Haruskah Kita Bercerai?

Haruskah Kita Bercerai?
17


__ADS_3

"Aku gak nyangka bakal tau hal ini dari orang lain." Ares menatap dingin sosok Anyelir yang duduk tak nyaman di hadapannya. Pria itu berulang kali mengatur emosinya agar tak meledak pada wanita yang paling disayanginya itu. Cukup menguras tenaga memang untuk melakukannya. Oleh karena itu Ares memilih diam beberapa waktu setelah pulang dari restoran tadi. Mereka hanya duduk saling berhadapan di sofa kamar. Sebenarnya beberapa kali Anye mencoba menjelaskan, tapi Ares tetap kukuh menormalkan suasana hatinya.


"Gak gitu, Res. Tadinya aku mau ngasih tau kamu, kok."


"Kapan hm?" tantang Ares menegakkan duduk. "Kalo aku gak buka WA dari asisten kamu yang ngingetin untuk minum obat, mungkin aku gak bakal tau kalo sakit kamu kambuh."


"Ya aku... aku perlu waktu, Res. Dari tadi timingnya gak pas terus."


"Bukan gak ada waktu, tapi kamu emang gak niat ngasih tau aku, kan?"


"Kamu kok ngomongnya gitu, sih?"


"Gitu gimana? Bener, kan?"


"Seakan-akan kamu nuduh aku bakal nyembunyiin sesuatu dari kamu. Kamu nuduh aku bakal bohong."


"Dan itu emang kenyataannya."


"Enggak. Aku gak bermaksud kayak gitu."


"Tapi itulah yang kamu lakukan ke aku."


Anye berdecak kecil dan melemparkan tubuhnya pada sandaran sofa. Wanita itu memijit sebentar pelipisnya seraya mengatur napas. Setelah beberapa detik ia kembali menegakkan tubuhnya menatap Ares.


"Oke. Aku salah. Aku salah gak langsung terus terang sama kamu. Dan aku minta maaf untuk itu."


"Aku gak minta kamu untuk minta maaf, Anyelir. Aku hanya gak suka kamu nyembunyiin hal ini dari aku. Sebenernya apa sih yang ngebuat kamu gak mau terus terang?"


Anye diam. Mencari alasan apa yang tepat.


"Ayo jawab. Jangan diem aja."


Mendapat tekanan dari Ares, membuat Anye makin gugup. Ia menggigit bibir bawahnya.


"Jawab, Anyelir! Kenapa kamu gak mau terus terang?!"


"Karena kamu!" Pekiknya frustasi.


"Aku?" tunjuk Ares tak terima. "Aku kenapa? Apa yang salah dari diri aku?"


"Karena sikap kamu yang berlebihan kayak gini yang buat aku takut untuk jujur."


"Aku khawatir. Aku mengkhawatirkan kamu. Dan aku rasa gak ada yang berlebihan dalam mengkhawatirkan orang yang kita sayang."


"Tapi sikap kamu itu bikin aku gak nyaman. Kamu memperlakukan aku kayak orang diambang kematian."


"Ya terus menurut kamu aku harus gimana?" Nada Ares naik satu oktaf.


"Ya mungkin kamu emang gak usah tau aja!" Balas Anye tak kalah lantang.


Ares mengatup rapat mulutnya saat lagi-lagi gelora amarah berkobar dalam dirinya. Ia menarik napas kasar dan melenguhkannya perlahan. "Itu bukan solusi terbaik, Anyelir. Aku gak suka kamu bohong."


"Lantas apa solusi terbaik versi kamu? Setelah tau semuanya kamu bakal bawa aku ke rumah sakit, aku dikasih obat yang banyak, gak boleh ini, gak boleh itu, harus bed rest, harus--


"Mungkin kamu harus kembali ke Opa Tony." Potong Ares serius.


Seketika Anye membeku dengan tatapan terlukanya. Perasaan tak nyaman mendominasi di setiap inci tubuhnya. Apa yang sebenarnya Ares pikirkan hingga nama itu bisa tercetus dari bibir indahnya?


"Dengan Opa Tony kamu akan hidup layak. Kamu gak perlu repot-repot cari uang, kerja jadi model, hidup sendiri di negeri orang. Semuanya akan terjamin."


Hening cukup panjang. Anye memilih diam dengan pandangan lurus pada Ares. Wanita itu merasa marah saat lukanya diusik lagi. Tak melihatkah Ares kebencian itu begitu terpancar dari matanya?


"Kenapa kamu bahas dia lagi?"


"Karena cuma Opa Tony yang bisa memenuhi kebutuhan kamu. Begitupun kamu membutuhkan Opa, karena Opa keluarga kamu satu-satunya."


"Aku gak butuh dia!"


"Kamu butuh! Karena Opa Tony akan memberikan yang terbaik buat kamu. Opa akan menjaga kamu sebaik mungkin. Hidup kamu akan jauh lebih baik."


"Jadi kamu nyuruh aku untuk hidup dengan orang itu? Dengan orang yang gak pernah aku harapkan untuk datang lagi?"


"Dia kakek kamu. Gak ada peraturan yang melarang cucu tinggal dengan kakeknya."


"Kalo aku gak mau?"


"Berarti kamu gak menyayangi diri kamu sendiri."


Anye mendengus kecil. "Justru aku menolak ini karena aku menyayangi diri aku sendiri. Aku gak mau buang-buang waktu hidup bersama orang yang bahkan lebih menyayangi uang dan harta dibanding dirinya sendiri."


"Tapi Opa Tony sangat menyayangi kamu, Anye. Dia menganggap kamu lebih berharga dari apapun."


"Kalo dia menyayangi aku, dia gak akan rebut Mama dan Papa dari tanganku." Tekan Anye dengan mata memanas.


"Astaga," Ares mengerang frustasi. "Sampai kapan kamu mau nyalahin Opa? Sampai kapan kamu mau terus menutup mata? Itu takdir Tuhan. Orang tua kamu pergi karena sudah jalannya."


"Dan kamu jangan lupa alasan mereka pergi karena apa."


"Demi Tuhan, Anye, Opa gak bermaksud untuk--


"Kalo aja waktu itu dia gak nyuruh Papaku ngurus bisnis sialannya itu, mungkin sekarang aku gak akan hidup sendiri, Antares!" Teriak Anye dengan linangan air matanya.


Bibir wanita itu bergetar. Dadanya turun naik tak beraturan. Matanya seakan tak mau berhenti memproduksi air mata. Semua perkataan Ares seakan menjadi alarm pengingat akan lukanya yang sudah susah payah ia kubur. Semua kesulitan, rasa tak percaya, sakitnya membenci, tak sanggup menerima kehilangan.


"Kamu gak ngerti sakitnya aku, Res. Kamu gak akan ngerti." Bisik Anye.


Pria itu benar-benar merasa sesak melihat Anye menangis. Rasa-rasanya sudah sangat lama Anye tak menangis seterluka ini. Selama ini Anye berhasil membentengi diri menjadi wanita tangguh. Tapi karena dirinya, karena ucapan sialannya, karena mulut tololnya, Anyenya menangis lagi.


"Sweetheart, sorry." Ares bangkit dari duduknya menghampiri Anye, tapi Anye keburu meninggalkannya lebih dulu. Wanita itu membuka pintu kaca kamarnya dan berdiri di depan balkon.


Tentu saja Ares mengikutinya. Berdiri di belakang Anye dengan wajah nelangsa. Pria itu menelan ludahnya dengan sulit karena melihat punggung Anye bergetar. "Maaf, Sweetheart. Maaf."

__ADS_1


"Kamu jahat." Kata Anye di sela isaknya.


Ares mendekap tubuh Anye dari belakang. Menempatkan tangan besarnya di perut Anye yang ramping. Dagunya yang runcing ia tumpukan pada bahu Anye yang telanjang. Mengecupnya dengan sepenuh hati dan penuh sayang. "I know. I know."


"Aku benci orang itu, Res. Aku benci dia." Bisik Anye.


Ares hanya mengangguk-angguk sambil makin erat mendekap tubuh kecil Anye.


"Ini berat buat aku. Berat banget."


"Ada aku. Jangan takut."


"Bertahun-tahun aku coba buat gak benci orang itu, tapi aku tetep gak bisa."


"Dan sebenci apapun kamu, Opa tetep sayang kamu."


"Dia menyayangi aku karena rasa bersalah, Res. Dia baru menyadari kesalahannya saat Papa dan Mamaku udah gak ada. Itu udah terlambat, Res, terlambat."


Ares menciumi punggung Anye dari balik dress pendek putih itu. Matanya memejam dan tangannya semakin mengungkung perut Anye. Bibirnya lalu naik menyusuri leher--mengendus sebentar--lalu cumbuannya naik ke telinga. "Maaf karena tadi aku marah-marah, Sweetheart. Percayalah aku cuma gak mau kenapa-napa."


Anye menoleh pada Ares yang juga tengah menatapnya. "Tadi aku gak berniat bohong. Aku gak pengin bohong sama kamu."


"Aku mengerti. Maaf untuk tadi."


Tubuh Anye memutar perlahan untuk menghadap Ares. Wanita itu menelusupkan tangannya pada tubuh Ares dan memeluk tubuh gagah itu dengan erat. Kepalanya bersandar dengan nyaman di bahu Ares.


"Jangan nangis lagi, Sweetheart." Lirih Ares mengusap-usap punggung Anye. Mengecup dahi Anye yang berada di bawahnya.


"Aku gak mau kamu marah lagi."


"Ya, Sayang," desahnya lembut. "Udah yuk sekarang kamu minum obat dulu, abis itu langsung tidur. Aku temenin."


• • • • •


Pukul enam sore Serena tiba di rumahnya yang berlantai dua itu. Saat ia akan membuka pintu mobil, dahinya berkerut melihat sebuah CRV hitam bertengger manis di samping mobilnya. Karena penasaran, Serena bergegas menghampiri mobil itu. Ia berdiri mengamati, sampai akhirnya lambat laun ia ingat milik siapa mobil ini. Sungguh, ia tak mungkin salah. Ia pernah melihatnya bahkan pernah duduk di dalamnya.


"Pak Rapto." Panggil Serena pada satpam rumahnya.


Pria setengah baya itu sedikit berlari menghampiri atasannya. "Siap, Bu."


"Sejak kapan mobil ini ada disini?"


"Sejam yang lalu kalau gak salah, Bu."


Serena hanya mengangguk. "Makasih."


Tak bisa menahan lebih lama lagi, wanita itu berjalan cepat menuju rumahnya. Membuka pintu besar berwarna putih itu dengan sekali dorongan. Wajahnya makin tak bisa menyembunyikan kepanikan saat yang ia lihat Altan tengah bermain bersama orang itu. Orang yang tak pernah ia harapkan untuk hadir lagi dalam hidupnya, apalagi sampai menginjakkan kaki di kediamannya.


"Mami udah pulang?" Tanya Altan riang. Bocah itu berlari cepat menuju ibunya dan mengangkat mainan spidermannya. "Liat, Mi, aku diajak main sama Om itu. Om itu juga suka spiderman."


Dengan sangat kaku Serena menarik senyum. "Uhm... Altan mainnya di dalem dulu mau kan, Sayang?"


"Mami mau bicara dulu sama Omnya. Altan tau kan kalo anak kecil gak boleh denger pembicaraan orang dewasa?"


Altan mengangguk-angguk. "Ya udah deh kalo gitu."


"Makasih ya, Sayang."


"Bye-bye, Om." Altan melambai sedih pada sosok yang berdiri di depan sofa ruang tamu itu.


Pria itu membalas lambaian Altan dan tersenyum tak kalah manis. Suasana jadi agak tegang saat Altan sudah berlari menaiki tangga, Serena berjalan menghampirinya dengan wajah marah.


"Sere aku--


"Aku gak suka ya kamu lancang begini datang ke rumah aku."


Pria itu berdiri kaku dan tak nyaman. "Aku cuma mau ketemu sebentar untuk memperbaiki hubungan kita."


"Justru karena kamu datang kesini hubungan kita akan makin buruk, Reno."


"Aku serius, Sere, aku mau minta maaf. Aku tau tindakan aku waktu itu bodoh banget. Aku tau apa yang aku katakan gak seharusnya aku katakan. Semuanya diluar kendali aku."


Serena membuang tatapannya ke samping. Berdecih penuh jengah. Tahu-tahu pikirannya teringat pada perkataan Hana; kalau pria seperti orang ini tak seharusnya diberi kesempatan ke dua dari awal.


"Serena, kedatangan aku kesini bukan bermaksud apa-apa, kok. Ini pure aku minta maaf. Aku janji, setelah kamu maafin aku kamu gak akan melihat wajah aku lagi di sekitar kamu."


Kontan kepala Serena berputar ke arah Reno. Membidik profil pria itu mencari celah kebohongan.


"Ya, Sere. Aku akan balik lagi ke UK dan meneruskan karir disana. Tugasku memperjuangkan kamu udah selesai. Aku akan melanjutkan hidup."


Tubuh Serena menegang kaku. "K-kamu... balik lagi ke UK?"


Reno mengangguk diiringi senyum. "Ada tawaran pekerjaan disana. Aku dikontrak jadi fotografer dalam sebuah projek dokumentasi."


Serena termengu beberapa di tempatnya berdiri kini. Satu sisi hatinya merasa ragu, tapi di sisi lain ia lega. Entah kenapa kepergian Reno saat ini terasa sangat menenangkan dibanding kepergian Reno lima tahun lalu menjelang sebulan acara pernikahan mereka.


Dilihatnya Reno berjalan mendekati Serena. Pria itu terlihat terus menebar senyum walau pancaran matanya dapat menafsirkan kalau ia dirundung kesedihan. Langkahnya berhenti dua langkah dari Serena.


"Untuk semua yang udah terjadi, untuk semua yang udah aku lakuin--sekarang atau dulu--aku minta maaf. Gak pernah sekalipun terbesit di pikiran aku untuk menyakiti orang yang aku sayangi. Kamu wajar membenci aku untuk semua itu, Serena. Kamu wajar sakit hati dan kecewa. Tapi aku mohon. Aku mohon antar kepergian aku kali ini dengan maaf dari kamu. Setidaknya aku pergi gak membawa rasa bersalah kayak lima tahun lalu."


Serena masih bergeming diam. Ia tak tahu harus menyikapi Reno bagaimana. Kalau boleh jujur, ruang hatinya terenyuh akan ketulusan yang ada pada sorot mata Reno. Tapi satu sisi hatinya tak dapat berbohong kalau tersisa sedikit kebencian yang membekas dari masa lalu.


"Aku melepaskan kamu, Serena. Aku berhenti," bisik Reno dengan senyum tipisnya. "Aku sadar kalau kamu udah menemukan sosok yang lebih layak untuk kamu cintai dibanding aku. Aku juga yakin suami kamu luar biasa hebat sampe bisa membuat kamu sangat mencintai dia. Aku turut bahagia, Re. Aku bahkan merasa sangat bahagia akhirnya kamu mendapatkan pria yang tepat. Dengan begitu aku bisa melanjutkan hidup dengan tenang."


Serena menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan. Tangannya ia sedekapkan di depan dada. Lama-lama ditatap Reno sangat dalam seperti itu membuatnya tak nyaman.


"Tolong ya, Re, maafin aku untuk semua itu. Aku mau kita jadi teman baik."


"Boleh aku pikir-pikir dulu?"


"Silakan," Reno tersenyum. "Aku berangkat tiga hari lagi."

__ADS_1


Serena hanya mengangguk cuek satu kali. "Udah, kan? Gak ada lagi yang mau diomongin, kan?"


Reno tersenyum kaku. Pengusiran halus kah ini? Jika iya, rasanya ia ingin tinggal sebentar. Lebih lama berada di sisi Serena sebelum nanti tak bisa lagi karena jarak UK dan Indonesia cukup jauh. Dan mirisnya hubungan mereka berdua juga jauh.


"Sebelum pulang, boleh aku ketemu suami kamu?"


Serena menahan napas sejenak. Permintaan Reno mengingatkan Serena dengan apa yang ia lihat siang tadi. Dengan susah payah ia mencari pengalihan dengan berjalan sepanjang hari di mall. Dan kini semuanya sia-sia karena hatinya kembali berdenyut perih.


"Suami aku belum pulang." Sahut Serena menahan sesak.


"Dia biasa pulang malam?" tebak Reno dengan wajah sedikit menyelidik. "Soalnya setauku jam pulang kantor jam lima sore."


Serena menelengkan kepala. "Jam pulang suamiku jadi urusan kamu juga sekarang?"


Reno langsung tercenung canggung. "Sori."


Serena memejamkan matanya sejenak. Sungguh, ia benar-benar menantikan kapan Reno akan pergi. Rasanya ia ingin buru-buru masuk kamar, melemparkan diri dan berendam sepanjang malam.


"Reno, aku rasa cukup untuk hari ini. Sorry to say, tapi aku bener-bener capek dan pengin istirahat."


"Aku ngerti, kok. Its okay, Re."


"Semoga kamu gak merasa tersinggung. Karena sepertinya pelayan rumahku udah menjamu kamu cukup baik." Ekor mata Serena melirik meja ruang tamu yang penuh dengan jamuan.


"Ya, Sere, makasih untuk jamuannya. Aku gak merasa tersinggung sama sekali." Senyum Reno.


Serena mengangguk dan tersenyum paksa. "Mau aku antar ke depan?"


"***--


Seketika Reno berhenti bicara saat matanya tak sengaja melirik foto yang disimpan di atas meja dekat vas bunga. Dari beberapa bingkai yang terpajang, ada satu yang membuat Reno terbungkam. Foto pernikahan Serena. Bingkai itu terlihat mendominasi dari deretan foto lain yang berukuran lebih kecil dan terlihat hanya jadi pelengkap saja.


Namun yang jadi fokus Reno bukanlah itu. Melainkan sosok pria berjas hitam yang tersenyum lebar di samping Serena. Suaminya. Pria itu. Pria yang dua kali beradu mulut dengannya. Damn! Kenapa ia baru sadar sekarang?! Dari mana saja ia sejam duduk disitu dan tak melihat foto itu?!


Serena berkerut kening saat Reno terus memandangi foto dirinya dan Ares. "Ada apa?"


Reno menoleh kaget. Ia membasahi bibir bawahnya mengusir gugup. "Nope. Aku hanya kaget baru ngeliat suami kamu."


"Are you sure?" Bidik Serena.


"Ya," senyum Reno kaku. "Never mind."


• • • • •


Ares menghembuskan napas lelah saat memasuki rumah. Rambutnya berantakan dan pakaiannya tak jauh lebih baik. Ia baru saja menyelesailan permasalahan kecil di kantornya yang bergerak di bidang pangan tersebut. Kepalanya agak pening dan ia ingin segera melemparkan diri pada empuknya ranjang.


Saat melewati kamar Altan, Ares sengaja mampir lebih dulu. Memastikan jagoan kecilnya sudah tidur atau belum. Pria itu mengerutkan kening saat mendapati Altan tengah bermain di atas ranjangnya seorang diri.


"Hallo, Jagoan Kecil." Sapa Ares mengecup kening sang putera lalu disusul duduk di depannya.


"Papi kok udah pulang?"


Ares mengerutkan kening dan melihat jam tangannya. Ternyata sekarang baru pukul delapan malam. Ares rasa, Altan kebingungan karena ia pulang lebih awal. Ares juga baru menyadari bahwa sesering itu ia pulang larut, hingga pulangnya yang lebih awal ini dipertanyakan. Miris sekali.


"Kerjaan Papi sedikit ya makanya Papi pulang cepet?"


Ares hanya tersenyum tipis seraya membawa tubuh putera kecilnya dalam dekap hangatnya. Mengeratkan pelukannya seolah tak ingin lepas dan mengatakan betapa ia sangat merindukan Altannya ini. Ia merasa jadi sangat buruk karena membiarkan Altan menanggung dampak dari retaknya hubungan ia bersama Serena.


"Papi kangen Altan." Bisik Ares tulus.


"Altan juga kangen Papi. Altan pengin Papi temenin Altan terus."


Ironis. Ares merasa hatinya tercubit. Permintaan Altan sangatlah sederhana. Tapi seironis kedengarannya, Ares bahkan tak bisa mengabulkan permintaan itu.


Perlahan Ares melepaskan pelukannya dan mengelus lembut kedua sisi wajah sang anak. "Apapun yang terjadi, Altan harus tau kalo Papi sangat menyayangi Altan. Papi akan selalu ada bahkan disaat Papi gak ada di hadapan Altan. I love you... more than anything."


"Altan juga sayang Papi." Bocah itu menghambur dalam pelukan sang ayah.


Ares melenguh lega dalam hati. Ia mengecupi Altan dengan penuh kasih sayang. Mengusap punggung kecilnya yang dibalut pakaian tidur.


"Altan kenapa belum bobo?" Tanya Ares lembut.


"Belum ngantuk. Mami belum bacain dongeng."


"Kok belum? Emangnya Mami kemana?"


"Tadi abis kita makan malem, Mami ke kamar dulu. Katanya mau nyiapin air hangat buat Papi mandi."


Usapan Ares perlahan-lahan memelan. Ada satu sisi di hatinya yang merasakan hangat. Tapi satu sisi lain menentangnya. Rahangnya mengeras. Ia benci mengasihani Serena. Serena melakukan ini semua pasti karena ingin meluluhkan hatinya, atau mungkin sebagai upaya menutupi perselingkuhannya.


Tolong, Ares, jangan bodoh. Rapalnya dalam hati.


"Oh iya, Pi." Altan menarik diri dari pelukan Ares, dan itu membuat Ares tersadar dari lamunannya.


"Hm? Kenapa, Sayang?"


"Altan punya temen baru, loh. Temen barunya baiiiiiik banget. Dia juga suka superman kayak Altan. Kita main barengan tadi."


"Oh ya? Emang temen Altan itu rumahnya dimana? Nanti kita main bareng sambil Papi traktir es krim."


"Rumahnya jauh."


"Jauh?" Ares menautkan alisnya. "Kalo jauh kok Altan bisa kenal? Papi kira temen Altan anak komplek sini juga."


"Temen Altan kan temennya Mami. Jadi rumahnya jauh."


"Temen Mami? Temen Mami siapa? Namanya siapa?"


"Om Reno. Tadi dia dateng kesini temenin Altan main. Omnya baik banget loh, Pi."


Reno? Datang kesini? Jadi Serena sudah berani membawa pacarnya ke rumah ini?

__ADS_1


__ADS_2