Haruskah Kita Bercerai?

Haruskah Kita Bercerai?
29


__ADS_3

Hari ini menjadi hari yang cukup menyenangkan bagi Ares. Selain kondisi fisiknya sudah jauh lebih baik setelah istirahat yang cukup dan berdiam diri di rumah, keberadaan Altan juga memberi energi positif buatnya. Rasanya sakit Ares hilang saat bersama Altan. Bermain bersama, menonton film kartun, menyusun lego, bahkan seharian ini ia dan si jagoan kecil makan bersama seperti dulu. Dan barusan, Ares baru saja menyelesaikan makan malam bersama Altan.


Bahagia memang sesederhana kedengarannya. Pria yang tengah berdiri di depan balkon kamarnya itu tersenyum tipis. Mengingat betapa gembiranya wajah Altan saat figur ayahnya yang hilang ini akhirnya ditemukan lagi. Mengingat betapa sorot mata kecil nan penuh semangat itu menatapnya penuh rasa rindu. Mengingat setiap potongan tawa si jagoan kecil yang sangat amat sumringah.


Dan Ares tak bisa tak mengutuk diri sendiri bila mengingat betapa banyaknya waktu yang sudah ia sia-siakan untuk jagoan kecilnya.


"Maafin Papi ya, Tan." Bisiknya lembut.


Pria itu mendesah kasar. Di saat ia baru saja merengkuh bahagia, ada satu ruang di hatinya yang merasa kosong. Berputar-putar wajah Anyelir dalam ingatan. Memikirkan dimana ia sekarang. Sedang apa. Tidur dimana. Bagaimana kondisinya.


Tanpa sadar, ada Serena yang memperhatikannya dari belakang. Dengan piyama tidur berwarna krem dan secangkir teh panas di tangannya, wanita cantik itu berdiri dalam diam. Ia tengah memperhatikan profil sang suami yang nampak gelisah.


Sedari tadi sebenarnya Serena sadar ada yang tak beres dari diri Ares. Dari mulai pria itu tidak pulang. Lalu saat pulang kondisinya benar-benar kacau.


Kejadiannya sama seperti pagi itu. Pagi dimana sikap Ares berubah acuh padanya. Ia bersikap seolah baru saja kehilangan harta yang paling berharga dalam hidupnya. Dan sekarang kejadian ini terulang lagi. Dan sekarang Serena masih sama tidak tahunya seperti dulu tentang apa yang menyebabkan Ares sekacau ini.


Dengan coba memberanikan diri, Serena melangkah maju berniat ingin memberikan teh. Tapi saat di langkah keduanya, Ares terlihat mengais gawainya dan menempelkannya di kanan telinga. Serena akhirnya memilih berhenti. Mungkin ia harus tunggu sampai Ares selesai dengan urusannya.


^^^Mr.Edy, this is Antares Risjad. ^^^


^^^I want to talk to Mr.Tony Louis. ^^^


^^^Could you please connect ^^^


^^^the phone to him?^^^


Sorry Mr.Risjad.


Mr.Louis has been unable to receive calls from anyone for a while.


^^^Just a moment. I beg you. ^^^


^^^This is important. ^^^


Sorry Mr.Risjad.


Maybe you can try it another time.


Ares menghembuskan napas pelan sebagai tanda kekecewaan. Saat ini hanya Tony Louis yang bisa ia andalkan. Beliau orang terdekat Anye. Dan kalaupun Anye memang tidak bersamanya, setidaknya izinkan Ares menyampaikan kabar ini. Mungkin koneksi beliau yang sangat luas bisa mempermudah pencariannya.


^^^Ok, Mr.Edy, thanks for the time.^^^


Serena mengerutkan keningnya saat Ares menutup panggilan. Rasa-rasanya nama yang Ares sebutkan dalam sambungan telepon tadi tidak asing. Tony Louis. Ia memikirkan dengan serius dimana ia pernah mendengar nama itu. Otaknya sampai berpikir keras saking penasarannya.


"Ngapain kamu?" seketika Serena berjengkit kaget saat suara dingin itu menyapa inderanya. Wanita itu terlihat salah tingkah ditatap Ares dengan menyelidik seperti itu. "Nguping?"


"E-enggak. Aku gak nguping."


"Terus?" Ares mengangkat satu alisnya.


"Uhm... uhm... anu..." Serena gugup bukan main. Bibir bawahnya bergetar. Otaknya sibuk mencari alasan, dan alasan tepat itu ia temukan saat matanya menangkap secangkir teh di tangannya. "Ini. Aku bawain ini buat kamu."


Ares hanya bergeming di tempatnya. Udara yang semakin malam semakin dingin membuat angin kian kencang. Rambutnya sedikit acak-acakan ditiup angin, dan kaos longgarnya yang tanpa lengan itu membikin kedua bisep berototnya terpampang nyata. Tampan sekali walau kebawahannya hanya celana pendek biasa dan sandal jepit rumahan.


"Kok diem? Ini ambil. Atau mau aku bantu minumin?" Ares mendesah kasar saat tampang Serena nampak menyebalkan saat menggodanya lagi.


Pria itu berjalan meninggalkan balkon, lalu menutup pintu kacanya. Saat berada di dalam kamar, ia berhadapan dengan Serena yang masih konsisten dengan wajah menggoda dirinya itu. Seperti andalannya, tak ada ekspresi apapun yang ditunjukkan Ares. Ia hanya diam dengan wajah dinginnya.


"Tuh kan nyamperin. Berarti bener nih mau di---


"Aku gak minta dibuatin teh. Dan aku gak mau." Serena tercenung mendengar penolakan ketus Ares. Keterdiamannya dimanfaatkan Ares karena pria itu memilih mangkir dari hadapan Serena dengan menubruk bahunya.


Ares berjalan malas menuju ranjang. Ia membenarkan letak bantalnya, lalu membaringkan tubuh disana. Tak lupa ia menarik selimut seraya memutar haluan badannya membelakangi Serena.


Dan wanita penggoda itu terdengar menarik napasnya panjang-panjang. Dengan perasaan hati yang sebenarnya ambyar, ia berbalik menatap punggung Ares yang tertutupi selimut tebal. Langkah jenjangnya menghantarkan ia ikut naik ke atas benda empuk itu. Duduk meluruskan kaki dengan tubuh bersandar di kepala ranjang.


"Yakin gak mau tehnya?"


Ares diam. Bibirnya terkunci rapat.


"Hey." Serena mencolek lengan Ares, dan pria itu kontan menepisnya. Wanita itu mengerucutkan bibir. "Galak ih. Kayak paus."


Ares membulatkan matanya lebar, dan Serena tidak merasa bersalah sama sekali.


"Enak loh ini tehnya. Dibikinnya pake cinta, diseduhnya dengan kasih sayang."


Eh? Ares mengangkat kedua alis matanya. Kata-kata menjijikan macam apa itu? Dan... siapa yang mengatakan itu? Apa Serena sedang tak sadarkan diri? Atau melantur dalam tidur? Atau... sebenarnya Serena sudah tidur dan yang berbicara barusan adalah roh Bude Sumiyati yang merasukinya?


****, Antares?! Gak ada roh yang bagusan dikit apa?!


"Manis loh ini, Res. Enaaak banget. Udah gitu anget lagi. Paket komplit banget kan kayak yang bikin?"


Kepala Ares menggeleng-geleng ngeri.


Ini beneran ya Serena kerasukan roh Bude?


"Tehnya gak aku masukin apa-apa, kok. Suer, deh. Gak ada racun tikus, pembersih lantai, pewarna pakaian, boraks, cat tembok anti bocor, sianida kayak kasus yang rame itu, terus----


"Berisik," Ares memberenggut kesal seraya menoleh pada Serena. "Aku gak peduli ya mau kamu masukin cat akrilik kek, mau kamu masukin apa kek, yang jelas aku gak bakal minum."


"Ups. Sori." Serena menutup bibirnya dengan senyum meledek.


"Dan satu lagi, kasus yang rame itu sianidanya ada di kopi, bukan di teh."


"Oh, ya?" tanyanya dengan wajah kaget yang dibuat dramatis. "Berarti aku salah, dong? Jadi gak bener ya beritanya? Atau aku aja yang salah baca?"


"Tau ah gelap." Ares mendelik seraya membelakangi Serena lagi dan menyumpal telinganya dengan bantalnya.


"Ya gimana gak gelap, orang mukanya ditutupin bantal." Sindirnya pelan.


"Aku denger ya!"


"Iya makasih udah didengerin." Timpal Serena sengaja membuat Ares marah.


Karena Serena belum merasa mengantuk, diambillah ponselnya di atas nakas. Ia menjelajahi isi ponsel dan membuka aplikasi apa saja. Tapi sekitar menit ke tujuh ia melihat-lihat ponsel, terlihat kepala Ares bergerak-gerak. Mungkin pria itu tak bisa tidur dan pegal ingin ganti posisi, tapi gengsi lagi-lagi menahannya.

__ADS_1


Serena pun tersenyum kecil. Ia jadi ingin menjahili lagi suami gengsiannya ini.


"Ekhem. Suami yang sering memarahi istrinya dan tidur membelakangi istrinya akan mendapat siksaan di akhirat kelak. Berikut tujuh dosa yang didapat suami bila melakukannya. Satu---


Tubuh Ares kontan bangkit dan menatap tajam pada Serena. "Kamu nyumpahin aku?!"


Kening Serena mengernyit. "Apanya?"


"Itu barusan."


"Enggak."


"Bohong."


"Jujur."


"Kamu nyumpahin aku dapet hukuman di akhirat, kan? Ayo ngaku!"


"Lah? Aku jujur, kok. Emang bener kan suami akan disiksa di akhirat kalau mengabaikan istri?"


"Dan yang kamu maksud itu aku. Iya, kan?"


"Enggak. Aku gak bilang gitu."


"Barusan kamu bilang."


"Aku kan gak bilang itu kamu. Orang aku lagi baca snapgram temen aku, kok."


"Bohong lagi, kan?"


"Nih." Serena menunjukkan layar ponselnya yang memang menampilkan kutipan kata-kata itu dari snapgram temannya.


Ares terdiam kaku. Bibirnya tak bisa berkata-kata saat yang Serena bilang memang benar.


"Tuh kan," Serena memutar-mutar telunjuknya di depan wajah Ares yang salah tingkah. "Makanya jangan baperan. Apalagi nuduh-nuduh istrinya. Dosa tauuu."


Ares menepis telunjuk Serena. "Diem!"


"Ih, Antares, parah ih. Galak banget sama istrinya. Aku aduin Mama, loh."


"Dasar tukang ngadu!"


"Dasar tukang galakin istri." Serena iseng mencubit lengan kiri Ares, dan membuat si empunya teriak sakit.


"Aw! Sakit, dong."


"Biarin, dong. Jadinya satu sama."


"Oh kamu berani sama aku?" Kedua bola mata Ares melotot seram. Dan itu nampak seram sepuluh kali lipat saat Ares tiba-tiba menarik kedua bahu Serena sehingga posisi mereka sangat dekat.


Sebenarnya Serena bukannya takut, tapi jantungnya berdebar bila dekat-dekat Ares. Ia tak bisa mengontrol diri. "Mundur ih, Antares. Jangan deket-deket."


"Kenapa? Takut?!"


"Bukan," dengan santai Serena mendorong wajah Ares menggunakan telapak tangannya hingga membuat pria itu mengeram galak. "Aku kalo deket sama orang yang disayang, jantungnya suka deg-degan."


"Gak percaya? Nih pegang." Mata Ares benar-benar seperti akan keluar dari tempatnya saat dengan santai Serena menarik tangannya untuk menyentuh dadanya.


Iya sih dia deg-degan. Tapi jantung gue juga jadi ikut gedibag-gedibug. Gila wooooy deket banget sama anunya.


"Percaya kan kalo aku deg-degan?"


Ares memejamkan matanya karena mata sialan ini tak bisa beralih menatap belahan dada Serena yang tersorot dari piyamanya yang berbelahan rendah. Ia harus kuat. Kuat mental, hati, jiwa, raga, dan iman.


"Kayaknya betah banget ya tangannya disitu. Sampe gak mau pindah."


Ares membuka matanya, dan wajah iseng Serena adalah yang pertama ia lihat. Ketika wanita itu menggoyang dagu menunjuk ke bawah, Ares sadar tangannya masih ada di dada Serena. Reflek pria itu menariknya. Serena pun hanya bisa tersenyum tipis.


"Aku udah mulai ngantuk deh, Res." Serena menguap dan meregang-regangkan tangannya.


"Ngapain laporan kayak tamu?! Tidur tinggal tidur. Biar apa bilang-bilang? Biar aku kelonin?"


"Boleh, dong. Biar nyenyak."


Mata Ares menajam lagi. "Kamu tuh mulai berani ya!"


"Ngadepin orang galak kayak kamu emang perlu keberanian, Res. Udah sini."


Kening Ares mengerut ngeri saat Serena menangkup kedua pipinya mendekat. "Ngapain, nih?! Lepasin."


"Minta jatah."


"Hah?" Maksudnya itu? Anu?


"Bukan. Bukan jatah itu," jawabnya seakan membaca pikiran Ares. "Kiss, Antares, kiss. Dulu kamu suka minta jatah itu kan kalo mau tidur?"


"So what?!"


"Dan karena kamu sekarang udah gak pernah minta lagi, jadi sekarang aku aja yang minta."


"Tapi aku gak mau. Udah sana ah lepasin tangan kamu."


"Jatah dulu." Desak Serena manja.


"Gak mau. Enak aja aku dicium-cium sembarangan. Emang kamu pikir aku lelaki macem apphhfffttt."


"Ssssttt," titah Serena membekap mulut Ares. "Bisa diem gak? Aku cuma minta cium doang, kok. Udah diem!"


Ares benar-benar membatu di tempatnya duduk saat ini kala Serena mencium keningnya, lalu pipi kanan berlanjut pipi kiri, kedua matanya, hidungnya pula, dan terakhir ******* sekilas bibir Ares. Dan seperti tidak terjadi apa-apa wanita itu malah tersenyum tipis dan mengusap sudut bibir Ares yang basah akibat ulahnya.


"Good night, Antares. Semoga tidur nyenyak dan mimpi indah."


...• • • • •...


"Serenaaaaaa!!!!"

__ADS_1


"Iyaaaaaa!!!"


Yang namanya dipanggil terlihat memasuki walk closet dengan santai seraya memakai jam tangannya. Tampilan Serena sudah sangat rapi siap ke kantor, sementara yang memanggilnya terlihat menggelikan sekaligus menyeramkan karena berkecak pinggang dalam keadaan telanjang dada dan bagian bawahnya hanya dililit handuk.


"Apa sih, Res, pagi-pagi udah teriak aja?"


Ares menggoyangkan dagu menunjuk lemari pakaian yang berada di sampingnya. Matanya datar. Dan bibirnya tetap rapat.


Kening Serena berkerut. "Apa?"


Ares mendesah malas. "Kenapa sih seneng banget ngunci lemari?"


"Hah?"


"Udah deh jangan pura-pura gitu. Kasih kuncinya. Aku mau ngambil kemeja."


"Ngapain ambil kemeja?"


"Buat gotong royong! Ya buat kerja lah."


"Ya aku tau kamu mau kerja. Maksud aku tuh ngapain repot-repot ngambil? Tuh aku udah siapin."


"Aku gak mau!" Tekan Ares.


"Liat dulu. Bagus loh pilihannya."


"Enggak. Gak mau."


"Liat atau aku cium?"


Kedua alis Ares terangkat kaget. Dan ia semakin ketakutan saat Serena berjalan mendekatinya dengan wajah menyeramkan seperti vampir. Napasnya tiba-tiba terhenti saat tangan kiri Serena bertumpu di dadanya yang telanjang. Darahnya berdesir hebat saat pipinya yang dingin disentuh oleh tangan hangat Serena.


Saat Ares sudah siap atas apapun yang akan terjadi--dicium misalnya--ia malah mendapat tamparan kecil dari Serena. Matanya mengerjap tak mengerti, dan Serena malah mengerlingkan mata.


"Napas, Res, entar mati loh kalo gak napas," Serena mengedipkan sebelah matanya. "Ciumnya entar aja, deh. Kalo kamu mau pake kemejanya, baru deh aku kasih."


Serena melengos begitu saja meninggalkan Ares yang masih membatu dengan perasaan luar biasa dongkol di hatinya. Wanita itu meraih setelan kemeja hitam dan jas biru gelap yang sudah ia siapkan. Lalu menghantarkannya pada Ares.


"Nih. Bagus kan pilihan aku?"


"Aku gak mau pake." Tolak Ares dingin.


"Nanti ada yang sedih loh kalo kamu gak pake."


"Aku gak peduli ya mau kamu sedih atau enggak."


"Siapa bilang aku yang sedih? Orang kemeja ini pilihan Altan, kok."


Bola mata Ares melebar. Dan Serena dengan iseng meniupnya hingga mata Ares berkedip.


"Jangan melotot terus kenapa, sih? Entar loncat loh matanya." Serena bergedik ngeri.


"Kemeja ini beneran pilihan Altan?" Tanya Ares masih merasa sangsi.


"Gak percayaan banget sih sama istri sendiri. Jadi gimana? Mau dipake apa enggak? Kalo gak mau ya udah, tapi tanggung sendiri ya resikonya kalo anaknya sedih."


"Awas ya kamu bohongin aku!"


"Iya, enggak. Udah sini aku pak---


"Aku bisa pake sendiri." Ares merampas kasar setelan kemeja itu.


Serena mendesah kasar dan memilih mengalah. Wanita itu melipat tangannya di dada seperti guru pengawas mengawasi muridnya yang tengah ujian.


"Ya udah ngapain sih masih disini?" Tanya Ares gemas sekaligus kesal.


"Emangnya kenapa?"


"Mau liat aku telanjang, hah?"


"Ya emangnya kenapa kalo liat suami sendiri telanjang? Gak dosa juga, kan?"


"Kamu nih ngelawan terus ya? Keluar gak?!" Ares membulatkan matanya lebar-lebar.


"Gak mau." Geleng Serena santai.


"Bener-bener ya kamu." Desis Ares geram.


Pria itu mengambil langkah lebar setelah menyimpan setelan kantornya. Ia lalu menggapai kedua lengan Serena dan membawanya berjalan mundur hingga punggung Serena menyentuh lemari.


"Kamu mulai berani sama aku sekarang?!" Geramnya.


Serena malah tersenyum tipis dan menangkup kedua pipi Ares dalam genggamannya. Ia menatap lekat-lekat samudra indah milik pria yang sangat dicintainya itu.


"Kamu mau tau satu rahasia gak?" Tanyanya pelan.


"Aku lagi gak mau mai----


"Rahasianya adalah... kamu gak bisa merahasiakan apapun dari aku, Res," bisiknya lembut. "Termasuk merahasiakan cinta kamu ke aku..."


"....Sekeras apapun kamu menyangkal, sebesar apapun usaha kamu, sesakit apapun kamu mencoba melukai hati aku, bahkan sekasar apapun sikap kamu sama aku, mata kamu ini gak bisa bohong..."


"...Aku tau kok suami aku yang ganteng tapi galak ini hatinya baiiiiik banget," Serena terkekeh kecil sambil mengusap rahang Ares. "Di luar aja keliatannya sok keras, padahal jauh di lubuk hati kamu gak ada niat sedikit pun untuk nyakitin aku. Malahan, semakin kamu nyakitin aku, aku semakin ngeliat cinta kamu yang begitu besar buat aku..."


Serena menarik napas panjang dengan pelan. "...Sampai detik ini aku masih belum bisa tau apa yang membuat kita seberjarak sekarang dan kamu yang begini sama aku. Tapi, aku sangat yakin kalau keadaan kita ini bukan karena adanya orang lain dalam rumah tangga kita. Mungkin ada hal lain yang gak bisa kamu jelasin dan gak aku ketahui..."


"...Aku capek kalo harus terus-terusan menangisi keadaan kita ini. Sampai kapan kita akan begini kalo gak ada salah satu di antara kita yang mau merubahnya? Jadi, aku putuskan aku yang akan bergerak. Aku yang akan memperbaiki kita. Sudah lima tahun kamu berjuang. Kini giliran aku yang mengambil alih tugas itu. Aku gak mau cuma kamu yang paling berjuang, aku maunya kita saling berjuang..."


"...Mungkin kamu aneh dengan perubahan sikapku sekarang. Mungkin kamu juga marah sama sikapku yang suka godain kamu. Tapi ini caraku, Res. Caraku menyampaikan cinta. Caraku untuk membina kita. Dan inilah caraku yang mati-matian mempertahankan kita..."


"...Tolong beri aku izin untuk mulai membina ini. Jangan terlalu rapat ya menutup pintu hati kamu. Biarin aku masuk, atau setidaknya nongol dikiiiit aja..."


Serena memeluk Ares dengan sangat hangat. Ia memeluknya penuh ketulusan. Matanya yang terpejam sudah bisa menjelaskan sedalam apa rindu yang ia rasakan bagi pemilik tubuh ini.


Setelah merasa cukup, Serena menarik tubuhnya melepas pelukan. Ia tersenyum manis yang membuat kedua lesung pipinya terlihat.

__ADS_1


"Kita mulai dari awal lagi mau gak? PDKT lagi yuk?"


__ADS_2