Haruskah Kita Bercerai?

Haruskah Kita Bercerai?
12


__ADS_3

Ares menumpu dagunya di atas meja sambil memperhatikan Anye yang sedang mencuci piring di depannya. Setelah membatalkan janjinya dengan Vino untuk hangout--karena Anye yang katanya ingin dinner bareng--Ares langsung meluncur ke apartemen kawasan Tebet tersebut. 


Tak sia-sia ia memilih pergi ke tempat ini. Perutnya benar-benar dimanjakan. Ia tak menyangka gadis kecilnya yang dulu sangat manja dan tak bisa apa-apa, sekarang tumbuh menjadi wanita serba bisa. Waktu memang hal paling manjur yang bisa berubah manusia.


"Udah?" Tanya Ares saat Anye berjalan ke arahnya.


Anye mengangguk riang. Wanita itu berdiri di depan Ares, dan Ares langsung merengkuh pingganggnya. "Mau aku buatin apa, Res? Kopi? Teh?"


"Perutku full bensin, Sweetheart. Udah gak bisa nampung apa-apa lagi."


Anye terkekeh sambil menyugar rambut Ares yang agak berantakan. Tatapan matanya pada Ares benar-benar penuh kelembutan dan rasa sayang. Jari lentiknya dengan lihai membuat Ares nyaman akan buainnya sampai mata pria itu tak mampu berkedip.


"Kamu merasa lebih baik sekarang?"


"Ya. Setelah makan masakan kamu."


"Kamu pasti ngerti maksud aku bukan itu, Res." Lembut nada suaranya membuat Ares bergeming.


Ares memang mengerti maksud Anye. Tapi untuk saat ini ia tak tertarik membahas patah hatinya. Pria itu mengambil tangan Anye untuk diciumnya dengan hangat. Perlahan-lahan kaki Anye yang hanya berbalut hot pants itu Ares tarik untuk duduk di pangkuan nyamannya.


Kedua pasang manusia itu saling berbagi tatap dengan amat dalam. Tangan Anya bertengger di kedua pundak Ares, dan Ares merengkuh tubuhnya erat.


"Aku sedih ngeliat kamu yang kemarin, Res. Aku gak menyangka orang yang dulu sangat tangguh menopang kesedihanku, kemarin benar-benar sehancur itu tanpa topangan." Suara Anye hampir berbisik.


"Maaf."


"For what?" Anye melirih pelan seraya mengusap rambut Ares.


"Udah bikin kamu sedih dan ngerepotin kamu kemarin."


Anye tersenyum hambar. "Jangan bilang maaf. Aku juga gak pernah bilang maaf udah bikin kamu repot dulu."


"Aku gak pernah menganggap itu sebagai beban, Sweetheart. Itu tanggung jawabku untuk menjaga kamu."


"Kalo gitu jangan bilang maaf. Sama seperti kamu menjaga aku, aku juga ingin bisa menjaga kamu, Res."


"I'm fine." Bisik Ares.


"Tapi ini gak bisa bohong," Anye mengusap mata Ares. "Mata ini dulu selalu berbinar semangat mewarnai duniaku. Tapi kemarin, mata ini gak berbinar lagi seakan dia kehilangan dunianya. Mata indah ini gak pernah seredup kemarin, Res."


"Kemarin aku hanya gak tau harus apa, Nye. Rasanya semua yang aku punya ilang gitu aja. Lepas."


Bibir Anye mengulas senyum tipis. "I'm yours. I'm still yours. Kamu boleh merasa kehilangan apapun, tapi bukan aku."


"Really, Sweetheart?"


"Saat aku ada dalam titik terendahku, kamu gak pernah pergi dari aku. Sesulit apapun nanti, aku akan berusaha melakukan apa yang kamu lakukan dulu."


Terpatri senyum dari bibir Ares. Hanya tipis, sedikit samar. Tapi itu sudah cukup bagi Anye melihat pancaran mata Ares melambat hangat.


Anye meringsek dalam pelukan Ares. Mendekap tubuh gagah yang kemarin bahkan tertatih-tatih berdiri ini. Ingin rasanya Anye merasakan sakit yang Ares rasakan kemarin, hari ini, atau kapanpun itu. Bagi sedikit saja sakitnya, atau seluruhnya pun tak apa, asal jangan Aresnya yang kesakitan.


"Jangan sedih lagi. Mata indah kamu jangan sampe berair lagi. Kesakitan kamu akan jadi sakitnya aku juga. Aku disini. I'm always with you, Antares."


"I know. Jangan pergi. Aku gak yakin bisa baik-baik aja tanpa kamu. I'm fine... with you, Anyelir." Bisik Ares.


• • • • •


Dengan raut wajah tak bergairah, Serena menutup buku dongeng milik Altan. Wanita itu tersenyum tipis seraya mengusap rambut hitam sang anak yang masih terjaga di atas ranjang serba supermannya. Bocah kecil itu menatap wajah Serena dengan polos. Melihat raut kesedihan terpancar jelas, tapi ia tak mengerti apa yang terjadi.


"Kata Mami, kalo dongengnya selesai Papi bakal pulang. Tapi kenapa Papi belum pulang?"


"Papi lagi di jalan, Sayang." Jawab Serena lembut.


"Kan Altan udah telepon dari tadi. Kok Papi masih di jalan?"

__ADS_1


"Mungkin macet."


Bibir bocah tampan itu mengerucut. "Altan gak suka macet. Gara-gara macet Papi jadi gak bisa makan malem sama kita."


"Papi kan kerja, Sayang. Udah, gapapa ya. Kan masih ada Mami yang bakal temenin Altan terus."


"Tapi Mami jadi sedih gara-gara Papi belum pulang. Altan gak suka liat Mami sedih."


Serena hanya mampu tersenyum ketir. Sebenarnya, kalau saja Serena bisa sejujur Altan, ia juga ingin mengatakan hal yang sama. Ada satu sisi hatinya merasakan kekosongan. Sudah dua hari ini Ares absen makan malam bersama. Kemarin tidak pulang, dan sekarang apa lagi? Ia gelisah, sangat khawatir. Ares tidak pernah seperti ini sebelumnya. Pun dengan sikapnya yang berubah dingin, Serena bertanya-tanya akan itu.


Ada apa sebenarnya dengan suaminya itu? Kenapa ia merasa seasing ini pada Ares? Kenapa ia merasa sejauh ini dengan Ares? Kenapa ini semua harus terjadi bersamaan dengan hatinya yang sudah terlanjur mencintai Ares?


"Papi!" Pekikkan Altan yang semangat membuat Serena tersentak dari lamunannya.


Wanita itu menatap Ares di ambang pintu. Suaminya yang tadi pagi nampak kacau, kini tersenyum lebar pada anak mereka. Langkahnya yang semangat, sampai dengan mudah duduk di samping Altan yang sudah terduduk.


"Papi!" Altan memeluk tubuh Ares, pun sebaliknya.


"Altan kok belum tidur?"


"Altan nungguin Papi."


"Padahal Altan tidur aja, gak usah nunggu Papi. Papi gak mau Altan kurang tidur." Ares mengusap-usap punggung putera tampannya itu.


"Tapi Altan pengin makan bareng Papi."


"Maafin Papi ya, Papi lagi banyak kerjaan."


"Kalo banyak kerjaan pulangnya malem ya, Pi?" Altan mendongak polos ingin tahu.


Ares mengangguk-angguk. Tersenyum manis di depan Altan.


"Altan sedih kalo Papi gak ada. Mami juga sedih. Kalo gak ada Papi, Mami gak makan."


Diam-diam Serena mengharapkan Ares menatapnya saat ini. Ingin membuktikan bahwa yang dikatakan Altan benar adanya. Tolong pahami kecemasannya lewat matanya. Karena jujur, Serena bukan tipe orang yang dengan mudah menunjukkan cintanya lewat kata-kata.


"Maaf ya. Nanti Papi usahain makan bareng Altan lagi."


"Tadi waktu Altan telepon, Papi lagi ada dimana?"


"Di jalan."


"Di jalan kok sepi? Altan cuma denger suara kucing, gak denger suara mobil."


Ares bergeming tanpa suara. Ia yakin suara kucing itu suaranya Milo, kucing Anye yang tadi minta makan.


"Papi beli kucing buat Altan?"


"Oh itu... itu mungkin Altan salah denger. Dalem mobil Papi gak ada kucing, kok." Serena menangkap kegugupan dalam nada bicara Ares.


Bocah kecil itu diam, mungkin dalam otak pintarnya ia berpikir, tapi ia tak dapat mengutarakannya secara gamblang.


"Kalo gitu Altan tidur, ya? Ini udah malem."


"Tapi Altan mau ditemenin Papi. Sama Mami juga."


Ares benar-benar tak pernah menolak sekalipun permintaan Altan. Tapi untuk kali ini permintaan sederhana itu terdengar begitu membebaninya. Ia enggan berduaan dengan Serena. Sampai saat ini lukanya belum sembuh. Bersama dengannya sama saja seperti membunuhnya pelan-pelan.


"Tapi badan Papi gerah banget, Sayang. Papi pengin mandi. Gapapa ya kalo Papi tinggal?"


"Yaaahh, Papi." Desah Altan kecewa.


"Please. Papi janji deh nanti temenin Altan tidur. Oke?"


"Oke. Papi boleh mandi," Altan lalu memeluk lagi tubuh Ares dengan lemas. "Altan bobo dulu ya, Pi. Altan sayang Papi."

__ADS_1


"Papi juga sayang Altan." Bisik Ares di sela ciuman pada kepala puteranya.


Selepas pintu kamar Altan tertutup, Serena seakan tak rela melepas kepergian Ares. Hatinya tercubit sakit. Berbisik terus menerus, mempertanyakan ada apa dengan Aresnya?


• • • • •


Serena menunggu Ares selesai mandi sambil memeluk tubuhnya sendiri. Ia menatap nanar kakinya yang berpijak pada pilar coklat di bawahnya. Jendela kamar belum ditutup rapat, mempermudah angin menyentuh punggungnya yang berbalut piyama tipis.


Cklek.


Langkah Ares seketika terhenti saat Serena menunggunya di atas ranjang. Wajahnya membeku seketika saat mata mereka bersitatap. Aura segar yang dirasakan Ares sehabis mandi, menguap menjadi uap panas seperti tersiram kopi.


Dengan menguatkan diri menatap tatapan dingin Ares, Serena menghampiri suaminya itu. Berjalan dengan santai dan tatapan penuh keberanian ala Serena Raharja. "Bagus kalo kamu pulang hari ini. Gimana? Udah liat sedihnya Altan saat gak ada kamu? Puas udah buat anak kamu menunggu berjam-jam? Percaya kalo yang aku bilang kemarin sesuai dengan yang kamu liat tadi?"


"Kamu nanyain ini dengan tujuan membuat aku ngerasa bersalah?" Tanya Ares datar.


"Rasa bersalah gak usah diingetin, kalo kamu masih punya hati, hati kamu yang akan langsung rasain. Semua yang aku katakan adalah untuk buat kamu sadar kalo anak kamu sangat membutuhkan kamu. That's it."


"Aku tau anakku butuh aku."


"Tau?" Serena mendengus. "Kalo kamu tau, gak begini cara kamu memperlakukan Altan."


"Begini apa yang kamu maksud? Baru kali ini aku begini. Dan aku ngelakuin ini karena ada alasannya."


"Alasan? Apa? Kerjaan? Lembur? Kemarin lembur di diskotik. Sekarang lembur dimana lagi? Pet shop?" Cibir Serena tajam.


Tatapan mata Ares makin membeku seram. "Altan cuma salah denger, gak usah melebih-lebihkan!"


"Kalo Altan salah denger, aku yakin gak salah ngeliat kalo kamu gugup waktu ngejawab pertanyaan Altan tadi."


Dalam diam, Ares lagi-lagi melenguh berat. Ia muak. Kalau bisa, ingin sekali ia meluapkan seluruh sakit dan amarah yang tengah dirasakannya sekarang juga. Di depan Serena. Di depan pembuat patah hatinya ini.


"Kamu boleh bohong ke aku, Res. Tapi aku gak terima kamu bohongin anak kita." Kata Serena dengan nada terluka.


Tanpa menjawab apapun, Ares berniat melangkah pergi.


"Aku udah siapin makan malam buat kamu di bawah," ungkap Serena cepat. "Aku gak mungkin membiarkan suamiku tidur dengan perut kosong."


Langkah Ares memang terhenti, tapi itu tak menyurutkan es yang membeku dalam tatapannya pada Serena. "Terima kasih. Tapi aku udah makan."


Kontan Serena kaget. Seumur-umur, Ares belum pernah pulang ke rumah dengan perut yang sudah terisi. Ia selalu makan di rumah, bersama-sama. Bahkan Ares tak mau makan makanan yang dimasak asisten rumah tangga. Ares hanya mau buatan Serena. Dan sekarang apa?


Serena mencoba menetralkan raut wajahnya dengan membasahi bibir bawahnya. Ia hanya tak ingin mata berkaca-kacanya terlihat oleh Ares. "Udah makan? Dimana? Sama siapa?"


"Kamu gak perlu tau." Balas Ares acuh, sambil berniat pergi.


"Kamu mau kemana?" Cegat Serena.


Ares hanya menghembuskan napas kasar sambil melangkah lagi.


"Kamu mau kemana?" Ulang Serena dengan sedikit penekanan.


"Minggir." Pinta Ares tajam. Rahangnya mengeras.


Ia menerobos tubuh Serena, namun Serena menahan pergelangan tangannya. "Aku tanya kamu mau kemana?!" Tanyanya setengah berteriak.


"Aku gak suka disentuh-sentuh!" reflek Ares membentak dan menepis cekalan Serena. Ia benar-benar tak sudi tangan bekas orang lain menyentuh dirinya. "Asal kamu tau. Aku gak suka diinterogasi kayak penjahat gini." Telunjuk Ares mengacung di depan wajah Serena yang masih shock.


"Kamu--


"Ini alasan aku gak tertarik pulang lebih awal ke rumah." Desis Ares tajam, lalu pergi menabrak bahu Serena.


Dan pertahanan Serena benar-benar hancur. Air mata yang diikat kuat agar tak bebas meluncur, kini terlanjur lepas. Ia hilang keseimbangan tubuhnya. Ia seakan sedang berada dalam mimpi yang sangat buruk.


Apa yang terjadi saat ini ia tak tahu. Ada apa dengan Aresnya pun ia tak tahu.

__ADS_1


—————————————


__ADS_2