
Kotak besi aluminum itu berhenti di lantai dasar. Bunyi dentingan yang cukup keras membuat kedua sisi lempengannya terbuka lebar. Sosok Serena dan Hana keluar dari dalam sana. Menenteng tas kerja mereka masing-masing dengan wajah letih yang tak bisa disembunyikan.
"Loe langsung balik?" Tanya Hana di langkah ke dua.
"Iya. Ini gue udah telat banget, kasian Altan nungguin gue pulang."
"Iya sih, gila banget kerjaan numpuknya. Ini hampir jam tujuh, loh." Mata bulat Hana memelototi jam tangannya.
Serena menoleh diirisi ringisan gelisah. "Makanya gue mau cepet-cepet balik. Kasian anak gue."
"Ya udah, deh. Take care ya. Loe duluan aja."
"Loe emangnya mau kemana?"
"Kencing," mulut Serena membulat kecil saat Hana mennyentuh area pribadinya. "Udah gak kuat nih gue. Kebelet banget anjir. Udah ya, bye. Muah muah muah. See you tomorrow." Lalu ia tersenyum lucu saat Hana lari terbirit sambil melambikan tangan.
Langkah kakinya yang jenjang menuntun ia melewati lobi kantornya yang cukup lenggang. Hanya ada satu resepsionis, beberapa staff yang nampak baru akan pulang juga, serta dua satpam di pintu depan.
Teringat akan Altan yang pasti akan menunggunya, Serena mengetikkan pesan yang dikirim ke ponsel Mbok Nunik--pemberiannya. Memberi tahu bahwa ia akan pulang terlambat dan tolong temani Altan dulu.
Dalam setiap langkahnya, selalu ada sapa dari para staff yang mengiringi. Serena dengan ramahnya balas tersenyum dan mengucapkan selamat malam, lalu fokus lagi mengetik balasan untuk Mbok Nunik.
"Selamat malam, Bu Serena."
"Mal--" Serena tertegun saat kepalanya mendongak yang ia dapati bukanlah salah satu staffnya. "Reno?"
"Hai." Senyumnya lebar diiringi lambaian tangan.
"Kamu disini?" Kerutan di keningnya menandakan ia masih cukup terkejut melihat sosok ini.
"Iya. Soalnya aku pengin ketemu kamu."
"No. I mean, kamu masih ada di Jakarta? Bukannya kamu harusnya udah terbang ke UK, ya?"
"Itu," senyum kikuk Reno tercipta. "Aku tunda dulu keberangkatanku. Ada urusan yang belum terselesaikan."
"Oh," jawab Serena setengah tak percaya. "Tadi kamu bilang mau ketemu aku? Ada apa, ya?"
"Ada yang pengin aku bicarain. Mungkin kita bisa ngobrol sebentar sambil dinner. Gimana? Does that idea sound good?"
"Sorry, Reno, tapi buatku gak sekarang."
"Why?"
"Aku harus buru-buru pulang. Anakku nunggu di rumah. Aku gak mungkin enak-enakan makan di luar, sementara aku gak tau anakku udah makan atau belum."
"Oh," Reno tercenung sejenak. "Sure. Anak kamu lebih penting. Kalo gitu biar aku antar."
Gelengan pelan Serena membuat senyum di bibir Reno menipis. "Terima kasih. Tapi aku bawa mobil."
"Ini udah malam. Gak baik kamu pulang sendiri."
"Its okay. Aku bisa jaga diri."
"Nanti kalo di jalan ada apa-apa gimana? Kalo kamu dijahatin orang gak dikenal gimana?"
Serena tersenyum santai. "Aku bahkan pernah dijahatin orang yang paling aku percaya, Reno. Aku gak ada alasan lagi untuk takut sama kejahatan."
Reno mengatupkan bibirnya saat mengerti sindiran tajam itu ditujukan untuknya.
"Udah ya. Aku buru-buru. Bye."
"Sere, tunggu," dengan cepat Reno menahan lengan kanan Serena. "Tolong terima tawaranku yang ini. Seriously, aku bener-bener cemas."
"Jangan berlebihan, Reno," Serena mendesah jengah. Sungguh! Ia ingin cepat pulang menemui Altan. "Udah aku bilang kan kalo aku bisa jaga diriku sendiri?"
"Tap--
"Enough," titahnya final. Matanya menatap Reno serius. "Aku harap kamu gak lupa kalo beberapa hari lalu kamu baru aja minta maaf dan janji gak akan mengulangi kesalahan yang sama. So, stop it now. Aku gak suka dipaksa."
Kepergian Serena diiringi wajah nelangsa dari Reno yang barusan dilewati Serena begitu saja. Pria itu menatap gamang pada pergerakan Serena yang sudah membuka pintu Civic abunya. Bahkan hingga sorot lampu menyala dan mesin mobil sudah berbunyi meninggalkan halaman kantor bertingkat lima itu, tak ada yang tersisa selain diamnya Reno.
• • • • •
Ares meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas dekat ranjang Anyelir. Ia mencabut kabel pengisi dayanya, lalu menekan tombol power untuk menghidupkan ponselnya yang low bat sejak beberapa jam lalu. Layar yang semula hitam pekat, berubah jadi terang yang menandakan baterai sudah terisi dengan penuh.
Matanya memicing heran karena lock screennya dipenuhi banyak panggilan telepon dari rumah. Terselip juga dua panggilan tak terjawab dari Serena yang tertera satu jam lalu. Tapi tentu saja Ares lebih tertarik menghubungi kembali nomor telepon rumah daripada wanita itu.
Telepon sudah terpasang di sisi kanan telinga, nada sambung juga terdengar berdering. Namun sahutan apapun belum didapatkan Ares. Pria itu berkecak pinggang dan mulai gelisah. Ia takut terjadi sesuatu pada Altan. Hingga pada percobaan ke tiga, suara Mbok Nunik menyapa.
"Hallo, Mbok. Iya, ini saya. Mbok ada apa telepon saya? Ada sesuatu yang penting?" cerca Ares yang dibalas hening di ujung sana. "Hallo? Mbok masih disana, kan? Mbok, hallo? Mbok denger saya, kan?" kepala Ares meneleng curiga saat suara Mbok Nunik terdengar gugup. Pria itu melenguh jengah guna menekan emosinya. "Tolong jangan buang waktu saya. Saya menelepon bukan buat denger Mbok cuma anu-anu aja. Katakan dengan jelas!"
Ares terang-terangan berdecak karena Mbok Nunik terbata-bata menjawab pertanyaanya. Sebelumnya ia sudah panik, dan sikap Mbok Nunik yang seperti itu makin membuatnya panik. Pria itu mengalihkan ponsel ke telinga kiri dan terus berjalan maju mundur di dekat ranjang Anye.
__ADS_1
"Katakan, Mbok. Sekarang," kata Ares dengan sedikit penekanan. Lalu setelah suara Mbok Nunik menjawab di ujung sana, air muka Ares menegang. Langkahnya terhenti. "Apa?! Kok bisa? Kemana ibunya?" rahangnya makin mengetat mendapat jawaban Mbok Nunik. "Dia belum pulang?! ****," geram Ares tertahan. "Saya pulang sekarang. Tolong jaga Altan."
Saat sambungan telepon terputus, bersamaan dengan itu--Anye yang baru selesai mencuci piring--mendapati Ares yang meraih jasnya panik di atas ranjang. Wanita itu sedikit cepat menghampiri Ares dan menahan tangannya saat pria itu akan pergi.
"Ada apa? Kenapa kamu panik?"
"Aku harus pulang sekarang."
"Kenapa?" Kening Anye berlipat.
"Anakku nangis dan katanya belum makan dari sore."
"Kok bisa?"
"Ibunya gak tau kemana. Dia belum pulang," geram Ares, lalu disusul desisan tajam. "Perempuan itu selalu aja buat aku marah."
Anye mengusap-usap kedua lengan berbalut kemeja coklat gelap itu. Ia tak mau Ares sampai kelewat emosi. "Tenang, Res. Kamu gak boleh emosi. Oke?"
"Gimana aku gak emosi, Sweetheart. Anakku terlantar sendirian di rumah! Dan ibunya itu, dia kemana?"
"I know. I know. Tapi dengan emosi, yang ada kamu malah kenapa-napa di jalan dan gak bisa ketemu sama Altan. Kamu gak mau kan itu terjadi?"
Ares berdecak pelan dan melenguhkan napas panjang. "Kamu bener."
"Maka dari itu. Tenang, ya?" Ucap Anye dengan lembut diiringi senyum.
Tangan Ares merengkuh kedua sisi wajah Anye. "Thank you, Sweetheart. Kamu emang selalu bisa membuatku tenang."
"My pleasure. Itu udah tugasku," dengan perhatiannya tangan Anye menyugar rambut Ares yang sedikit berantakan. "Gimana? Udah tenang?"
"Better." Angguk Ares.
"Ya udah. Sekarang kamu pulang. Temui Altan."
Ares tersenyum tipis dan mendekap tubuh ramping Anye. "Aku pulang dulu ya. Jaga diri baik-baik."
Pertemuan mereka malam ini diakhiri dengan kecupan hangat dari Ares yang mendarat di kedua pipi Anyelir.
• • • • •
CRV hitam milik Reno terparkir indah di depan rumah Serena. Pria itu menolehkan kepala ke sisi kiri, dan melihat kondisi Serena tidak jauh lebih baik dari sebelumnya. Jaket parasit miliknya yang cukup tebal membalut tubuh Serena yang duduk meringkuk dengan mata berkaca-kacanya. Tangan pria itu tak tahan untuk tidak mengusap pundak Serena.
"Sere."
Kontan tubuh Serena terlonjak dan matanya menatap waspada pada Reno. Kedua sisi jaketnya ia tarik makin merapatkan balutan di tubuhnya.
Serena melihat sekeliling, dan ternyata benar ini adalah rumahnya. Sedalam itukah ia melamun hingga tak menyadari keberadaannya kini?
"Biar aku antar masuk, ya?"
Gelengan cepat dilemparkan Serena. "Gak usah, terima kasih. Aku bisa masuk sendiri. Terima kasih juga udah nolongin aku dan anterin aku pulang. Aku duluan."
Tubuh Serena beringsut turun dari kendaraan yang ia tumpangi itu. Ia berdiri di sisi mobil Reno guna menunggu penolongnya itu melajukan mobilnya. Namun yang terjadi malah pria itu menurunkan kaca mobilnya menatap Serena.
"Kenapa? Ada apa?" Tanya Serena heran.
"Kamu masuk duluan. Aku tunggu disini."
"Gak perlu repot-repot. Kamu bisa pergi sekarang."
"Aku mau mastiin kamu aman. Aku gak--
"Aku mohon. Aku gak mau muncul kesalah pahaman. Suamiku kayaknya udah pulang dan ini udah terlalu larut. Gak enak dilihat orang."
Reno terpekur beberapa saat. Jujur ia masih mencemaskan keadaan Serena. Namun wanitu itu ada benarnya juga. Jadi ada baiknya ia mengalah saja.
"Kalo gitu aku pamit ya. Jaga diri kamu baik-baik." Pesan Reno.
Serena mengangguk dan tersenyum sewajarnya. Ia menarik napas lega saat kendaraan beroda empat itu meninggalkan halaman rumahnya. Namun napasnya kembali tercekat saat ia menoleh dan menyaksikan Ares berdiri tegak di depan pintu rumah yang dibuka lebar-lebar. Tatapan pria itu benar-benar menyeramkan seperti monster yang siap menangkap mangsa.
• • • • •
Tak ada kelembutan. Cekalan Ares benar-benar erat menggulung lengan Serena. Pria itu menyeret tubuh kecil Serena dengan kedua tangannya yang besar. Setiap pijakan tangga yang mereka pijak, Serena selalu berontak dan memohon. Namun iblis amarah menulikan telinga Ares. Pria itu bahkan menendang pintu kamarnya dan melempar tubuh Serena hingga terjerembab di atas ranjang mereka.
"Sini kamu. Bangun!" Tubuh Serena yang sebelumnya sudah sakit, makin remuk redam saat Ares menarik paksa agar ia terduduk. Rahangnya yang tirus terasa sakit dijepit oleh tangan keras Ares. Kepalanya mendongak karena ia merasa lehernya tercekik.
"Ares lepas. S-sa... sakit." Rintih Serena dengan kedua tangan mencoba menarik cengkeraman Ares.
"Apa itu barusan?" bisik Ares yang dilanjuti bentakan kasar. "Apa itu barusan, hah?! Jawab!"
"Ap-apa? Apa?"
"Jangan balik bertanya, Bodoh! Apa-apaan kamu pulang jam segini dan diantar lelaki lain, hah?! Dari mana kamu?!"
__ADS_1
"Aku... a-aku pula...ng kerja, Res."
"Bohong! Kamu gak pernah pulang selarut ini sebelumnya! Jawab jujur! Jujur sama aku!!!"
"Awsh, Ares! Sakit." Jerit Serena tertahan saat Ares menancapkan kukunya di sekitar rahangnya. Air mata mulai luruh satu per satu.
"Bisa-bisanya kamu ninggalin Altan sendirian di rumah dan malah asik-asikan sama lelaki sialan itu, hah?!"
"Itu salah p-paham... sa-lah paham."
"Apanya yang salah paham?! Apa?! Kamu pikir aku buta?! Gak liat kalo kamu diantar lelaki itu?!"
"Dia c-cuma... no-long aku. Itu aja."
"Nolong apa, hah?! Nolong apa?! Dan ini?" Ares mencengkeram jaket kepunyaan Reno, lalu menariknya kasar. "Kenapa kamu pak---
Pandangan Ares jatuh pada robekan kemeja di dekat dada kiri Serena serta di lengan kirinya yang terlihat setelah jaket itu ditarik. Otot wajahnya langsung menegang, namun sialnya kenapa matanya malah memanas. Ares melemparkan jaket itu sembarangan. Giginya bergelatuk menahan sesak.
"Ares itu--
"Sudah sejauh mana hubungan kalian?" Gumam Ares tak mengalihkan pandang dari kedua robekan itu.
Kepala Serena menggeleng-geleng cepat. Air matanya luruh. "Ini gak seperti yang kamu pikirin. Gak terjadi apa-apa antara aku sama dia."
"Seintim apa hubungan kalian sampai ada sesi penyobekkan kemeja seperti ini?" Bisiknya karena sesak yang ia rasakan makin menjadi-jadi. Sakitnya bertambah berjuta kali lipat daripada pengkhianatan Serena sebelumnya.
"Enggak, Res, denger du--
Ares menepis keras tangan Serena yang ingin merengkuh pipinya. Tatapannya benar-benar mematikan. Telunjuknya mengapung menghunus wajah Serena. "Udah berapa kali aku bilang jangan pernah sentuh aku dengan tangan kotor kamu itu." Desisnya.
"Aku gak melakukan apapun, Res. Aku gak melakukan apapun." Sangkal Serena yang benar-benar tak tahu harus bilang apalagi karena itu memang kenyataannya. Tak ada yang terjadi di antara mereka.
"Apa kamu menyerahkan diri kamu?" Tanya Ares dengan nada yang senyap hampir berbisik. Kalau Serena teliti, seharusnya ia bisa menemukan nada bergetar dari kalimat itu.
"Ap-apa?" nadanya terdengar tak percaya. Lalu kepalanya menggeleng tegas. "Aku gak mungkin melakukan hal serendah itu. Gak mungkin, Res."
"Lantas kenapa kamu pulang dalam kondisi seperti ini?" bisiknya lagi, lalu nadanya naik bersamaan wajahnya mulai mengeras seperti sebelumnya. "Kenapa kamu pulang dalam kondisi seperti ******?! Kenapa, hah?! Jawab!"
"Gak gitu, Res. Itu accident. Accident."
"Accident?" Bisik Ares dengan tatapan putus asa. Accident katanya? Accident apa? Apa accident ini sama seperti accident dimana Altan tercipta? Dulu Serena juga menyebut kata yang sama pada kejadian itu.
"Ya, Res, accident. Cuma it--
"Sialan!" desisisan itu terdengar seperti pedang yang baru diasah. "Sialan kamu. Sialan kamu, Serena!!!" Bentak Ares dengan satu tamparan melayang kencang di pipi mulus istrinya. Tubuh kecil wanita itu kontan limbung dan jatuh terlentang. Belum hilang rasa perih di pipinya, Ares menindih tubuh Serena.
"Kamu menyerahkan diri sama keparat itu, hah?! Kamu biarkan dia menjamah tubuh kamu?!"
"Enggak, Res. Enggak."
"Enggak apa?! Enggak apa?! Sobekan itu mengatakan semuanya, Sialan! Mengatakan semuanya!"
"Kamu salah paham. Bekas sobekan itu bukan dia yang ngelakuinnya."
"Lantas siapa? Apa kamu mau bilang kalo kamu bukan cuma disentuh sama satu cowok, hah?! Semurahan itu kah kamu?"
"Ares!" bentak Serena karena tak kuat lagi mendengar caci maki dan sumpah serapah dari mulut yang dulu selalu menabur manisnya kata-kata. "Cukup ya. Cukup kamu menuduh aku."
"Di bagian mana aku menuduh? Kenyataannya kamu emang wanita mura--
"Aku bukan wanita murahan!" Tegasnya setengah memekik.
"Kalo bukan murahan apa namanya, hah?! Pengkhianat? Tukang selingkuh? Apa sebutan yang pantas buat wanita yang sudah bersuami pulang diantar lelaki lain larut malam begini. Dan lagi pakaian kamu yang seperti ini!"
"Aku gak serendah itu. Jaga mulut kamu!"
"Kamu memang serendah itu, Serena! Kamu pengkhianat besar! Kamu tukang selingkuh! Aku menyesal menikahi kamu! Aku menyesal menikahi wanita murahan kayak kamu! Aku menyesal!" Teriak Ares di depan Serena yang menatapnya dengan terluka.
Plak.
Satu tamparan keras membuat bibir Ares terbungkam. Pria itu menahan napas sejenak dengan terselip rasa tidak percaya karena Serena bisa seberani itu.
Sementara dibawah kungkungan Ares, Serena menggeleng-gelengkan kepalanya lemah. Ia benar-benar tak habis pikir dengan pikiran Ares yang bisa sekotor itu. Apa-apaan ini? Apa dia baru saja menuduhnya melakukan hal yang jelas-jelas Ares-lah yang telah melakukannya?
"Kamu yang selingkuh. Kamu yang mengkhianati aku," bisik Serena bergetar. "Kamu marah besar saat aku diantar pulang lelaki lain. Kamu berani mukul aku tanpa denger dulu penjelasan dari aku. Lalu apa kabar dengan aku? Apa kabar, hah?! Apa kabar, Antares?!" cerca Serena dengan suara meninggi. "Apa kabar dengan aku yang tiap hari nemuin bekas lipstick di kemeja kamu, nyium bau parfum perempuan di kemeja kamu, berkali-kali nemuin pesan bernada mesra, dan bahkan melihat langsung kamu bermesraan dengan perempuan lain!"
Serena terisak karena tangisnya tak kunjung mau berhenti. "...setelah mengetahui semuanya--bahkan dengan terang-terangan kamu akui, apa pernah aku mencap kamu sebagai lelaki brengsek, bajingan, dan segala kata-kata kotor lainnya? Apa pernah aku main tangan sama kamu? Aku diem, Res. Aku diem walaupun hati aku nyimpen banyak banget pertanyaan tentang kenapa kamu selingkuh, apa yang membuat kamu berubah..."
"....tapi ternyata diemku ini gak bikin kamu mikir. Kamu malah nuduh aku macem-macem. Kamu nuduh orang yang udah nolong istri kamu dari label perempuan murahan. Asal kamu tau, aku hampir dilecehkan orang jahat. Kalo gak ada dia, mungkin aja aku akan menyerahkan diri seperti yang kamu bilang tadi."
Wajah Ares menegang. Urat-urat di sekitar lehernya mengetat. Kepalan tangan di kedua sisi tubuh Serena mengakibatkan kuku jarinya memutih.
Serena memejamkan matanya karena sekelebat bayangan tentang accident tadi mampir di otaknya. Bagaimana tiga pria berbadan kekar itu mengetuk paksa kaca mobilnya yang mogok di tengah jalan tikus yang sepi. Bayangan tentang betapa kasarnya tangan-tangan besar itu menarik tangannya. Bayangan ketika ia berteriak kencang namun tak ada satu pun bala bantuan yang datang. Hingga titik dimana ia pasrah saat kemeja kerjanya di robek oleh salah satu pria itu.
__ADS_1
"Dan kamu, Antares. Kamu dimana saat aku butuh kamu?" bisik Serena yang sudah benar-benar menatap Ares putus asa. Antara kecewa dan marah. "Kamu dimana saat aku telepon kamu berkali-kali? Kamu dimana saat aku merasa ketakutan?" dengan tangan bergetar Serena menunjuk dada kiri Ares. "Kamu yang aku cari. Nama kamu yang aku sebut saat aku putus asa. Dan di saat cuma kamu satu-satunya orang yang aku yakini akan menolong aku, bisa-bisanya kamu nuduh aku selingkuh. Dengan teganya kamu melayangkan tangan kamu. Dimana hati kamu? Dimana Antares yang aku kenal dulu?"
Bibir Serena tersenyum getir. "Apa kamu dan cinta kamu sudah benar-benar hilang semenjak sosok baru itu kamu ajak masuk dalam rumah tangga kita?"