Haruskah Kita Bercerai?

Haruskah Kita Bercerai?
24


__ADS_3

Mbok Nunik tengah menutupi tubuh Altan dengan selimut saat Serena datang menghampirinya. Wanita paruh baya itu bangkit dengan wajah terperangah dan mata berbinar menatap sang nyonya. Mulutnya bahkan tak bisa terkatup rapat saking kagumnya akan penampilan Serena sekarang.


Empire dress warna biru gelap menjuntai panjang hingga hampir menyentuh alas kaki yang hak-nya tak pernah pendek itu. Ia menenteng handbag clutch dengan logo dua C saling berkaitan yang harganya membuat hati meringis dan dompet menipis. Riasannya nampak memukau meski natural. Aura kecantikannya tetap keluar walau rambut indahnya hanya dibiarkan tergerai. Sempurna.


"Waaaah.... Nyonya cantik sekali," decak Mbok Nunik. "Ayu tenan é, Nya."


"Terima kasih, Mbok," senyumnya lebar. "Oh ya, tolong temenin Altan dulu sampe tidurnya nyenyak ya, Mbok. Saya gak bisa mastiin lama enggaknya saya pergi. Tapi saya usahain dibawah jam sepuluh saya udah pulang."


"Baik, Nyonya."


Serena melirik Altan yang sudah terlelap. Anaknya kelihatan sangat pulas. Ia tersenyum tipis dan mengecup keningnya. Entah kenapa hatinya merasa resah. Ia seakan takut meninggalkan Altan. Hatinya merasakan seperti ada sesuatu yang akan terjadi.


"Nyonya kenapa toh, Nya, kok malah kelihatan sedih?"


"Gak tau, Mbok, kayak ada sesuatu yang ganjil di hati saya. Rasanya beraaaat banget ninggalin Altan sendirian," jawabnya sendu dengan masih mengusapi rambut tebal putranya. "Tapi saya juga gak tega ngajak dia malem-malem keluar, ketemu banyak orang. Pasti dia capek dan ngantuk."


"Nyonya tenang saja toh, Nya, kan ada saya. Saya janji jagain Den Altan."


Serena mendongak dan tersenyum hangat. "Terima kasih ya, Mbok."


Mbok Nunik mengangguk bersamaan dengan suara langkah kaki menaiki tangga. "Itu kayaknya Tuan sudah pulang, Nya."


Telinga Serena juga menangkap bunyi langkah kaki itu. Wanita itu perlahan bangkit dan mencoba menguatkan hati untuk berhadapan dengan Ares. Ia harus tetap terlihat tangguh, percaya diri, dan elegant seperti biasanya.


"Saya pergi ya, Mbok, tolong jaga Altan selama saya pergi." Pintanya sedikit tak rela.


Meninggalkan kamar Altan, Serena menghadapi Ares yang baru sampai pada lantai dua ini. Pria itu terlihat sedikit kaget. Kedua matanya langsung setuju kalau Serena terlihat sangat memukau. Tapi pikirannya mencoba menerka akan kemana Serena se-paripurna ini malam-malam begini.


"Syukurlah kamu pulang tepat waktu, Res," sapa Serena ramah. "Aku yakin kamu gak setega itu untuk tidak menghadiri acara hari ini."


Apa? Acara apa? Ia sungguh tak mengerti. Ia pulang cepat karena berniat menghabiskan waktu lebih lama bersama Altan. Tapi apa yang dikatakan Serena barusan?


"Wedding anniversary Mama dan Papa kamu." Senyum Serena menjawab kebingungan Ares. Serena tahu suaminya ini tidak pandai dalam hal meningat.


Ares ber-oh-ria dalam hati. Wajahnya sedikit kaku karena malu Serena tahu dia lupa.


"Aku udah siapin baju kamu di kamar. Tolong dipake ya," lagi-lagi hanya hening yang diberikan Ares. Pria itu masih mengunci mulutnya. Tapi tak apa, Serena mencoba sabar dan tetap menebar senyum. "Kita berangkat berdua tanpa Altan gapapa, kan? Aku sengaja nidurin dia lebih cepet. Gak tega ngajak dia keluar malam-malam."


Tak ada kata, bahkan tak ada anggukkan sedikit pun. Ares melengos melewati Serena begitu saja. Serena hanya bisa menyikapinya dengan senyum tipis. Berulang kali disakiti dan diacuhkan Ares membuatnya sadar bahwa hatinya tidak boleh cepat lemah. Jangan terlalu cepat sakit hati dan cengeng. Mungkin obat sakit hatinya belum ditemukan, tapi penawarnya bisa dicoba dengan senyuman.


...• • • • •...


Sudah menit ke berapa ini mereka dalam perjalanan? Rasanya lama sekali. Sama halnya seperti sudah lama sekali sejak terakhir kali mereka duduk berdua sedekat ini. Mungkin saat mereka berdua berkunjung ke istana mewah keluarga Antares? Menjenguk Tuan Risjad yang sedang sakit waktu itu? Tepat sekali.


Orang yang sama, mobil yang sama, posisi yang sama, bahkan tujuan mereka sekarang juga sama seperti waktu itu. Tapi sayang suasananya sudah berbeda. Eh? Suasana atau hati? Entahlah. Tapi tolong jangan ganggu Serena yang sedang teringat beberapa potong adegan yang dulu sempat terjadi di antara mereka. Di mobil ini lebih tepatnya.


Pernah waktu itu Ares menjemputnya di kantor untuk merayakan anniversary ke tiga pernikahan mereka. Dalam perjalanan pulang, tangan Serena sampai pegal karena terus digenggam Ares.


"Ngapain sih dipegangin terus? Aku gak bakal kabur."


"Udaranya dingin. Biar kamu anget." Cengirnya tanpa dosa.


Atau sempat waktu itu pipi Serena sampai dibuat merah karena kepergok mobil sebelah saat Ares menciumi pipinya di lampu merah.


"Ih, Ares, malu tuh diliatin orang."


"Biarin kalo cuma ngeliatin. Paling dia juga pengin, tapi jomblo."


"Sok tau. Siapa tau orang itu punya istri."


"Masa, sih? Tapi aku yakin ah istrinya gak secantik istri aku." Lalu setelah itu Serena berteriak karena Ares menyerangnya lagi tanpa ampun.


Kenangan. Baiknya memang dilupakan, tapi seringnya malah diulang-ulang melulu dalam ingatan. Serena hanya tersenyum tipis membaca kalimat itu. Lebih tepatnya miris karena hal itu terjadi pada dirinya sendiri. Dimana dua adegan di atas adalah adegan yang dulu paling ia benci, namun sekarang sangat ia nantikan.


Ia rindu dicintai seperti dulu. Ia rindu merasakan kasih sayang. Ia rindu pada seseorang yang dulu tak pernah mengalihkan pandang darinya, tapi sekarang melirik pun tak sudi. Ia rindu digenggam hangat oleh orang yang dulu selalu menggenggamnya dalam keadaan apapun, tapi sekarang seolah jijik bersentuhan dengannya.


Aku rindu kamu, Res. Dan aku rindu dirindukan balik sama kamu.


"Mau turun atau ngelanjutin menghayal?" Serena menoleh pada Ares yang bertanya padanya dengan nada sedingin AC mobil ini.


Wanita itu mengitari tempat sekitarnya dan melenguh dalam hati karena baru sadar mereka sudah sampai di rumah mertuanya. Aduh, Serena, lain kali tuh tau tempat gitu loh kalo mau nostalgia.


"Kadonya mana?" Terpaksa kali ini Ares menoleh. Bukan apa-apa, malam ini Serena sialan cantik. Sepanjang jalan Ares sekuat tenaga untuk tak meliriknya. Ia pria normal. Disuguhi pemandangan indah di sampingnya, secara langsung, gratis, istri sendiri pula. Kaum Adam mana yang tak goyah imannya? Ia takut pertahanannya runtuh.


Ini Serena yang kepedean atau salah lihat? Barusan Ares menatapnya dengan pandangan berbeda. Bagaimana ya menjelaskannya? Dua samudra itu memang tetap terlihat dingin, tegas, dan tajam. Namun binar kagumnya terpancar jelas. Bahkan kalau boleh sedikit kepedean lagi, mata Ares seperti mengulitinya lapar.


"Bisa denger gak, sih? Kadonya mana?!" Sentaknya.


Baru aja aku melayang, Res. "I-itu... di belakang. Biar aku am---

__ADS_1


Hap. Ada dua tangan bertumpu bersamaan pada benda kotak terbungkus kertas kado itu. Pandangan Ares dan Serena sama-sama naik. Dua samudra yang seolah bermuara itu kini hanya berjarak satu senti. Mungkin dalam drama televisi, akan muncul musik romantis dan taburan mawar tiba-tiba berjatuhan dari langit. Namun yang terjadi pada Ares dan Serena adalah keheningan panjang.


Ares menelan ludahnya sendiri. Terdengar helaan napas kasarnya yang juga menyadarkan Serena. Ares menghempas tangan wanita yang mengungkungnya itu. "Kamu yang bawa."


Apa-apaan ini barusan, Antares?! Pria itu buru-buru mengalihkan mata. Meremas stir mobil dengan rahang yang mengeras. Ia merasa bodoh karena hampir terbuai akan pesona Serena.


"Maaf. Barusan aku gak sengaja pegang tangan kamu." Cicit Serena hati-hati.


Ares menoleh dengan delikan tajam. "Lain kali gak perlu repot-repot mengenang masa lalu. Yang ada di antara kita hanya masa lalu. Gak usah kamu bawa-bawa lagi sekarang."


Lalu setelah itu Ares turun lebih dulu dan membuat Serena berjengit karena pintu mobilnya dibanting kencang. Lagi. Serena hanya bisa tersenyum walau hatinya berdenyut sakit.


Ares benar. Seharusnya ia tak perlu mellow sampai bisa-bisanya nostalgia segala. Yang ada di antara mereka sudah tidak ada. Dan Serena harus cepat-cepat pensiun me-nostalgia-kan kenangan mereka yang sudah seharusnya tidak perlu diingat-ingat lagi.


...• • • • •...


"Happy anniversary, Ma, Pa. Semoga selalu bersama dan bahagia selamanya." Ungkap Serena setelah melepas pelukan sayangnya pada Yolita.


Tuan dan Nyonya Risjad serempak tersenyum. Pasangan paruh baya itu nampak serasi dibalut gaun dan jas bertema hitam. Yolita terlihat lebih muda beberapa tahun dan sangat elegan. Dapat dipastikan wajah mulusnya tersapu riasan yang tidak murah harganya. Maka tak heran ia selalu nampak paripurna dalam kondisi apapun.


Henrialdi Risjad juga tak kalah memukau. Tubuhnya memang tidak terlalu gagah lagi, tapi tangan besarnya yang tidak pernah meninggalkan pinggang Yolita membuatnya terlihat manly. Jasnya terlihat mengkilau yang makin membuat aura tegas dan berwibawanya makin kelihatan. Senyumnya mirip Ares. Sangat tampan dengan setelan rapinya ini.


"Terima kasih, Sayang. Mama doakan semoga doa kamu juga berbalik pada rumah tangga kamu. Semoga kalian selalu bersama dan bahagia selamanya." Senyum lebar Yolita terpancar pada Serena, lalu mukanya berubah saat melirik puteranya yang berdiri di samping menantunya.


Melihat tatapan sang mama mertua dan suaminya tak bersahabat, Serena segera mengalihkan perhatian. "Uhm... Ma, ini aku bawa kado."


Berhasil. Yolita menoleh pada Serena. Menerima benda kotak persegi itu. "Aduh, Sayang, kenapa mesti repot-repot? Kamu datang aja Mama sama Papa sudah senang, loh."


"Gapapa, Ma. Kan gak tiap hari juga," lalu Serena maju selangkah memeluk sebentar sang papa mertua. "Sekali lagi happy anniversary ya, Pa. Happily ever after."


"Terima kasih, Serena. Semoga Antares juga bisa membahagiakan kamu," senyum Serena sedikit luntur dan kaku. Mendengar harapan Papa Henri barusan, sudah dipastikan Mama Yolita tidak mengadu tentang apa yang dicurigainya tempo hari. "Sayang sekali jagoan kecil Papa gak diajak. Padahal Papa sudah belikan robot-robotan yang dia pengin."


"Iya, Pa. Maaf ya, Altannya tidur. Nanti Papa main aja ke rumah kalo mau ketemu."


"Pasti. Nanti Papa sempatkan."


"Selamat ulang tahun pernikahan, Ma. Bahagia selalu." Ucapan selamat yang terdengar kaku itu berasal dari Ares. Pria itu mencium pipi mamanya dan lalu memeluknya erat. Sempat Serena lihat Mama Yolita memejamkan mata sejenak. Serena tahu kedua ibu dan anak itu saling menyayangi. Mungkin ketegangan kemarin membuat mereka sedikit renggang.


"Selamat ulang tahun pernikahan juga, Pa. Semoga selalu kuat menghadapi Mama." Henri dan Ares tertawa bersama. Ares lebih berani menyelipkan kalimat humor pada papanya ini. Pelukan mereka juga seakrab biasanya.


"Kalo Papa kebalikannya. Semoga Serena kuat menghadapi kamu yang nakal ini." Papa Henri menepuk-nepuk pundak Ares bahagia. Dan yang menjadi objek pembicaraan malah menipiskan senyum mereka.


...• • • • •...


"Terus kamu mau kemana?"


"Gak usah banyak tanya." Ketusnya lalu pergi menemui para rekan bisnisnya dan mengobrol.


Serena mendesah kasar. Diantara banyaknya orang disini, Serena yakin kemungkinan ada orang yang ia kenal hanya 5%. Ini pesta Mama dan Papa. Pasti yang hadir dari kalangan pebisnis juga. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Ares tak ada di sampingnya, dan ia hanya berdiri bingung dekat kolam renang.


"Minuman, Nyonya."


Serena menoleh pada sumber suara. Ada seorang pelayan laki-laki menawarinya minuman berwarna merah. Tapi anehnya, lelaki itu terus menunduk. Membuat alis Serena berkerut. Dengan ragu, Serena mengambil satu diantara lima gelas yang ada di nampan tersebut.


"Terima kasih."


"Sama-sama, Nyonya."


Dalam beberapa langkah setelah pelayan itu pergi, Serena terus menatap punggungnya. Ia masih membidiknya. Tapi dipikir-pikir, ia rasanya tak pernah mengenal pelayan itu. Lelaki itu nampak berusia dua puluhan awal. Tubuhnya kecil dan ia tak pernah mendengar suaranya. Sudahlah, mungkin ini cuma perasaannya saja.


Bahu Serena bergoyang acuh seraya menyesap sedikit-sedikit minuman itu hingga tandas. Suasananya nampak semakin ramai karena acara puncak pemotongan kue akan berlangsung sebentar lagi.


Tapi tunggu, kenapa kumpulan orang-orang itu terlihat berbayang? Serena mengedip-ngedipkan matanya untuk memastikan. Dan orang-orang itu tetap berbayang. Astaga ada apa ini? Serena coba lagi dengan menggeleng-geleng kepala, tapi ia malah meringis karena kepalanya sangat sakit.


"Ssshhhh... kepala gue sakit banget." Ringisnya pelan.


Ia memegangi kepalanya seraya mengedarkan pandang. Hampir semua buram. Ia tak bisa dengan jelas meneliti wajah demi wajah. Kepalanya makin sakit.


"Aghhh." Kakinya lemas dan ia langsung terduduk. Perhatian orang satu per satu mulai terarah kepadanya.


Ares yang tengah mengobrol, menoleh dengan kedua alis terangkat. Serena terlihat meracau tak jelas dan menjadi bahan gunjingan orang-orang. Segeralah pria itu berlari menyusul Serena. Berjongkok di depannya dan memegangi kedua lengan terbukanya.


"Serena." Panggil Ares mencoba menyadarkan.


Wanita itu menengadah. Tersenyum miring dengan tatapan sayu. "Ares... kamu disini?"


"Serena, ada apa?"


"Sayaaaaaang." Panggilnya manja seraya mengalungkan tangan pada leher Ares.

__ADS_1


Kening Ares makin berlipat-lipat. Ada apa dengan Serena? Apa Serena mabuk?


"Sayang, kepala aku sakit. Kamu kemana aja? Dari tadi aku disini sendiri." Racaunya dengan tatapan sedih.


"Kamu minum?" Desis Ares.


"Jangan galak-galak. Aku takut." Pintanya manja.


"Kenapa kamu minum? Sengaja mau malu-maluin aku?"


Wanita itu menggeleng. "Kamu yang malu-maluin aku. Kamu datang sama aku, tapi malah ninggalin aku sendirian. Aku maluuuu." Suaranya mengencang hingga cukup membuat orang-orang kembali berbisik-bisik bingung. Bahkan kedua mertuanya terperangah dengan mulut menganga.


"Pelankan suara kamu."


"Gak mau," cabiknya kesal dengan bibir mengerucut. "Biar orang-orang tau kalo kamu jahat sama aku. Kamu jahat sama aku, Ares. Kamu jahaaaat."


"Cukup, Serena." Ares makin dibuat meradang karena Serena menarik-narik kerah jasnya.


"Kamu jahat." Racaunya lagi.


"Serena berhen---


"Aku mau itu, Ares." Tunjuknya pada kue bertingkat yang baru saja dibawa pelayan melewatinya.


"Jangan gila."


Tapi sepertinya Serena tak mendengar itu. Tubuhnya malah perlahan bangkit dengan berpegangan pada jas Ares. Dengan tubuh sempoyongan, Serena berupaya menghentikan laju pelayan yang menggeret meja beroda yang didorongnya.


"Hey! Tunggu.... tunggu."


Pelayan itu berhenti dan menatap bingung. "Saya, Nyonya?"


"Ya... ya... kamu... berhenti. Saya mau kuenya."


"Hentikan, Serena." Ares menahan tubuh wanita itu yang akan maju.


"Lepaaashhh... aku mau kuenya. Aku mau kue itu." Dengan sekuat tenaga, Serena berhasil lepas dari pegangan Ares. Kakinya yang lemas, ditambah sepatunya ber-hak tinggi, membuat langkahnya benar-benar tak lancar. Ia beberapa kali hampir jatuh, sebelum akhirnya dapat menyentuh pegangan pada meja beroda itu.


"Nyonya jangan." Larang pelayan itu saat Serena menyentuh pisau.


"Sssssstt.... saya mau potong. Saya mau potong kue."


Ares berdecak dan menghampiri Serena lagi. "Jangan, Serena. Itu kuenya Mama dan Papa. Ayo simpan pisaunya."


"Eh? Liat itu! Ada lilinnya. Ada lilin," katanya antusias. "Aku mau tiup! Aku mau tiup!"


Mata Ares dan semua pasang mata yang ada disini terbelalak saat lilin berangka 30 itu ditiup Serena hingga mati. Ares memutar tubuh Serena untuk menatapnya. "Apa yang kamu lakukan, Serena?!"


"Liat, Ares. Lilinnya mati. Lilinnya mati." Soraknya senang.


"Kamu gak boleh ngelakuin ini. Ingat, ini pesta Mama dan Papa."


"Kenapa? Kenapa aku gak boleh niup lilinnya?" tubuh Serena makin sempoyongan sehingga tangannya kembali melilit leher Ares. "Kamu juga melakukan hal yang sama ke aku. Kamuuuu..." jarinya menunjuk hidung Ares. "Kamu juga mematikan kebahagiaan aku. Kamu mematikan kebahagiaan rumah tangga kita kayak lilin itu. Kamu jahat. Kamu meniupnya."


Semua orang disana terkejut dengan apa yang dikatakan Serena. Mungkin segelintir orang hanya menganggapnya sebagai racauan orang mabuk, atau ada yang masih kebingungan. Tapi bagi Yolita, perkataan Serena menyiratkan makna yang dalam. Membuktikan kecurigaannya tentang rumah tangga mereka.


"Diam, Serena, diam."


"Aku gak mau!" Serena mendorong tubuh Ares kencang. Dengan kepala pening, ia mencoba menggapai pisau yang tadi sempat terjatuh ke samping kue. Ia mengacungkan pisau itu di depan mata Ares. "Kamu juga udah menyayat hati aku. Disini. Disini, Ares," Serena menunjuk dadanya sendiri. "Rasanya sakit. Sakit banget. Kamu menyayatnya kayak gini," dengan sekuat tenaga Serena mencabik-cabik kue itu. Membuatnya hancur di depan semua pasang mata yang kompak hening menyaksikan. "Kamu buat hati aku hancur seperti kue ini. Gak berbentuk dan berantakan. Kamu jahat sama aku."


Ares bergeming. Wajahnya sudah merah antara marah dan malu. Semua orang disini melihatnya dengan pandangan seperti gelandangan masuk ke dalam mall mewah. Menguliti dari atas ke bawah.


"Ini ayo makan," Serena mencomot potongan kue itu dan disodorkan pada mulut Ares. "Kamu ngancurin hati aku karena mau memakannya, kan? Ini, Ares. Aaaaaa. Buka mulutnya, Sayang."


Ares menepis tangan Serena hingga kuenya terjatuh. "Ayo pulang! Cukup main-mainnya."


"Kenapa kamu buang," protes Serena mengembungkan pipi. Lalu wanita itu berniat jongkok untuk mengambil potongan kue tadi. "Aku mau ambil ku--


"Ayo pulang!" Ares menarik tangannya dari tengah-tengah kumpulan orang ini.


"Gak mau! Gak mau!" Rontanya yang masih terus ditarik Ares.


Adegan ini makin seru saat Serena terus memberontak. Orang-orang seperti sayang melewatkan satu detik pun. Ares terus berjalan tak mempedulikan siapapun, sementara Serena terlihat kewalahan mengimbangi langkah.


"Ares lepas aku gak mau pulang."


"Diam."


"AKU GAK MAU PUL---aaaahhhh!!!"

__ADS_1


Mata Ares membulat sempurna. "Serena!!!!"


__ADS_2