Haruskah Kita Bercerai?

Haruskah Kita Bercerai?
15


__ADS_3

"Sere." Tubuh Serena terhenyak saat punggung tangannya ditepuk oleh Cecil.


"Eh?" Tanyanya kebingungan seraya membasahi bibir bawahnya.


"Loe kok ngelamun?" Timpal Hana.


Serena tersenyum kecil. "Sori."


Guna menetralisir kegundahan hatinya, Serena menyeruput orange juice pesanannya. Tiga wanita cantik itu tengah berada di restoran dekat kantor Serena, karena Cecil kukuh ingin bertemu dan mentraktir makan siang. Namun sejak mereka datang sampai kini makanan mereka hampir habis, Serena tak seperti biasanya. Ia kelihatan tak ceria dan banyak melamun. Hal itu membuat kedua sahabatnya cemas.


"Sere loe oke, kan?" Selidik Hana.


Kepala Serena mengangguk-angguk kecil. Senyumnya sangat tipis sekali.


"Loe keliatan aneh hari ini. Dari tadi pagi gue ngeliat gelagat loe muram banget, Re. Loe kenapa?"


"I'm fine, Han." Katanya dengan berat.


"Sere, please, kalo loe punya masalah share aja sama kita. Kita pasti dengerin, kok." Sambung Cecil cemas.


Tenggorokan Serena sudah teronggok tangisnya yang tertahan. Ia mencoba menelan ludahnya dengan pahit. Tangannya makin berkeringat.


"Serena, kita disini. Loe jangan simpen masalah loe sendiri."


"Gapapa. Gue gak---sori," tiba-tiba setitik air mata Serena jatuh tak terduga. Ia menyekanya sambil tertawa sumbang. "Sori tadi gue kelilipan."


Tatapan Cecil membidik ke arah Serena. "Loe bohongin kita."


"Gue gak--


"Sere, gue gak suka ya loe nyimpen sesuatu sendirian. Gue udah pernah bilang ini, kan? Loe gak percaya buat cerita sama kita?"


Serena menggeleng seraya tersenyum getir. Kenapa disaat seperti ini air matanya malah makin mengalir. Ia pun menundukkan kepalanya dan membekap isak yang akan keluar dari mulutnya. Tapi bahunya yang bergetar, tak bisa berbohong.


Hana dan Cecil mendekati Serena. Duduk di kanan dan kiri sahabatnya itu. Mendekap seraya mengusap-usap punggung rapuhnya. Terlihat ikut sedih untuk setiap air mata Serena yang jatuh mengenai rok hitam yang wanita itu gunakan.


"Hati gue sakit. Sakit banget." Lirihnya menekan-nekan dadanya.


"Bagi sakit loe, Re. Bagi sama kita." Bisik Hana pelan.


"Ares selingkuh. Ares selingkuhin gue." Bisiknya bergetar.


Hana kontan melepas dekapannya pada Serena karena terlalu kaget. Sementara Cecil mengatupkan rapat mulutnya dengan raut tak jauh berbeda dari Hana.


Serena menyatukan seluruh jari-jarinya yang berkeringat. Meremas dengan agak kuat agar sakit di hatinya sedikit reda. "Gue gak ngira dia setega itu sama gue. Gue gak ngira lelaki sebaik Ares bisa ngelakuin itu ke gue."


"I-ini... loe serius kan, Re?" Tanya Hana memastikan. Karena selama ini dialah orang yang paling mempercayai Ares dan menganggap pria itu suci tanpa dosa. Damn!


"Gue serius, Han." Angguk Serena pelan. Helaan napasnya berat sekali.


"Apa... ini ada kaitannya sama cewek dalam foto itu, Re?" Timpal Cecil.


"Ares gak ngakuin ini secara langsung semalem. Tapi kayaknya iya."


Bahu Cecil merosot. Ia jadi merasa bersalah. "Sori ya, Re, gara-gara gue ngasih foto itu hubungan loe jadi berantakan."


"Loe gak salah, Cil. Justru gue akan makin sakit hati kalo taunya belakangan."


"Loe tau siapa ceweknya?" Tanya Hana hati-hati.


Serena menggeleng. "Yang gue tau namanya Anye. Dan Ares manggil dia sweetheart, Han," lalu senyumnya terlihat miris. "Bahkan dia gak pernah manggil gue semanis itu."


"Terus... langkah loe selanjutnya mau apa?"


Serena hanya menggeleng lemah. Lagi-lagi air matanya merembas turun. Hana mencoba menyekanya, namun itu membuat Serena makin terisak. "Gue bingung harus apa. Rasanya sakit banget, tapi gue gak bisa pergi dari dia. Ada Altan dan orang tua kita yang jadi taruhannya."


"Tapi kalo loe masih bertahan sama dia, loe bakal makan hati tiap hari, Re." Sanggah Cecil.


"Gue gak mau egois, Cil."


"Dan dia sebegitu egoisnya sama loe. Loe mikirin semuanya untuk minta pisah, sementara dia dengan santainya selingkuh di belakang loe. Come on, Re, sekali-kali pikirin diri loe, jangan orang lain terus. Udah cukup loe dulu nikah sama dia demi orang tua loe. Sekarang tolong ciptain hal yang memang loe dan hati loe ingini. Gue yakin orang tua loe ngerti."


"Dan ini yang gue dan hati gue ingini, Cil. Bertahan."


"Loe mau dibego-begoin sama--


"Cil udah." Protes Hana.

__ADS_1


"Gue belum selesai, Han. Gue cuma mau Serena ngerti kalo dia gak bisa selamanya menderita. Dengan dia bertahan, itu akan buat si Ares kepedean kalo Serena kecintaan banget sa--


"Itu emang kenyataannya, Cil," potong Serena pelan. "Gue udah terlanjur cinta sama Antares. Gue sangat mencintai dia."


...• • • • •...


Vino mengamati Ares yang sedang minum pada gelas ke empatnya. Pria itu tak menyangka bahwa patah hati dapat membuatnya sedemikian berubah. Dulu Vino selalu berharap Ares akan satu frekuensi dengannya, tapi setelah semuanya jadi kenyataan--Ares ikut bejat seperti dirinya--Vino menjadi sangat kasihan. Ia tahu Ares pria yang baik. Ia tahu Ares pria yang bertanda kutip alim, bahkan main wanita pun tak pernah sekali pun. Prinsipnya, kalau sudah satu ya satu. Tidak ada tempat untuk orang lain. Tapi lihat sekarang?


"Gue ngaku selingkuh sama Anyelir ke Serena." Katanya dengan kekehan kecil.


"Kenapa?"


"Abisnya gue kesel ditanya-tanya terus. Ya udah gue jawab."


"Serena percaya?"


"Of course. Bahkan gue rasa dia nangis semaleman dan gak tidur."


"Loe tega bikin dia nangis, Men? Really?"


Ares mengguncang bahunya sambil meneguk lagi. "Ini belum seberapa sama luka yang udah dia kasih ke gue. Gue cuma mau dia ngerasain apa yang gue rasain waktu itu."


"Walaupun loe sebenernya gak ngelakuin itu?"


"Apaan? Selingkuh?" Tanyanya mendengus geli.


Vino hanya mengangguk sekali dengan polos.


"Ini mau." Ares menyeringai nakal.


Alis Vino kontan terangkat keduanya. Dan ia makin bingung saat Ares menarik satu orang wanita penghibur bergaun pendek yang memperlihatkan bongkahan pantat sintalnya.


"Hai. Mau service?" Tanya wanita itu manja. Tangan kirinya melingkari leher Ares, dan tangan kanannya mengusap-usap dada pria itu.


Ares tersenyum nakal dengan terus menatap bibir merona wanita itu. Tangannya asik bertengger di pinggang seksinya, dan yang satu lagi sudah bergerilya mengusap bokong berisi ****** tersebut.


"Aku free kok malem ini." Timpal si ****** di telinga Ares, lalu menjilatnya sensual.


Geraman Ares terdengar seksi. Dan itu membuat Vino menganga tak percaya. "Men, udah ayo balik. Ini udah mau pagi."


"Mau ngapain lagi, sih? Tadi loe bilang cuma minum, kan?"


Kekehan Ares membuat Vino makin mengerutkan kening. Pria itu menatap Vino dengan tatapan jahilnya. "Gue belum booking kamar."


Mata Vino melotot. "Gila ya loe!"


Ares hanya terkekeh kecil dan kembali fokus pada wanita tadi. "Ada kamar kosong?"


"Ada, dong. Buat kamu apa sih yang gak ada." ****** itu bergelayut manja hingga belahan *********** membuat Vino tak berkedip.


"Yuk." Ajak Ares bangkit menggaet pinggang jalangnya.


"Res ini loe serius?" Vino ikut bangkit. Wajahnya panik.


"Serius. Emang kenapa, sih? Loe pengin juga?"


"Anjir! Ayo deh kita pulang aja. Gue ngeri kalo loe lama-lama disini."


"Bukan gue yang ngeri. Tapi loe. Adek loe bangun tuh. Tidurin sana. Gue mau have fun dulu."


...• • • • •...


Serena tak butuh waktu lama untuk mengerjapkan matanya saat pintu kamar terbuka, karena sejujurnya ia memang tak benar-benar tidur. Ia tak mungkin bisa tidur nyaman saat sosok yang tengah memasuki kamarnya ini baru nampak pada pukul tiga pagi. Seperti biasa, terlihat kacau. Dan bau alkohol menyeruak.


Tubuh Serena yang sedikit pegal karena posisi baringannya tadi tidak benar, terpaksa bangkit menyambut Ares. Wanita itu menyambut dengan sewajarnya saja. Tidak berlebihan seperti sebelumnya, dan juga tidak terlalu tidak peduli. Cukup senyum tipis.


"Kok baru pulang?" Tanyanya saat Ares duduk di sisi ranjang membuka sepatu. Alih-alih mendapat jawaban, Serena harus melenguh pelan saat basa-basinya terpaksa dialihkan melipat jas Ares yang tergeletak asal di atas ranjang. Wanita itu tersenyum miris saat wangi perempuan dengan lancang memasuki inderanya.


Ares bangkit dengan wajah kerasnya. Pria itu ingin mengacuhkan Serena, tapi Serena malah menahan lengannya untuk melangkah. "Minggir. Aku terlalu capek buat ngeladenin kamu berantem."


Serena tersenyum tipis. Sementara tangan kirinya mengait jas Ares, tangan kananya terulur mengusap rahang kokoh sang suami yang nampak lebih kurus. Ia berkata dengan sangat lembut. "Aku tau. Aku bisa ngeliat itu. Aku juga gak ngajak kamu berantem, kok."


Sungguh Ares tertegun. Ia sangsi kalau yang ia rasakan sekarang adalah nyata. Mungkin saja pengaruh alkohol masih menempel pada ruang imajinasinya, kan? Pasti yang ada di depannya ini bukan Serena. Sosok ini tidak mungkin selembut sekarang. Ares tidak boleh terbuai. Tolong ingatkan dia bahwa beberapa waktu ke belakang hatinya pernah dipatahkan oleh sosok ini.


"Kamu keliatan capek banget, Res. Mau aku buatin teh?" Ia menawarkan dengan tak putus mengusap rahang Ares. Menyentuh sosok yang sangat ia rindukan, sejujurnya.


Ares terkekeh mencibir. Tangannya menepis kasar usapan Serena. "Lima tahun berakting jadi istri yang baik di mata dunia, ternyata ngebikin kamu jadi aktris yang sangat berbakat."

__ADS_1


"Maksudnya?"


"Ya.... aktris berbakat," Ares menggoyang bahunya. "Owh, lebih tepatnya aktris yang kebawa perannya ke dunia nyata."


"Res, serius, aku--aku gak ngerti sama yang kamu maksud."


"Come on! Yang aku maksud adalah, berhenti jadi istri sok baik. Disini gak ada orang tua kita, disini gak ada klien kamu atau klien aku, disini gak ada Altan, disini hanya ada aku dan kamu. Kita ada di ruangan ini, bukan di mata dunia."


"Res aku--


"Udahlah. Ngapain sih sok baik sama aku? Buat apa sok perhatian kayak gini? Ada untungnya kamu berbuat begitu?"


"Emangnya salah kalo aku perhatian sama suamiku sendiri? Emang salah kalo aku memperlakukan kamu dengan baik?"


"Salah," jawab Ares tajam. "Tentu aja semua itu salah karena kamu ngelakuinnya setelah aku terbiasa gak diperhatikan."


Serena sempat diam karena kehabisan kata-kata. Ia mati kutu dengan mulut sedikit terbuka, sebelum akhirnya menjawab. "Aku cuma menjalani kewajiban aku sebagai istri, Res."


"Kewajiban yang dulu selalu aku minta tapi kamu gak pernah kasih. Kewajiban yang sekarang kamu kasih tapi bagi aku semuanya udah gak ada artinya lagi."


Boom! Serena makin tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ares benar. Apa yang Serena perlakukan pada Ares dulu memang keluar dari batas wajar. Dimana ia dulu saat Ares butuh? Sibuk dengan rasa sakitnya? Menimbun ego karena tak mau menerima takdir yang ditulis Tuhan? Atau mungkin menyiasati gengsi dengan bersikap sangat acuh pada suami sendiri?


Bangun, Serena! Mungkin ini juga yang membikin Ares selingkuh.


"Sekarang minggir. Ingat-ingat aja kesalahan kamu sendiri. Aku gak mau jadi saksi kamu meratapi nasib."


"Res." Lirih Serena dengan mata berkaca-kaca.


"Ck! Drama apa lagi ini? Udah, cukup! Cerita kita udah tamat sejak aku minta pisah. Kamu gak usah jadi si protagonis lagi yang buang-buang air mata."


"Tapi--


"Capek tau gak ngomong sama kamu." Ketus Ares sambil membuka kancing kemejanya. Menyamping menghadap ranjang.


Tunggu! Yang memotong ucapan Serena tadi bukan perkataan Ares. Tapi... mata Serena tak bisa berhenti membidik objek yang sangat kontras dengan warna putih kemeja Ares. Terdapat di area kerah dan sedikit samar. Noda lipstik.


Ya Tuhan apalagi ini? Belum cukup tadi wangi parfum, apakah harus ditambah juga dengan yang satu ini? Sekonyong-konyong pikirannya berkelana. Kalau noda lipstik wanita itu menempel pada kemeja Ares--dan lagi di area cukup intim--sebenarnya sudah sejauh mana hubungan mereka?


Lamunan Serena buyar saat Ares menyenggol bahunya kasar. Pria itu melengos begitu saja meninggalkan Serena yang berkaca-kaca dan otaknya dipenuhi pertanyaan.


Dengan tangan bergetar Serena meraih kemeja putih itu. Ia menitikan air mata saat jarinya mengusap noda lipstik milik wanita lain itu. Tangannya meremas kuat bersamaan dengan hatinya yang juga teremas.


"Ya ampun, Res." Lenguhnya parau.


Lalu tahu-tahu ponsel Ares yang tergeletak di atas ranjang berbunyi. Serena sempat tertegun. Antara masih menghargai pripasi Ares, atau ia takut untuk melihat apa yang nanti akan muncul di alat canggih itu.


Membuang semua perasaan gamang itu, Serena melirik ke arah pintu kamar mandi yang masih terkunci rapat. Ia perlahan-lahan meraih ponsel Ares. Menyalakan tombolnya dan wush! Banyak sekali notifikasi di layar kuncinya. Yang barusan ternyata hanya reminder kalau pagi ini Ares ada pertemuan. Tapi mata Serena lebih tertarik menilik pesan dari Anye-Anye ini yang sepertinya belum dibaca Ares atau memang sengaja diabaikan.


Ada empat pesan dari Anye. Serena mengurai keempatnya dari lock screen, agar pesannya tetap tidak terbaca.


Anye


Km kok tumben blm kesini?


18:03


Ares km dmn?


19:25


Klo km mau kesini kabarin. Biar nanti aku tau mau masakin kamu apa


19:56


Km kayaknya sibuk. Ya udah deh. Jgan cape" ya kerjanya. Sebelum tidur minum obat migrain dulu. Aku tidur ya. Good night.


21:15


Serena menahan napasnya dengan susah payah. Air matanya merembas tak tertahan. Ternyata sebegitu jauhnya Ares dan Anye ini. Ternyata ini alasan Ares tak mau makan lagi masakannya--karena di luar sana sudah ada yang menyiapkan. Ternyata selama ini Serena terlalu buta akan Ares--karena ia tak pernah tahu Ares sering migrain. Ternyata ini juga yang mungkin membuat Ares berpaling. Ares bisa mendapatkan sesuatu yang lebih dari luar sana, yang tak bisa ia dapatkan di rumahnya sendiri. Dari istrinya.


Namun satu hal lagi yang mengganjal. Ternyata Ares tak bertemu Anye. Ares tak datang menemui Anye.


Lantas milik siapa noda lipstik itu? Apakah selama ini Ares tidak hanya bermain dengan satu wanita?


Memikirkannya saja sudah sakit. Tapi bertahan sudah jadi pilihan Serena. Jadi ini pulalah resikonya.


———————————————

__ADS_1


__ADS_2