Haruskah Kita Bercerai?

Haruskah Kita Bercerai?
37


__ADS_3

"Kita cerai."


Di atas brankar yang menjadi tempatnya berada selama beberapa jam terakhir, Serena duduk dengan raut datar dan tak terbaca yang pernah ia tunjukkan. Di bawah sana, jarinya memutar-mutar cincin yang tadi dilempar Ares ke arah dadanya. Setiap putaran pada porosnya, berarti satu kali suara Ares diputar lagi dalam telinga. Tidak, ia tidak frustasi. Ia hanya ingin meyakinkan diri sendiri bahwa keputusan menyerah yang ia ucapkan pada Ares di tangga darurat adalah tepat.


Ia menyerah. Dan Ares melepaskannya.


Impas.


Tak ada yang perlu disesali atau ditangisi.


Sebanyak apapun ia menyesal atau menangis, titik akhirnya selalu berhenti pada kata perpisahan.


Lamunannya lalu terpecah saat segelas air disodorkan di depan wajahnya. Ia mengangkat pandangan, dan menangkap ibunya Ares berdiri di sisinya. Sebagai bentuk rasa sopan, ia mengambilnya walau tak ingin.


"Terima kasih, Ma."


Yolita hanya tersenyum kecil, lalu menurunkan pandangan seolah tak punya lagi muka di depan menantunya.


Serena yang memperhatikan itu, tahu betul bagaimana perasaan mama mertuanya saat ini. Pasti berat menerima kenyataan pahit yang diberikan anak sendiri. Walau jelas anaknya yang melakukan, tapi orang tua akan selalu merasa menanggung dosanya.


Lalu ia mengedarkan pandang ke arah ke dua orang tuanya dan sang papa mertua yang setia berdiri di sisi brankarnya. Sudah satu jam sejak peristiwa buruk tadi berlalu, tapi kegelapan masih menaungi wajah-wajah mereka. Kelihatannya mereka semua lebih terpukul dari Serena sendiri.


Tak tahan melihat tak berdayanya semua orang yang ia sayangi, pertama-tama ia menggenggam tangan Yolita yang terlihat paling terpukul. Meremasnya kuat seolah meyakinkan semua ini bukan kesalahnnya, dan beliau tidak perlu bersedih terlalu larut.


Tapi, Yolita menggeleng. Mengangkat kepalanya ragu-ragu dan terlihat begitu putus asa. "Jangan, Serena. Tolong jangan katakan kalau Mama gak perlu bersedih berlebihan dalam hal ini. Mama memang sudah sepantasnya merasa bersalah dan merasa gagal. Semua ini disebabkan oleh Ares anak Mama. Dia yang sudah membuat kamu begini."


"Mama, justru karena itu Mama gak perlu merasa bersalah. Semua ini dilakukan Ares, bukan Mama. Mama gak salah apa-apa dalam hal ini. Mama gak pantas merasa bersalah apalagi gagal."


"Tapi Ares itu anak Mama. Mama yang membesarkan dia sampai sebesar ini. Kalau dia sampai melakukan hal seburuk ini, berarti ada yang salah dari didikan Mama. Mama gagal menjadikan dia manusia yang bijaksana dan lelaki yang bertanggung jawab. Itulah sebabnya Mama pantas ikut disalahkan." Yolita tak bisa menahan getaran bibirnya sebagai ungkapan bersalah, marah, kecewa, dan putus asa.


"Mama."


"Seharusnya saat Mama tau dalam rumah tangga kalian ada yang gak beres Mama meminta kamu meninggalkan Ares, bukannya bertahan. Mungkin kalau saat datang ke rumah kalian Mama tidak egois dengan meminta itu, kamu gak akan pernah sampai di titik ini. Kamu gak akan pernah merasakan sakitnya kehilangan seorang anak."


"Semua itu gak bener, Ma. Tanpa Mama minta pun memang udah keinginan aku buat bertahan. Kalo Mama menganggap itu sebagai kesalahan Mama, berarti aku juga ikut bersalah untuk itu. Akulah pembuat kesalahan terbesar."


Terang saja Yolita menggeleng cepat seolah tak mengizinkan Serena berpikir seperti itu. Ia keberatan. "Enggak, Sayang. Jangan bilang gitu. Kamu gak bersalah sedikit pun. Jangan pernah kamu berpikir seperti itu lagi."


"Kalo begitu berhenti juga berpikir Mama lah yang paling bersalah. Its not fair. Mama juga gak salah sama sekali. Hilangkan semua pemikiran itu. Dengan begitu, aku juga gak akan lagi berpikir seperti itu. Tolong, Ma. Demi aku."


Yolita menumpukkan tangannya di atas tangan Serena yang mengungkungnya. Meremasnya kuat-kuat. "Entah apa yang Ares pikirkan sampai bisa melepaskan wanita sebaik kamu. Apa lagi yang dia cari sampai menyia-nyiakan seseorang yang tulus seperti kamu. Mama benar-benar gak habis pikir, Serena. Setelah ini Mama akan bicara lagi sama anak itu untuk memikirkan lagi keputusannya. Dia gak bisa menceraikan kam---


"Tolong jangan, Ma. Biarin aja kalo Ares memang ingin pisah. Aku juga merasa kalo hubungan kita sudah gak bisa lagi dipertahankan. Kita memang sudah sama-sama gak cocok."


"Tapi, Serena---


"Mama, ada banyak rahasia dalam pernikahan kami yang gak diketahui semua orang termasuk kalian semua. Aku gak se-sempurna yang Mama kira. Selama ini aku juga sering menyakiti Ares tanpa siapapun tau. Di awal pernikahan kami sampai sekarang berjalan lima tahun, aku gak pernah memperlakukan Ares dengan layak. Kita menikah, tapi hanya Ares yang menjalankan kewajiban dalam rumah tangga. Kita memang suami istri, tapi hanya Ares yang menganggap aku sebagai istri."


"Serena...."


Mendapati tanda tanya bersarang di mata Yolita, Serena mengangguk. "Aku gak bohong, Ma. Aku memang sejahat itu sama Ares. Kalau aku sekarang tersakiti karena Ares, maka selama ini pun Ares tersakiti karena aku. Itulah sebabnya aku menyerah dalam hubungan kami. Kalau kita terus sama-sama, kita hanya akan terus saling menyakiti. Biarin Ares memutuskan semua ini. Mungkin ini cara dia untuk menemukan kebahagiaan yang selama ini gak dia dapat dari aku. Mungkin dengan dia bersama wanita lain dia bisa mendapat perlakuan yang lebih layak dari aku."


"Tapi kenapa kamu bisa seyakin itu wanita itu lebih baik dari kamu? Apa selama kamu tahu perselingkuhan Ares kamu juga mengenal wanita itu?"


Serena diam dengan mata yang kembali menyiratkan luka. Justru itulah yang ia sesali. Kenapa selama ini ia sampai tak tahu bahwa wanita lain dalam rumah tangganya begitu dekat dengan dirinya? Bahwa wanita perusak rumah tangganya adalah wanita yang ia jadikan teman dalam lingkungan kerjanya? Bahwa Anyelir yang selama ini berputar-putar dalam otaknya adalah Anyelir Michelle modelnya sendiri?


Tapi, dibalik semua ketidak tahuannya di atas, Serena tahu satu hal bahwa Anyelir sangat mencintai Ares. Semua itu begitu kentara dari bagaimana Anye mengisi box biru yang ia tinggalkan untuk Ares itu dengan semua kebutuhan Ares. Perhatiannya, kasih sayangnya, Serena jelas kalah telak dari Anye. Mungkin itu yang membuat Ares sampai bisa berpaling. Anye bisa memberikan apa yang tidak bisa ia berikan.


"Aku gak kenal dia, Ma. Selama ini aku hanya tau namanya Anyelir. Selain itu, gak ada lagi yang aku tau. Baru setelah aku liat kejadian itu..." suaranya sedikit bergetar. "Aku tau seperti apa wajahnya."


Dalam diamnya, otak Yolita mulai berpikir dengan tidak tenang. Anyelir? Wanita yang bersama Ares adalah Anyelir? Apa itu Anyelir yang sama seperti yang ia pikirkan?


"Setelah itu, aku baru sadar kalo aku bodoh banget, Ma. Gimana bisa aku gak tau kalo Anyelir yang selama ini hadir di antara aku dan Ares adalah model di agensiku sendiri? Wanita itu begitu dekat di sekitar aku dan bahkan aku jadikan teman."


Serena teringat saat Anye datang ke rumahnya mengantarkan Altan pulang. Saat itu Ares begitu tegang dan sikap Anye berubah dingin. Seharusnya saat itu ia menaruh curiga, bukan malah bersikap naif. Seharusnya ia juga mencurigai Ares kala dia tiba-tiba bertanya mengenai Anye saat menjemputnya pulang.


Kalau saja. Kalau saja ia berpikir lebih cermat atau setidaknya sedikit peka, mungkin caranya mengetahui bagaimana sosok Anyelir tidak akan seperti ini. Bukan melihatnya tanpa busana bersama suaminya sendiri.


"Serena."


Panggilan dari Yolita itu menarik kembali kesadaran Serena. Serena menatap mertuanya lamat-lamat. Sedikit heran saat mata Yolita berubah cemas entah karena apa.


"Serena, apa... Anyelir yang kamu maksud adalah... Anyelir Michelle?"


Wajah Serena mengetat karena kaget. "Mama tau dia?" Bisiknya.


• • • • •


Bunyi ban yang berdenyit ngilu mengisi kesunyian malam di rumah bertingkat dua milik Ares. Mobil yang sedari tadi ia pacu dengan kecepatan penuh berhenti tepat di halaman rumahnya. Segera setelahnya, Ares turun dari sana dan membanting pintunya keras-keras.

__ADS_1


Dengan rahang mengeras, ia dorong kasar pintu masuk. Berniat ingin langsung ke kamarnya, langkah kakinya tertahan di ruang tamu mendapati seseorang yang sejujurnya sedang tidak ingin ia lihat hadir di sana.


Anyelir.


Anye menghampiri Ares dengan wajah gelisah. "Res, is everything okay?"


Ares menghela napas dan melepaskan lengannya dari cekalan Anye. "Aku lagi gak mau bicara sama siapa-siapa. Lebih baik kamu pulang sekarang."


"Kenapa? Ada apa? Apa terjadi sesuatu?"


"Anye, please. Aku udah bilang kalo aku gak mau bicara. Aku mau istirahat."


Saat Ares akan melengos, Anye lagi-lagi mencekalnya. "Tapi kena---


"Kamu denger gak sih aku bilang apa?!" Ares menepis cekalan Anye dan berteriak kepadanya. "Aku bilang aku gak mau bicara sama siapa-siapa! Terlebih sama kamu!"


Kontan mata Anye langsung berkaca-kaca. Sebelum hari ini, ia tak pernah melihat Ares semarah ini padanya apalagi sampai berteriak. Dan lagi, apa tadi Ares bilang? Tak ingin bicara dengannya?


"Kamu kenapa, Res? Kenapa kamu marah kayak gini?"


"Ya karena pertanyaan kamu konyol! Kamu nanya sama aku apa semuanya baik-baik aja atau enggak. Padahal tadi pagi kamu liat sendiri gimana kejadiannya. Udah pasti gak akan ada yang akan baik-baik setelah semua itu! Gak ada!"


"Aku cuma nanya, Res. Aku cuma pengin tau keadaan Serena. Kenapa kamu bilang gak mau bicara sama aku? Apa salah aku?"


"Jangan pura-pura gak tau salah kamu dimana, Anyelir! Kamu pasti sadar kamulah alasan kenapa tadi Serena lari dari aku! Dia kaget dan marah karena liat kita berdua dalam keadaan telanjang! Paham?!"


Jatuh sudah air mata Anye tanpa bisa ditahan. Apa Ares baru saja menunduhnya bersalah atas semua ini? Apa Ares secara tidak langsung menyatakan dirinya penyebab dari semua ini?


"Jadi ini salah aku? Ini semua salah aku?"


"Menurut kamu apa?! Apa menurut kamu semua ini bisa kejadian kalo kamu gak ada?! Apa semua ini bisa kejadian kalo kamu gak dateng ke kantor aku?!"


"Tapi kembalinya aku ke sini gak bermaksud buruk sama siapapun, terlebih Serena. Aku pure cuma mau nemuin kamu. Aku juga gak ada niat untuk ngebuat dia marah dengan ngeliat kita tidur---


Melihat kening Ares mengetat marah, Anye sadar ia sudah salah bicara. Ia hampir saja keceplosan tentang kejahatannya malam itu. Untung saja ia masih bisa menahannya. Segera saja ia mengubah topik sebelum Ares curiga.


"Baru semalem kamu bilang kamu bersyukur aku kembali lagi, Res. Baru semalem kamu minta aku untuk gak pergi lagi dari hidup kamu. Tapi kenapa sekarang jadi gini? Kenapa kamu jadi nuduh aku? Emang kamu pikir aku mau kayak gini? Aku bisa merusak rumah tangga orang?"


Ares menelan ludahnya dengan napas yang masih memburu. Sesaat, terselip rasa bersalah melihat linangan air mata Anye. Meski begitu, ia tetap tak berniat meminta maaf. Walau Anye tak sepenuhnya salah dalam hal ini, entah kenapa Ares merasa begitu marah kepadanya. Mungkin karena malam terkutuk yang mempertemukan ia dan Anye menjadi sebab musabab semua kehancuran ini.


"Res, kamu benar-benar menganggap aku penyebab semua ini? Kamu benar-benar menganggap aku salah dalam hal ini? Kamu benar-benar mikir kalo aku---


Sebuah suara yang dingin nan tajam membuat Ares dan Anye kompak memutar kepala. Tak diduga tak dinyana, di dekat pintu yang terbuka, Yolita---ibunya Ares---berdiri dengan aura gelap yang seakan siap membumi hanguskan dunia dan seisinya. Henrialdi Risjad juga berdiri di sampingnya dengan postur mengintimidasi.


Anye mematung saat suara ketukan langkah ke dua orang yang dulu begitu dekat dengannya itu kian mendekat. Tak dinafikan, ia sedikit ketakutan dan terintimidasi.


"Tante---


"Cukup."


Bibir Anye kembali terkatup saat Yolita membuka telapak tangan di hadapannya. Mengisyaratkan ia untuk sepenuhnya berhenti bersuara.


"Apapun yang mau kamu sampaikan, tolong simpan sampai saatnya saya meminta kamu bicara. Saat ini, biarkan saya yang bicara lebih dulu."


Lagi, setelah Ares, Anye merasakan lagi perlakuan tak biasa dari orang terdekatnya. Rasanya tak bisa dijelaskan. Yang pasti cukup perih.


"Sejak saya mengenal kamu dari kecil, saya gak pernah menyangka suatu saat nanti kamu akan menjadi penyebab kehancuran rumah tangga anak saya Antares. Gadis yang saya sayangi seperti puteri sendiri, saya jaga seperti berlian, bisa-bisanya menghancurkan kehidupan perempuan lain dengan sangat parah..."


"...selama kamu menghilang, saya selalu berharap kamu kembali pada kami dan kita bisa hidup berdampingan seperti dulu lagi. Tapi kalau saya tau Tuhan mengabulkan harapan saya dengan cara seperti ini, saya gak akan pernah meminta apapun pada Dia. Kehadiran kamu ke sini rupanya hanya membawa bencana bagi kehidupan anak dan menantu saya..."


"...kamu, Anyelir," telunjuk Yolita mengarah dengan tegas. "Kamu sudah merebut hak Serena sebagai seorang istri sekaligus seorang ibu. Kamu sudah merebut hak kami sebagai kakek dan nenek bagi calon cucu kami. Gara-gara kamu kami semua harus kehilangan calon bayi yang kami tunggu dengan sabar. Gara-gara kamu harapan kami semua hancur dalam sekejap."


Tubuh Anye kontan menegang. Tak mengerti apa maksud Yolita tentang Serena dan bayi. Serena kenapa? Bayi apa?


"Gara-gara kamu janin dalam kandungan Serena harus gugur sebelum dilahirkan. Dia gak bisa melihat dunia ini karena kamu. Kamu dengar itu?! Kamu yang menyebabkan cucu saya meninggal."


Mendadak sekujur badan Anye lemas dari ujung kepala sampai ujung kaki. Serena? Keguguran? Jadi dia sedang hamil? Jadi saat Serena melihat dirinya dan Ares dia sedang hamil?


"Dan satu lagi," lalu Yolita menatap sang putera tunggal tak kalah tajam. "Kamu juga terlibat dalam hal ini, Antares. Kamu dan dia sama saja. Mama kira selama ini kalian hanya bersahabat baik. Tapi ternyata kata persahabatan itu sudah berganti ikatan jadi lebih serius. Saat kalian bersahabat kalian selalu kompak. Gak heran saat hubungan kalian lebih dari itu kekompakan kalian bertambah erat. Kalian begitu kompak menghancurkan hidup Serena..."


"...terkhusus kamu, Antares," kini giliran Ares yang Yolita tunjuk. "Mama gak pernah mengira hal ini bisa kamu lakukan. Mama gak mengenali kamu sebagai sosok anak yang Mama besarkan dan dulu Mama banggakan. Mama gak tau setan mana yang sudah merasuki jiwa kamu sampai kamu sejahat ini..."


"...kamu sangat keterlaluan karena sudah menyakiti wanita seperti Serena. Dan seakan itu belum cukup, kamu malah membuatnya makin hancur dengan kata-kata perpisahan. Kalau ada orang yang harus disalahkan lagi---selain wanita ini---atas gugurnya cucu Mama, itu kamu orangnya, Antares. Kamu yang sudah membunuh anak kamu sendiri. Kamu sudah gagal menjaga anak kamu sendiri..."


"...saat ini kalian mungkin bisa bersama-sama dan berbahagia di atas penderitaan Serena. Tapi percayalah semua ini gak akan berlangsung lama. Tuhan tidak sejahat itu dengan membiarkan kejahatan menang di atas kebenaran terlalu lama. Camkan itu baik-baik..."


Secara bergantian, Yolita menguliti Ares dan Anye. "...segeralah sadar. Walaupun itu akan sangat terlambat."


• • • • •

__ADS_1


Saat pintu ruang rawat Serena ia buka, Reno mendapati tatapan marah dari kedua orang tua Serena, terkhususnya Seno Raharja. Walau hanya menatap matanya, Reno masih bisa merasakan tamparan panas beliau pada wajahnya lima tahun lalu---dua pekan sebelum ia memutuskan membatalkan pernikahannya dengan Serena. Seno Raharja adalah orang yang paling murka dan membencinya saat itu. Dan sepertinya tidak ada yang berubah sampai detik ini.


"Ada kepentingan apa kamu kemari?" Geraman yang berasal dari mulut Seno Raharja membuat Reno menelan ludahnya.


"Om, saya----


"Berhenti di situ," sentaknya saat Reno ingin maju. "Gak ada yang mengizinkan kamu masuk!"


Dari arah brankar Serena, Seno Raharja berjalan gagah penuh hawa panas. Walau usianya yang sudah senja, ia tak pernah kehilangan wibawanya untuk disegani dan ditakuti orang.


"Lancang sekali kamu ke sini. Berani kamu menampakkan muka di depan saya?!"


"Om, saya hanya mau menjenguk Seren---


"Untuk apa? Di sini sudah ada orang tuanya. Dia tidak butuh orang lain. Saya masih bisa menjaga dia seperti saya menjaga dia saat kamu tinggalkan lima tahun lalu. Mengerti?!"


"Sebent---


"Pergi kamu sekarang! Saya gak sudi liat wajah kamu lagi!"


"Tapi, Om."


"Saya bilang pergi, ya per----


"Papa..."


Ketegangan di kening Seno Raharja mengendur saat suara Serena menyapanya dari belakang. Ia membalikkan tubuh dan menatap puterinya heran.


"Biarin Reno masuk, Pa."


"Apa yang kamu katakan, Serena?"


"Sebentar. Reno sepertinya mau membicarakan hal penting. Tolong."


Dengan mengepalkan tangan tak terima, Seno Raharja membalikan badannya. Menatap Reno sekali lagi seolah mengatakan jangan berani menyakiti anaknya lagi. Beliau keluar dengan menabrak bahu Reno, lalu disusul sang istri---Ira.


Dalam ruangan yang hanya diisi mereka berdua, Reno berdiri canggung di samping Serena yang sedang terduduk. Entah kenapa, melihat Serena begini ia selalu merasa ikut andil sebagai penyebabnya. Rasa bersalahnya terus tumbuh mengingat ia tak bisa mencegah kedatangan Anyelir.


"Ada apa?" Serena tak tahu harus bersikap apa. Sudah lama sekali ia tak bertemu Reno. Lupa kapan terakhir kalinya. Jujur ia juga cukup terkejut mendapati kedatangannya.


"Sere... aku turut sedih atas kejadian yang menimpa kamu sekarang. Aku juga turut berduka cita untuk... anak kamu."


Sebenarnya Serena heran kenapa Reno bisa tahu. Tapi lebih dari itu, ia curiga dengan kegelisahan Reno. "Itu aja?"


Reno sadar Serena mencurigainya dan seakan menunggu lanjutan kalimatnya. Dari dulu ia memang tak bisa bohong pada Serena---atau Serena yang terlalu pintar. Oleh karena itu, sepertinya ia memang harus jujur.


"Serena..." ia menelan ludahnya dengan sejuta penyesalan. "M-maaf... Maaf karena aku gak bisa mencegah semua ini terjadi."


Serena tak mengerti. Tapi ia memilih memendam kebingungannya dalam diam.


"Sebenarnya aku udah mengetahui ini lebih awal. Jauh sebelum hari ini, aku udah tau hubungan Ares dan wanita itu... tapi... bodohnya... aku gak mengatakan apapun sama kamu. Aku malah memilih menyelidiki ini sendirian."


"T-tunggu... Kamu? Tau?"


Reno mengangguk enggan. "Dulu sebelum aku tau sosok suami kamu seperti apa, aku sempat ketemu sama Ares dan Anyelir tanpa sengaja. Awalnya aku gak curiga apa-apa sama mereka... sampai akhirnya... aku melihat foto Ares saat di rumah kamu, lalu melihat Anyelir ada di kantor kamu saat ngembaliin jaket..."


"...dari situ, aku mulai ngerasa ada yang gak beres di antara mereka. Bagaimana bisa mereka yang awalnya aku anggap sepasang kekasih, satu di antaranya adalah suami kamu dan satunya lagi bekerja di tempat kamu..."


"...karena saking penasarannya, aku nekat menculik Altan dan---


"Apa?! Culik Altan?!"


"Aku terpaksa, Sere. Aku gak punya pilihan lain. Saat itu hanya cara itu yang terlintas. Lalu semuanya terbukti saat Anyelir datang ke rumah kamu nganterin Altan. Dari sana aku tau bahwa Anyelir gak tahu kalo istri dari teman dekatnya adalah kamu, dan kamu gak tau kalo teman dekat suami kamu adalah model kamu sendiri. Kalian gak saling sadar satu sama lain, termasuk Ares..."


"...tapi, Sere, rencana aku itu berhasil membuat Anyelir sadar diri dan pergi dari hidup Ares. Itu makanya dia resign dari agensi kamu dengan mendadak dan pergi dari kota ini selama berbulan-bulan..."


"...aku tau, kepergian Anyelir membawa angin segar kan untuk rumah tangga kamu? Peluang kamu kembali sama Ares jadi terbuka lebar. Ares juga mulai luluh lagi seperti dulu..."


"...saat itu aku berpikir semuanya udah aman. Aku udah bisa mengembalikan lagi kebahagiaan kamu yang udah lama hilang. Karena terlalu terbuai, aku gak sadar kalo Anyelir bisa aja kembali lagi dalam kehidupan kalian. Aku kecolongan. Aku gagal mencegah kedatangan dia ke hidup kamu dan Ares lagi..."


"...kalo sekarang semua ini terjadi, aku turut andil menjadi salah satu penyebabnya. Aku gagal membuat kamu bahagia lagi, Sere..."


"...maaf. Maaf karena ngebuat kamu kecewa sekali lagi."


Alih-alih menjawab pernyataan Reno, Serena justru tercenung karena benang masalah kembali semrawut di dalam otaknya. Dikutip dari pengakuan-pengakuan Reno barusan, berarti hanya dirinya yang tak sadar dengan permasalahan ini.


Reno yang orang luar saja langsung paham ada yang tidak beres. Anyelir dan Ares pun sudah tahu sejak kejadian penculikan Altan itu. Katakanlah Anyelir bebas pergi tanpa penjelasan atau memberi tahunya tentang semua ini. Tapi Ares? Selama ini Ares bersamanya. Selama ini mereka hidup bersama. Tapi kenapa dia tak mengatakan yang sejujurnya tentang semua ini? Kenapa dia memilih tetap menyembunyikan sosok Anyelir dari dirinya?


Sungguh, semua ini terlalu membingungkan. Terlalu tak terduga. Serena tak mengerti bagaimana ia paling tak tahu apa-apa dalam masalahnya sendiri?!

__ADS_1


Ya Tuhan.


__ADS_2