Haruskah Kita Bercerai?

Haruskah Kita Bercerai?
27


__ADS_3

Seperti biasa, Senin pagi merupakan awal yang sibuk bagi semua orang. Segalanya harus dilakukan lebih awal dan lebih cepat dari hari-hari biasa. Kalau tidak cepat-cepat, jalanan yang padat merayap siap menyambut. Oleh karena itu Serena terlihat sedikit lebih cepat menata sarapan di atas meja makan. Sepiring pancake untuk Altan yang sudah duduk rapi di sisi kanannya, dan sepiring roti panggang untuknya. Tak lupa segelas susu putih hangat tersedia.


"Mi, Papi kemana? Udah berangkat kerja, ya?"


"Iya. Tadi katanya buru-buru."


"Papi buru-buru terus. Altan kan maunya ada Papi kayak kemarin." Bocah itu terlihat cemberut seraya hanya memainkan pancakenya.


"Gapapa, Sayang. Kan masih ada Mami. Altan seneng kan makan ditemenin Mami?"


Dengan gemas bocah itu mengangguk. Membuat pipinya yang mengembung itu ikut bergoyang. "Iya, Mi."


"Ya udah kalo gitu lanjutin ya makannya," Serena tersenyum dan membelai singkat kepala puteranya. "Oh iya, nanti Altan jangan main di luar ya. Di dalam aja sama Mbok."


Seperti biasa, kening bocah itu mengerut serius seperti orang dewasa. "Emangnya kenapa, Mi?" Serena menoleh pelan dengan tatapan tak terbaca. "Mami takut kejadian kemarin keulang lagi?"


Serena menghela napasnya pelan sambil meletakkan peralatan makan. Kepalanya mengangguk kecil. "Iya. Mami takut banget Altan pergi jauh dari Mami. Mami takut Altan kenapa-napa." Bisiknya.


"Mami sedih kalo Altan pergi?"


Senyum samar Serena tersungging. Binar matanya meredup. Ia menangkup kedua pipi Altan lembut. "Mami pasti sedih, Tan. Soalnya Mami sayaaang banget sama Altan," lirihnya parau. "Jadi jangan pernah pergi dari Mami lagi, ya?"


"Altan juga sayang sama Mami. Altan gak mau Mami sedih. Altan janji gak bakal pergi lagi."


"Makasih ya, Sayang," dikecupnya lama kening Altan. "So? Altan bakal nurut kan kalo Mami suruh Altan main di dalem sama Mbok?"


"Tapi Altan mau main di luar, gak mau di dalem terus. Om itu baik, Mi. Om itu gak jahatin Altan."


"Om?" kening Serena mengernyit. "Who's that?"


"Iya, Om yang kemarin bawa Altan pergi."


"Altan kenal sama orangnya?"


Dia menggeleng. "Mukanya gak keliatan. Om itu pake topi sama masker, terus kacamata hitam juga."


Tercenunglah Serena untuk beberapa saat. Otaknya menerawang jauh mencoba mencari tahu siapa kira-kira orang yang membawa Altan kemarin. Apakah musuhnya? Atau bisa jadi saingannya? Keningnya makin mengkerut dalam. Serena tidak punya musuh. Seingatnya.


"Uhm... Ciri-ciri Om itu kayak gimana, Tan? Altan inget gak?"


Altan mengangguk. "Om itu tinggi. Tangannya besar ada ototnya. Terus kulitnya putih."


Errrrrr! Serena makin bingung. Tak ada satu kandidat pun yang tergambar di otaknya.


"Om itu baiiiiiiik banget, Mi. Om itu suka juga sama superman. Altan dikasih liat vidio-vidio superman pas di mobilnya."


"Oh ya? Kalo gitu... Altan tau gak Om itu pake mobil apa?"


"Altan gak tau mobilnya apa. Warnanya item."


"Oh ya udah," senyum Serena tipis. "Tapi Altan gak di apa-apain, kan?"


"Enggak," gelengnya polos. "Om itu cuma bawa Altan ke taman, terus beliin es krim juga."


"Tapi kemarin Altan kok gak pulang sama Om itu? Emang Om itu kemana?"


"Om itu bilang mau ke toilet, tapi malah gak pulang-pulang lagi. Altan ditinggal sendirian di kursi taman. Abis itu Altan cari jalan pulang, tapi gak ketemu. Terus Altan ketemu deh sama Tante Anye."


Serena menelengkan kepala karena takut salah dengar. "T-tan...te... siapa, Tan?"


"Tante Anye."


"Tante Anye?" entah kenapa jantung Serena malah berpacu cepat. "T-tapi... tante yang kemarin anterin Altan pulang namanya Tante Michelle."


"Namanya Tante Anye, Mi."


"Mungkin Altan salah denger."


"Orang tante itu yang bilang sendiri kok waktu kenalan sama Altan. Namanya Tante Anye. Altan gak salah denger."


Positive thinking, Serena. Yang punya nama Anye di dunia ini bukan cuma si sweetheart doang.


• • • • •


Serena tercenung diam saat sebuah amplop putih mendarat di atas meja kerjanya. Tangan lentik yang menyodorkan amplop itu menggesernya pelan mendekat ke arahnya. Serena menunduk menatap amplop itu, lalu mendongak melihat si pemberi.


"Apa ini?" Tanyanya heran.


"Surat pengunduran diri saya, Bu."


Kedua alis Serena terangkat. Ia bingung tentu saja. Sekonyong-konyong dihadiahi surat pengunduran diri tanpa ada kabar sebelumnya, siapa pula yang tak akan bingung?


"Kenapa?"


"Ada alasan yang gak bisa saya jelaskan. Yang pasti alasan ini membuat saya gak bisa bertahan lebih lama lagi disini."


"Tapi kontrak kerja kamu masih dua bulan lagi loh, Michelle."


Anye terdiam datar. Matanya menatap Serena tak terbaca. "Saya tahu itu, Bu. Saya akan membayar finaltinya dan mengembalikan uang DP yang udah Ibu kasih."

__ADS_1


"No... I mean... ini bukan soal itu, Chelle. But why? Kenapa kamu mau berhenti? Kenapa tiba-tiba begini? Is everything okay?"


Anye menahan napas sejenak. "Semuanya baik." Semuanya akan baik-baik aja kalo aku gak ada disini.


"So? Why?"


"Saya gak akan tinggal disini lagi. Sore ini saya pergi."


Kehilangan kata-kata. Itulah yang dirasakan Serena. Walau kerutan di dahinya jelas menyiratkan kebingungan yang masih kentara, tapi ia tak bisa bilang apa-apa lagi.


"Saya harap Ibu bisa mengerti dan mau menerima keputusan yang sudah saya ambil. Maafkan saya atas ketidak sanggupan melanjutkan kontrak ini. Saya paham kalau Ibu mungkin akan kecewa atau marah."


"Michelle," Serena mendesah pelan seraya menangkup kedua tangan Anye. "Its okay. Kalo itu memang sudah keputusan kamu ya gapapa. Saya gak akan kecewa ataupun marah. Saya cuma kaget dan pasti akan sedih kalo kehilangan kamu," sudut bibir Serena tertarik ke atas. "You're one of the best models I ever had."


Anye menatap kungkungan tangannya dengan nanar. Kini kegamangan tengah melanda hatinya. Ada marah, kecewa, tak percaya, dan entahlah apa namanya lagi. Entahlah juga perasaan itu ditujukan untuk diri sendiri atau untuk orang yang sedang menatapnya tulus itu. Sungguh, perasaan ini tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


Kalau saja Serena bukan istri Ares. Kalau saja Serena bukan orang yang telah menyakiti Ares. Kalau saja Serena bukan orang yang ia kagumi. Kalau saja ia tidak sedekat ini dengan Serena. Kalau saja ia tak bekerja disini. Kalau saja ia tak kembali lagi kesini. Kalau kalau kalau! Semua ini hanya tentang kata kalau.


Sekarang ia tahu perasaan tak karuan itu ditujukan untuk siapa!


Tunjuk jidat sendiri, Nye. Buat kamu! Ini semua salah kamu! Sekarang waktunya berhenti! Pergi. Kamu gak seharusnya terlibat dalam urusan rumah tangga mereka! Sekarang udah saatnya untuk kamu kabur dari perasaan gak karuan itu!


"Saya yakin keputusan yang kamu ambil udah keputusan terbaik. Do what you want, Chelle." Kata Serena Seraya tersenyum lebar.


Seakan tak mau berlama-lama dengan perasaan tak nyaman itu, Anye melepas halus genggaman tangan Serena. Tersenyum pun tidak. Ia benar-benar tak tahu harus bersikap seperti apa.


"Terima kasih atas pengertiannya, Bu. Kalau begitu saja izin pamit," Anye menggeser kursinya seraya berdiri. "Terima kasih."


"Eh tunggu," Serena bergerak keluar dari posisi nyamannya dan menghampiri Anye yang menatapnya heran. Senyum manis yang menampilkan lesung pipinya tercipta saat ia berdiri di depan Anye. "Gak ada pelukan buat saya, nih? Sebagai salam perpisahan, maybe?"


Tubuh Anye menegang saat Serena menarik tubuhnya dalam sebuah pelukan erat. Percis seperti seseorang yang melepas sahabatnya pergi. Sangat menghangatkan. Anye dapat merasakan ketulusan.


Serena, kalau aja 'kalau-kalau' yang aku sebutkan di atas memang gak pernah terjadi, mungkin perpisahan kita gak akan membuat aku sesedih ini. Jujur, sejauh ini pun aku masih gak percaya wanita sebaik kamu bisa sejahat itu sama Ares. Tapi di satu sisi, aku juga gak bisa menuduh kalau penilaian Ares tentang kamu adalah salah.


Posisi ini terlalu sulit buatku.


Aku gak mungkin bertahan dengan perasaan mengagumi dan membenci kamu secara bersamaan.


Mungkin pergi memang jalan terbaik.


• • • • •


Dalam sebuah ruang persegi yang gulap gulita, seseorang tengah menumpangkan kaki di atas sofa besar. Tatapannya tajam lurus ke depan. Jarinya yang panjang mengetuk-ngetuk pada tangan sofa seakan tak sabar menunggu sesuatu.


Hingga pada menit selanjutnya, benda pipih yang tergeletak di sisi tubuhnya berdering nyaring. Ia meraih benda itu dan menemukan nama seseorang yang sudah ia tunggu untuk menghubunginya.


"Wanita itu resign, Bos.


Dia baru saja keluar dari


kantor agensi."


"Bagus. Sesuai dengan


apa yang saya harapkan."


Tanpa repot menunggu jawaban atau sekedar pamit menutup sambungan, telepon dimatikan secara sepihak. Pria itu menyeringai bak iblis. Senyumnya yang seperti itu menambah kesan seram dan membuat ruangan ini kian menakutkan. Hawanya terasa lebih dingin.


"Saatnya membawa kabar buruk ini pada seseorang." Desisnya.


Lalu tangannya dengan lincah mengetik angka-angka yang sudah ia hapal di luar kepala. Menempelkan benda pipih itu pada kiri telinga.


"Risjad."


Suara bariton di ujung sana mengalun berat seolah mengatakan siapa saja yang mendengar nama belakangnya akan menciut takut. Tapi nyatanya doktrin itu tak berhasil pada seseorang yang malah tersenyum tipis ini. Ia terlihat santai bahkan sempat-sempatnya bersiul kecil.


"Siapa ini? Saya gak punya


banyak waktu untuk mendengar


Anda bersiul."


Katanya tegas, yang membuat


pria ini makin melebarkan


tarikan di ke dua sudut bibirnya.


"Kalau begitu sediakan waktu sebanyak-banyaknya. Saya yakin Anda bisa melakukannya untuk hal yang satu ini."


"To the point."


"Kenapa harus buru-buru, Bung?


Apa Anda juga mau orang yang


Anda sayang pergi buru-buru?"


"Is this a joke? Seriously saya

__ADS_1


tidak sedang ingin bercanda."


"Sama seperti Anda,


saya juga serius.


Sosok wanita yang Anda sayangi sebentar lagi akan pergi jauh dari Anda. Dia sudah menyiapkan koper dan tiket penerbangan."


"Siapa yang Anda maksud?!"


"Pikirkan baik-baik, Tuan Risjad.


Saya yakin otak Anda yang pintar akan cepat mengetahuinya."


"Apa maksud semua ini, hah?!


Katakan dengan jelas!"


"Saya sangat ingin menjelaskannya lebih lama lagi, tapi saya takut waktu Anda habis untuk mencegah kepergian orang itu. Jadi, jangan buang waktu untuk bicara dengan saya."


"Demi Tuhan, siapa Anda


sebenarnya?!"


"Tolong hentikan ini, Bung. Cepatlah bangkit dari singgasana nyaman Anda sekarang. Berlarilah. Kalau perlu terbang dengan kuda besi pribadi. Karena untuk sekedar info, hari ini jalanan akan padat merayap oleh demo massa. Jangan sia-siakan waktu Anda yang minim itu. Saya harap Anda tidak terlambat."


"****! Siapa-


Tut!


Pria itu dengan tegas memencet tombol merah dan mematikan daya gawainya. Ia yakin Tuan Risjad sedang bingung setengah mati di sebrang sana. Bibir seksinya lagi-lagi menebar senyum iblis. Ia mengelus-elus dagunya yang nampak kasar oleh bulu-bulu kecil yang baru dipangkas.


"Antares, ini balasan yang menyakitkan sekaligus menyadarkan untuk Anda. Di satu sisi Anda kehilangan sosok itu, dan di sisi lain Anda akan menemukan sosok yang selama ini Anda hiraukan. Semoga dengan ini semuanya lekas membaik..."


"...Selamat tinggal, Anyelir. Selamat berbahagia kembali, Serena."


• • • • •


Lemas. Itulah yang dirasakan Ares saat ini. Bukan karena ia berlari menaiki tangga darurat untuk sampai disini. Bukan juga karena dadanya yang masih turun naik dengan cepat karena lelah. Semua ini bersumber dari ruangan kosong yang sedang ia tatap.


Dinding polos tanpa tempelan polaroid. Ranjang berseprai putih dan bantal yang berjejer rapi tanpa terselip boneka singa. Bagian samping lemari nampak kosong tanpa adanya kandang kucing milik Milo.


Kakinya yang lemas dan mendadak mati rasa itu melangkah gontai membuka pintu lemari. Menatap kedua bagian lemari itu sama kosongnya dengan ruangan ini. Kamar Anyelir.


Palu godam seakan baru saja menghantam kepalanya dengan keras. Membuat sendi dalam otaknya berhenti bekerja. Ia tak bisa memikirkan apapun selain wajah Anye yang tergambar tengah melambaikan tangan padanya.


Kalau saja ia lebih cepat, mungkin setidaknya lambaian tangan itu bukan hanya sekedar ilusi, tapi terjadi tepat di depannya. Walau berat, setidaknya ia ada di sisi Anye. Bukan dengan bodoh begini menahan isak tangis.


Brak! Pintu lemari dibantingnya keras.


"Arrrrrgghhhh!!!! Sialan, Antares, sialan! Loe goblok! Goblok!" Teriaknya dengan air mata yang membanjiri dua sisi wajahnya.


Ia mengepalkan tangan pada kedua pintu lemari seraya terisak-isak dalam tangisan. Kepalanya menunduk dan otot di sekitar rahangnya terlihat menonjol.


"Kenapa kamu pergi, Nye? Kenapa aku dibeginikan?" Teriaknya frustasi.


Ares memukul-mukul lemari dengan lemah. Ia seperti hilang arah. Hilang topangan. Hilang rumah. Hilang segalanya.


"Kenapa kamu gak pamit dulu, Nye? Kenapa?" bisiknya parau. "Kalo begini, kemana aku harus cari kamu? Dimana aku bisa temuin kamu, Sweetheart?"


Dalam hanyutnya Ares menangis, sudut matanya menangkap sebuah kotak biru muda tergeletak di pintu balkon yang tertutup. Pria itu menyusut air matanya kasar dan berjalan untuk mengambil kotak persegi panjang itu.


Saat dibuka, isinya ternyata semua kumpulan polaroid yang mulanya ditempel di dinding kamar. Ada sebuah toples kaca berukuran sedang dengan ukiran spidol hitam bertulis tangankan "obat migrain buat kamu". Ada bulatan kertas-kertas yang sudah lecek. Dan satu lagi benda terselip yaitu tape recorder kecil warna abu-abu. Dengan penasaran, Ares menekan tombol power berwarna merah yang ada di bagian atas alat itu.


"Hai, Res. Sebenernya aku beli tape recorder ini karena bingung mau nulis apa. Kamu liat sendiri kan banyak kertas-kertas lecek yang ada di kotak itu? Hehe. Maaf ya aku masukin situ. Aku sengaja. Biar kamu tau gak mudah buat aku menuliskan kata perpisahan ini..."


Ares dengan seksama mendengarkan suara Anye, bahkan ketika wanita itu terdengar menghela napas panjang.


"...Antares, aku tau ini mengejutkan buat kamu. Ini terlalu mendadak dan tanpa kabar. Tapi buat aku enggak, Res. Setelah hari itu, semalaman suntuk aku memikirkan ini. Mencari jalan apa yang harus aku ambil dan langkah apa yang harus aku jalani..."


"...Semuanya terasa membingungkan sampe buat aku buntu dan gak bisa mikir apa-apa lagi. Otakku mentok. Dan satu-satunya kata yang mampir di otakku tadi malam adalah pergi. Satu kata itu..."


"...Aku gak tau apa yang aku rasain sekarang, Res. Semuanya hampa. Yang aku pengin cuma ketenangan. Dan hal itu gak akan bisa aku dapatkan kalo terus disini..."


"...Semoga kamu ngerti dengan apa yang sudah aku pilih dan putuskan. Ini terasa sulit banget buat aku. Jadi jangan buat aku merasa bersalah dengan kamu yang berlarut dalam kesedihan..."


"...Kita LDR sekali lagi oke? Bisa gak? Harusnya sih bisa. Kan kita udah pernah coba hahaha..."


"...Kalo kangen aku dengerin aja ini ya. Atau kalo enggak, bikin aja mie pake telor sama rawit. Tapi jangan keseringan, nanti sakit perut. Dimakan juga obat migrainnya. Polaroidnya jangan dibuang, aku susah motonya. Oh ya, aku bawa satu foto gapapa, kan? Foto yang kamu lagi pake kumis palsu pas teater di sekolah dulu, soalnya aku suka banget foto itu, kamu keliatan lucu dipeluk aku..."


"...Udah ya, jangan kepanjangan. Aku haus. Semoga kamu tetep semangat ngejalanin hari-hari kamu. Jangan sedih aku pergi..."


"...Jangan lupa perbaiki semuanya juga. Terkhususnya, rumah tangga kamu. Jujur, aku masih merasa istri kamu gak salah dalam hal ini. Mungkin kalian hanya kurang berkomunikasi..."


"...Terus baik-baik aja ya. Bye, Antares. INGAT! JANGAN CARI AKU SAMPE AKU PULANG DENGAN SENDIRINYA!..."


"...Salam sayang dari Anyelir."


----------

__ADS_1


__ADS_2