Haruskah Kita Bercerai?

Haruskah Kita Bercerai?
5


__ADS_3

Ares tengah duduk di sisi ranjang saat jam menunjukkan pukul sembilan malam. Kedua tangannya menyanggah di sisi tubuh, dan kepalanya menunduk gelisah. Ia tak sabar menanti suara gemercik air dari dalam kamar mandi berhenti, lalu bergantikan sosok yang ia tunggu keluar dari dalam sana.


Sungguh tak enak rasanya menahan penasaran seharian. Serasa ada yang mengganjal dan susah hilang. Sedari tadi sore ia tak punya kesempatan untuk membicarakan perihal ini, semoga saja di kesempatan sekarang ia bisa meluruskan semuanya.


Cklek.


Kontan saja kepala Ares menoleh. Menyambut sosok wanita berpiyama merah keluar dari dalam sana. Rambutnya yang dicepol asal dan wajah polosnya tanpa polesan make up, benar-benar membuat Ares takjub. Terpesona.


"Tumben belum tidur?" Serena melepas sandal rumahannya, dan naik ke atas ranjang. Berniat berbaring, menarik selimut.


Namun karena tak ada jawaban sama sekali dari Ares yang masih duduk membelakanginya, Serena jadi urung melakukan kegiatannya. Ia sedikit kebingungan. "Kamu kenapa? Sakit?"


Ares menggeleng kecil. "Sayang, aku mau nanya sesuatu."


"Nanya apa? Biasanya juga langsung ngomong."


Hening beberapa waktu. Hingga Serena makin bingung dan merubah posisinya menjadi duduk menghadap punggung Ares.


"Mau nanya apa, sih? Bikin penasaran aja."


"Kalo misalnya seseorang dari masa lalu kita dateng lagi, apa yang bakal kamu lakuin?"


"Masa lalu siapa? Kamu?"


"Ya siapa aja."


"Udah sini deh ngomongnya. Madep sini coba. Ngapain sih madep belakang gitu?" Serena menepuk-nepuk pundak Ares.


Dengan manut Ares menaikkan kakinya dan berbalik. Duduk bersila dengan wajah manyun seperti anak kecil yang sedang merajuk. Gemas!


"Kok tiba-tiba nanya gitu?"


"Gapapa. Random aja." Jawabnya seraya membuat pola acak di atas seprai. Tak berani menatap Serena.


"Mantan kamu dateng?"


"Enggak." Reflek Ares menjawab ngegas. Mendongak panik.


"Kalo kamu panik, berarti bener mantan kamu." Mata Serena memicing.


"Enggak, Sayang. Gak mungkin lah. Siapa coba orangnya? Gak mungkin banget lah pokoknya. Mana ada. Kan kamu tau aku gak pun--


"Oke oke slow..." Serena mengangkat telapak tangannya karena Ares yang nyerocos bicara. "Aku percaya itu bukan mantan kamu, oke? Jadi sekarang coba ulang pertanyaan kamu tadi."


"Uhm... kalo masa lalu kita dateng lagi, kamu ngapain?"


"Gak ngapa-ngapain."


"Kok gak ngapa-ngapain?"


"Ya emangnya aku harus gimana? Guling-guling depan dia?"


"Maksud aku tuh ya apa gitu. Bakal membenci, memaafkan, atau ada niatan buat CLBK."


"Masa lalu orang kan beda-beda, Res. Mungkin ada yang dulunya putus baik-baik, putusnya gak baik. Who knows?"


"Kalo kamu tipe yang mana?"


"Aku..." Serena nampak berpikir dengan tatapan menerawang. "Jujur aku orang yang gak suka dendam sama orang kalo gak benci-benci banget. Jadi kayaknya aku lebih milih maafin aja biar hati aku plong. Gak dipenuhi hal-hal gak bermanfaat kayak gitu. You know what I mean, kayak mengingat-ingat masa lalu gitu."


"Kalo dendam kamunya? Hilang gak setelah maafin dia?"


"Kalo orang itu minta maaf, aku bakal maafin kalo dia sungguh-sungguh dan mau berubah. Dendamnya mungkin juga sih bisa ilang."


"Jadi kamu ada niat CLBK?"


"Maafin bukan berarti harus balik lagi, Res. Maksud aku tuh ya, ya udah aja gitu. Toh mereka cuma masa lalu dan udah minta maaf juga. Temenan gak ada salahnya, kan?"


"Walaupun kamu benci banget sama orang itu?"

__ADS_1


"Aku yakin, sebelum kebencian itu ada, masa lalu kita pasti pernah ngasih hal paling menyenangkan. Kita pernah ada rasa, kita pernah sama-sama, dia juga pasti ngasih kesan yang indah. Jadi seburuk-buruknya dia, dia pernah jadi orang yang berharga kan buat kita? Jadi gak ada salahnya dong buat maafin?"


"Kalo kesalahannya fatal gimana? Kamu masih mau maafin?"


"Mungkin iya, mungkin juga enggak. Aku sih tipe yang bakal maafin, tapi pasti sikapku ke dia gak seperti dulu lagi. Semacem, ya mungkin rasa percaya dan respect aku ke dia udah menipis atau mungkin gak ada lagi."


"Kalo dia ngajak balikan?"


"Of course aku tolak. Hubungan kita sama masa lalu kita berakhir pasti karena ada ketidak cocokan antara kita. Dan aku gak mau mengulang kesalahan yang sama bersama orang yang sama. So, aku pilih lanjutin hidup. Toh cowok kan gak cuma dia doang."


"Jadi---


"Tapi cuma deket sebagai temen loh ya. Aku gak bakal biarin masa lalu aku itu masuk lagi jadi bagian dalam hidup aku."


"Yakin? Walaupun mantan kamu itu seganteng aku?"


"Itu mah kamu yang geer," Serena mengibas tangannya seraya tersenyum tipis. Wanita itu kemudian berbaring dan menarik selimut. "Udah ah capek ngomong terus. Aku mau tidur."


"Aku gak geer," Ares ikut berbaring di samping Serena. Menumpu kepala dengan tangan kanannya. "Kata Hana kan aku mirip Jefri Nichol. Menurut kamu gimana?"


"Belum tidur udah mimpi duluan." Serena mendengus dan memutar tubuhnya membelakangi Ares.


Tawa kecil Ares terdengar. Rasanya hatinya begitu lega. Ringan. Tak seperti tadi sore yang dipenuhi dugaan dan penasaran. Ia bersyukur ternyata Serenanya berkemungkinan kecil untuk bisa balikan dengan mantannya. Ares juga yakin kalau Serena bukan tipe wanita yang mudah berpaling hati. Ares yakin itu.


Merasa Serena sudah masuk ke alam mimpinya, tangan kiri Ares melingkar di pinggang rampingnya. Mendekap penuh kehangatan dan cinta. "Semoga kamu benar-benar menepati ucapan kamu dan gak akan ada yang berubah di antara kita."


Tanpa Ares sadar, gumamannya itu didengar Serena yang masih belum tidur.


• • • • •


Jam makan siang tiba. Ares menutup laptop di depannya, lalu disusul gerakan meregangkan jarinya yang terasa sangat pegal. Lengannya juga terasa kaku, apalagi kepalanya yang sedikit berat karena terus menatap layar.


Pria itu berjalan menuju sebuah pintu dalam ruangannya. Kamar pribadi miliknya yang sudah seperti apartemen. Ia membuka lemari pendingin mini yang terletak di samping sofa dan mengambil dua minuman soda kalengan. Ia membuka salah satunya sambil menikmati hawa dingin dari pintu lemari es yang sengaja belum ditutup.


"I'm coming, Men!" Teriak Vino dari ambang pintu.


Ares mendesah pelan dan menutup pintu lemari esnya. Tubuhnya lalu berbalik melihat Vino yang sudah duduk di ranjangnya dan tengah membuka makanan yang ia bawa tadi.


"Thanks," Vino menangkapnya dengan sempurna dan tersenyum lebar. "Sini, Men, duduk. Makan siang dulu lah kita."


"Enggak deh loe aja." Ares menggeleng kecil.


"Ini gue bawain sirloin steak kesukaan loe. Jauh loh belinya, Men. Gue butuh perjuangan."


"Buat loe aja. Lagian gak ada yang nyuruh juga. Ngapain coba pake bawain segala?"


"Kambing! Udah dibawain bukannya bilang makasih, malah sewot. Ini namanya gue care. Gue kan kasian liat loe gak pernah diperhatiin bini loe."


"Ck! Mulai lagi. Udah sana makan. Kalo laper mulut loe suka gak ngotak ngomongnya."


"Ya udah, emang gue mau makan, kok. Sana aja loe mati kelaperan. Besok bakal ada berita "Pengusaha besar Antares Risjad meninggal dunia karena busung lapar" baru deh loe nyaho. Malu tuh pengusaha kaya tapi gak mampu beli makan."


"Gaya loe bawain berita oke juga. Boleh deh besok-besok gantiin Jeremy Thomas."


"Setan! Jeremy Thomas pemain film."


Ares hanya terkekeh pelan sembari meninggalkan Vino untuk berdiri di depan jendela besar milik kamarnya. Pria itu menunduk mengusap-usap layar ponselnya yang gelap gulita. Mengingat kembali bahwa ratusan kali ajakan, ditolak lewat benda pipih ini.


Vino yang tengah mengunyah pun tersenyum miring memperhatikan Ares yang nampak sangat galau. "Ditolak lagi, Bro?"


Ares mengangkat kepala mendengar cibiran Vino. Menatap lalu lalang kendaraan di bawah sana.


"Gue bilang juga apa, bini loe gak akan pernah ngiyain ajakan makan siang loe. Dia gak akan pernah berubah. Udahlah makan siang sama gue aja yang pasti-pasti."


"Serena nolak karena dia lagi sibuk. Gak usah kompor deh loe."


"Saking sibuknya sampe gak bisa diajak makan siang? Walaupun sama suaminya sendiri?"


"Udah deh, Vin. Mulai deh loe jelek-jelekkin istri gue."

__ADS_1


Vino mengedikkan bahunya acuh dan kembali melanjutkan makan. Sementara Ares menyulut sebatang rokok yang ia ambil dari saku celananya. Menghisapnya dalam-dalam, lalu mengepulkannya dengan pelan.


"Oh ya, gimana kemaren? Udah loe tanyain?" Tanya Vino.


Ares meneguk minuman sodanya sampai habis, lalu melemparnya ke tempat sampah. "Tanyain apa?"


"Mantannya itu."


"Udah." Jawab Ares santai. Karena ia sangat lega dengan jawaban Serena semalam.


"Apa jawabannya?"


"Serena gak akan CLBK sama mantannya itu. Gue juga yakin dia gak akan khianatin gue."


"Dari mana loe yakin? Gak ada mantannya aja sikapnya dia kayak gini, gimana kalo sekarang ada mantannya?"


"Mantannya cuma masa lalu. Itu gak akan pengaruhin kehidupan dia saat ini."


"Oh ya? Really?" Vino menelengkan kepalanya sambil mengelus-elus dagu. "Hmm... gue gak yakin."


"Gue yang suaminya. Kenapa loe yang harus yakin? Mau yakin gak yakin gak akan ngaruh buat loe."


"Ya oke. Terserah loe, deh. Gue sebagai sahabat cuma bisa dukung. Tapi jangan terlalu percaya diri, Bro, harus waspada."


"Waspada kenapa?" Ares terkekeh pelan. "Emangnya gue mau pergi perang?"


"Ya waspada aja, sih. Kayak sedia payung sebelum hujan. Kita gak pernah tau kan apa yang terjadi di depan dan di belakang kita?"


Ares terdiam dengan satu tangan tenggelam di saku celana. Ia sedang menyelami apa maksud dari perkataan Vino. Sampai akhirnya, terdengar suara langkah kaki mendekatinya, menepuk pundaknya dua kali, dan kini Vino tengah menatap Ares dari samping dengan serius.


"Maksud loe apa, Vin?"


"Loe tanya gak Serena udah ketemu mantannya atau belum?"


Ares bergeming. Ia menatap Vino sambil berpikir, kenapa ia tak tanyakan ini semalam. ****!


"Percaya boleh, tapi jangan terlalu lengah. Bisa aja kan di belakang loe Serena sering ketemuan sama mantannya itu."


• • • • •


"Gimana? Enak?" Tanya Reno dengan tak sabar.


Serena mengangguk-angguk semangat. Pipinya mengembung. Tangannya memegang tumbler minum yang berisi es sucha (susu matcha ala warung kopi) buata Reno.


"Syukur lah." Reno mengelus dada seraya mengutas senyum lega.


"Rasanya gak pernah berubah. Selalu sama." Serena tersenyum lebar.


"Siapa dulu dong yang buat? Aku!" Ia tertawa kecil sambil menepuk dada bangga.


"Kamu kok bisa sih inget semua yang aku suka?"


"Bisa, dong! Kan kalo kita makan bareng, aku yang selalu pesenin."


"Hahahaha iya bener."


"Aku juga yang kenalin kamu sama warkopnya Pak Edi. Dulu kan, orang berada kayak kamu, mana tau tempat makan murah buat anak kost yang lagi kepepet."


"Iya bener banget. Kalo gak kamu ajak, mungkin sampai lulus pun aku gak bakal tau kalo ada tempat makan seenak itu."


"Dan yang pasti, harganya murah. Lumayan buat nebelin kantong anak kost kere kayak aku dulu."


Mereka menghabiskan makan siang bersama dengan penuh tawa dan cerita nostalgia. Ditemani roti bakar isi kacang-coklat dan es susu matcha dari warkop Pak Edi.


Serena seakan lupa siapa orang yang tengah tertawa bersamanya ini. Dia seakan melupakan apa yang pernah dilakukan Reno dulu. Wanita itu seakan tak peduli dan tetap asik tertawa-tawa.


Sampai akhirnya ia tersadar ketika Reno mengusap sudut bibirnya. Tawanya perlahan-lahan berhenti bergantikan dengan keduanya yang saling bertatapan dalam.


Reno tersenyum kecil. "Sori. Abisnya kamu belepotan. Gak pernah berubah deh kayak anak kecilnya."

__ADS_1


———————————————


__ADS_2