
Pagi-pagi sekali sekitar pukul lima tiga puluh, Ares terlihat baru sampai di kediamannya. Ia membuka pintu rumah dengan sangat lesu dan kentara sekali lelah. Langkahnya tak lebar seperti biasa. Terlihat beberapa kali ia seperti menahan sakit saat menaiki tangga.
Sampai pada dalam kamar, tak ia temui Serena disana. Ia tebak Serena berada di walk closet sedang bersiap ke kantor.
Seakan benar-benar lemas, Ares melempar jasnya sembarangan. Ia duduk di sisi ranjang dengan kedua tangan bertumpu di kepalanya yang serasa berat. Pria itu memejamkan mata menahan pening. Tubuhnya tidak enak.
"****. Pusing banget." Gumamnya berbisik.
Ares berniat mengusap tengkuknya yang pegal, tapi ia keburu terlonjak kaget saat ada tangan lain yang menyentuhnya lebih dulu. Pria itu mendongak terkejut mendapati Serena yang sudah siap dengan pakaian kantornya, berdiri menatapnya panik.
"Res, badan kamu panas." Ungkap Serena yang masih meraba-raba sekitaran tengkuk Ares sampai leher.
Ares terdiam kaku. Ia sedang menatap Serena yang pagi ini nampak cantik sekali. Hanya kemeja putih formal dan rok hitam sebawah lutut memang. Tapi daya pikat Serena memang tidak bisa dianggap remeh. Tidak usah diapa-apakan saja sudah cukup. Apalagi ditambah pakaian kantoran begini, auranya makin tak terdefinisikan. Terlihat lebih tegas dan berwibawa tapi hangat.
"Kamu sakit?" Tanya Serena cemas.
Buyar sudah pikiran berkelana Ares saat Serena menanyainya. Ia coba mengontrol lagi mimik wajahnya yang tadi nampak bodoh. Pria itu menggoyangkan bahunya agar sentuhan Serena di bahunya terlepas. "Enggak."
"Tapi badan kamu panas, loh."
"Gak usah berlebihan, deh."
"Badan kamu beneran panas. Aku bisa rasain, nih." Tangan Serena ditepis Ares tak kala hendak menyentuh keningnya.
"Jangan sentuh aku. Gak usah cari kesempatan."
"Aku gak nyari kesempatan, Res. Cuma mau buktiin aja kalo badan kamu panas atau enggak."
Ares berdecak sebal. "Berisik. Aku gak sakit." Saat ia berniat bangkit, tubuhnya malah limbung hingga hampir jatuh.
Dengan sigap Serena menangkapnya. Membuat mata mereka mau tak mau saling bertatapan dalam. Jarak tubuh keduanya yang lumayan dekat membuat detak jantung mereka berdetak tak karuan tanpa disadari. Lagi-lagi adegan seperti sinetron tercipta di antara keduanya. Adegan yang biasanya membuat pemirsa menjerit gemas pada sang pemeran sinetron.
Beberapa waktu berlalu, Serena adalah pihak yang pertama kali memutus pandangan. Wanita itu berdehem kecil dengan membuang muka salah tingkahnya.
"Kamu sih gak percaya aku bilang sakit. Hampir jatuh kan barusan?" Ungkapnya seraya mencoba fokus memapah Ares untuk duduk kembali.
Yang dibopong duduk malah menatap Serena sama bodohnya seperti tadi. Ia menatapnya seolah-olah sosok yang tubuhnya setengah membungkuk di depannya ini adalah bidadari utusan malaikat. Ia tak mau berkedip dan tak rela berkedip.
Sementara sosok yang menjadi objek bola mata Ares itu terlihat tak nyaman. Tangan kirinya masih mengait di pinggang Ares. Sementara di bahu kirinya, ada tangan Ares yang mengalung betah hingga membuat jarak wajah mereka sangat dekat dengan posisi badan Serena yang condong ke depan.
Astaga, Re, posisi apa ini?!!!!
Wanita itu mencabik dalam hati saat tatapan Ares makin intens. Ia tak kuat ditatap penuh cinta begitu, walau sebenarnya itulah tatapan yang paling ia rindukan. Ia pun mencicit hati-hati; "Res."
"Iya, Sayan---
Serena tercenung mendengar kata itu lagi. Walau diucapkan dalam kata yang belum usai, tapi ia tahu apa yang akan Ares ucapkan. Terlihat dari ekspresi Ares yang berubah kaget, sepertinya pria itu kelepasan bicara.
"T-tangan... kamu, Res."
Spontan Ares menoleh kemana lirikan Serena tertuju. Ternyata tangan sialannya masih mengalung di pundak Serena. Sungguh rasa malu mendominasinya saat ini. Sudah tadi hampir kelepasan bicara memanggil panggilan sayang. Dan sekarang apalagi? Secepat mungkin ia menarik tangannya membuat Serena diam-diam merasa lega dan menegakkan badannya lagi.
"Uhm... kalo gitu... ak-aku... mau ambil dulu kompresan buat kamu."
"Gak usah."
"Kenapa?"
"Karena aku gak mau kamu urusin. Ngerti?"
Serena sempat tercenung beberapa saat dengan hati yang mencolos. Ia lalu mendesah kasar seraya tersenyum hambar. "Oke."
Ares menelan ludahnya sendiri saat melihat Serena keluar kamar begitu saja. Matanya berkedip-kedip polos karena ada sedikit perasaan bersalah muncul di hatinya. Apa mungkin Serena tersinggung dengan penolakannya barusan?
"Segitu doang bujuknya." Ia menggerutu kecil untuk menutupi ketidak nyamanan hatinya.
Lalu helaan napas panjang terdengar dari mulut Ares. Pria itu meraih kembali jasnya dan mengambil tape recorder dari Anye semalam. Ia menimbang-nimbang alat perekam suara itu di kedua tangannya dengan raut putus asa.
Semalaman panjang ia mencari Anye hampir memutari seluruh Jakarta. Berlari bagai orang hilang akal dan menjadi pusat perhatian di bandara. Rela membiarkan perutnya kosong seharian, sampai akhirnya tubuhnya sendiri kelelahan dan bahkan tak sanggup untuk sekedar menginjak pedal mobil. Terpaksa semalam tidurnya yang hanya dua jam itu terjadi dalam range rovernya.
Pria itu melempar asal tape recordernya dan lalu mendesah kasar seraya melempar tubuhnya juga di atas ranjang. Ia menatap kosong pada langit-langit kamarnya. Yang ia butuhkan sekarang adalah tidur. Dan yang terjadi malah otaknya tidak mau berhenti berpikir.
• • • • •
Ares menggeliatkan pelan tubuhnya yang terasa sangat pegal. Pria itu memicing menengok jam dinding yang tertempel di kamarnya. Ternyata sekarang sudah pukul delapan pagi. Itu artinya sudah dua jam lebih ia tertidur--atau lebih tepatnya ketiduran.
Dengan kepala yang masih berat, pria itu menegakkan badannya. Mengurut pelipisnya sekilas, lalu menggelengkan kepalanya mengusir pening. Ia lalu memaksakan diri untuk bangkit dari ranjang. Berjalan sedikit sempoyongan menuju balkon kamarnya.
Saat pintu balkon terbuka, udara segar langsung menyambutnya. Pria itu memejamkan mata sejenak sambil menghirup udara yang membuat peningnya sedikit reda. Ares melihat sekeliling komplek perumahannya sambil berpegangan pada besi pembatas. Rasanya sudah lama sekali ia tidak merasakan ketenangan ini.
Ia merogoh saku celananya dan mengambil sekotak rokok kepunyaannya. Sebenarnya ia tidak terlalu suka merokok, hanya beberapa kali saja jika sedang banyak pikiran. Dan sayangnya, akhir-akhir ini ia sering dihampiri masalah, jadi intensitas merokoknya pun meningkat.
__ADS_1
Ares menyelipkan sebatang rokok di antara bibirnya dan mulai menyulut api tatkala tangan Serena merampas rokok itu dari mulutnya. Ares langsung menoleh tajam. Dan Serena malah terang-terangan menatapnya menantang.
"Apa-apaan kamu?"
"Mau ngerokok juga," jawabnya santai yang langsung dipelototi Ares. Lalu wanita itu terkekeh kecil sembari menarik sebuah kursi yang tersedia di balkonnya yang cukup luas ini. "Bercanda."
"Kalo gitu balikin." Ares mengulurkan tangan pada Serena yang tengah sibuk menata mangkuk dan gelas di atas meja.
"Apanya?" Tanyanya tanpa menoleh.
"Apa yang kamu ambil."
"Hati kamu maksudnya?" Serena mendongak polos yang membuat Ares lagi-lagi membulatkan mata. "Ya... seinget aku sih hati kamu yang udah aku ambil."
Ares menajamkan matanya. "Jangan main-main. Kembalikan."
"Gak mau," jawabnya pendek, lalu melanjutkan kegiatan menata peralatan makan. "Kamu sendiri kan yang udah kasih hati kamu ke aku? Dan sekarang aku gak mau balikin."
Dalam diamnya Ares menggeram. Ia lalu meraih dagu Serena dan hal itu jelas saja membuat Serena mendongak menatapnya. Lagi-lagi kejadian yang sama terjadi. Kejadian seperti tadi pagi. Sekarang bedanya Ares yang badannya setengah membungkuk di depannya, sementara Serena terduduk kaku.
"Rokoknya. Kembalikan rokoknya." Bisik Ares parau, membuat Serena menahan napas sejenak. Tangan kiri Ares yang bertumpu di meja bundar itu, merambat mendekati letak kotak rokok yang Serena letakkan di dekat segelas air putih. Ia menganggap Serena tidak tahu apa yang ia lakukan di belakang punggungnya.
Ia menyeringai kecil karena berhasil mengelabuhi Serena dan menangkap kotak rokoknya. Saat Ares akan mengangkat kotak rokok itu, tangan Serena ikut bertumpu di atas tangannya. Ares kontan saja mendongak dan menemukan Serena yang tersenyum penuh kemenangan.
"Duduk." Titah Serena sembari menggoyangkan dagu menunjuk kursi kosong di sebelahnya.
Rahang Ares mengetat. Pria itu menegakkan badannya dengan muka memerah. "Jangan berani memerintah aku."
"Katanya mau rokoknya balik, kan?" Ares menatap kotak rokoknya yang diacungkan Serena. "Duduk atau aku buang rokoknya?"
"Buang aja. Aku bisa beli pabriknya." Ketusnya sambil berniat pergi.
Baru saja satu langkah, tangan Serena sudah menahan lajunya. Wanita itu bangkit dari duduknya dan menempatkan kedua tangannya di dada bidang berbalut kemeja hitam itu. Dengan tanpa rasa takut ia mendorong Ares mundur perlahan hingga terduduk di kursi gili itu.
"Disuruh duduk aja susah." Senyumnya mengejek seraya mengelus sejenak pipi Ares.
Tubuh Ares benar-benar berubah kaku. Ia tak percaya sosok yang sudah duduk kembali di kursi sebelahnya ini adalah Serena. Ada apa dengannya hari ini? Mengapa Serena jadi sangat berani?
"Kamu tuh lagi sakit, Res. Gak boleh banyak ngerokok. Makanya aku sita dulu ya rokoknya."
"Aku gak suka ya kamu atur-atur! Mau aku lagi sakit, mau ak---
"Sssstttt," Serena menempelkan telunjuk di bibir Ares. "Ini aku buatin sup. Kamu kalo lagi sakit gak suka makan bubur, kan?"
"Oh kalo diem aja berarti mau aku suapin."
Tangan Ares menangkap tangan Serena yang sedang mengangkat sendok di depan bibirnya. "Kamu sakit?"
Serena sempat tercenung sejenak, sebelum akhirnya terkekeh kecil. "Aku sehat, kok. Cuma karena suami aku lagi sakit, jadi aku ikut rasain sakitnya juga. Mungkin itu kali ya yang orang-orang bilang ikatan batin suami istri."
"Aku serius."
"Aku juga. Siapa yang bilang bercanda? Kamu gak tau aja kalo setiap istri tuh pasti merasakan sakit yang sama kalo suaminya sakit," lalu Serena menumpu dagu di atas meja dan mendekatkan wajahnya pada Ares. "Begitu pun aku sama kamu."
Ares jadi salah tingkah menatap senyum lebar Serena. Pria itu mendadak tidak bisa mengontrol diri sendiri. Ditambah Serena semakin sengaja menatapnya menggoda.
"Aneh." Ketus Ares pada Serena. Lalu demi menutupi kesalah tingkahannya, Ares mengais secangkir teh yang ada di atas meja.
Byuuuuurrrr!!!
"Jangan dulu diminum, Res. Tehnya masih panas."
Pria itu membulatkan matanya sesaat setelah air teh panas itu menyembur. Sialan! Niat ingin terlihat tetap keren malah dipermalukan begini. Ia lalu menoleh pada Serena yang barusan terdengar seperti meledeknya dibanding mengkhawatirkannya.
"Kamu ngerjain aku?" Tuduhnya.
Yang dituduh malah menggeleng sambil menahan kedutan di bibirnya. "Enggak."
"Ini buktinya?"
"Bukti apa? Kalo aku niat ngerjain kamu, udah dari tadi kali aku nyuruh kamu minum. Tapi kan ini kamu yang minum sendiri? Jadi salah aku dimana?"
Tangan Ares mengepal kesal. Wanita ini benar-benar menguras kesabaran.
"Nih minum biar lidahnya gak melepuh," Ares menatap gelas berisi air putih yang disodorkan Serena itu waspada. "Tenang. Ini gak panas, kok. Aku pastiin gak bakal nyembur lagi."
Kedua alis Ares terangkat. "Kamu ngeledek aku?"
"Ya ampun suami aku ini ya," decak Serena menggeleng kecil. "Selain galak dan cerewet, ternyata baperan juga. Udah nih minum aja. Aman, kok."
Ares sempat ogah-ogahan untuk mengambil gelas itu. Tapi lidahnya yang panas dan mati rasa tak bisa diabaikan. Tuan Risjad dengan gengsinya yang selangit itu meraih sodoran Serena sembari mendelik. Serena pun tak ambil pusing dan hanya tersenyum kecil.
__ADS_1
"Sekarang makan ya. Aku suapin. Aaaaa."
"Siapa yang bilang aku mau makan? Kamu gak denger tadi aku bilang gak mau kamu urusin?"
"Terus mau diurusin siapa, dong? Dokter? Suster? Emang berani disuntik sama minum obat?"
"Kamu tuh---
"Ayo makan. Kalo enggak aku panggil ambulance, nih."
Diri Ares meradang. Hatinya menggeram. Sedari tadi ia berusaha menahan gelatuk giginya. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa lagi. Sehingga, lagi-lagi ia kalah. Terpaksa ia menuruti perintah seorang Nyonya Serena Raharja Risjad ini.
"Enak, kan?"
Enak banget. "Gak tau."
"Aneh. Orang kamu makan, kok. Masa gak tau rasanya."
"Lupa lidah aku baru aja kebakar?" Tanya Ares nyolot.
Serena menggoyangkan bahunya acuh tanpa berkata apapun dan menyuapi Ares lagi. Entah kenapa Ares merasa Serena sedikit murung. Apa ini karena ia tidak memuji masakannya?
"Enak. Dikit." Puji Ares dengan bibir merapat dan sambil mengunyah. Membuat pujiannya itu hampir tidak terdengar.
Namun nyatanya telinga Serena masih sangat normal untuk menangkap suara gengsi Ares itu. Ia pun tersenyum bahagia.
Drrrrrtttt. Drrrrrrrttt.
Bunyi getaran ponsel Ares membuat pria itu segera merogoh saku kirinya. Terlihat sekali ia tak sabar mengetahui siapa yang menghubunginya, dan itu cukup menarik perhatian Serena. Dalam layarnya Ares melihat nama penelepon yang ia tunggu-tunggu dari tadi. Namun sebelum menerimanya, ia melirik Serena yang juga tengah menatapnya. Ada sedikit ketidak enakan dari tatapan Ares, tapi ia benar-benar tak tahan untuk tidak mengangkatnya.
Katakan.
Nama yang Anda sebutkan
tidak terdaftar dalam
penerbangan Singapura atau
Hong Kong, Pak
Jawaban itu cukup membuat Ares membatu. Hatinya mencolos. Ia tidak tahu lagi harus mencari Anye kemana.
Tidak ada lagi tugas untuk
saya, Pak?
Ya.
Jawaban singkat itu memutus sambungan telepon antara Ares dan orang kepercayaannya. Pria itu mendadak diam. Ia seperti putus asa dan itu membuat Serena tak luput memperhatikannya.
"Kamu kayaknya lagi ada masalah." Cetus Serena santai sembari menunduk mengaduk sup di tangannya.
Ares memutar kepalanya menatap Serena. Tanpa suara dan bicara. Hanya ada tatapan datar namun hangat.
"Apapun masalahnya, jangan terlalu dipikirin. Kamu lagi sakit. Mending fokus aja buat pemulihan dan banyakin istirahat," Serena lalu mengangkat kepalanya lagi sambil tersenyum tipis. "Nih makan lagi. Udah mau habis."
"Kenyang."
"Ya udah. Abis ini kamu istirahat gih. Kamu keliatan capek banget sampe mata kamu berkantung. Pasti kurang tidur, deh. Emangnya semalem kamu kemana sih sampe gak pulang dan kurang tidur gitu?"
"Bukan urusan kamu." Ketusnya.
Serena menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan-pelan. Mencoba menutupi kesedihannya, ia tersenyum tipis dan bangkit dari duduknya. Menghadapi Ares memang perlu banyak menyetok kesabaran. Ia pun membereskan peralatan makan Ares dan berniat pergi.
"Kemana?" Tanya Ares heran. Namun tetap tersirat nada gengsinya.
Serena hanya menoleh dalam diam. Tak berniat menjawab dengan kata-kata.
"Ngambek? Mau pergi kerja?"
"Enggak. Aku gak kerja hari ini."
"Kenapa?"
"Bukan urusan kamu," ketus Serena, lalu mendadak menyengir jahil. "Bercanda." Jawabnya yang mampu membuat raut Ares yang tadinya menegang jadi kendur lagi.
"Kamu mau balas aku?"
Serena menggeleng santai. "Aku gak kerja karena mau ngurusin suami aku yang lagi sakit. Gak mungkin kan aku tinggalin suamiku sendirian? Gak ada yang ngurusin. Dan lagi," Serena menjeda sebentar ucapannya dan terlihat lebih serius kali ini. "Anggap aja perhatian ini usaha aku untuk nyicil semua waktu yang udah aku buang dengan mengacuhkan kamu. Aku mau membayarnya sekarang, Res. Aku akan coba mengembalikan waktu lima tahun yang aku habiskan tanpa melihat betapa kamu mencintai aku."
Tanpa aba-aba dan tanpa permisi, Serena menciumi satu per satu mata Ares dengan sangat lembut. "Selamat istirahat, Res."
__ADS_1
Sementara di bawah sana, di dalam sebuah mobil CRV hitam, ada yang tengah tersenyum hangat menatap dua sejoli itu.
"Aku gak nyangka progres Ares untuk berubah lagi akan secepat ini, Re. Walau kamu gak tau aku dalang dari semua ini, tapi aku seneng kebahagiaan kamu kembali lagi dengan lebih cepat. Aku turut bahagia, Serena."