
Siang ini menjadi siang yang cukup melelahkan bagi Serena. Banyak berkas yang masih belum ia tinjau ulang dan periksa lebih rinci. Tumpukannya bahkan hampir setinggi lengannya. Untung saja ada Hana yang sigap merapikan berkas itu dan menyusunnya berdasarkan urutan yang paling penting.
"Gue laper, nih. Ayo kita lunch dulu." Ajak Hana.
"Gue nitip deh ya. Males keluar." Tolaknya menggeser-geser layar tablet di genggamannya.
"Kok gitu? Biasanya makan diluar bareng gue."
"Abisnya gue capek banget, Han," Serena mendesah kasar seraya meregangkan otot tangannya. "Mager banget. Pengin istirahat bentar."
"Ah gak asik loe. Masa gue makan sendiri."
"Ya mau gimana lagi. Sori ya sahabatku yang paling cantik." Gurau Serena dengan nada lemas.
Tok tok tok.
"Ya." Sahut Serena.
Perlahan pintu tinggi besar berwarna coklat kehitaman itu dibuka dari luar. Menampilkan sesosok pria tampan berkemeja putih casual yang mengais kamera di tangan kirinya.
"Aku boleh masuk?" Tanyanya ramah.
Tak Serena tak Hana, keduanya sama-sama terperangah. Mata mereka bahkan tak sanggup berkedip. Terlalu kaget akan sosok itu hingga mulut pun tak mampu terkatup rapat.
"Ngapain kamu kesini?"
Seakan pertanyaan Serena adalah kata mengizinkan masuk, Reno menutup pintu di belakangnya dan berjalan mendekati meja kerja Serena. "Ngajak kamu makan siang bareng."
Mata Hana langsung menghunus Serena yang juga tengah melirik ke arahnya. Hana tentu saja menuntut penjelasan.
"Aku tadi mampir ke warkop Pak Edi. Keinget kamu waktu kuliah suka banget sama ayam bakarnya." Jelas Reno mengangkat kresek putih yang ia jinjing.
Seakan tak menganggap perkataan Reno barusan, Hana malah bangkit dari duduknya. "Re, gue keluar ya. Pengin makan dulu."
"Oh ya udah. Jangan lupa pesenan gue."
Hana mengangguk-angguk.
"Eh pada mau kemana?" cegah Reno kebingungan. "Kita makan bareng aja. Ini ayam bakarnya banyak, kok. Cukup buat bertiga."
"Gak usah makasih. Gue makan diluar aja." Hana menjawab jutek karena benar-benar malas berurusan dengan Reno.
Saat akan melenggang pergi, tak lupa Hana menatap Reno dengan tatapan penuh permusuhan. "Kalo mau ngobrol jangan lama-lama. Gak enak diliat orang. Entar suaminya salah paham."
Reno sempat tak bisa berkata-kata menerima sindiran tajam itu. Ditambah lagi Hana yang dengan sengaja menubruk lengannya saat akan pergi. Itu benar-benar seperti genderang perang yang ditabuh, dan bendera permusuhan yang dikibarkan.
Hingga pada akhirnya, Reno tersadarkan kembali karena Serena berdehem singkat.
"Dalam rangka apa ya kamu ngajak aku makan siang bareng? Bukannya pembicaraan kita udah selesai kemaren?" Selidik Serena dengan tatapan mata tak suka.
"Uhm..." Reno bergumam seraya menetralkan raut mukanya. "Gak dalam rangka apa-apa. Cuma pengin aja."
"Kalo emang gak ada urusan penting yang mau dibicarain, aku rasa kamu gak perlu repot-repot datang kemari."
"Aku gak ngerasa direpotin sama sekali kok, Re. Ini pure karena aku mau bawain kamu makan siang."
"Tapi sayangnya aku lagi gak makan yang berat-berat."
"Diet?" tebak Reno tepat sasaran. "Kamu mau sekurus apa lagi sih, Re? Udah bagus gitu badannya. Lagian aku gak mau ya kejadian enam taun lalu terulang lagi."
"Enam taun lalu?"
__ADS_1
"Kejadian kamu masuk rumah sakit karena gaya-gayaan mau diet. Di rawatnya aja sampe seminggu."
Damn! Kenapa kamu selalu inget hal kecil yang pernah kita laluin dulu, Reno? Desah Serena dalam hati.
"Aku selalu inget semua tentang kamu, Re. Semua," Reno tersenyum manis dengan tatapan menerawang, seakan mendengar suara hati Serena. "Gak ada satu kenangan pun yang luput dari ingatan aku. Bila menyangkut kamu, semuanya pasti akan tersimpan dengan baik. Disini. Dan disini." Reno menunjuk kepalanya, lalu menunjuk dada kirinya.
"Untuk apa sih kamu mengingat semua itu? Gak ada manfaatnya tau gak?"
"Mungkin bagi kamu enggak, tapi itu berarti, Re, buat aku. Setiap aku down dalam pekerjaan dan hal apapun, aku selalu menjadikan kenangan kita sebagai pacuan semangatku. Memang sebegitu maha dahsyatnya kamu buat aku, Re."
"Emangnya kamu gak malu apa, masih mengingat-ingat tentang aku? Aku yang sekarang adalah istri orang ini."
"Dulu sebelum tau kamu sudah menikah, aku bahkan bukan hanya mengingat-ingat kamu, tapi selalu memimpikan kamu akan kembali lagi sama aku dan kita hidup bahagia," jawab Reno dengan senyum manis yang sangat tulus. Dan itu bisa dilihat Serena. "Maaf kalo sekarang pun aku masih lancang memikirkan kamu. Tapi setelah kemarin, setelah melihat cincin di jari kamu itu, aku sadar posisiku ini dimana. Memikirkan kamu saat ini hanyalah sebagai memori terindah yang pernah aku miliki, bukan sebagai seseorang yang harus aku miliki."
Melihat tak ada tanggapan dari Serena yang terlihat masih membeku akan semua pernyataannya, membuat Reno dengan berat hati menarik napasnya. Menaruh jinjingan ayam bakar itu di atas meja Serena yang penuh berkas-berkas.
"Tadinya aku kesini mau makan bareng kamu, tapi setelah ngeliat kamu belum bisa menerima aku, kayaknya aku pulang aja. Kamu bisa ajak Hana buat makan bareng kamu. Tapi tolong diterima ya, Re? Dimakan juga. Aku gak mau kamu sakit lagi kayak dulu. Jangan terlalu porsir kerja juga. Aku liat kamu udah capek banget..."
"...Aku pulang dulu. Selamat makan. Semoga kamu udah punya waktu untuk memikirkan tawaran aku kemaren. Karena aku bener-bener berharap bisa jadi teman kamu."
Setelah memberi senyum perpisahan yang sangat manis, Reno berbalik menjauhi meja Serena. Kakinya melangkah santai menuju pintu keluar. Menarik gagang pintunya ke bawah, dan saat kaki kanannya sudah berada di luar, perkataan Serena menghentikan semuanya.
"Kamu boleh makan siang disini sama aku. Gak mungkin kan seorang teman ngebiarin temannya pergi dengan perut kosong."
Meskipun Serena mengucapkannya dengan sangat datar dan masih menelan gengsi, tapi Reno tetap menarik kedua sisi bibirnya dengan lebar. Akhirnya.
...• • • • •...
"PESANAN ATAS NAMA ALVINO." Teriak seorang barista wanita berambut hitam yang diikat kuda.
Alvino yang kala itu sedang bersama Ares di sebuah coffee shop terkenal seantero negeri, bangkit dari duduknya. Berjalan menuju counter dengan penuh pesona dibalik kemeja hitam yang digulung hingga siku.
"Selamat menikmati, Kak." Kata si barista dengan senyum ramah.
Si barista kontan memunculkan semburat merah di pipinya, senyumnya tertahan kala Vino mengedipkan sebelah matanya. Seperti tanpa beban dan sangat santai, Vino mundur selangkah, berbalik badan, dan oh--
"****!" Umpat seseorang yang ditubruknya.
Kedua kopi yang dibawa Vino tumpah tak bersisa pada kemeja putih milik seseorang itu. Aroma kopi hitam dan legam warnanya tercetak jelas pada bagian dada kemejanya.
Vino meringis. "Sori saya gak--
"Bisa gak sih, Mas, kalo jalan hati-hati?!" sentak pria itu memotong Vino. "Liat nih baju saya kotor karena kecerobohan Anda!"
"Biasa aja kali, Mas! Anda pikir saya sengaja?!" Jawab Vino tak kalah nyolot.
"Makanya kalo mau muter liat-liat. Maen asal muter aja. Punya mata, kan?"
Kopi panas memang tumpah pada pada pria asing-songong ini, tapi Vino merasa dirinyalah yang seperti terbakar. "Anda juga punya mata, kan? Udah tau orang mau muter, harusnya berhenti dulu, jangan ujug-ujug dateng kayak setan."
Pria asing itu memelototkan mata. "Udah tau Anda salah, pake nyalahin orang segala. Situ waras, Mas?"
Semua pengunjung di coffee shop memperhatikan mereka yang mulai memanas. Begitu pula Ares yang mulai cemas melihat sahabatnya berdebat dengan seorang pria tak dikenal.
"Heh, Kambing! Cuma kemeja doang alay loe kayak cewek ABG! Gue beliin selusin! Mau ambil sama toko-tokonya juga gue jabanin."
"Cuma kemeja loe bilang?" pria itu memicingkan matanya marah, lalu mengangkat kamera di tangan kirinya. "Liat nih kamera gue kena imbasnya! Kalo ini sampe rusak loe mau ganti?"
"Alah.. kamera gitu doang banyak di Tanah Abang! Ambil sebanyak yang loe mau, entar gue yang bayar."
"Wah nantangin ya loe." Pria itu maju ingin menjabel kemeja Vino, namun ada sebuah tangan yang mendorong Vino menjauh dari hadapannya.
__ADS_1
"Udah-udah! Apaan sih ni, Vin!" Ares menahan dada Vino yang sama-sama ingin maju menghadang pria tadi.
"Loe gak liat tuh orang belagu banget tadi, Men?" Tunjuk Vino pada pria di belakang Ares itu.
"Gak cuma gue yang liat, tapi semua orang disini liat. Gak malu loe?" Bisik Ares menggelatukkan gigi.
"Abisnya dia nyolot banget jadi orang. Dasar kambing."
"Tapi loe kan yang salah?"
"Gue udah minta maaf, tapi--
"Ya udah ulang."
"Enak aja loe!" Vino keceplosan ngegas. "Tadi dia yang---hmmmffft
"Gue aja yang minta maaf." Kata Ares dengan tangan kanan membekap mulut Vino.
Lalu dengan sangat gentle, Ares berbalik menatap pria asing itu. Pandangannya lurus dan datar. Aura maskulin dan berwibawa sangat kental terasa, hingga membuat tiga orang remaja SMA di meja pojok melongo tak kuat.
"Atas nama teman saya, saya minta maaf. Kalau ada kerugian yang Anda terima dari kejadian ini, silakan datang ke In Global Company. Gedung di Jalan Kasturi, lantai 20."
Setelah raga Ares meninggalkan tempat, auranya masih sangat terasa. Semua orang dibuat tertegun takjub dengan nada bicaranya yang santai namun padat dan jelas. Si pria asing-songong itu bahkan sampai terkatup rapat tak bisa berkata-kata.
Vino maju dan menubruk pria itu dengan senyum mengejek. "Diem kan loe, Kambing!"
...• • • • •...
Sesaat setelah keluar dari coffee shop, Ares terlihat tak menurunkan tensi ketegangan wajahnya yang mengeras. Langkahnya lebar-lebar, tangannya mengepal. Bahkan di belakang sana Vino kewalahan mengejar langkah Ares yang kelewat cepat.
"Tungguin gue kali, Men." Tangan Vino menahan pintu mobil yang telah dibuka Ares.
"Apaan lagi sih, Vin? Masalah loe udah kelar, kan?"
"Ya gue tau udah selesai. Tapi gak maen pergi gitu aja kali. Gue capek nih ngejernya. Melesat mulu loe kayak vampire."
Ares berdecak pelan. "Gue lagi gak mau becanda. Udah sono minggir. Atau gue tinggal, nih."
"Mau kemana sih loe buru-buru amat?"
"Gue mau ke kantor Serena."
"Mau ngapain? Ini udah sore, bentar lagi di rumah juga ketemu."
"Gue gak harus ya ngejelasin semuanya ke loe."
"Ya harus lah. Gue kan--
"Oke. Gue tinggal." Putus Ares menggeser tubuh Vino guna membuka pintu mobilnya.
"Eh mau kemana sih loe, hah?! Masa gue ditinggal."
"Minggir," decak Ares tak sabar. "Ke THT sana loe. Periksa tuh kuping."
"Ya gue tau loe mau ke kantor bini loe. Tapi jangan rusuh kayak mau tawuran gini, dong. Tenang aj--
"Gimana gue bisa tenang kalo barusan gue ketemu sama orang yang menjadi penghalang terbesar dalam rumah tangga gue." Tegas Ares dalam satu tarikan napas. Dadanya benar-benar naik turun. Matanya bergerak panik.
Vino mengerutkan kening bingung. "Sori? Maksud loe?"
"Dia. Orang yang loe tabrak tadi," telunjuk Ares mengacung ke dalam coffee shop. Ia kelihatan benar-benar marah. Suaranya naik satu oktaf. "Itu Reno. Mantannya Serena."
__ADS_1
———————————————