Haruskah Kita Bercerai?

Haruskah Kita Bercerai?
36


__ADS_3

"Selamat, Antares. Pencapaian yang sangat luar biasa bisa ngebuat istri sendiri terluka sampe berbaring lemah di rumah sakit."


"Loe adalah lelaki paling brengsek yang pernah gue tau. Gak ada seorang suami yang lebih brengsek dari loe."


"Jika gue hanya memberi dia kekecewaan, maka loe memberi dia penderitaan, pengkhianatan, dan juga luka yang gak berkesudahan dengan secara gak langsung membunuh calon anak kalian."


"Apa salah Serena sebenernya sama loe? Seberapa besar kesalahan itu hingga loe membalasnya separah ini?"


"Serena bilang dia mencintai suaminya. Dia mau tetep jaga perasaan loe."


"Saat itu gue tau, cinta Serena bukan lagi milik gue, tapi milik lelaki yang berusaha dia cintai selama lima tahun dan akhirnya dia berhasil melakukannya."


"Saat itu gue ingin meluruskan kalo loe salah paham, Serena dan gue gak pernah sedekat dulu lagi, kita pure temenan."


"Apa sih yang loe perbuat, Antares? Apa yang loe perbuat sama Anyelir sampe Serena bisa begini? Belum cukup loe balas dendam? Belum cukup semua penderitaan yang selama ini loe berikan? Harus juga ditambah ini? Harus dengan merenggut paksa janin itu? Bayi kalian?"


"Serena itu mencintai loe. Dia sangat mencintai loe. Kenapa loe gak bisa hargain rasa cinta itu sedikit aja? Kenapa loe gak pernah bersyukur atas cinta itu? Semua orang ingin ada di posisi loe. Semua lelaki ingin cinta istri mereka sama seperti cinta yang diberi Serena buat loe."


"Gue udah gak punya kata lagi untuk menggambarkan seberapa besar kemarahan gue sama loe, Antares. Kejahatan loe udah melebihi batas kemanusiaan."


"Sekali lagi selamat. Selamat untuk semua yang udah loe lakuin ke Serena."


Berdiri di depan kaca toilet rumah sakit, pelupuk mata Ares memerah karena menahan tangis. Tergambar jelas di bola matanya bahwa ia begitu mengutuk diri sendiri. Telinga dan otaknya tak pernah sepi dengan perkataan Reno yang terus saling bersahutan. Perkataan yang tak hanya mampu menyayat hati karena tajamnya, tapi juga menampar keras dirinya atas segala dosa yang telah ia lakukan pada Serena.


Selama ini Ares sudah begitu jahat. Ia membenci wanita yang walaupun belum bisa membalas cintanya, tapi selalu menjaga hatinya. Ia dibutakan rasa marah sehingga sikap dan perkataannya selalu menyakiti Serena. Ia juga menjadi monster atas nama luka pengkhianatan yang bahkan tak pernah Serena lakukan.


Reno benar. Ia memang brengsek. Tak ada pria yang lebih brengsek daripada dirinya. Suami mana yang menumpahkan semua penderitaan di bumi pada pundak istrinya seperti Ares? Ayah mana yang menjadi sebab musabab terbunuhnya anak sendiri?


Ia tak pantas untuk Serena. Sangat tak pantas. Serena tak seharusnya menjadi milik pria monster seperti dirinya. Serena tak seharusnya bersanding dengan pria brengsek seperti dirinya.


• • • • •


Dengan wajah dinginnya Ares berjalan menuju ruang rawat Serena. Sepanjang koridor banyak yang mencuri pandang ke arahnya karena ia terlihat seperti mayat berjalan yang tak punya semangat hidup. Kemejanya berantakan dan ada bekas bercak darah di beberapa sudut. Wajahnya layu dan bibirnya sedikit pucat.


Tepat saat Ares membuka pintu ruang rawat Serena, ia mendapati orang tuanya dan orang tua Serena sudah ada di dalam. Lengkap dengan seorang dokter yang terlihat sedang menjelaskan.


Kontan, semuanya menoleh saat Ares memasuki ruang rawat. Semua pasang mata itu memandangnya dengan beragam sorot. Ada cemas, menuntut penjelasan, berduka, dan juga iba. Ares pikir, mungkin dokter sudah memberi tahu mereka bahwa calon cucu mereka gugur sebelum bertumbuh.


Seolah tak berminat ikut bergabung dengan obrolan mereka, Ares memilih duduk di sofa. Mencoba bersikap acuh seolah tak terjadi apa-apa. Mulutnya terkunci rapat dan enggan mengangkat kepala. Berpura-pura tak menyadari ke empat orang tuanya beberapa kali melirik ke arahnya sambil mendengar penjelasan dokter.


"Ini akan sulit untuk pasien. Pasien sangat membutuhkan orang-orang terdekatnya untuk memberi dukungan."


Sayup-sayup Ares mendengar suara dokter itu sangat serius.


"Tidak ada ibu yang tidak sedih saat kehilangan janin yang sedang----


Tiba-tiba saja dokter itu berhenti bicara. Menyebabkan Ares keheranan karena kebetulan sekali suasana ikut hening sehening heningnya.


Perlahan ia menggerakan kepalanya ke arah brankar Serena di depan sana. Tak bohong, hatinya merasa luar biasa lega melihat Serena sudah membuka mata. Hanya saja, wajah pias Serena sedikit menegang seolah baru saja mendengar sesuatu yang buruk. Apa mungkin dia mendengar penjelasan dokter barusan?


"Serena, kamu sudah sadar, Sayang?" Ira Raharja---ibunya Serena---segera mengusap kepala puterinya dengan cemas dan haru.


"Ma, Mama tadi bicarain apa sama dokter?" walau lemah, tapi semua orang bisa mendengar nada suara Serena cemas. "Mama bicarain apa?"

__ADS_1


Ira Raharja menoleh pada Seno Raharja dengan bingung. Mendapat kebingungan yang sama di wajah semua orang, ia kembali menatap sang puteri. "Bukan apa-apa, Sayang. Kita hanya bicarain soal kesehatan kamu. Dan dokter bilang kalau---


"Tolong. Tolong jangan bohong, Ma. Jujur sama aku," lantas Serena menatap pada dokter itu. "Dokter, tolong ulang apa yang dokter katakan tadi. Saya pengin dengar."


Dokter dengan wajah menyesal itu diam. Mengerti betul guncangan berat yang dirasakan pasiennya.


"Dokter, tolong. Saya pengin dengar juga apa yang tadi dokter sampaikan. Saya pengin tahu."


Setelah menatap satu per satu semua orang, dokter itu menatap Serena dengan wajah yang berusaha tenang. Berharap ketenangannya bisa tersalurkan pada pasiennya walaupun itu mustahil.


"Begini, Ibu. Dengan sangat menyesal... saya harus mengatakan bahwa janin dalam kandungan ibu tidak bisa diselamatkan. Usia janin yang masih sangat muda tidak cukup kuat menerima benturan yang ibu alami. Kami sudah mengusahakan yang paling terbaik, tapi inilah hasil akhirnya. Dengan sepenuh hati, kami meminta maaf sedalam-dalamnya." 


Tut. Tut. Tut.


Hanya mesin monitor yang berani bersuara. Selebihnya, tak ada suara apa-apa. Jangankan bicara, semua orang bahkan tak membuka mulutnya sedikit pun.


Tanpa sadar, setitik air mata Serena jatuh dari pelupuk. Tangannya begitu saja mengelus perut yang kemarin malam ia elus dengan penuh bahagia dan suka cita. Sekarang, perut itu terasa begitu hampa. Disentuh pun tak menghadirkan gelenyar apa-apa selain sengatan dahsyat yang menyerang dadanya.


Serena menggigit bibir bawahnya dan bahunya kontan bergetar. Tangis itu pelan, tapi mampu membuat seluruh ruangan seakan diselimuti awan duka. Tak ada tangis yang lebih menyayat hati selain tangis seorang ibu untuk anaknya. Anak yang belum sempat ia lihat wajahnya, anak yang belum sempat ia dengar tangis pertamanya, anak yang belum sempat ia sentuh jari-jari mungilnya, dan anak yang bahkan belum sempat membuat perutnya membuncit.


Menyadari suasana makin mengharu biru, dokter itu pamit undur diri dengan helaan napas panjang. Menyisakan bulir-bulir duka dari semua pasang mata mulai luruh tak tertahankan.


"Serena.... Sayang..." Ira Raharja dengan pipi yang sudah basah mencoba menyeka air mata di wajah anaknya.


Alih-alih mendengarkan mamanya, ia malah menolehkan kepala. Tepat ke arah sofa yang diduduki Ares.


Dalam wajah itu Serena bisa melihat semua potongan kejadian tadi berputar-putar di kepala. Bagaimana ia datang ke kantor Ares dengan perasaan senang karena tak sabar menunjukkan tespack yang ia genggam. Bagaimana ia membuka pintu dan mendapati Ares sedang membisikkan kata-kata cinta pada seorang wanita dengan keadaan telanjang. Bagaimana ia berlari dan Ares terus mengejarnya. Bagaimana ia merasa sangat putus asa dan menyerah pada keadaan. Dan bagaimana ia bisa kehilangan calon anak yang dikandungnya.


Ares yang merasa sesak dalam dadanya, memalingkan muka dari tatapan Serena. Ia tak boleh terlihat lemah. Ia tak boleh terlihat peduli.


Serena memberanikan diri menatap sang mertua. Bukannya berhenti, tangisnya malah makin menjadi. Ia seolah tengah mengadu betapa parah luka yang ditorehkan oleh puteranya. Tapi, bagaimana menjelaskan semuanya? Selama ini ia begitu menyayangi beliau selayaknya ibu sendiri. Beliau pasti akan sangat terluka kalau mendengar ini.


"Serena, ada yang mau kamu katakan, Sayang? Bilang sama Mama. Bilang."


"Mama." Hanya itu yang mampu keluar dari mulut Serena.


"Ya, Sayang. Mama di sini. Ada apa? Apa yang mau kamu katakan? Bilang sama Mama, Sayang. Bilang."


"Mama... aku ngeliat Ares tidur sama perempuan lain, Ma." Katanya dengan bahu bergetar bersamaan air matanya yang terus mengalir deras.


Seketika suasana pun senyap tak bersuara. Menyisakan bunyi cairan infus yang jatuh menetesi kantungnya, serta isak tangis milik Serena.


Tensi menegangkan mulai terasa tatkala di antara beberapa pasang mata yang terlihat terluka, ada satu sosok yang menyorotkan kilat tajam sekaligus berkaca-kaca. Kedua tangannya yang mendekap tubuh sang menantu, tanpa sadar mulai bergetar.


"Apa benar itu, Ares?" Wanita berpotongan rambut pendek itu menatap tajam putranya yang nampak santai dan tak berekspresi.


Ares yang kala itu duduk di sofa ruang rawat inap, mengedikan bahu dengan gaya arogannya. "Aku rasa gak ada salahnya kan, Ma, aku have fun sama pacarku sendiri?"


"Brengsek!" sentak seorang pria gagah menjabel kerah kemeja Ares sampai Ares tertarik bangkit. "Jadi benar kamu berselingkuh dari putri saya, hah?!"


Ares mendesah napas pelan seraya memutar bola matanya.


"Jawab!" Bentak Seno Raharja.

__ADS_1


"Kalo iya memangnya kenapa?"


"Kenapa kamu bilang?! Jelas saya gak terima putri saya kamu sakiti, bodoh!"


"Putri Anda yang bodoh karena sengaja minta saya sakiti."


"Jaga mulut kamu!"


"Dia. Putri Anda yang sangat Anda sayangi itu, sudah lama tau kalo saya punya pacar lagi," jawab Ares dengan tatapan datar dan menantang. "Tapi apa? Dia menerimanya. Dia diam. Bukankan itu sebuah tindakan yang bodoh dan sengaja minta saya sakiti?"


"Jadi putri saya mengetahuinya?!"


Ares hanya menggoyang bahunya acuh.


"Serena," desis Seno tanpa mengalihkan pandang dari Ares. "Jadi kamu mengetahui perselingkuhan suami kamu ini dan kamu tidak memberi tahu Papa?"


"Aku gak bermaksud nyembunyiin semuanya, Pa. Aku cuma mau ngasih Ares kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya dan berubah. Tapi kenyataannya..." Serena tercekat suaranya sendiri karena tenggorokanya sakit menahan isak. "Kenyataannya Ares..."


"Kenyataannya suamimu yang brengsek ini gak berubah dan malah makin menggila bersama wanita selingkuhannya. Wanita murahan yang mau-maunya memiliki hubungan dengan pria beristri." Geram Seno dengan pandangan membunuh pada Ares.


Rahang Ares mengeras, tak terima label wanita murahan disematkan pada wanitanya. "Jangan katakan itu lagi. Saya gak suka wanita yang saya cintai dihina seperti itu."


"Benar-benar lelaki brengsek!" desis Seno bengis. "Dulu kamu yang meminta putri saya jadi istri kamu, dan sekarang bisa-bisanya kamu mengatakan cinta pada wanita lain?! Berani kamu mengkhianati putri saya?! Berani kamu menyakiti seorang Raharja, hah?!" Bentak Seno mengapungkan tangan ke udara. Ia berniat memukul Ares, namun ia berusaha sekuat tenaga menahan amarahnya.


"Dulu saya memang memintanya, tapi sekarang, Anda harus tau kalau saya sangat menyesal untuk itu."


Pekikan terkaget-kaget meriuhkan ruang serba putih itu, tatkala tubuh Ares terjerembab ke lantai setelah dihantam bogem kencang Seno Raharja.


"Dan yang perlu kamu tahu juga, jika ada kata yang lebih dari sekedar kata menyesal, maka itu adalah apa yang saya rasakan sama kamu saat ini!" telunjuk Seno mengacung tegas di depan wajah Ares. "Saya menyesal melepas putri saya untuk lelaki laknat seperti kamu!" Teriaknya telak.


Suasana menghening selama beberapa waktu. Tak ada yang berani memutus perang mata antara menantu dan mertua itu. Tidak ibu Serena, tidak pula kedua orang tua Ares yang hanya mampu diam karena anaknya memang bersalah.


Hingga akhirnya, Ares bangkit dengan gelora api dalam matanya yang terus berkobar. Sudut bibirnya berdarah, tapi ia seakan tak merasakan apapun. Hanya rahangnya yang semakin mengeras.


"Apa yang kamu lihat, hah?! Mau mukul saya balik?! Ayo pukul! Hadapi saya!" Tantang Seno dengan mata tak kalah menyalang.


"Saya gak suka memukul lawan yang gak sepadan."


"Kenapa?! Kamu takut sama saya?! Ayo lawan saya! Lawan saya sekarang juga!"


"Saya pasti akan melawan. Tapi tidak menggunakan cara Anda. Cara saya memang bukan menggunakan fisik, tapi saya pastikan sakitnya akan jauh lebih sakit dari luka yang saya dapat ini."


"Apa maksud kamu, hah?!"


"Maksud saya adalah, seseorang yang paling berharga buat Anda yang akan menerima sakitnya."


"Hey!" lagi-lagi Seno menarik kemeja putih Ares. "Jangan berani-berani kamu, Antares!"


Dan dengan tenang serta tetap menatap datar, Ares menepis perlahan cengkeraman mencekik itu. Tubuhnya lalu berubah haluan menatap sesosok wanita yang terduduk di atas brankar dengan perban kecil di dahi kirinya.


Ditatapnya wanita yang ia pilih jadi bagian dari hidupnya itu dengan mata yang membeku. Tak ada kehangatan, kelembutan, apalagi cinta. Semuanya kosong dan hampa.


Di bawah sana, tangan Ares meraih benda bulat yang melingkari jari manisnya. Benda yang tak pernah ia lepas selama lima tahun pernikahan itu, ia lemparkan dengan kasar hingga mengenai dada kiri Serena.

__ADS_1


"Kita cerai."


__ADS_2