
Cuaca hari ini begitu mendung. Mengundang gelap yang menyelimuti area pemakaman hijau yang dipenuhi orang-orang berbaju hitam. Langit seolah tahu bahwa ada yang sedang berduka di bawah sana. Dan saat ini langit sedang turut bersedih dengan memunculkan semburat awan abu-abu.
Payung-payung hitam itu satu per satu mulai berpencar setelah memberikan penghormatan terakhir. Kini dari atas sana langit bisa melihat dengan jelas merahnya bunga yang ditabur di atas sebuah gundukan tanah yang masih basah. Ada seseorang yang masih setia berdiri di sana dengan mulut terkunci rapat.
Ares.
Ia terpaku menatap padung nama makam tersebut. Dibalik kacamata hitamnya ia menyembunyikan begitu banyak kesedihan dan duka yang mendalam. Beberapa bulan belakangan hubungan Ares dan dia tidak baik. Mereka tak berbagi sapa apalagi kabar. Ares tak menyangka sekalinya mereka bertemu malah tempat pemakaman yang Tuhan pilihkan untuk mereka.
Pertemuan setelah sekian lama setragis ini, siapa pula yang tak akan sedih? Tapi, Ares sama sekali tidak menangis. Entah kenapa matanya tak bisa mengeluarkan air mata. Padahal sumpah demi apapun ia sangat merasa kehilangan.
Berbeda dengan sosok wanita tua yang bersimpuh memegangi tanah di depannya. Ares memperhatikan betapa wajah yang sudah dipenuhi keriput itu begitu basah karena air mata. Sedari tadi tangis beliau tak berhenti mewarnai sepanjang pemakaman sampai selesai. Bahkan anak dan menantunya yang kini memegangi pundaknya tak bisa menghentikan tangis itu. Tangisnya begitu pilu dan tersedu. Mengundang siapapun yang melihatnya tahu bahwa beliau amat teramat sakit karena ditinggalkan.
"Bu, ayo kita pulang. Ini sudah sore." Pinta puteranya yang berkisar 50-an.
"Enggak. Dia akan sendirian kalau kita pergi. Ibu belum siap ninggalin dia sendiri." Tubuh rentanya bergetar karena tangis.
Ares menatap nenek tua itu nanar. Hatinya ikut merasakan pedih dan turut prihatin. Ia juga bertekad tak akan meninggalkan pemakaman ini sebelum beliau sedikit tenang dan siap untuk pergi. Anggaplah ini sebagai penghormatan terakhirnya kepada sosok yang sudah sangat lama ia kenal itu.
Saat sedang memikirkan semuanya, mata Ares menangkap bayangan sebuah tongkat dari atas gundukan tanah, lalu disusul bayangan sosok pria yang tingginya hanya sepundaknya saja.
Merasa seperti mengenal siluet itu, Ares menoleh ke belakang. Dan tepat seperti tebakannya, ia melihat sosok pria tua dengan setelan jas hitam-hitam, didampingi dua ajudan di belakangnya, dengan wajah datar dibalik kacamata hitamnya.
Pria tua berkulit kuning langsat khas orang Asia itu berjalan dengan bantuan tongkatnya. Beliau berhenti tepat di samping Ares. Menatap padung nama itu lama-lama seperti sedang meratapi rasa sedih dan sesal yang tak bisa dijelaskan.
Dan jelas, kedatangannya itu menarik perhatian semuanya.
Helaan napas kasar pria tua itu terdengar berat. Beliau menatap ke sebrangnya dimana nenek yang sedang bersimpuh tadi sedang dibantu berdiri oleh puteranya.
"Terima kasih," aksen bahasa Indonesianya terdengar kaku. "Terima kasih telah merawat Michelle di saat terakhirnya dengan sangat baik. Saya berhutang banyak pada kalian sekeluarga."
Nenek itu menggeleng kecil. "Tidak, Pak. Jangan berterima kasih. Anyelir juga cucu saya. Saya tentu akan merawat dia sebaik-baiknya. Justru saya yang harus berterima kasih pada Bapak karena telah membantu memenuhi semua kebutuhan pengobatan Anyelir."
"Michelle membenci saya. Dia tak akan senang dirawat oleh saya. Hanya dengan cara itu saya bisa merasa ikut menemani dia melewati sakitnya."
Tony Louis, kakeknya Anyelir yang berasal Hongkong, mengalihkan pada sosok di sampingnya, Ares. Beliau menatap Ares beberapa saat sebelum akhirnya membuka mulut.
"Terima kasih juga untuk kamu, Antares. Terima kasih sudah menjaga dan melindungi Michelle selama ini. Saya merasa senang karena ada orang yang menyayangi cucu saya seperti kamu."
"Enggak, Opa. Jangan berterima kasih sama saya. Selama ini saya gak melakukan apapun untuk Anyelir. Saya...
"Jogja bukanlah tempat yang dekat dengan Jakarta. Tapi kamu datang ke sini untuk menemani Michelle di saat terakhirnya. Hal itu hanya bisa dilakukan oleh orang yang tulus menyayangi. Sama seperti saya yang menganggap jarak Hongkong dan Jogja bukanlah halangan. Hal itu sudah cukup membuktikan betapa kamu menyayangi Michelle."
Ares mengatupkan mulutnya. Tak mungkin ia menjelaskan pada Tony Louis bahwa hubungannya dengan cucunya tak sedekat dulu lagi.
"Kalau kalian semua tidak keberatan dan tersinggung, bolehkah tinggalkan saya berdua saja dengan Michelle di sini? Saya ingin menghabiskan waktu bersama cucu saya untuk terakhir kalinya."
Permintaan Tony Louis itu membuat nenek, paman, tante Anyelir, dan juga Ares saling pandang bergantian. Sampai akhirnya, paman Anyelir meremas pundak ibunya dan mengangguk sekali. Mereka pun meninggalkan Tony Louis sendirian.
Ares berjalan di belakang keluarga Anyelir saat meninggalkan makam. Namun begitu saja langkahnya terhenti saat pasukan di depannya berhenti berjalan. Ares keheranan. Ia menengok ke depan dan melihat si Mbah tengah mengobrol dengan seseorang, tapi Ares tak bisa melihat siapa orang itu karena paman Anyelir yang berpostur tinggi gagah menghalangi pandangannya.
Ares menunggu dengan sabar. Ia melipat tangan di bawah perut sambil menatap rumput liar di bawah kakinya. Pikirannya terbang jauh pada bagaimana keadaan Serena dan Altan sekarang? Semalam di saat ia tengah menanti kabar anak dan istrinya itu, di saat bersamaan pula kabar duka datang dari Anyelir. Paman Anyelir menghubungi bahwa Anyelir berpulang ke pangkuan Tuhan. Kabar yang sama sekali tak pernah ia duga. Dan itu menjadi kabar kedua yang membuat dunianya terasa berputar setelah kabar pesawat Serena hilang kontak.
Jakarta-Jogja memang bukanlah jarak yang jauh, tapi semalam seluruh penerbangan tiba-tiba dihentikan karena cuaca memburuk, itulah sebabnya Ares baru bisa terbang kemari tadi pagi---sangat terlambat untuk melihat Anyelir untuk terakhir kali karena jasadnya sudah masuk liang lahat. Salah satu penyesalan yang cukup mendalam.
Sementara itu, si Mbah yang tengah mengobrol dengan seorang wanita muda berpakaian serba hitam dan kacamata hitam, mengangsurkan kertas yang terlipat dari saku bajunya. Wanita muda itu menatap si Mbah ragu, namun diambil jua pemberiannya.
"Itu surat dari Anyelir. Untuk kamu dan suamimu. Terima kasih telah mendampingi Anyelir di saat terakhirnya." Si Mbah mengusap pundak wanita muda itu lembut, lalu berlalu bersama anak dan menantunya.
Wanita muda itu menatap Ares yang masih senantiasa menunduk. Saking terlenanya dengan lamunannya, Ares sampai tak sadar telah ditinggalkan rombongan, pikirnya.
"Papi!!!!!"
Wanita muda itu---Serena---terhenyak saat Altan yang ia tuntun di sebelahnya berteriak lantang. Kontan saja, kepala Ares naik. Mengadukan pandang keduanya yang untungnya terbiaskan kacamata.
"Altan? Serena?.... Kalian?..."
"Papi," Altan berlari dari genggaman Serena memeluk paha sang ayah. "Altan kangen Papi."
Mengesampingkan rasa kagetnya, Ares berjongkok di hadapan Altan. Mengusap wajah sang putera seolah meyakinkan diri sendiri bahwa ini bukanlah halusinasi. Sadar bahwa ini bukanlah alam mimpi, Ares mendekap Altan dalam pelukannya. Erat, terlalu erat, campuran rindu dan takut kehilangan.
Setelah pelukan ayah dan anak itu terlepas, Ares mendongak. Pada Serena. Berharap Serena mengerti bahwa ia menuntut penjelasan lewat sorot matanya.
...• • • • •...
Di sebuah taman luas yang hijau dengan pepohonan rindang mewarnai sekeliling kawasan, Serena terduduk di sebuah kursi seraya menatap manis pada Altan yang sedang bermain dengan dunianya sendiri tak jauh dari jangkauannya. Sementara di sisinya, Ares tak mengalihkan pandang sama sekali dari wanita yang masih berstatus sebagai istrinya itu. Ares penuh akan kecemasan, ketidak percayaan, menuntut penjelasan.
Bersitataplah mereka berdua saat Serena akhirnya melirik Ares. Masih dengan wajah tenangnya.
"Apa kabar, Res?"
Suara lembut Serena itu tak lantas membuat diri Ares melega. Ia tetap penuh tanda tanya. "Kamu pasti tau betul kalo aku gak mungkin baik-baik aja setelah mendengar kabar pesawat yang kalian tumpangi hilang kontak. Apa ada yang bisa jelaskan dari kabar itu dan keberadaan kamu di sini?"
Serena memilih hening mengisi dulu ruang di antara mereka. Menyesapi dalam-dalam kecemasan yang terpatri di nirwana milik Ares. "Pertama-tama, maaf udah buat kamu cemas karena gak sempat ngasih tau kalo aku sebenarnya gak jadi naik pesawat itu. Yang ke dua, maaf udah buat kamu kaget karena adanya aku di sini. Aku akan jelasin semuanya seperti yang kamu minta."
Ares menunggu. Sambil menebak-nebak jalan cerita.
"Kamu ingat, Res? Kemarin kamu chat aku nanyain jam berapa aku berangkat yang lalu aku jawab dengan jam 5 sore? .... Setelah itu, aku dapet sebuah telepon dari nomor yang aku gak kenal. Suaranya laki-laki, sangat mendesak, diiringi suara tangis yang riuh di belakangnya, meminta aku datang ke Jogja... untuk Anyelir."
__ADS_1
Punggung Ares menegang bersamaan dengan matanya yang membeliak. Tapi seolah tak membiarkan dirinya lebih lanjut bertanya-tanya, Serena segera lagi membuka mulutnya.
"Aku gak bisa nolak. Suara lelaki yang ternyata paman Anyelir itu kedengaran sangat memohon. Yang berarti, kehadiran aku emang sangat dibutuhkan..."
"...aku membatalkan penerbangan ke Jakarta di menit terakhir. Secepatnya ngubah tujuan menjadi Jogja. Saking mendadaknya, aku gak sempat untuk berpikir menghubungi siapapun dulu termasuk kamu. Aku pikir, nanti aja aku ngabarin kamu setelah sampai Jogja..."
"...tapi, setelah sampe Jogja, rupanya aku gak punya celah untuk megang HP sedetikpun. Salah seorang keluarga Michelle yang jemput aku di bandara, langsung bawa aku ke sebuah rumah sakit dengan buru-buru. Ngebuat aku mau gak mau ikut panik dan gak kepikiran ngubungin kamu..."
"...and you know what? Kepanikan mereka itu memang beralasan. Sangat-sangat beralasan. Sementara Altan dititipkan di luar, aku masuk ke sebuah ruang ICU. Bunyi monitor, isak tangis, Michelle yang terbaring lesu dengan segala alat medisnya, benar-benar ngebuat aku merinding. Neneknya yang gak berhenti menangis bilang; Michelle nunggu aku, kepergiannya tertahan karena dia pengin ketemu aku..."
"...lalu kita dikasih waktu untuk bicara berdua. Aku dan Michelle... yang sedang sekarat."
Tanpa sadar, Ares menahan napasnya. Rona merah dari wajahnya karena keterkejutan, perlahan menyusut berganti pucat.
"Dengan tangannya yang udah dingin dan sangat lemah, dia pegang aku kayak gini," Serena mengulang tindakan Anyelir kemarin dengan menggenggam tangannya sendiri dan ditonton Ares yang mengerjap layu. "She's touch me like this. Dengan mata yang menyiratkan banyak penjelasan."
Serena tersenyum kepada Ares sekilas, lalu memutar pandangan ke depan. Menjadikan Altan objek pandangan, padahal sebenarnya matanya kosong menerawang.
Tut tut tut.
Bunyi monitor yang terus memacu, berbanding terbalik dengan napas Anyelir yang semakin melambat dan terputus-putus. Setiap satu detik sekali matanya mengedip pelan dengan gurat lemah karena napasnya tersenggal di tenggorokan.
Karena tak tega, Serena menumpukkan tangannya di atas tangan Anyelir yang menggenggamnya. Berharap sentuhannya bisa mengusir kerutan di dahi Anyelir yang tak tersamarkan.
"Michelle, apapun yang mau kamu sampein, pelan-pelan aja. Saya akan tunggu."
Anyelir mengedip lamban. Butuh jeda yang cukup lama hanya untuk mendengarnya mengatakan. "Maaf, Serena."
Tak ada yang Serena katakan. Hanya saling berpandangan dengan Anyelir seolah mengerti penyesalan yang dia rasakan.
"Maaf untuk semua kesalahan aku selama ini, Serena ... aku gak berniat ngebuat semuanya berantakan ... aku mencintai Ares ... itulah alasan aku ngelakuin semua ini..." Jika ini audio, volume suaranya ini berada di angka 2.
"...tapi, Serena ... Ares mencintai kamu ... he loves you so much ... gak terjadi apapun antara kita malam itu ... aku ... yang menjebak dia supaya gak sadar ... dan di batas kesadarannya ... bahkan ... he still said he loves you ... he loves you, Serena."
Anyelir memejamkan mata mengumpulkan lagi tenaga. Sekaligus ingin menghapus bayangan saat malam itu ia mencumbu Ares seraya melepas satu per satu kancing kemejanya bak seorang murahan. Ia lempar kemeja Ares ke lantai bersamaan dengan Ares yang bergumam; "aku cinta kamu, Serena. Aku cinta kamu" dengan mata terpejam.
Anyelir ingat betul malam itu wajahnya langsung berubah. Mekar di hatinya mendadak layu. Setitik air matanya jatuh sebagai pertanda ia sudah kalah. Ia tak akan bisa memiliki Ares, bahkan hanya untuk satu malam.
Betapa menyedihkannya ia malam itu berbalut selimut memunggungi Ares. Sepanjang malam hanya menangis tanpa sempat tertidur sedetik pun. Ia mengutuk dirinya sendiri. Mengutuk karena sudah berpikir jahat, bersikap murahan, dan terlalu percaya diri cintanya akan terbalaskan.
Usapan jari lembut di pipinya membuat kelopak mata Anyelir yang basah terbuka kembali. Rupanya jari Serena yang barusan mengusir lembut air mata yang tanpa sadar ia jatuhkan lagi.
"Jangan menangis, Michelle. Dont ever do it." Bisik Serena haru. Ia hanya tak bisa memikirkan apapun selain berkata begitu. Ia kecewa? Iya. Ia marah? Iya. Tapi, apa yang bisa ia lakukan? Kondisi Anyelir ini membuatnya bungkam atas nama iba.
"Jangan sebaik ini, Serena ... marahlah sama aku ... kamu berhak ... and I deserve it ... aku pantas menerima semua kemarahan kamu."
Tapi Serena menggeleng. "Its okay. I forgive you. Semuanya udah berlalu lama. Kamu sudah cukup membayarnya dengan pengakuan ini dan meminta maaf."
"Tapi hikmah dari kejadian itu kita sadar akan kesalahan kita masing-masing. I realize my mistake. Walaupun sulit, tapi saya tau jalan Tuhan selalu yang terbaik."
"Do you love him, Serena? ... apa kamu juga ... mencintai Ares?"
Bohong kalau Serena bilang tidak. Ia tahu ia masih sangat mencintai Ares. Ia memang tersakiti, tapi cintanya tak hilang. Pelariannya memang berhasil menghilangkan kenangan buruknya, tapi tidak dengan rasa cintanya.
"Should I said I love him, ketika kamu bisa melihat itu dengan kentara di mata saya, Michelle? ... Terlepas dari apapun yang terjadi di antara kami ... ya, I love him. I still love him. So much. So deep."
"Berarti ... selama ini Ares ... salah paham ... dia salah karena berpikir kamu ... gak mencintai dia ... perlakuan buruknya selama ini ... juga salah."
"Maksud kamu ngomong gitu?"
"Your ex ... Reno ... Ares ngeliat kamu ... dan dia pelukan ... di kantor kamu ... Ares comes to me dalam keadaan mabuk ... dia hancur karena merasa ... dikhianati ... oleh satu-satunya wanita ... yang dia cintai."
Selama beberapa waktu, Serena menjejal pikirannya sendiri. Kapan ia pernah memeluk Reno? Apakah saat Reno mengajaknya kembali bersama hari itu? Dan lalu Ares melihatnya begitu? Kalau Serena tak salah ingat, memang tak jauh dari hari itu sikap Ares berubah.
Jadi inilah alasannya? Inilah jawaban dari pertanyaannya tentang perubahan Ares?
"Dia kecewa, Serena ... dia ... sangat kecewa ... dia kecewa karena ... perempuan yang udah dia sukai ... dari SMA ... mencurangi dia."
Serena membeliak. Fakta baru apa lagi ini? Mencintai sejak SMA apa? Bagaimana mungkin? Ia tak kenal Ares selama itu.
"Kamu keliatan kaget ... Ares pasti ... belum cerita tentang semua itu ... sama kamu ... aku ingin sekali ceritain ... tapi aku ngerasa ... waktuku udah abis ... aku akan pergi ... sebentar ... lagi."
Anyelir mengutas senyum tipis seraya memejamkan mata, lalu membukanya lagi. Ia merasa lega. Kesakitan di sekujur badannya kalah besar dengan rasa bahagia. Sepertinya ia bisa pergi dengan tenang.
"Serena, aku tau ... gak seharusnya ... aku bilang ini ... tapi ... aku titip Ares ... jaga dia ... cintai dia ... maafin ... kesalahannya ... selama ini ... sejujurnya dia ... sangat-sangat ... mencintai kamu ... dia pria ... yang setia ... sepanjang hidupnya ... hanya ... mencin-tai ... ka-mu."
Untuk ke sekian kali, Anyelir memejamkan mata. Namun tunggu punya tunggu, Serena tak melihat lagi mata itu terbuka. Tangan Anyelir yang menggenggamnya pun terkulai. Dada Anyelir berhenti naik turun.
Dia pergi.
Dengan sudah menjelaskan semuanya.
Dengan sudah meminta maaf.
Dengan sudah tenang.
Membawa cintanya yang tetap bertepuk sebelah tangan.
__ADS_1
"She's gone. Leave us," bisik Serena menatap Ares. "Dengan tenang, hopefully."
Ares menelan ludahnya dengan mata penuh duka. Tak bisa membayangkan bagaimana menderitanya Anyelir selama ini. Dia sendirian. Dan Ares malah memusuhinya. Terlepas dari apapun kesalahan Anyelir, Ares tetap merasa bersalah untuk perlakuan buruknya beberapa bulan belakangan.
"Tadi saat aku bicara sama neneknya Michelle, beliau ngasih aku sebuah surat yang katanya ditulis Michelle untuk kita," Serena menatap Ares. "Kita akan membacanya sama-sama sekarang."
Dalam tas selempang hitamnya yang selaras dengan pakaiannya sekarang, Serena mengambil selembar kertas yang ia buka lebar-lebar di antara ia dan Ares. Terukir di sana tulisan tangan Anyelir bertintakan hitam.
...12 Maret 2022...
...Hai, Antares dan Serena, ini Anyelir....
...Aku nulis ini pas baru selesai terapi. Dan kalian akan baca ini saat aku udah gak ada....
...Its unbelievable. Aku gak pernah nyangka akan nulis surat perpisahan secepat ini. Tapi bukan hidup namanya kalo gak penuh kejutan....
...But its okay. Aku gak masalah mau dipanggil Tuhan kapanpun juga. Kematian adalah sesuatu hal yang pasti. Dan surat ini bertujuan agar kalian gak bertanya-tanya bila aku mati nanti....
...Sindrom antibodi antifosfolipid. Kalian pernah dengar itu gak? Enggak ya? Sama, aku juga. Im fucking shocked setelah dokter mendiagnosis aku menderita penyakit itu dua tahun lalu. Aku gak merasa punya gejala apapun, selain pusing yang suka kelewat pusing dan sakit kepala. Apalagi kalo lagi pemotreran outdoor....
...Selain aku, hanya Antares yang tahu penyakitku ini....
...Aku mendiamkan penyakit ini selama beberapa waktu. Menganggap penyakit ini gak begitu serius dan gampang disembuhin. But, surprisingly, again and again, hidup memberi aku kejutan. Aku mulai ngerasa ini bertambah parah setelah kembali ke Jakarta....
...Serena, do you remember? Saat aku lagi pemotretan, aku tiba-tiba ngerasa pusing dan terpaksa berhenti bergaya di depan kamera *(part 16)? Ya, saat itu aku lagi kambuh. Kepalaku rasanya mau pecah dan sakit banget....
...Tapi aku selalu mendam penyakit aku sendirian. Aku gak pernah ngasih tau siapapun kalo aku lagi kambuh, termasuk Ares. Dia suka berlebihan. Suka marah-marah dan jadi bawel kalo tau *(part 17). Dan aku paling gak suka dikhawatirin....
...Aku pergi ke Jogja selama 4 bulan setelah memutuskan keluar dari agensi, keluar dari hidup Ares, dan keluar dari lingkaran rumah tangga kalian. Dan di Jojga aku memburuk. Aku ngerasa hidup aku gak akan lama lagi. Dan sebelum terlambat, aku ingin menyelesaikan satu keinginan aku sebelum aku mati, yaitu menyatakan cinta pada Ares yang udah aku pendam selama 17 tahun....
...But ya, kepulangan aku ke Jakarta malah ngacauin semuanya. Aku ngancurin hidup kalian and also my self. Ares membenci aku. Memusuhi aku. Persahabatan kita hancur karena kesalahan dan egoisnya aku....
...Memilih kembali ke Jogja, aku mengalami penurunan kesehatan yang ekstrim. Kakiku mulai gak bergerak, disusul mataku yang sering mendadak gelap, lalu telinga yang mulai gak bekerja. Sengaja aku nulis surat ini di sela-sela terapi. Aku takut tanganku keburu hilang fungsi dan gak bisa nulis surat perpisahan dengan tanganku sendiri....
...Its hard. Very hard. Setiap harinya aku merasa itu adalah hari terakhirku....
...Sebelum hari terakhir itu benar-benar datang, dengan segala kerendahan hati dan segala ketulusan aku, please forgive me, Antares, Serena. Maafkan aku ya. Atas kekacauan yang aku buat dengan sengaja maupun enggak. Aku menyesal. Sangat menyesal....
...Antares, sejak awal aku ragu Serena mengkhianati kamu. Bicaralah sama dia dari hati ke hati. Talk to her with your heart. Aku yak in yang akan kamu temukan hanyalah kesetiaannya....
...Dan Serena, Antares gak pernah melirik perempuan manapun selain kamu. His heart is yours. Only yours. Bahkan aku pun gak dilirik sama sekali. Kalau selama ini sikapnya gak baik, tolong maafin ya. Sebenarnya dia sangat mencintai kamu. Sangat-sangat amat mencintai kamu....
...Jagalah jagoan kecil kalian. Aku juga sayang dia....
...Hiduplah berbahagia kalian di sini. Saling memaafkan satu sama lain. Kalian berdua saling mencintai. Masih dan akan terus....
...Love, Anyelir....
Seolah memiliki telepati, Ares dan Serena kompak saling memandang setelah bacaan dalam surat itu sampai di paragraf terakhir. Mata mereka sama-sama berair campuran sedih dan terharu.
Mereka dapat melihat sorot mendamba dari mata masing-masing. Kerinduan, cinta, kasih sayang, mereka melihat semuanya.
"Do you still love me, Antares?" Bisik Serena.
"Do you still hate me, Serena?"
Serena menguliti mata Ares sejenak. Sambil meresapi bahwa kebencian itu sedang luruh berceceran di dalam dada. Apakah kebencian itu benar-benar akan pergi? "Aku gak tau. Hati aku hanya menghangat liat wajah kamu. Apa menurut kamu itu tandanya kebencian itu udah gak ada?"
"Aku juga gak tau akan hal itu. Tapi aku tahu pasti, jawaban dari pertanyaan kamu tadi adalah; ya. Aku masih mencintai kamu, Serena. Masih sangat mencintai kamu. Don't you see it in my eyes? Don't you feel it now?"
"I know. Mungkin cinta itulah yang membuat hati aku menghangat. Dan sekarang aku juga tahu bahwa jawaban untuk pertanyaan kamu tadi adalah; enggak. Aku gak membenci kamu. Aku gak pernah benar-benar bisa membenci kamu."
"Kalo gitu, apa aku masih punya kesempatan untuk sepenuhnya mengusir kebencian itu? Aku gak mau kita pisah. Aku gak mau kamu ninggalin aku. Aku gak mau hidup sendiri tanpa kamu dan Altan. May I, Sere?"
Begitu saja, tangan Serena menggapai tulang wajah Ares yang mengurus dan sedikit kasar karena janggut liar. Menatapnya dalam. Tak menyangka akhirnya ia bisa melihat lagi kehangatan dan rasa cinta di dalam mata Ares yang sudah sekian lama membeku.
"Bisakah aku? Bisakah aku menolak itu, Res?"
"So? Its a yes?" Bisik Ares bergetar.
"Its a yes kalo kamu ingat ini hari apa."
Alis Ares memberenggut. "Hari... apa?"
Serena memutar matanya dengan senyum geli. "Katanya ngajak balikan, masa ini hari apa aja lupa."
Ares menegak ludahnya kikuk. "Aku bener-bener gak ingat. Tapi tolong jangan nolak aku. Aku serius ingin balikan."
"Serius? Pengin balikan?"
Ares mengangguk polos.
"Tapi benar-benar gak ingat ini hari apa?"
Ares menggeleng. "Maaf."
Serena tersenyum. Perlahan mendekatkan wajahnya pada Ares dan memberi kecupan kecil di bibir sang suami. "Happy wedding anniversary yang ke 6 tahun, Antares."
__ADS_1
Raut Ares mulanya tegang karena terkejut. Lalu senyum perlahan terbit di sudut bibirnya, haru. Ia begitu saja mendekap Serena seerat-eratnya. "Happy wedding anniversary, Sayang. Kita akan terus sama-sama di tahun-tahun berikutnya. I love you. And sorry."
T A M A T !