
Hana menghembuskan napas kasar dengan pandangan turut prihatin melihat wajah Serena yang basah oleh air mata. Hidung memerah dan wajah lesu. Sudah tiga puluh menit sejak ia duduk disini, Serena tak mau bicara. Diam tak bersuara. Ditanya malah menangis, geleng-geleng kepala. Hana sampai tidak tahu harus berbuat apa lagi agar sahabatnya itu mau membagi kisahnya, atau setidaknya bicara ada apa.
"Re, mau gue buatin minum gak? Teh mau, ya?" Tanya Hana lembut.
Serena lagi-lagi menggeleng. Tangannya meremas tisu yang disodorkan Hana tadi, dan hidungnya makin memerah.
"Sere, please, gue bukan Tuhan, gue juga gak punya indera ke enam. Kalo loe diem aja, gue tau dari mana loe kenapa?"
"Gue gak kenapa-napa, Han, tolong biarin gue sendiri."
"Gue pernah diem waktu dulu loe ditinggalin si brengsek. Dan gue menyesal pernah ngebiarin loe sedih sendirian sampe-- ****! gue bahkan gak mau nginget hari itu lagi. So, please tell me now! Gue mau loe berbagi."
"Hana, please, loe tau kan kalo gue gak suka dipaksa?"
"Dan kali ini gue maksa."
"Gue gak mau membebani loe, Han, please ngertiin gue." Serena hanya ingin itu sekarang. Tolong beri ketenangan. Ia sungguh kacau. Apakah wajahnya yang berurai air mata ini tidak cukup mengartikan semuanya?
"Dulu loe bilang kalo gue ini udah loe anggep keluarga loe sendiri. Dan sekarang loe bilang masalah loe membebani gue? Pikiran macem apa itu, Re?"
"Percuma, Han, percuma. Loe gak bakal ngerti karena yang rasain itu gue. Gue!" Suara Serena yang parau naik satu oktaf.
Hana tercenung beberapa waktu. Ia ingin marah karena terlalu jengkel akan Serena. Tapi ia tahu bahwa marah-marah saat ini adalah hal paling bodoh yang tidak boleh ia lakukan. Serena memang keras dari dulu. Prinsip Hana pada saat Serena begini adalah jangan membalas api dengan api jika tak mau apinya makin membara. Tetesi air, tekan ego.
"Apa sih, Re, yang gak bisa dikasih dari sebuah keluarga? Loe mau minta apapun, keluarga bisa memberi apa yang gak bisa orang lain beri..."
Tangan Hana terulur mengungkung tangan Serena. Memberi kekuatan. "...Tolong, Sere, kalo kita bisa bahagia bareng, kenapa saat begini loe mau gue diem aja? Loe pikir gue akan tenang dengan cara begitu? Loe pikir gue bakal baik-baik aja disaat loe ada di titik terendah loe? Please, setidaknya izinin gue tau apa yang jadi sumber sakitnya."
"Hana..." Lirih Serena kehabisan suara. Ia benar-benar tak tau harus apa lagi.
"Iya, Re, apa? Apa yang loe mau bilang?"
"Ares, Han..."
"Ares apa, Re? Kenapa?" Tuntut Hana pelan-pelan.
"Dia berubah sama gue. Gue bahkan gak bisa mengenal dia lagi." Tangis Serena kembali mencuat. Bahunya bergetar.
"Sssttt... Gak usah nangis, Re. Ada gue. Oke?" Hana kian mengeratkan genggaman tangannya.
"Semalem kita ribut karena gue nanya kenapa dia beda banget beberapa hari ini. Kita ribut besar karena Ares yang seakan-akan gak mau terus terang. Terus.... terus..."
"Tenang, Re, pelan-pelan aja."
"Hana..." Lirih Serena sembari menatap Hana putus asa.
"Iya, Re, gue disini. Loe gak perlu takut."
Serena melemparkan tubuhnya pada sandaran kursi, lalu menutup wajahnya guna menahan tangis yang hampir membeludak lagi. "Ares minta pisah."
Bibir Hana benar-benar tak bisa tertutup. Tak menyangka permasalahan mereka sebesar ini. Beberapa hari belakangan Serena memang terlihat muram, namun Hana kira Serena dan Ares hanya ribut kecil seperti biasa.
Karena merasa sangat ikut hanyut dalam kesedihan Serena, Hana menghampiri sahabatnya itu. Memeluk tubuh yang bergetar karena tangis itu dengan menyalurkan kekuatan. Mengusap-usap pundak dan lengan Serena.
"Gue gak tau salah gue apa, Han. Gue gak tau apa penyebabnya..." Dada Serena terasa penuh sesak. Mengingat bagaimana semalam Ares dengan mudahnya meminta pisah, rasanya kepala Serena seakan dipenggal saat itu juga.
"...Apa kurangnya gue, Han? Apa? Apa karena selama ini gue jahat banget sama Ares makanya ini karma buat gue?"
"Sssstttt... Jangan ngomong kayak gitu, Re. Gue yakin Ares cuma emosi sesaat."
"Ares gak pernah kayak gini, Han, gak pernah. Dia bahkan gak pernah bisa marah sama gue."
"Ya loe coba tenang dulu, Re. Cari tau apa yang salah. Apa dari pihak loe, apa dari pihak Ares. Iya, kan? Coba inget-inget, deh. Siapa tau loe pernah buat salah, atau Ares pernah--
"Apa mungkin..." Serena menggantungkan ucapannya sambil mendongak menatap Hana.
"Apa mungkin apa?"
"Apa mungkin ini ada kaitannya sama foto waktu itu? Perempuan yang sama Ares waktu itu."
Hana menatap Serena dengan pandangan terkejut. Apa yang dibilang Serena bisa jadi benar. Kenapa ia tidak kepikiran?
"Menurut loe apa mungkin, Han?"
Hana mencicit pelan, kepalanya menggeleng kecil. "Gue gak tau, Re. Gue gak tau harus mengiyakan atau menyangkalnya."
"Semua kemungkinan bisa aja terjadi. Pokoknya gue akan cari tau."
"Cari tau apa? Gimana? Emang loe kenal sama tuh cewek?"
"Gue akan minta Cecil kirim foto waktu itu."
• • • • •
Anye sibuk mengarahkan Ares untuk berganti gaya dari satu gaya ke gaya yang lainnya. Pria itu sebenarnya bukan orang yang suka bersolek di depan kamera, tapi karena Anye katanya ingin mencoba kamera polaroid barunya, maka Ares menurut.
Pria itu duduk di atas sofa milik Anye, beserta Anye duduk di sebelahnya sembari mengarahkan benda berwarna hijau pastel itu ke wajah Ares.
"Senyum, Antares. Dari tadi flat terus mukanya." Anye menarik sudut bibir Ares dengan gemas.
"Aku harus gimana, Sweetheart? Kamu tau kan mukaku emang datar."
"Ya senyum, kek. Dikiiiiiit aja. Please. Demi aku." Suara Anye mencicit manja seperti rengekan anak kecil.
Ares terkekeh kecil dan moment itu dimanfaatkan Anye untuk mengambil gambar. Wanita itu tersenyum puas, dan meluncurlah foto Ares yang tengah tersenyum itu di tangannya.
__ADS_1
"Tuh kan bagus hasilnya." Unjuk Anye bangga.
Tangan kanan Ares menggapainya dan meneliti fotonya sendiri. "Bagus karena modelnya aku. Orang ganteng kan mau diapa-apain juga bagus aja."
Anye mencabik kecil dan menyandarkan tangannya pada pundak Ares. Wanita itu menatap Ares dari samping. "Makasih ya kameranya. Kamu emang paling tau apa yang aku mau."
Ares menoleh, pandangannya mengikuti gerak bibir Anye yang hanya berjarak satu senti dari dirinya. Pria itu lalu mengusapnya pelan menggunakan ibu jarinya. "My pleasure, Sweetheart. Maaf ya karena kejadian di toko kamera kemarin, kita jadi baru bisa beli hari ini."
"Gapapa. Aku ngerti, kok. Daripada kita belinya kemarin, tapi kamu gak nyaman? Aku gak mau kayak gitu."
"Hmmm... Thank you." Bisik Ares.
Anye mengangguk dan merentangkan tangannya manja. Wanita itu meringsek dalam dekap hangat Ares, beserta ciuman bertubi-tubi yang Ares berikan di puncak kepalanya.
Seakan teringat sesuatu, Anye menarik diri--tanpa sadar sebelah antingnya masuk ke dalam saku kemeja Ares. "Aku boleh tanya sesuatu?"
"Boleh. Mau nanya apa?" Dengan penuh perhatian, Ares membenarkan rambut Anye yang menghalangi wajah wanita itu.
"Cowok yang ribut sama kamu kemarin emangnya siapa?"
"Bukan siapa-siapa, cuma orang asing."
"Kalo bukan siapa-siapa, kok kamu keliatan marah banget seolah-olah dia orang yang paling kamu benci."
"Karena dia rebut kamera pilihan aku."
"Aku tau kok ada yang kamu sembunyiin dari aku," tatapan Anye membidik curiga. "Iya, kan?"
Ares menghembuskan napas pelan seperti malas menjawab. "Sweetheart, please."
"Kamu tau betul aku orang yang gak suka nyimpen rasa penasaran terlalu lama. Sebenernya aku pengin nanya ini kemarin, tapi aku tau mood kamu lagi gak bagus. Jadi sekarang please jawab. Ya? Ya?"
"Kalo aku bilang orang itu adalah orang yang membuat aku begitu kacau malam itu, kamu percaya?"
Anye memutar ingatannya pada malam itu. Malam dimana Ares mabuk dan terus meracau kalau cintanya telah dikhianati istrinya sendiri bersama mantannya dulu.
"D-dia... mantannya istri kamu?" Tebak Anye ragu.
"Iya. Dan mungkin sejak hari itu udah resmi jadi pacarnya lagi." Senyumnya sumbang.
Mendadak Anye menyesal menanyakan ini. Tatapan Ares kembali muram walau ditutupi senyum kecilnya. Wanita itu menatap prihatin pada sosok pria kesayangannya ini.
"Kamu emang udah yakin sama semua ini? Bisa aja kan kalo itu cuma salah paham?"
"Awalnya aku berpikir gitu, tapi setelah liat semuanya--pake mata kepalaku sendiri--aku sangat menyesal untuk itu, Nye."
"Udah coba ditanyain?"
"Menurut kamu aku masih mau bicara sama dia?"
"Apa maling bakal jawab jujur kalo ditanya mencuri atau enggak?"
"Tapi dia bukan maling, kan? Dia istri kamu."
"Sejak kemarin bukan."
"Maksudnya?" Ada nada terkejut dari suara Anye.
"Aku minta pisah..."
"Res--
"...dan kamu tau apa yang dia bilang?" tanya Ares mendengus. "Dia bilang dia mencintai aku, Nye. Dia gak mau kita pisah."
"See? Kalo dia ngomong kayak gitu, berarti tuduhan kamu salah, kan? Dia cinta kamu setelah sekian lama kamu nunggu. Dan sekarang apa yang kamu ragukan?"
"Aku tau mana pernyataan cinta yang tulus, dan mana yang tergencit keadaan."
"Kamu gak--
"Dan pernyataan cinta Serena termasuk pilihan ke dua."
• • • • •
Serena memasuki kamarnya tepat pada pukul sembilan malam. Altan sudah ditidurkan barusan, dan Ares sedang mandi di dalam sana. Wanita itu berjalan menuju ranjangnya yang terlihat berantakan karena kemaja kotor Ares tergeletak sembarangan.
Saat Serena akan melipat kemeja merah marun itu, ada sesuatu tak sengaja terlempar dan menimbulkan bunyi nyaring yang membuat Serena langsung mencari benda apa yang jatuh. Langkah kakinya terayun menuju kolong meja rias. Ia menemukan anting berlian kecil yang sangat indah. Matanya meneliti. Mencoba memahami apakah benar benda ini yang terlempar dari kemeja Ares tadi?
Satu pukulan telak menghantam pikirannya. Ini anting wanita. Dan jelas bukan milik Serena. Tapi kenapa benda ini bisa ada di kemeja Ares?
Dalam keterkejutannya, ponsel Ares berdenting dari arah nakas. Serena menoleh dan segera bangkit meraihnya. Satu pesan muncul di lock screen.
Anye
Anting aku ilang satu.
Km liat gak dimana?
21:02
Degub jantung Serena tahu-tahu jadi lebih cepat. Dengan rasa penasaran yang sudah sangat tinggi, ia menjelajahi isi ponsel Ares yang kata kuncinya ia ketahui. Aplikasi pesan adalah aplikasi pertama yang ia buka. Pesan di lock screen tadi berada di urutan teratas. Memperlihatkan profil wanita berambut panjang yang membelakangi kamera.
Tangan Serena bergetar menekan nama Anye itu. Ia menggulir rentetan pesannya ke atas. Terlihat beberapa minggu belakangan komunikasi mereka terjalin intens. Serena sampai menahan napas sejenak saat Ares selalu memanggil Anye-Anye ini dengan sebutan sweetheart. Sayang maksudnya?
"Ngapain kamu pegang hand phone aku?"
__ADS_1
Suara bariton dari arah belakangnya membuat air mata Serena jatuh seketika. Pemilik suara itu adalah orang yang membuat jantungnya terasa tertikam pedang. Sakit sekali. Serena sampai harus menggigit bibir bawahnya agar suara tangis sedikit redam.
Mata Ares membidik bahu Serena yang bergetar. Ia mengira apakah wanita itu sedang menangis? Tapi kenapa?
"Aku minta kamu jawab pertanyaan aku, bukan malah nangis." Tegasnya yang bertujuan agar Serena berbalik badan dan ia dapat memastikan apakah Serena benar-benar menangis atau tidak.
Dengan segenap kekuatan yang Serena punya sekarang, ia menyeka air matanya. Berbalik badan dengan gerakan slow motion dan wajah basah akan air mata. Matanya yang layu langsung menghunus Ares. Tak percaya bahwa sosok di depannya ini bisa sedemikian rupa menyakiti hatinya.
Langkah pelannya menuntun ia mendekati Ares yang berdiri di ujung ranjang. Matanya tak putus barang sedetik pun menilik pria itu. Hatinya perih sekali, Ya Tuhan. Semakin jarak mereka terkikis, semakin lukanya terasa berdarah-darah.
"Kembaliin hand phone aku." Ares ingin cepat-cepat pergi dari sini. Walaupun cintanya pada Serena telah ditikam mati, tapi hatinya tidak mati rasa. Tak pernah sekali pun ia tega melihat Serena menangis seperti ini. Ia tak tahan ingin menyeka air mata wanita itu, tapi ego membungkamnya.
Serena dengan pelan mengambil tangan kanan Ares. Meletakkan benda pipih berlogo apel yang masih menyala itu beserta anting berlian tadi.
Ares menatap Serena dengan agak terkejut. Lalu kepalanya menunduk melihat kedua benda itu. Apalagi ditambah room chat Anye yang menanyakan keberadaan antingnya. Pria itu kembali mengangkat kepalanya dan mendapati Serena tengah tersenyum hambar dengan uraian air mata.
"Antingnya cantik, pasti yang punyanya juga cantik."
Ares menelan ludahnya dengan mata tak berkedip.
"Besok jangan lupa kembaliin ya. Kayaknya dia cemas banget antingnya hilang."
"Dimana kamu dapet anting ini?" Jujur Ares tak tahu apapun. Ia tak mengerti bagaimana anting Anye bisa ada pada tangan Serena.
"Dari kemeja kamu. Mungkin gak sengaja jatuh pas kamu ketemu dia tadi."
Damn! Sindiran tajam Serena ditelan Ares bulat-bulat. Rahang pria itu mengeras.
"Boleh aku tau Anye itu siapa, Res?" Lirih Serena getir. Bibir dalamnya ia gigit guna menghalau isak, karena hanya itu yang bisa ia tahan, sebab air matanya tak bisa diajak kompromi.
"Penting banget buat kamu tau?"
"Ya." Desah Serena parau.
"Emang setelah kamu tau, apa yang bisa kamu lakuin selain nangis?"
"Memang perempuan itu siapa sampe bisa buat aku nangis?" Serena tersenyum tipis.
"Pacarku."
Mati. Mati saja pikir Serena. Ia merasa dirinya melayang. Kakinya benar-benar lemas. Rasanya dua beton besar menghimpit dadanya. Sesak sekali. Berat. Ketakutan yang ia takutkan kejadian. Ia kaget. Tertohok hati ditiban kenyataan.
"Pacar?" Ulang Serena tertawa kosong. Air matanya terus-terusan mengalir. Ia merasa jadi wanita paling menyedihkan.
"Ada yang lucu dari pengakuan aku?"
Serena menggeleng-geleng sambil terus memaksakan tawanya, sementara air matanya makin tak bisa dihalau. "Aku gak percaya. Kamu pasti bercanda, kan?"
"Ternyata penilaian kamu gak lebih baik dari pacar aku. Dia tau betul kalo aku gak pernah becanda dalam situasi seperti ini."
"Jadi kamu selingkuh dari aku, hm? Kamu selingkuh?" Serena memundurkan tiga langkah kakinya dengan tertatih. Tubuhnya langsung terduduk di atas ranjang. Karena tak kuat lagi menahan tangisnya, pertahanan Serena akhirnya runtuh. Wanita itu menunduk menutupi wajahnya dengan tangan. Ia menangis histeris. Tersedu-sedu. Goncangan bahunya bergetar dahsyat.
Ia benar-benar hilang arah. Tuhan, tolong hilangkan sakitnya sekarang. Ia tak tahan.
"Berhenti nangis. Air mata kamu gak bakal merubah statusnya sebagai pacarku." Cibir Ares tajam.
Serena mengangkat kepalanya. Saat bahunya masih bergoncang seperti ini, bisa-bisanya Ares bicara begitu? Wanita itu berjalan menghampiri Ares, menjabel kerah kaus hitamnya dengan remasan erat menyalurkan rasa sakit.
"Apa yang udah kamu lakuin selama ini di belakangku, Res? Teganya kamu main api dan membakar aku kayak gini. Kamu udah mengkhianati janji pernikahan kita dan membikin semuanya seolah wajar-wajar aja buat kamu..."
"...Dengan mudahnya kamu berpaling ke wanita lain, Res. Dengan gak memikirkan perasaan aku dan Altan kamu bisa-bisanya main gila di luaran sana. Kenapa, Res? Kenapa?..."
Suara isak Serena terdengar memelan. Tangannya memukul-mukul dada Ares pelan. "...Apa karena dulu aku jahatin kamu, makanya sekarang kamu bales nyakitin aku? Apa karena dulu aku gak nganggep kamu, makanya kamu selingkuhin aku?..."
"...Jawab, Res, jawab. Aku mohon. Kenapa kamu gak menjawab satu pun pertanyaan aku?" Lirih Serena dengan pandangan lelah dan menyedihkan.
Sempat-sempatnya Ares tersenyum miring. "Sedikit banyaknya apa yang kamu omongin bener. Tapi jawaban paling tepat adalah karena aku bosen sama kamu."
"Bosen?" Serena memicing tak percaya. "Dengan mudahnya kamu bilang gitu, Res? Setelah lima taun kita sama-sama, bisa-bisanya kamu bosen sama aku?"
"Justru karena kita udah terlalu lama bersama makanya di mata aku kamu udah gak menarik lagi. Beda sama pacarku yang masih enak buat diajak have fun. Gak ngebosenin kayak kamu."
Remasan Serena pada kaus Ares terlepas. Teringat betul potret Anye-Anye ini begitu menarik walau terlihat dari belakang. Serena yakin wanita berstatus pacar Ares ini luar biasa cantik.
"Apa perempuan itu adalah perempuan yang kamu temuin di bandara?" Tanya Serena dengan nada berat.
Dapat ditangkap Serena bahwa tubuh Ares menegang. Ia yakin pria itu kaget dari mana ia mengetahui semuanya.
"Apa dia juga yang ngebuat kamu pengin pisah dari aku?"
"Tau dari mana kamu?" Hunus Ares tajam.
"Gak usah kaget, Res. Aku tahu semua. Aku bahkan punya bukti fotonya di hand phone aku. Aku tahu tapi aku memilih diam. Aku melakukan itu karena aku percaya lelaki sebaik kamu gak akan melakukan hal rendah seperti itu..." Katanya dengan tersenyum pahit.
Ares membuang pandangannya ke samping. Memejamkan mata sejenak mencoba menetralkan emosinya. Ia tidak suka posisi ini. Semua ini berawal dari pengkhianatan Serena, kenapa sekarang ia yang seolah berkhianat.
"Jadi benar dia orangnya? Jadi dia yang merubah kamu sampai benar-benar gak aku kenali lagi."
Seketika Ares menoleh. Tatapannya makin beku. "Jangan pernah nyalahin dia atas semua ini. Harusnya kamu yang intropeksi. Aku begini pasti ada sebabnya. Dan kamu adalah orang yang paling mungkin sebagai penyebabnya."
Air mata Serena jatuh lagi setitik. Wanita itu tersenyum getir dengan tangan meremas ujung piyama tidurnya. "Kamu gak tega ngedenger dia dijelek-jelekkin. Tapi kamu tega nyakitin aku."
"Jangan sok bertingkah tersakiti. Kamu yang ngizinin aku buat punya pacar lagi. Jadi ini resikonya."
———————————————
__ADS_1