu lagi.
Ares menghela napas kasar dan masih menatap Serena sama geramnya. "Aku tunggu di luar."
Saat Ares melengos keluar, hati Serena bersorak ramai. Senyumnya mengembang dengan sempurna. Akhirnya kesempatan yang sejak lama ia nanti datang juga.
Semoga cara ini akan semakin mendekatkan mereka berdua lagi.
...• • • • •...
"Kok tumben sih pake mobil ini?" Pertanyaan Serena ini lolos saat mereka baru setengah jalan.
"Terserah aku."
"Sengaja ya pasti milih mobil ini?"
Ares menoleh dengan kerutan dahinya.
Serena mengerlingkan matanya. "Iya sengaja. Mobil ini kan tinggi, jadi nanti pas turunnya kamu bisa gendong aku, kan?"
Ares berdecih lucu. "Gak ada kerjaan banget aku gendong kamu. Males banget. Kamu kan berat."
Bugh!
"Awsh! Kok mukul aku, sih?" Protes Ares yang merasa perih di lengan kirinya.
"Aku gak berat!"
"Cuma karena itu doang kamu pukul aku, hah?"
"Itu doang apa, sih? Cewek tuh gak boleh ya disinggung soal berat badan."
"Ya emangnya kenapa?! Lebay banget. Ada gitu hukum pidana yang ngelarang hal itu?"
"Ada. Hukuman tiga bulan gak dikasih jatah sama istri. Mau?"
"Ya cari aja di luar."
"Yang di luar gak sehat."
"Tapi yang di luar lebih liar."
Serena mengangkat kedua alisnya terkejut. Lama-lama kesabarannya habis. "Yang di luar gak seseksi aku ya, Res. Gak ada."
"Seksi apanya? Kurus gitu."
"Apa?! Kamu nih ngesel---
Tangan Serena yang sudah mengapung, ditangkap sigap oleh Ares. Pria itu mendengus sombong. "Apa? Mau pukul aku lagi?"
"Iya. Mau pukul suami kurang ajar kayak kamu." Katanya galak sambil berontak dari genggaman Ares.
"Kamu yang kurang ajar mukul-mukul suami."
"Kamu duluan yang ngatain aku!"
"Ngatain apalagi, sih? Dibilang berat salah, dibilang kurus salah lagi. Maunya apa, hah?"
"Maunya lepasin tangan aku. Sekarang. Kalo enggak aku loncat, nih."
Tanpa berpikir panjang, Ares melepaskan tangan Serena. "Ya loncat aja sana. Lagian kantor kamu udah di depan tuh. Jadi kalo kamu kenapa-napa, banyak karyawan kamu yang nolong. Aku gak perlu repot, deh."
"Kamu nyumpahin aku kenapa-napa?"
"Aku gak nyumpahin. Itu kan mau kamu buat loncat."
__ADS_1
"Ya tapi kan----
"Stop! Udah nyampe kantor kamu. Masuk sana."
"Gak mau. Pembicaraan kita belum selesai."
"Ya udah kalo gak mau turun. Aku jalan lagi aja ke kantor aku. Terus aku kunciin deh kamu dalem mobil."
"Tega bang---
"Satu.... Dua.... Tiga."
"Ya udah ya udah ya udah," sanggah Serena buru-buru. "Nyebelin banget sih jadi suami. Jahat tau gak kayak di tv-tv."
Bahu Ares hanya bergoyang acuh, dan itu membuat Serena makin mendidih.
"Udah sana turun."
"Ada satu syarat."
"Ribet banget deh mau turun aja."
"Ya biarin. Aku kan masih ngambek, jadi anggap aja syarat itu imbalannya."
"Apaan, sih? Gak jelas banget."
"Biarin. Pokoknya sebagai syarat biar aku gak marah lagi, hari ini aku mau kamu jadi ANJIS."
"Hah? Apaan tuh? Aku taunya anjay."
"Sembarangan ngomongnya. Gak boleh tau pake kata itu. Ditangkap polisi baru tau rasa."
Ares berdecak jengah. "Ya udah apaan cepet. Aku buru-buru."
"Anjis itu antar jemput istri. Sekarang kan kamu udah anter aku, jadi nanti kamu harus jemput aku juga."
"Dih! Apaan?! Ogah!"
"Oh gak mau? Ya udah nanti aku ngadu ke Altan kalo kamu jahatin aku."
"Bisanya ngadu doang ya kamu!"
Kini giliran Serena yang mengedikkan bahunya acuh. "Yes or no. Take it or leave it."
"Ya udah oke. Tapi aku gak bisa janji. Liat nanti."
"Pokoknya harus jemput aku lagi ya. Awas loh!"
"Hmmmm."
"Ya udah aku turun," Serena membuka sabuk pengamannya dan mendekat pada Ares, lalu tiba-tiba ia mengecup pipi suaminya itu. "Bye. Aku masuk dulu. Kamu yang semangat kerjanya."
Sesaat setelah Serena keluar dari mobilnya, Ares terdiam memegangi pipi kirinya. Entah setan dari mana, sudut bibirnya tertarik naik begitu saja.
...• • • • •...
Jam menunjukkan pukul empat tiga puluh saat Serena dan Hana berjalan di lobi kantor. Keduanya mengobrol santai di antara lalu lalang para karyawan yang juga akan meninggalkan kesibukan mereka.
"Loe kan gak bawa mobil, Re, terus loe pulang bareng siapa?"
"Ares."
Kening Hana langsung mengernyit heran. "Ares laki loe?"
"Emangnya ada berapa Ares dalam hidup gue?"
"Ya masa laki loe?"
"Gendheng! Bukan itu maksud gue. Emang Ares mau jemput loe?"
"Tadi pagi juga gue dianter dia, kok."
"Ini serius gak, sih?"
Serena menghentikan langkahnya dan mendesah pelan tepat di depan kantornya. Ia lalu menoleh pada Hana. "Emang keliatan becanda ya kalo istri dianter suami sendiri?"
"Ya enggak, tapi... emangnya loe sama Ares udah..." Hana meringis sambil menempelkan jarinya seperti orang yang tengah berciuman.
"Apaan?"
"Itu loh... baikan gitu maksud gue."
"Belum." Balasnya ringan.
"Terus?"
"Ya gak terus-terus, Han. Cuma gue mikir aja, kalo kita berdua terus-terusan begitu, kapan bisa baikannya? Kalo Ares emang gak mau memperbaiki, biar gue yang lakuin."
"Loe serius mau memperbaiki? Gak mau cere aja gitu?" Alis Hana terangkat satu.
"Gak ah. Udah terlanjur cinta." Gayanya santai mengibas rambut.
Hana mendelik seraya menoyor pipi Serena. "Bocah gendheng. Makan tuh cinta. Udah disakitin, dikasarin, diselingkuhin pula."
Serena mendesah pelan menggoyangkan bahunya. "Iya, sih. Tapi gak tau kenapa gue ngerasa semua itu cuma topeng aja, Han. Semua yang dia lakuin semata-mata buat ngelampiasin marahnya doang yang gak tau karena apa. Gue yakin Ares gak sejahat itu kok sama gue."
"Gak jahat tapi bikin loe nangis mulu." Gerutu Hana sebal.
Serena terkekeh pelan dan merangkul pundak Hana. "Ya udah kita liat aja nanti. Kalo emang di satu titik gue udah gak menemukan titik terang, gue pasti mundur kok tanpa loe suruh."
Tin tin tin.
Serena dan Hana mendongak kala sebuah Prado putih berhenti tepat di depan mereka. Saat si pengemudi menurunkan kaca mobilnya, Serena menyunggingkan senyum lebar.
"Jefri Nichol gue udah dateng tuh, Han. Mau titip salam gak?" Goda Serena mengerlingkan mata.
"Ogah! Gue udah gak ngefans lagi!"
"Yakin?"
Hana menatap tajam sosok Ares yang duduk dibalik kemudi dengan wajah dinginnya. Pria itu nampak tak melihatnya balik karena pandangannya hanya lurus ke depan. "Sialan laki loe, Re. Makin brengsek makin cakep aja."
"Makanya gue susah lepas," celetuk Serena iseng yang dibalas decihan sebal Hana. "Ya udah gue balik duluan deh sebelum loe naksir laki gue. Bye, Hana sayang." Pamit Serena setelah mengecup sekilas pipi Hana.
Serena terlihat begitu semangat menghampiri Ares. Bahkan sampai ia duduk di samping Ares pun senyum lebarnya tetap awet, walau yang disenyumi masih cuek-cuek saja.
"Baik banget deh suami aku mau jemput."
Ares menoleh sekilas dengan delikan mautnya.
"Makasih ya, Sayang. Makin sayang deh sama kamu." Serena mengelus pipi Ares yang akhirnya ditepis pria itu.
"Apaan, sih? Jijik tau gak manggil gitu?" Ketusnya.
"Aku gak pernah jijik kamu manggil aku 'sayang' waktu dulu. Lima tahun loh kamu manggil aku gitu."
"Ya itu beda!"
"Enggak, gak beda. Bedanya... dulu kamu selalu pake kata itu buat manggil aku, tapi sekarang sekali pun gak pernah. Huft! Aku jadi kangen, deh."
"Apa?"
"Kangen dipanggil sayang sama kamu. Ayo dong panggil aku gitu lagi. Sekaliiii aja."
__ADS_1
"Gak!"
Serena menarik-narik lengan Ares dengan tatapan merajuk. "Ayo, Sayang. Sekali aja, kok. Pliiiiiiis."
"Udah, deh," sekali lagi Ares menepis sentuhan Serena. "Ini jadinya mau dianterin pulang atau enggak? Kalo enggak, aku turunin disini."
Bibir Serena mengerucut sebal. "Galak!"
"Biarin."
Serena berpura-pura ngambek dengan tangan bersidekap di dada dan memanyunkan bibirnya. Ares yang melihat itu nampak tak peduli dan bersiap memasang sabuk pengamannya. Tapi belum lagi sabuk pengaman itu terpasang sempurna, Ares seakan teringat sesuatu.
Ia menoleh pada Serena dengan ragu. Ada gengsi untuk memulai pembicaraan. Oleh karenanya, Ares berdehem singkat. Dan itu berhasil membuat Serena menoleh padanya.
"Aku mau nanya." Katanya gengsi.
"Gak boleh!" Ketus Serena.
Kedua alis Ares terangkat. "Jadi aku gak boleh nanya sama kamu?! Oh ya udah kalo git----
"Boleh, deh." Serena menyengir memperlihatkan deretan gigi rapinya sembari menumpu dagu dengan tangannya yang ada di persneling.
"Bisa gak usah deket-deket gak mukanya?"
"Gak bisa."
"Munduran dikit sana."
"Gak mau."
"Mundur, Serena, atau mau aku----
"Mau." Sambutnya dengan mata berbinar.
Kening Ares mengernyit. "Apa?"
"Cium, kan? Ya mau, dong! Masa dicium suami sendiri gak mau?"
Ares mendesah pelan, lalu telunjuknya mendorong mundur kepala Serena yang membuat wanita itu terkekeh melihat kemurkaan Ares.
"Aku mau nanya. Serius. Bisa diem?"
"Iya iya bisa kok bisa. Ya udah mau nanya apa sih suamiku yang galak ini?"
Ares menelan ludahnya sebelum membuka suara. Sebenarnya ia agak ragu untuk menanyakan ini pada Serena. Ia agak sangsi menanyakan hal ini, apalagi Serena tipe orang yang tidak gampang dibodohi. Ia pasti akan curiga kalau Ares sampai memberikan alasan yang salah.
"Kok malah ngelamun? Ini gimana? Jadi nanya gak?"
"Uhm... g-gini... model kamu yang waktu itu nganterin Altan pulang... s-siapa ya namanya?"
Alis Serena langsung menyatu. "Michelle?"
"I-iya... dia. Uhm... dia... masih kerja di kantor kamu gak?"
"Oh, kalo dia udah gak kerja disini."
"Kenapa?"
"Gak tau sih alasan pastinya apa. Resignya juga mendadak."
"Kapan keluarnya?"
"Baru kemarin lusa kalo gak salah."
"Harinya barengan sama Anye yang ninggalin apartemen. Berarti di hari itu juga Anye resign dan pergi gitu aja."
"Kenapa emangnya? Kok nanyain dia?"
Ares tersentak dan langsung menggeleng kecil. "Gapapa."
Mata Serena memicing tak suka. "Kamu naksir dia, ya?!"
"Enggak."
"Bohong! Kamu naksir, kan? Ngaku!" Cerca Serena dengan muka marahnya.
"Apaan, sih? Ngaco! Kalo aku naksir dia beneran emangnya kamu mau?"
Serena mengerucutkan bibirnya seraya bersidekap dada. "Kamu nih kalo naksir cewek bisa gak sih yang cantiknya dibawah aku? Biar aku gak insecure. Ini malah naksir Michelle yang jelas-jelas cantiknya diatas aku."
"Apaan, sih? Gak ada yang naksir!"
"Itu buktinya nanya-nanyain dia. Buat apa coba?"
"Ya emangnya salah kalo cuma nanya?"
"Ya enggak."
"Ya udah."
"Ya tapi----
"Udah, deh. Ini kita mau pulang kan bukan mau ribut?"
"Iya."
"Ya udah. Sana pasang seat beltnya."
"Pasangin."
"Udah gak bisa berangkat sama pulang sendiri, sekarang gak bisa pasang seat belt sendiri."
"Kamu lupa aku lagi marah?"
"Ya terus."
"Ya bujuk. Disayang-sayang. Dimanjain."
"Gak mau."
"Ini pasangin seat beltnya iiiiih. Atau aku gak akan pake sama sekali?!"
"Ya udah terserah."
"Iiiiiih nyebelin banget, sih!"
"Orang itu mau kamu, kan?"
"Entar kalo aku kenapa-napa di jalan gimana? Entar kalo Altan gak ada ibunya mau?"
"Ya tinggal cari lagi."
"Ya udah nanti aku gentayangin kamu sama istri baru kamu. Setiap hari. Setiap hari pokoknya."
"Gak takut. Tinggal ke dukun."
"Ihhhhh, Ar----
Ares membekap mulut Serena dengan tampang jengahnya. Pria itu mendorong pelan tubuh Serena agar duduk dengan benar, lalu menarik sabuk pengamannya.
"Udah, kan?" Katanya santai.
Serena tersenyum lebar dan mengangguk-angguk polos bak bocah yang baru disodori lolipop.
__ADS_1